Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Curhat dengan Mama


__ADS_3

Rupanya keluarga Pradana dan keluarga Raditya terlihat begitu akrab saat ini. Melebihi yang Arsyilla pikirkan sebelumnya bahwa sesama besan akan susah untuk terlihat akrab. Nyatanya justru kini Mama Khaira dan Bunda Kanaya terlihat akrab, Ayah Bisma dan Papa Radit pun juga terlihat akrab. Bahkan mereka membahas tentang Jaya Corp. Dalam hatinya, Arsyilla bertanya-tanya apakah Mama dan Papanya juga mengenal Jaya Corp.


“Papa, tahu Jaya Corp?” tanya Arsyilla pada akhirnya kepada Papa Radit.


“Tahu dong Sayang … dulu, Papa pertama kali bekerja di Jaya Corp, menjadi bagian tim audit internal di Jaya Corp,” jawab Papa Radit.


Arsyilla pun mengangguk, mendengar cerita Papanya.


“Papa sudah tahu Bundamu itu sejak dulu, cuma ya tidak begitu ingat karena waktu sudah berlalu sekian lama,” cerita Papa Radit lagi.


Bunda Kanaya pun tertawa, “Dulu Bunda manggilnya Mas Radit. Dia hebat banget waktu itu bisa memimpin tim dan membongkar kasus suap yang terjadi di perusahaan,” kenang Bunda Kanaya.


Arsyilla baru tahu rupanya orang tua dan mertuanya memiliki kisah yang panjang juga. Bahkan di masa lalu, mereka juga telah bertemu. Sangat unik, jika dirinya mengingat Ayah Bisma sebagai Dokternya dan Arshaka, rupanya Papanya juga sudah mengenal Bunda Kanaya.


“Bunda juga dua kali bertemu dengan Mama Khaira, Syilla … Bunda ingat banget pertama kali bertemu Mama Khaira di Singapura. Saat itu Mama kamu menunggui kamu dan Papamu yang terlalu asyik melihat Jewel Changi Waterfall,” kenang Bunda Kanaya.


Usai menceritakan kisah masa lalu, mereka untuk menikmati makan malam bersama. Menu yang dimasak langsung oleh Mama Khaira.


“Sup ayam ini adalah masakan kesukaannya Syilla. Mumpung hari ini, Syilla ada di sini, Mama masakkan khusus buat Syilla,” ucap Mama Khaira.


Arsyilla pun tersenyum, “Makasih Mama … you are the best Mom for me,” ucapnya.


Arsyilla menunggu orang tua dan mertunya yang mengisi piring mereka, setelahnya Arsyilla mengisikan piring untuk Aksara terlebih dahulu.


“Kurang tidak Kak?” tanyanya.


Aksara pun menggeleng, “Tidak, sudah Syilla … makasih,” ucapnya.


Mama Khaira tanpa tersenyum melihat interaksi putri dan menantunya itu, “Jadi sekarang Syilla manggilnya Kakak Aksara lagi kayak waktu kecil dulu yah?” tanya Mama Khaira dengan tiba-tiba.


Arsyilla pun mengangguk, “Iya Ma … cuma pas di apartemen. Di kampus, mau tidak mau harus memanggil langsung dengan namanya,” jawab Arsyilla kali ini.


Mereka justru tertawa mendengar jawaban Arsyilla, ya memang di kampus pria itu adalah mahasiswanya, jadi ya harus memanggil Aksara langsung dengan namanya.


Hingga akhirnya keseruan di meja makan usai, dan mertuanya berpamitan untuk pulang ke rumah. Sementara Mama Khaira terlihat menahan Arsyilla dan Aksara untuk menginap di rumahnya malam ini. Sehingga Aksara pun mau menginap semalam di rumah mertuanya.

__ADS_1


Saat rumah sudah sepi, Mama Khaira mendapati Arsyilla yang justru masih duduk di serambi rumahnya. Sang Mama pun menghampiri putrinya itu.


“Hei, kenapa kamu masih berada di sini? Kamu tidak menemani suami kamu?” tanya Mama Khaira.


“Sebentar Ma,” jawab Arsyilla dengan singkat.


“Kenapa? Apa ada sesuatu terjadi?” tanya Mama Khaira kemudian.


“Boleh Syilla bercerita Ma?” tanya Arsyilla.


Mama Khaira pun mengangguk, “Iya … boleh Sayang. Ada apa?” tanyanya.


“Arsyilla sebel saja Ma … waktu honeymoon ketemu dengan adik kelasnya Kak Aksara yang ganjen setengah mati. Di pesawat tadi, kami juga satu pesawat dia main nyerobot aja untuk bisa jalan di belakangnya Kak Aksara,” cerita Arsyilla pada akhirnya.


Mendengar cerita dari putrinya, Mama Khaira justru tersenyum, “Kamu cemburu ya Syilla? Kalau cemburu, itu artinya kamu sudah mencintai suamimu,” ucap Mama Khaira.


“Syilla hanya tidak suka, Ma,” sahutnya dengan cepat.


Mama Khaira kembali menatap wajah putrinya, “Cemburu itu bumbu dalam berumah tangga. Tidak apa-apa. Dulu juga Mama sering cemburu sama Papamu karena ada beberapa wanita yang seperti itu kepada Papamu. Akan tetapi, pada suatu titik Mama mau mempercayai Papamu. Memegang janji dan kesetiaannya. Papamu juga membuktikan dirinya untuk setia dengan Mama, oleh karena itulah kami bisa menjalani separuh dari hidup kami bersama-sama,” ucap Mama Khaira.


“Pernahlah … Mama hanya manusia biasa. Mama dulu pernah cemburu juga, Papamu yang berusaha membuat Mama tidak mengambek. Akan tetapi, jangan lama-lama ngambeknya, kasihan Aksara yang terlihat sedih dan gelisah. Selama Aksara tidak melewati batas, kamu bisa terus mempercayainya, Syilla.” Mama Khaira memberikan nasihatnya kepada putrinya itu.


“Jadi sekarang … Syilla harus bagaimana Ma?” tanya Arsyilla kemudian.


Mama Khaira pun kembali tersenyum, “Masuk ke kamar dan temui suamimu, jangan ngambek terlalu lama. Jangan jutek, kamu kalau jutek terlihat banget,” ucap Mama Khaira dengan tertawa.


“Kalau Syilla masih sebel gimana Ma?” tanyanya lagi.


“Sebel itu manusiawi Syilla … percayai suamimu. Bahkan kamu bisa memberikan beberapa kali kesempatan untuk suamimu. Kali ini, percayailah dia. Mama yakin, Aksara juga tidak akan macam-macam. Kelihatannya Aksara adalah pria yang teguh hatinya, jadi … percayailah dia,” nasihat Mama Khaira kini kepada putrinya.


Hingga akhirnya, Arsyilla pun mengangguk. Wanita itu segera berdiri dan memeluk Mamanya terlebih dahulu, “Makasih Ma … Syilla masuk ke kamar sekarang ya Ma,” ucapnya.


“Iya … sana. Kasihan Aksara kangen sama kamu,” goda Mama Khaira kini.


Berbekal nasihat yang diberikan Mama, Arsyilla pun memasuki kamarnya. Namun, baru saja membuka pintu, rupanya Aksara sudah berdiri dan langsung memeluk erat wanita itu.

__ADS_1


“Syilla … aku kangen. Jangan diamkan aku seperti ini,” ucap Aksara dengan memejamkan matanya dan memeluk tubuh Arsyilla dengan begitu eratnya.


Tangan Arsyilla yang semula seolah lemas, perlahan bergerak dan balas memeluk Aksara, “Iya … maaf,” ucap Arsyilla pada akhirnya.


Aksara lantas mengurai pelukannya dan menatap wajah Arsyilla, “Jadi kamu sudah enggak marah kan?” tanyanya dengan cepat.


Arsyilla menggelengkan kepalanya, “Enggak,” jawabnya.


“Kamu sudah enggak sebel kan?” tanya Aksara lagi.


“Masih, masih sebel,” sahut Arsyilla kemudian.


Aksara pun menghela nafasnya, “Gimana caranya supaya kamu tidak sebel lagi? Aku bisa gila kalau kamu ngambek lama-lama kayak gini,” ucapnya.


Arsyilla pun menatap wajah suaminya, “Hiperbola banget sih, mana ada gila hanya karena aku ngambek,” sahut Arsyilla dengan cepat.


“Ada … nih aku buktinya. Aku nyaris gila, Sayang,” akunya kali ini.


Arsyilla kemudian menaiki tempat tidurnya dan menyandarkan bahunya di head board miliknya, “Kak, kamu bisa aku percaya?” tanya Arsyilla pada akhirnya.


“Ya, bisa,” jawab Aksara dengan cepat.


Arsyilla lantas menatap wajah Aksara, menatapnya dengan begitu lekat, “Aku mau mencoba memberi kepercayaan kepadamu. Aku berharap kamu tidak akan mengecewakan aku, Kak. Aku akan memaafkan kamu kali ini, tetapi jika akhirnya kalian melanggar batas, maka aku akan pergi,” ucap Arsyilla dengan sungguh-sungguh.


Aksara kemudian mengangguk, “Iya, baiklah … toh, aku juga bersikap biasa saja. Dianya yang tadi menyerobot dan jalan di sisiku,” keluh Aksara kini.


“Selama kamu tidak memberi celah, tidak akan terjadi Kak,” ucap Arsyilla dengan lirih.


Aksara kemudian menggenggam tangan Arsyilla, “Iya … nanti kalau jadi kerja sama dia, aku cuma profesional kok. Cuma bekerja. Sepenuhnya hati ini milik kamu. Hanya untuk Arsyillaku yang paling manis,” ucap pria itu.


Akhirnya Arsyilla mengangguk, “Iya … ku harap kamu bisa menjaga kepercayaan aku,” ucapnya.


Setelahnya Arsyilla berbaring, rasanya masih begitu capek hari ini. Wanita itu lantas memejamkan matanya perlahan. “Aku tidur ya Kak, capek banget rasanya,” ucapnya.


Aksara lantas menelisipkan satu tangannya, membawa kepala Arsyilla untuk bertumpu pada lengan dan dadanya, memeluk erat wanita itu, “Tidulah Sayang … aku akan memelukmu sepanjang malam ini. Terima kasih untuk kepercayaan darimu, aku akan menjaganya sebaik mungkin,” ucapnya.

__ADS_1


Ada rasa lega yang melingkupi hati Aksara, istrinya sudah tidak ngambek saja Aksara sudah senang. Berharap, memang Arsyilla tidak ngambek dan bisa memaafkannya. Lagipula, Aksara juga tidak meladeni Tiara, hanya saja memang Tiara yang mengikutinya hingga ke tempat ruang tunggu koper dan bagasi. Sudah pasti Arsyilla sangat sebal.


__ADS_2