
Aksara masih memeluk Arsyilla malam itu, pria itu memberikan usapan yang lembut di kepala Arsyilla. Usapan yang begitu lembut dan beberapa kali Aksara juga menundukkan wajahnya untuk mengecupi puncak kepala istrinya itu. Shampoo dengan wewangian bunga yang begitu harum, menyapa indera penciumannya.
“Rambut kamu harum banget sih Honey,” gumam Aksara saat itu.
“Kan habis keramas, Kak,” balas Arsyilla yang masih saja betah berlama-lama bersandar di dada suaminya itu.
“Aku tuh seneng kalau kamu habis keramas begini … sayangnya, masih harus puasa lagi,” ucapnya dengan menghela nafas sepenuh dada.
Tiba-tiba saja Arsyilla tersenyum, wanita itu segera beringsut dari dada suaminya dan kini memilih untuk duduk bersandar di headboard.
“Sembuh dulu Kak … orang sabar pasti akan mendapatkan buah yang manis. Sembuh dulu yah,” balas Arsyilla kali ini.
Terlihat Aksara perlahan menganggukkan kepalanya, “Iya Honey … buat kamu, aku selalu sabar kok,” balas Aksara.
Kemudian Arsyilla tersenyum simpul, dan kemudian Arsyilla mengamati kaki Aksara yang masih dibalut dengan kain perban berwarna cokelat itu.
“Aku kalau tidur malam sebenarnya takut Kak … takut kalau kakiku ngenain kaki kamu,” ucapnya.
Menyadari bahwa kaki suaminya masih cidera, sehingga Arsyilla pun terkadang memilih tidur dengan membawa sebuah guling yang dijadikan pembatas antara kakinya dengan kaki suaminya. Takut jika saat dia tidur dan posisi tidak sabar, justru kakinya bisa menyenggol atau menimpa kaki suaminya itu.
__ADS_1
“Enggak apa-apa, Honey … kelihatannya juga enggak pernah ngenain kok,” balas Aksara.
“Yakin Kak? Cuma aku takut dan ngeri deh,” jawabnya lagi.
“Enggak apa-apa … sudah tidak sesakit dulu, cuma nanti kakiku masih perlu terapi untuk gerak deh. Soalnya perlu adaptasi lagi,” balas Aksara.
“Tidak apa-apa Kak … sabar aja. Aku cuma bisa bilang supaya kamu sabar,” balas Arsyilla.
Untuk dalam kasus ini, memang Arsyilla hanya bisa mengharapkan kepada suaminya itu untuk bisa bersabar. Untuk bisa sembuh, harus melewati masa memakai gips sekian minggu lamanya. Setelah gips dilepas, Aksara juga harus menunggu pulih sepenuhnya dan berjalan dengan perlahan.
“Iya Honey … kamu selalu mengingatkan yang paling penting kok buat aku. Sabar itu susah, dan kamu selalu mengingatkan, sementara aku akan selalu berusaha supaya aku bisa bersabar. Ujianku baru banyak ya Honey … jadi ya sekarang aku harus ekstra sabar,” sahut Aksara.
Mendengar jawaban suaminya, Arsyilla pun tertawa, “Sabar dengan orang lain adalah cinta, sabar dengan diri sendiri adalah harapan, dan sabar dengan Tuhan adalah iman. Jadi, lakukanlah semuanya dengan kesabaran. Tuhan memberikan ujian kepada hamba-Nya karena supaya kita diperkuat iman percaya kita. Selain itu, sabar dengan dirinya karena kita memiliki harapan bahwa kesabaran akan selalu berbuah manis. Terkadang dalam hidup ini kita harus bersabar untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik,” ucap Arsyilla.
Aksara yang mendengar kata-kata nasihat yang begitu bijaksana dan dituturkan dengan begitu lembut itu menganggukkan kepalanya, dia merasa yakin bahwa Tuhan memberikan pencobaan kali ini untuk memperkuat iman percayanya, selain itu Aksara juga belajar satu hal yaitu bersabar dengan diri sendiri, sekaligus berdamai dengan diri sendiri. Mungkin di saat kakinya sakit, dan aktivitasnya banyak terkendala, Aksara harus berdamai dengan dirinya. Menerima kekurangan dan sakitnya waktu itu.
“Sini peluk aku, Honey,” pinta Aksara kali ini.
Tidak menunggu waktu lama, Arsyilla pun segera menganggukkan kepalanya. Arsyilla masuk ke dekapan suaminya itu dan kembali mencerukkan wajahnya di dada suaminya, dan kedua tangan yang kini melingkari pinggang suaminya itu.
__ADS_1
“Aku tuh … bersyukur banget kepada Tuhan. Di saat aku terpuruk kayak gini, Tuhan ingatkan aku bahwa aku memiliki tulang rusuk yang kuat. Kamu tulang rusuk aku, kamu merawat dan memastikanku baik-baik. Bahkan di saat aku terpuruk, dan merasa menyesal saat kakiku sakit, kamu tak henti-hentinya merawat dan memotivasi aku. Terima kasih, Honey … yang kamu ucapkan sepenuhnya benar. Aku beriman kepada Tuhan, maka aku akan sabar menjalani semua ini. Aku memiliki harapan pada diriku sendiri, maka aku akan berdamai dengan diriku, dan berharap bahwa kakiku akan segera sembuh. Selain itu, aku cinta sama kamu, terima kasih kamu pun sudah begitu sabar kepadaku. Aku tidak punya kata-kata lagi yang bisa kuucapkan selamat terima kasih, terima kasih, dan aku cinta kamu, Honey!”
Aksara mengatakan semuanya itu dengan sungguh-sungguh. Jika pendampingnya bukan Arsyilla, tentu hari-hari yang dia lalui akan kian suram. Kesembuhannya juga tidak akan secepat ini. Akan tetapi, Aksara memiliki pendamping hidup yang sepadan, yang bisa mengerti dan memahami dirinya, yang bisa memotivasi dirinya. Oleh karena itu, Aksara berterima kasih kepada Arsyilla.
“Uh, kamu bikin aku terharu deh Kak … iya, aku akan selalu mengingatkan kamu. Sama halnya dengan kamu yang selalu mengingatkan aku. Makasih banyak ya Kak sudah mau berjuang bersama. Aku berjuang merawatmu setiap hari, dan kamu berjuang untuk sembuh. Kita berjuang bersama-sama,” balas Arsyilla.
Makna berjuang bersama bagi pasangan suami istri itu sangat penting. Saling menguatkan di saat pasangan kita jatuh dan terpuruk, saling mendoakan, saling memahami walau terkadang hati dan otak tak mau mengerti, saling melakukan yang terbaik untuk pasangan masing-masing. Dengan mengenakan kata ‘saling’ dalam berumah tangga, bisa membuat keharmonisan di dalam rumah tangga tercipta.
“Iya Honey … kayak gini yang aku suka dari rumah tangga kita. Kehidupan pernikahan bagiku menyenangkan. Banyak orang berkata waktu pacaran itu semua menyenangkan dan semua terasa manis, tetapi semua berubah begitu memasuki kehidupan berumah tangga. Bagiku, aku justru suka kehidupan rumah tangga. Di mana aku bisa lebih memahami pasanganku, gelombang di kepalanya, debaran di hatinya, dan bagaimana kita bisa saling menciptakan dunia yang indah untuk kita,” balas Aksara.
“Cuma kan awal nikah aku nyebelin, Kak,” sahut Arsyilla.
Sepenuhnya Arsyilla sadar bahwa di awal pernikahannya, Arsyilla begitu ketus dan jutek dengan suaminya itu. Jika mengingat masa-masa awal pernikahan dulu membuat Arsyilla malu pada dirinya sendiri.
“Tidak apa-apa, cuma kan kamu sudah banyak berubah. Itu terjadi karena prank yang aku buat. Kehidupan pernikahan memang tak ada yang sempurna. Cuma kita bisa menghadirkan kehidupan pernikahan seperti apa yang ada di otak kita. Kehidupan pernikahan dan rumah tangga bukan dunia yang runtuh. Namun, dunia yang harus dirajut setiap hari dengan cinta, kesetiaan, iman, dan harapan,” balas Aksara.
Sepenuhnya Arsyilla percaya dengan ucapan suaminya itu. Jika merasa kehidupan pernikahan hanya monoton, maka kedua pasangan perlu bekerja sama, berkolaborasi, merajut aneka warna bahkan warna-warna baru yang akan kian menyemarakkan kehidupan pernikahan mereka. Standar kesempurnaan itu relatif, tetapi kedua pasangan bisa menetapkan standar dan batas-batas di mana saja hal yang bisa mereka lakukan untuk menciptakan kehidupan rumah tangga yang harmonis versi kita sendiri, bukan versi mereka.
Happy Reading ^^
__ADS_1
Saranghae