
Kami dijodohkan … ya, semoga saja rumah tanggaku nanti bisa berjalan dengan baik sama seperti rumah tanggamu dan Aksara,” balas Ravendra.
Tidak dipungkiri Ravendra pun mengharapkan kehidupan rumah tangga yang berjalan selaras dan juga harmonis. Potret rumah tangga yang dia lihat dari kedua orang tuanya juga kehidupan rumah tangga yang jauh dari kata harmonis. Untuk itu, Ravendra pun berharap apakah mungkin rumah tangganya nanti bisa kembali harmonis.
“Mungkin membutuhkan penyesuaian di awal pernikahan. Hanya saja, tidak apa-apa. Saling mengenal terlebih dahulu tidak masalah,” respons Arsyilla.
“Berapa lama bisa menyesuaikan diri, Ar?” tanya Ravendra lagi.
“Itu tergantung dari usaha kalian berdua, Ven … menyatukan dua kepala itu tidak mudah memang. Namun, dengan saling memahami satu sama lain. Sudah pasti bisa kok. Menyesuaikan diri dalam kehidupan pernikahan itu bukan perkara satu atau dua hari, tetapi seumur hidup. Dengan orang yang akan menghabiskan waktu dan hidupnya bersama kita, kita perlu menyesuaikan diri setiap hari,” jawab Arsyilla.
Bagi Arsyilla memang membina rumah tangga, menyesuaikan diri dengan pasangan itu bukan perkara satu atau dua hari, melainkan waktu untuk bisa berpadu padan untuk seumur hidup. Sama halnya dengan Arsyilla yang setiap hari berusaha memahami suaminya, mengetahui kebutuhannya, dan mengelola emosinya yang terkadang naik dan turun.
“Makasih Ar … semoga aku dan dia bisa menyesuaikan diri nanti,” balas Ravendra.
Pria itu menghela nafasnya yang terasa berat, sembari terus mengemudikan mobilnya. Sementara Arsyilla sesekali membuang wajahnya melihat pemandangan yang dia lihat dari kaca jendela di dalam mobil itu.
“Sudah saling ketemu?” tanya Arsyilla kemudian.
“Belum, akan bertemu sih. Kata Mama, sudah waktunya aku menikah. Mama ingin menjadi Nenek di saat usianya tidak terlalu tua dan masih kuat untuk menggendong cucunya nanti. Namun, aku pesimis … mengingat kami sama-sama asing untuk satu sama lain, aku pun tidak tahu akan bisa menerima dan mencintai dia tidak,” cerita Ravendra kali ini.
Rasanya lucu, dulu keduanya adalah pasangan pacar. Namun, sekarang Ravendra bisa menceritakan keresahan-keresahannya kepada Arsyilla. Bahkan Arsyilla juga memberikan jawaban yang baik untuk Ravendra.
“Jika kamu mau berusaha dan membuka hati tidak masalah, Vendra. Belajar memahami satu sama lain, berusaha menjadikan yang asing menjadi akrab. Aku yakin, jika berusaha semuanya akan bisa dilalui,” balas Arsyilla.
__ADS_1
Ravendra kemudian tersenyum samar, “Kamu hebat, Ar … sejak dulu, jawaban-jawaban yang kamu berikan itu adalah jawaban yang luar biasa. Aksara beruntung banget mendapatkan kamu. Sementara aku yang tidak beruntung karena bukan aku yang memilikimu,” balas Ravendra dengan tertawa.
Bukan bermaksud meratapi semuanya, terkadang menertawakan masa lalu adalah hal terbaik yang bisa manusia lakukan. Sama halnya dengan Ravendra yang justru menertawakan masa lalunya.
“Semua itu masa lalu, Ven … apa pun itu, aku berdoa supaya kamu dan dia akan berakhir bahagia. Semoga rumah tangga kalian selalu harmonis dan romantis,” balas Arsyilla dengan sungguh-sungguh.
Sembari mengobrol dengan Ravendra di dalam mobil, Arsyilla juga mengirimkan pesan kepada suaminya bahwa dirinya akan segera tiba di Jaya Corp. Mengikuti pesan yang Aksara berikan kepadanya tadi.
“Nah, sudah sampai kan di Jaya Corp. Itu suami kamu sudah stand by,” kekeh Ravendra dengan menunjuk Aksara dengan dagunya. Kemudian Ravendra menghentikan mobilnya di depan Aksara. Pria itu bahkan membunyikan klaksonnya dua kali, dan kemudian Ravendra keluar dari mobilnya dan menyapa Aksara.
“Bro, tadi gue dari kampusnya Arsyilla konsultasi sama Pak Hadi untuk projek. Jadi, sekalian anterin Arsyilla kemari, soalnya wajahnya pucat banget. Kasihan kalau naik taksi online,” ucap Ravendra.
Tentu Ravendra mengatakan semuanya itu supaya tidak menimbulkan prahara bagi rumah tangga Aksara dan Arsyilla. Aksara yang mendengar ucapan Ravendra pun menganggukkan kepalanya.
“Makasih ya sudah bantuin Istri gue. Sudah mau anterin juga ke mari. Gimana kabar Bro?” tanya Aksara.
“Jadi, nikahannya?” tanya Aksara secara to the point.
“Belum ketemu … mungkin bulan depan baru akan ketemuan secara langsung dan Mama akan langsung melamarnya,” balas Ravendra.
Arsyilla yang mendengarkan jawaban dari Ravendra pun semakin tidak bisa menyadari. Kenapa pernikahan Ravendra dilakukan dengan begitu cepat.
“Ketemu langsung lamaran gitu?” tanya Arsyilla.
__ADS_1
“Iya, Ar … katanya Mama sih gitu. Ya, aku menjalani saja. Walau berat hati,” akunya dengan jujur.
Aksara melihat Ravendra dan Arsyilla bergantian. Mungkin saja saat di dalam mobil, Ravendra sudah mengobrolkan perihal masalahnya kepada Arsyilla.
“Alih-alih berat hati … sebaiknya tulus hati. Dengan ketulusan pasti bisa kok dijalani. Semangat yah … aku doakan untuk kamu dan calon pasangan bisa saling membina rumah tangga dengan harmonis,” balas Arsyilla.
Aksara pun turut menganggukkan kepalanya, “Percayai omongan gue dulu, Bro … rumah tangga bukan dunia yang runtuh. Rumah tangga bisa dijalani dengan selaras dan juga seharmonis mungkin bersama. Mau mampir minum kopi?” tawar Aksara kepada Ravendra.
“Makasih Bro, lain kali aja. Lain kali mau ketemu sama Si Princess aja, mau gendong keponakannya Uncle. Boleh kan?” tanya Ravendra.
“Boleh, datang saja ke rumah. Kalau perlu ajak Aunty nya sekalian, biar Ara kenalan sama Auntynya,” balas Aksara.
Setelahnya Ravendra pun berpamitan dengan Aksara dan Arsyilla. Kemudian melajukan kembali mobilnya menuju Agastya Property, tempatnya bekerja sekarang ini.
Aksara segera meraih tangan istrinya itu, menggandengnya, dan mengajaknya masuk ke dalam perusahaan Jaya Corp.
“Kok bisa barengan sama Vendra sih?” tanya Aksara.
“Kan tadi sudah dijelasin Vendra … Ayah cemburu?” tanyanya kepada suaminya.
Terlihat Aksara menggelengkan kepalanya, “Aku sudah meninggalkan kecemburuanku di rumah Honey … aku tidak cemburu kok. Hanya kaget kok tadi tiba-tiba sama sang mantan,” balas Aksara.
Segera tangan Arsyilla bergerak dan memukul lengan suaminya itu, “Isshs, Ayah … maaf yah, soalnya Ravendra yang mau nolongin. Aku sudah menolak, tetapi dia mau anterin,” balas Arsyilla.
__ADS_1
“Enggak apa-apa Honeyku … yang penting kamu sampai di sini dengan selamat. Tungguin aku dulu yah. Di ruangan sudah tersedia Teh Manis Panas dan aneka camilan kesukaan kamu. Aku rapat sebentar sama klien dulu yah. Mau tiduran juga tidak apa-apa, enjoy saja,” ucap Aksara.
Sehingga kali ini Arsyilla memilih istirahat di ruangan suaminya, dan menunggu sampai suaminya itu pulang kerja. Baru kali ini, Arsyilla menyusul suaminya bekerja dan justru menunggui suaminya itu sampai waktu bekerja usai.