
Keluarga Papa Radit, Mama Khaira, Aksara, Arsyilla, dan Arshaka berkumpul hingga nyaris tengah malam untuk menikmati acara barbeque-an, sembari mengobrol dan berbagi kisah hidup mereka masing-masing. Rasanya terasa hangat, banyak kisah yang diceritakan antara orang tua kepada anak-anaknya. Pun demikian, sang anak pun banyak belajar tentunya dari pengalaman dari kedua orang tua mereka.
“Jadi, apa Kak Syilla sudah mencintai Mas Aksara?” tanya Arshaka perlahan.
Bukan bermaksud kepo atau lainnya, Arshaka hanya ingin tahu perasaan Kakaknya kini. Tentu saja Arshaka tidak menghalangi perasaan Kakaknya. Justru Arshaka begitu lega jika akhirnya rumah tangga Kakaknya akan berjalan sama seperti rumah tangga Mama dan Papanya.
Perlahan Arsyilla pun melirik sekilas ke arah suaminya, dan wanita itu pun tersenyum pias. “Iya … aku cinta sama Kak Aksara,” aku Arsyilla kali ini.
Bukan hanya Arshaka yang mendengarnya, tetapi juga Mama Khaira dan Papa Radit pun turut mendengarnya. Semua yang ada di situ pun tersenyum mendengar pengakuan Arsyilla secara langsung.
“Kala Mas Aksara sih sudah kelihatan kalau cinta sama Kakak … cuma dulu Kakak kan jutek banget sama Mas Aksara,” sahut Arshaka lagi.
“Abis … dulu Mas-mu itu nyebelin,” sahut Arsyilla.
Papa Radit kali ini tersenyum, rasanya melihat Arsyilla sekarang ini mengingatkannya pada sosok istrinya waktu awal kali menikah. Istrinya yang lembut itu, dulu sangat jutek dengannya. Syukurlah bahwa semua telah berlalu, sekalipun badai menerpa rumah tangganya, tetapi Papa Radit dan Mama Khaira bisa melewatinya bersama-sama.
Sementara Aksara sendiri hanya tersenyum, dalam hatinya berkata jangan sampai Arsyilla membongkar prank terbesar dan tergila yang pernah dia lakukan hanya sekadar untuk mendapatkan Arsyilla. Sebab, Aksara tentu sangat yakin bahwa Papa Radit tentu akan menjadi begitu marah dengan aksi nekadnya.
“Aku pun juga mencintaimu, Sayang …,” balas Aksara.
Tidak menyangka juga bahwa pria yang sering kali berwajah datar dan serius itu, di hadapan mertua dan adik iparnya mengatakan bahwa dirinya juga mencintai istrinya itu. Tentu saja, pengakuan dari Aksara membuat Arsyilla menundukkan wajahnya lantaran malu dan juga tersipu karena sekarang ada Papa, Mama, dan Adiknya.
“Ya sudah … sebaiknya istirahat. Sudah hampir tengah malam. Besok bangun agak siang tidak apa-apa, lagipula kalian pasti kurang tidur dan kecapekan dari Solo juga,” ucap Mama Khaira yang meminta anak-anaknya untuk beristirahat karena hari telah begitu malam.
Semua orang membereskan peralatan barbeque itu terlebih dahulu, dan setelahnya mereka memasuki kamar masing-masing. Arsyilla menggandeng tangan suaminya untuk kembali memasuki kamar mereka di lantai dua. Kamar Arshaka juga berada di lantai dua, sementara Mama Khaira dan Papa Radit sekarang menempati kamar di lantai bawah.
Begitu sudah sampai di dalam kamar, Arsyilla yang sudah beberapa kali menguap, memilih untuk menggosok giginya sebelum tidur. Aksara pun turut membuntuti istrinya ke kamar mandi dan menggosok gigi. Setelahnya, Arsyilla duduk dan bersandar di head board tempat tidurnya. Agaknya Arsyilla masih menunggu Aksara yang masih berada di kamar mandi.
__ADS_1
“Enggak bobok?” tanya Aksara.
“Nungguin kamu,” sahut Arsyilla.
Pria yang merasa ditunggui istrinya itu pun tersenyum, dan segera menaiki ranjang dan duduk di samping istrinya. Membawa satu tangannya untuk merangkul pundak istrinya.
“Kenapa nungguin aku?” tanya Aksara.
Arsyilla pun menatap wajah suaminya itu dan tangannya menggenggam erat satu tangan Aksara.
“Kak, aku tidak tahu sepilu apa kehidupanmu waktu berpisah dari Bunda Naya dan Ayah Bisma … hanya saja aku yakin bahwa kamu pun kesakitan dengan semuanya itu. Sekarang, jangan merasa sakit lagi ya Kak … aku akan selalu ada bersama Kakak. I am always be with you,” ucap Arsyilla dengan tulus dan sepenuh hati.
Rasanya saat mengobrolkan masa lalu suaminya itu dan mendengar bahwa orang yang telah menculiknya ternyata adalah Om Darren, Arsyilla merasa bahwa mungkin saja masih ada luka di dalam hati suaminya sekalipun waktu sudah berlalu.
Mendengar ucapan Arsyilla, Aksara pun mengangguk. Pria itu menatap wajah istrinya dengan perasaan senang sekaligus haru. Tidak mengira bahwa Arsyilla akan bersimpati dengannya. Aksara pun yakin bahwa apa yang dilakukan Arsyilla bukan sekadar belas kasihan, tetapi karena Arsyilla mencintainya.
Tanpa menunggu waktu lama, Aksara merengkuh tubuh Arsyilla dalam pelukannya, mendekapnya begitu erat. Pria itu bahkan memejamkan matanya sejenak, merasakan hangat pelukan Arsyilla.
“Iya Syilla Sayang … terima kasih. Aku pun berjanji akan selalu ada buat kamu. Aku akan selalu bersama kamu,” janji Aksara kali ini kepada Arsyilla.
Arsyilla lantas mengurai sejenak pelukan suaminya itu dan wajahnya bergerak mencuri satu ciuman di bibir Aksara.
Chup!
“Ini bukti janjiku kepadamu, Kak … I Love U,” ucap Arsyilla.
Aksara pun tersenyum, pria itu justru menyatukan keningnya dengan kening Arsyilla. Menggerakkan wajahnya ke kanan dan ke kiri, hingga hidung keduanya saling bersentuhan.
__ADS_1
“Ah, aku lega … akhirnya perasaanku buat kamu terbalas. Perasaan yang sudah lama kupendam dan membuatku benar-benar gila, akhirnya terbalas. Terima kasih, Syilla … I Love U too,” balas Aksara.
Setelahnya, Arsyilla kembali masuk dalam pelukan suaminya itu. Mencerukkan wajahnya di dada bidang suaminya, dan mendekapnya begitu erat.
“Ingat ya Kak … apa pun yang kamu alami, kamu bisa berbagi denganku. Kamu tidak ada trauma di masa lalu kan Kak?” tanya Arsyilla perlahan.
Aksara pun menggelengkan kepalanya, “Tidak … tidak ada trauma. Hanya saja, suasana hatiku begitu buruk tiap kali melintasi taman kota. Itu karena Om Darren meninggalkan aku di taman begitu saja, hingga ada Bu Lisa yang menolongku dan membawaku ke Panti Asuhan,” jelas Aksara.
“Kalau kamu merasa suasana hatimu buruk saat melintasi taman kota, kita bisa buat kenangan kita berdua, Kak … ubah situasi berbalut kesedihan itu menjadi situasi yang manis bagi kita berdua,” sahut Arsyilla.
Aksara lantas tersenyum, “Ayo sekarang tidur … sudah tengah malam Istriku,” balasnya.
“Yah, aku kan ingin memastikan kamu baik-baik saja,” balas Arsyilla.
Aksara mengurai pelukannya, pria itu berbaring dan kemudian membawa Arsyilla dalam pelukannya, menarik selimut untuk menyelimuti keduanya.
“Kamu tenang saja Sayang … semuanya baik-baik saja. Terima kasih buat saranmu, iya … lain kali kita bisa jalan-jalan bersama di taman kota. Temani aku yah?” pinta Aksara kali ini kepada istrinya.
“Iya … aku akan selalu menemani kamu. Kak ….” panggil Arsyilla lagi kepada suaminya itu.
“Hmm, apa?” sahut Aksara.
“I Love U,” balas Arsyilla.
“I Love U too, Arsyillaku. Aku senang banget … dalam beberapa hari terakhir, kamu selalu mengucapkan kalimat cinta itu kepadaku. Bisa enggak, setiap hari kamu mengucapkan ‘i love u’ kepadaku?” tanya Aksara.
Arsyilla pun menganggukkan kepalanya perlahan, “Iya … everyday i love u, My Hubby,” sahut Arsyilla.
__ADS_1
Rasanya begitu senang dan lega karena ucapan cinta dari Arsyilla selalu saja membuat Aksara berbunga-bunga. Jika dulu istrinya hanya sekadar mengatakan nyaman kepadanya, kini perasaan itu telah berubah menjadi cinta. Penantiannya untuk sang istri benar-benar berbuah manis.