Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Merasa Tak Berguna


__ADS_3

Tidak terasa sudah tiga hari lamanya, Aksara berada di Rumah Sakit. Arsyilla dan anggota keluarga lainnya pun berganti-gantian untuk menemani Aksara. Di siang hari, Arsyilla akan datang dengan membawakan makan siang, menyuapi suaminya itu, dan menjelang sore Arsyilla akan pulang. Di malam hari, ada Ayah Bisma, Papa Radit, dan Arshaka yang berganti-gantian untuk menemani Aksara di malam hari.


Di hari yang ketiga ini, Dokter memperbolehkan Aksara untuk pulang ke rumah. Kakinya masih mengenakan gips, dan setiap awal minggu Aksara harus melakukan kontrol ke Rumah Sakit.


Kali ini Ayah Bisma dan Papa Radit yang datang untuk menjemput Aksara. Sebenarnya Arsyilla ingin ikut, tetapi Mama Khaira meminta Arsyilla untuk berada di rumah saja. Menata dan merapi kamar yang ada di lantai satu untuk ditempati sementara bersama suaminya dan Baby Ara. Menimbang semuanya, akhirnya Arsyilla memilih untuk tinggal di rumah.


"Kita pulang sekarang, Aksara?" tanya Ayah Bisma kepada putranya itu.


"Iya Ayah ... Aksara sudah kangen sama Ara," jawabnya dengan jujur.


Semua itu karena sudah tiga hari dirinya tidak melihat putri kecilnya Aurora. Selama berada di Rumah Sakit, hanya beberapa kali saja Aksara melakukan panggilan video dengan Ara. Selebihnya hanya istrinya saja yang bolak-balik ke Rumah Sakit mengunjunginya.


"Baik, Ayah dan Papa akan langsung mengantarmu ke rumah. Tadi waktu Ayah kemari, Papa kamu yang mengambil obat di apotek. Masih ada beberapa obat yang harus kamu minum. Pastikan kamu meminumnya, dan mari kita pulang karena istri dan putrimu sudah menunggu," ucap Ayah Bisma lagi.


"Makasih Ayah ... makasih Papa," ucap Aksara yang berterima kasih kepada Ayah dan Papa mertuanya itu.


Dengan perlahan, Papa Radit yang saat ini mengemudikan mobil dan mengantar Aksara untuk pulang ke rumahnya. Kurang lebih perjalanan setengahan jam dari rumah sakit, sekarang mereka sampai di rumah milik Aksara.


“Hati-hati Aksara,” ucap Papa Radit dan Ayah Bisma bersamaan. Mereka menahan Aksara untuk tidak langsung turun dari mobil, tetapi Ayah Bisma mengambilkan kruk untuk Aksara terlebih dahulu.


“Makasih Ayah, Pa,” ucap Aksara.


Aksara pun tertatih untuk masuk ke dalam rumahnya. Kaki yang dipasangi gips dan juga berusaha berjalan menggunakan kruk. Namun, Aksara tak ingin menyerah, susah payah pun dia harus berusaha. Rupanya di depan pintu sudah ada Arsyilla yang menggendong Baby Ara, Mama Khaira, dan Bunda Kanaya yang menyambutnya.


“Welcome home, Ayah,” sapa Arsyilla dengan mata yang berkaca-kaca. Rasanya begitu haru menyambut suaminya yang datang dengan kondisi yang tidak sepenuhnya baik. Dadanya terasa sesak, tetapi lebih baik baginya jika Aksara berada di rumah.


Aksara pun menganggukkan kepalanya, tangannya terulur dan mengelus puncak kepala putri kecilnya. “Ayah pulang, Ara,” ucapnya.

__ADS_1


Sungguh, itu adalah pemandangan yang penuh haru. Mama Khaira dan Bunda Kanaya sampai menangis melihat Aksara yang kembali ke rumah.


“Ayo, masuk dulu … Aksara tidak bisa berlama-lama berdiri,” ucap Ayah Bisma kali ini.


Sehingga seluruh anggota keluarga pun masuk ke dalam, ada Bunda Kanaya yang membantu Aksara mencapai ruang tamu dan membantu putranya itu untuk duduk.


“Masih sakit?” tanya Mama Khaira kepada menantunya itu.


“Hanya kaki saja kok Ma … selebihnya tidak sakit kok,” balas Aksara.


“Sabar ya Aksara … nanti sembuh juga kok. Jangan patah semangat yah, pasti sembuh kok,” balas Mama Khaira yang memberikan semangat kepada menantunya itu.


“Iya Ma … yang penting sekarang sudah berada di rumah. Bisa berkumpul lagi sama anak dan istri,” jawab Aksara.


Di Rumah Sakit sering kali dia begitu merindukan Arsyilla dan Ara. Ingin selalu melihat keduanya, memberikan pelukan dan kecupan yang hangat, tetapi nyatanya Aksara harus benar-benar menahan rindunya karena dirinya yang masih berada di Rumah Sakit. Kini, bisa kembali berkumpul dengan Arsyilla dan Ara tentunya membuat Aksara merasa lega.


“Boleh Bunda,” jawab Aksara.


Bunda Kanaya pun berdiri, wanita itu meminta Ara dari gendongan Arsyilla dan kemudian menyuruh Arsyilla untuk mengantar suaminya itu ke kamar.


“Syilla, antarkan Aksara ke kamar dulu yah. Sini, Baby Ara sama Oma,” ucapnya.


Arsyilla pun menganggukkan kepalanya, dia membantu suaminya berdiri, dan berjalan perlahan menuju kamar yang sudah disiapkan di lantai satu.


“Pegangan Kak … hati-hati,” ucap Arsyilla yang kala itu membawa satu tangannya melingkari pinggang suaminya dan membantunya berjalan.


Aksara pun menganggukkan kepalanya, “Iya Honey, makasih ya udah nolongin,” jawab Aksara.

__ADS_1


Begitu sampai di depan kamar, Arsyilla membuka pintu kamar itu, dan menolong suaminya masuk, sampai Arsyilla membantu suaminya berbaring di tempat tidur. Setelahnya, Arsyilla menaruh kruk milik suaminya dan menaruhnya dekat dinding, supaya kruk itu tidak jatuh.


Setelahnya, Arsyilla duduk di tepian ranjang di dekat suaminya itu. Wanita itu menghela nafas dan tersenyum melihat suaminya.


“Capek yah bantuin aku ke kamar?” tanya Aksara.


“Tidak, aku justru senang bisa melakukan banyak hal untuk kamu,” balas Arsyilla.


Aksara kemudian menggeser tubuhnya sedikit, pria itu tanpa kata segera merengkuh tubuh Arsyilla dalam pelukannya. Ya, Aksara memeluk tubuh istrinya dan memejamkan matanya.


“Maafkan aku ya Honey … aku justru nyusahin kamu. Kamu bakalan kesusahan sampai satu bulan ini. Maaf ya,” ucap Aksara yang masih mempertahankan tubuh Arsyilla dalam pelukannya.


Arsyilla mengusapi punggung suaminya itu. “Jangan merasa begitu Kak … jangan merasa tidak berguna. Aku justru senang bisa melakukan banyak hal untukmu,” balas Arsyilla.


Sungguh, Arsyilla sama sekali tidak keberatan untuk merawat Aksara sampai suaminya itu benar-benar sembuh. Justru, ini adalah wujud pengabdiannya sebagai seorang istri. Seorang istri yang selalu ada dan mendampingi suaminya dalam suka dan duka. Untuk itu, di saat Aksara sedang sakit dan merasa tidak berdaya, Arsyilla tidak segan untuk merawatnya.


“Maaf,” ucap Aksara lagi.


“Tidak perlu minta maaf. Aku cinta kamu, Kak … selalu cinta kamu. Di saat susah dan senang, di saat sehat dan sakit, aku akan selalu mendampingimu,” balas Arsyilla dengan sungguh-sungguh.


“Makasih Honey,” ucap Aksara dengan sungguh-sungguh.


Arsyilla pun menganggukkan kepalanya dan mengurai pelukannya. “Sama-sama Ayah … ya sudah, sekarang kamu istirahat dulu ya Kak … orang tua kita masih berada di sini semua. Jadi, aku temui mereka dulu yah?” pamit Arsyilla.


“Iya … makasih Honey,” sahut Aksara lagi.


Arsyilla pun membantu Aksara untuk kembali berbaring, dan meminta suaminya itu untuk istirahat terlebih dahulu, kemudian dia segera kembali ke ruang tamu dan kembali berkumpul dengan orang tua, mertua,  dan juga Ara.

__ADS_1


__ADS_2