
Satu pekan telah berlalu, kali ini Arsyilla kembali memasuki kelas dan mengajar Perencanaan dan Desain Arsitektur. Lantaran ini adalah pekan pertama usai mid semester, maka Arsyilla akan membagikan nilai hasil ujian kepada para mahasiswanya. Lucunya, supaya tidak diketahui oleh Aksara, Arsyilla rela mengoreksi seluruh hasil mid semester mahasiswanya itu saat waktu istirahat di kampus, supaya memang tidak ketahui Aksara.
“Selamat siang semuanya,” sapa Arsyilla begitu memasuki kelas siang itu.
“Selamat siang Bu Arsyilla,” sahut hampir seluruh mahasiswa.
Kemudian Arsyilla bersiap menyampaikan materi ajar terlebih dahulu kepada seluruh mahasiswa, menjelang waktu pulang tiba barulah Arsyilla mengeluarkan map berwarna cokelat dari dalam tasnya. Wanita itu berdiri tepat di depan para mahasiswa.
“Baiklah, hari ini saya juga akan bagikan nilai hasil ujian Mid Semester kemarin. Yang kali ini mendapatkan nilai yang bagus, saya harap nilainya akan tetap bertahan hingga semester nanti. Sementara untuk mahasiswa yang nilai masih di bawah, tolong bisa belajar giat lagi. Kejar di ujian semester nanti,” ucapnya.
Kemudian Arsyilla memanggil nama setiap mahasiswa untuk maju ke depan, mengambil nilai yang dia bagikan. Para mahasiswa pun menunjukkan reaksi yang berbeda-beda, ada yang tersenyum, ada yang tertunduk lesu, ada pula yang tampak bahagia. Nilai yang mereka dapatkan tercetak jelas di raut wajah mereka. Hingga akhirnya, Arsyilla memanggil nama mahasiswa sekaligus suaminya.
“Yang terakhir silakan Aksara,” ucapnya sembari menyerahkan kertas ujian untuk pria itu.
Aksara yang merasa namanya dipanggil pun, perlahan maju dan menerima hasil kertas ujian itu dari Arsyilla.
“Makasih Bu Arsyilla,” jawabnya sembari menerima kertas hasil ujiannya.
Akan tetapi, Aksara hanya menunjukkan wajah biasa saja. Sekali pun dia yakin bahwa jawabannya mendekati sempurna, tetapi Aksara enggan melihat nilai tersebut, dan memilih melihatnya di apartemen nanti bersama dengan Arsyilla.
Setelah semua nilai dibagikan, akhirnya Ryan pun mengangkat tangannya, “Nilai tertinggi di kelas ini berapa Bu Arsyilla?” tanyanya.
Memang para mahasiswa berorientasi pada hasil yang dicapai, karena itulah mereka sering menanyakan nilai tertinggi dalam satu kelas. Maka dari itu, Arsyilla pun kemudian menjawab, “Nilai tertinggi 98,” jawabnya sembari sedikit mengangguk.
“Wah, keren,” sahut para mahasiswa.
“Ya, mendekati sempurna. Nyaris 100,” jawab Arsyilla lagi.
Setelah semuanya usai, Arsyilla kemudian menutup kelas sore itu, “Baiklah, jika tidak ada lagi yang perlu ditanyakan saya akhiri kelas untuk sore hari ini. Terima kasih sudah bekerja keras dalam ujian Mid Semester kemarin. Sampai jumpa di kelas lagi usai liburan mid semester,” ucapnya.
Memang jadwal dari kampus tersebut, terdapat liburan karena ada beberapa tanggal merah di sana sehingga kuliah libur selama satu pekan. Tentu saja mahasiswa terlihat begitu senang karena mereka bisa liburan, tanpa sibuk memikirkan waktu kuliah selama sepekan.
__ADS_1
Hingga akhirnya, para mahasiswa satu per satu mulai meninggalkan ruangan kelas. Jika ada mahasiswa yang tersisa dan keluar paling akhir itu adalah Aksara. Ya pria itu tampak keluar menunggu Arsyilla keluar dari ruangan kelas. Supaya tidak kelihatan mencolok, Aksara kemudian berjalan di belakang Arsyilla dengan jarak beberapa meter di belakangnya. Rasanya, Aksara ingin membantu Arsyilla membawakan tasnya atau laptopnya. Akan tetapi, Aksara sadar bahwa sudah pasti istrinya itu tidak mau menerima bantuannya.
Kurang lebih 30 menit kemudian, keduanya sama-sama telah tiba di apartemennya. Arsyilla segera melepas heels yang dia kenakan, kemudian sedikit berlari ke dapur. Hari ini sangat gerah dan pekerjaannya di kampus lebih banyak karena harus memeriksa hasil ujian Mid Semester. Oleh karena itu, Arsyilla segera mengambil air putih dingin dan meminumnya. Setelahnya, dia berpamitan dengan Aksara untuk mandi lebih dahulu karena benar-benar gerah dan capek.
Setelah mandi bergantian, rupanya Arsyilla memilih rebahan di tempat tidurnya. Bahkan keduanya belum makan malam, tetapi matanya terasa sudah berat. Rasanya ingin sekali tertidur sekarang ini.
“Kamu ngapain, tidak sehat?” tanya Aksara yang mendekati Arsyilla yang terlihat masih rebahan di tempat tidur.
Wanita itu menggelengkan kepalanya, “Capek banget aku rasanya,” keluhnya kali ini.
“Emang kamu seharian ngapain aja?” tanyanya kini.
“Bukan seharian, tetapi sudah beberapa hari. Mengoreksi nilai ujian mid, buat tabel nilai, dan serahkan nilainya ke kampus. Ya Tuhan, capeknya,” ceritanya. Rasanya kali ini memang begitu banyak pekerjaan yang harus Arsyilla selesaikan terkait dengan pekerjaannya sebagai Dosen.
Aksara pun tertawa, “Risiko jadi dosen seperti itu, tetapi kan kamu suka, jadi ya jalani saja,” balasnya.
Benar apa yang diucapkan Aksara. Setiap pekerjaan memiliki risiko masing-masing. Sama halnya dengan Arsyilla, pekerjaannya sebagai dosen terkadang memang membuatnya lelah dan kecapekan terutama saat waktu ujian tiba.
Mengikuti perintah Aksara, Arsyilla pun bangun. “Kak, keluar yuk?” ajaknya kali ini.
“Kemana?” tanya Aksara dengan cepat. Biasanya memang Arsyilla tidak pernah mengajaknya keluar begitu sudah tiba di apartemen. Akan tetapi, malam ini justru Arsyilla mengajaknya untuk keluar.
“Ke bawah itu saja kok. Pengen susu segar itu, di depan apartemen ada yang jualan di depan ruko,” ucapnya.
Aksara kemudian mengangguk, “Yuk, tumben sih pengen susu segar?” tanyanya lagi.
“Iya, dulu kalau aku kecapean kayak gini, Papa selalu beliin aku susu sapi segar. Diminum hangat-hangat, besok pagi bangun sudah seger, capeknya hilang,” jawabnya.
“Ya sudah yuk, biar suamimu ini yang membelikannya buat kamu,” responsnya cepat. “Kita mau naik mobil, motor, atau jalan kaki?” tanyanya kali ini.
“Jalan kaki aja Kak, persis di depan apartemen kok,” ucapnya.
__ADS_1
“Ya sudah, yuk jalan kaki ke sana,” sahutnya.
Setelahnya, Aksara dan Arsyilla pun sudah tiba di sebuah kedai yang berjualan susu segar di depan sebuah bangunan ruko. Kedai yang biasanya, bahkan hanya tikar-tikar yang digelar di atas trotoar di depan ruko itu. Arsyilla memilih susu cokelat, sementara Aksara memilih susu segar murni.
Arsyilla tampak menikmati segelas susu segar hangat itu. “Enak,” ucapnya usai meminum beberapa teguk susu itu.
Aksara lantas tertawa, “Kamu lucu banget sih,” ucapnya.
Kemudian Arsyilla teringat nilai hasil Mid yang dia bagikan tadi, rasanya kenapa pria itu terlihat biasa-biasa saja, “Kak, kamu enggak lihat hasil ujianmu?” tanya Arsyilla kemudian.
“Belum, emang kenapa?” tanyanya.
Arsyilla kemudian menggelengkan kepalanya, “Oh, enggak … cuma tanya aja kok,” jawabnya singkat.
“Aku pengen buka nilaiku sama kamu aja,” ucapnya.
Kemudian Arsyilla pun tersenyum, “Kamu buka aja nanti Kak,” ucapnya.
Aksara kemudian mengangguk, “Oke deh … baiklah. Syilla, lusa kita honeymoon yuk?” ajaknya kali ini.
“Kemana?” tanyanya.
“Kamu mau kemana?” tanya Aksara dengan cepat kepada Arsyilla.
“Terserah kamu saja,” sahutnya singkat.
Aksara lantas melirik sejenak ke wajah istrinya itu, “Tumben kamu enggak nolak lagi?” tanyanya kini.
Arsyilla lantas menyipitkan kedua matanya, “Ya sudah, aku nolak lagi aja deh. Liburan sepekan aku pulang ke rumah Mama,” godanya kali ini.
“Gak boleh nolak lagi kali ini … udah janji kok. Jadi, ikut aku ya,” ucapnya lagi.
__ADS_1
Arsyilla kemudian mengangguk, “Iya-iya, aku enggak nolak lagi kali ini,” jawabnya lirih.