
Beberapa hari setelahnya, kegiatan rumah tangga Aksara dan Arsyilla masih berjalan sebagaimana mestinya. Ditambah dengan Ara yang semakin lucu dan menambah kebahagiaan kedua pasangan muda tersebut.
"Honey, berapa lama lagi aku harus puasa?" tanya Aksara kepada Arsyilla yang sedang melipati baju-baju Ara.
Akan tetapi, Arsyilla justru tertawa. "Kenapa Kak? Sudah pusing?" tanyanya syarat akan ejekan.
Aksara hanya menghela nafas panjang. "Iya ... aku pusing banget, Honey. Sudah sebulan lebih lima belas hari. Berapa lama lagi aku bisa buka puasa Honey?"
Sungguh menggelikan rupanya diam-diam Aksara pun menghitungi waktu puasanya itu.
Kembali tertawa, Arsyilla hanya menggelengkan kepalanya. "Sabar dulu Kak ... orang sabar itu disayang Tuhan. Emangnya kakinya bener-bener sudah enggak sakit?" tanya Arsyilla sembari tangan melipati berbagai baju-baju bayi milik Ara.
"Berapa lama lagi Honey, aku harus sabar? Rasanya udah lama banget." Kali ini nampaknya Aksara benar-benar menggerutu lantaran sudah puasa begitu lama.
Arsyilla pun berdiri, tetapi bukan untuk menghampiri suaminya. Melainkan dia berdiri untuk memasukkan baju-baju Ara ke dalam lemari penyimpan.
"Kak, bisa minta tolong bantuin?" tanya Arsyilla sembari menolehkan leherkan dan melihat wajah suaminya yang terlihat kusut.
Aksara pun segera berdiri dan membantu membawakan tumpukan baju-baju Ara, menyerahkannya kepada istrinya untuk kemudian di tata di dalam lemari penyimpanan.
Sejenak Aksara pun mengamati betapa istrinya begitu rajin dan terorganisir. Tiap-tiap baju setelan ditempatkan menjadi satu. Sarung tangan dan kaos kaki bayi di tata dan di tempatkan menjadi satu. Semua perlengkapan Ara disimpan begitu rapi menurut jenisnya.
Kurang lebih 20 menit Arsyilla menata lemari penyimpanan Ara. Setelahnya mereka berdua kembali kekamar dengan bersandar di headboard.
Aksara tanpa banyak bicara langsung menyerukkan kepalanya ke bahu istrinya. "Honey, aku kangen."
Arsyilla hanya tersenyum dan mengacak gemas rambut suaminya. "Sabar Kak," ucap Arsyilla yang mencoba menenangkan suaminya itu.
Dengan mengerucutkan bibirnya akhirnya Aksara menghela nafas panjang. "Iya deh, aku sabar. Demi kamu ... aku rela lakuin apapun. Termasuk puasa."
Arsyilla pun terkekeh geli. "Kamu kalau kayak gini lucu banget sih Kak ... serasa aku punya dua bayi deh."
Aksara pun kali ini juga tertawa. "Ladang batinku meronta-ronta Honey ... kan aku jujur apa adanya sama kamu."
__ADS_1
Sementara Arsyilla hanya bisa tertawa dan mengacak gemas rambut suaminya itu.
***
Selang beberapa hari berlalu ....
Arsyilla kali ini diam saja, dia hanya ingin memberi sedikit kejutan untuk suaminya. Juga dia berharap Ara bisa bekerja sama dengannya yaitu tidak rewel dan bobok nyenyak malam ini.
Ketika sore menjelang, dengan senyuman lebar dia menyambut kedatangan suaminya yang telah pulang dari kantor.
"Selamat sore Ayah...." ucapnya saat membukakan pintu sembari menggendong Ara.
"Selamat sore juga Queen dan Princess nya Ayah ...," Ucapnya sembari memasuki rumah. "Ayah mandi dulu ya ... abis ini digendong Ayah ya."
Aksara segera masuk ke kamar mandi, sementara Arsyilla berkutat di dapur membuatkan cokelat hangat untuk suaminya. Selang lima belas menit, Aksara telah keluar dengan wajah yang segar.
"Sini Ara Sayang ... ikut Ayah yuk. Ayah kangen sama Ara ... hari ini Ara pinter enggak? Cantiknya anak Ayah...."
Seperti biasa sepulang bekerja Aksara akan berganti menjaga Ara, mengajak bayi itu mengobrol, melakukan bounding. Melihat senyuman dan tawa Ara, serasa rasa lelahnya bekerja hilang begitu saja.
Bayi yang nyaris terlelap itu tiba-tiba saja tersenyum dan membuat Arsyilla begitu gemas dengan anaknya itu. Dengan pelan-pelan, Arsyilla menidurkan Ara di dalam box bayi.
Setelah Ara terlelap, Arsyilla lantas menghampiri suaminya yang tengah menonton televisi.
"Ara sudah tidur Honey?" tanya Aksara begitu istrinya datang dan duduk di sisinya.
Arsyilla tersenyum. "Iya sudah ... semoga boboknya lelap Ara nya. Kamu nonton apa Kak?" tanya Arsyilla yang mulai menyandarkan kepalanya di lengan suaminya.
"Lihat film aja Honey. Aku juga asal kok milih chanel-nya," ucapnya seraya menunjuk film yang tengah berjalan dengan dagunya.
Namun pria itu seolah menelan salivanya saat film yang tengah dia tonton menampilkan adegan ciuman. Aesyilla yang melihat suami hanya tertawa dalam hati.
Kemudian Arsyilla sedikit mendekat dan menangkup wajah suaminya. Mensejajarkan wajah keduanya, lalu dengan beraninya dia mendaratkan ciuman dan kecupan lembut di bibir suaminya.
__ADS_1
Ciuman yang diberikan penuh kelembutan dan membuat keduanya sontak memejamkan mata, merasakan setiap buaian yang menyatu melalui ciuman, lu-matan, dan kecupan yang sama-sama mereka lakukan.
Merasakan start awal yang dilakukan istrinya, Aksara pun tersenyum. Dengan segera dia mengambil alih kendali, membuka mulut dan membalas ciuman yang dilakukan oleh istrinya.
Tubuh pria itu bagai terserang aliran listrik ribuan volt. Hampir dua bulan lamanya berpuasa, dan kini hanya sebatas ciuman saja seluruh tubuhnya bagai tersengat arus listrik.
Menjeda sejenak aktivitasnya. "Apa sudah boleh Honey?" tanyanya dengan suara yang terdengar parau dan dalam di telinga Arsyilla.
Arsyilla hanya tersenyum dan memberi sedikit anggukan. "Mau ambil hadiahnya sekarang? Mumpung Ara baru bobok," bisik Arsyilla di telinga suaminya.
Aksara pun tersenyum penuh makna, dengan segera ia mematikan televisi dan segera membopong istrinya ke tempat tidur. "Yakin, mau kasih hadiah buat aku?" tanyanya sembari mendaratkan istrinya di atas tempat tidur.
Arsyilla mengerlingkan satu matanya. "Iya... euhm, tetapi bagian 'atas' gak boleh disentuh ya."
Tanpa menunggu waktu lama, pria itu segera mengungkung istrinya. Tangannya bergerak merasakan setiap inci kulit Arsyilla yang terasa begitu lembut di tangannya. Dalam ciumannya yang dalam, dia berusaha melepas satu per satu pakaian mereka kenakan.
Kecupan dan ciuman yang dia lakukan sukses membuat Arsyilla memejamkan mata dan menggerakkan kakinya dengan gelisah. Aksara mengingat ada bagian yang tidak boleh ia sentuh, walaupun dia begitu ingin menyentuh, merasai, bahkan membawa kedua bentuk seukuran buah persik ke dalam rongga mulutnya, tetapi dia menahannya.
Tanpa menunggu waktu, Aksara menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh istrinya, merengkuhnya dan melancarkan aksinya dengan menghentak dan menghujam dengan begitu dalam. Cawan surgawi yang selama ini dia rindukan setelah sekian waktu lamanya. Hujaman dan desakan yang dia berikan dengan rengkuhan kuat pada tubuh sang istri.
Keduanya sama-sama memejamkan mata dan menahan suara yang muncul supaya tidak mengganggu bayi kecilnya yang tengah tertidur. Yang Arsyilla rasakan hanya mampu membawa kedua tangannya balas merengkuh suaminya.
Wanita itu hanya mampu menggigit bibir bagian dalamnya saat dia merasa terombang-ambing dalam gelombang cinta yang dihasilkan melalui gerakan seduktif yang dilakukan oleh suaminya.
Aksara semakin kuat merengkuh tubuh istrinya dan bergerak semakin dalam. Hingga dia merasakan remasan di bawah sana yang membuat dia semakin gelap mata.
Kesan erat. Hangat. Adalah semua rasa yang bisa memuaskan ladang batinnya. Semua itu membuat Aksara kian menggebu hingga merasa dia berada di batas akhir pertahanannya. Aksara pecah. Meledak. Dalam semua indahnya nektar cinta yang telah lama ingin dia teguk bersama dengan istrinya.
Menstabilkan deru nafasnya, Aksara menelisipkan rambut Arsyilla ke belakang telinganya. "Terima kasih hadiahnya Honey ... akhirnya puasaku berakhir. Love U Honey...."
Arsyilla turut menangkup wajah suaminya. "Wajahnya jadi ceria banget sih usai dapat hadiah..."
"Siapa juga yang tidak ceria saat dapat hadiah kayak gini. Dikasih tiap hari aku juga mau Honey...." Ucapnya sembari mendaratkan ciuman di bibir istrinya yang mulai membengkak karena ulahnya itu.
__ADS_1
Arsyilla lantas mencubit hidung suaminya. "Suami paling modus sedunia ... Love U Kakak ... Love U Ayah," balasnya sembari kian erat memeluk pria hebat yang menemani dan mencintainya dengan sepenuh hati itu.