
Tanpa menunggu waktu lama, Arsyilla mengajak suaminya untuk menaiki lantai dua, menuju ke kamarnya.
“Ah, akhirnya … di rumah Papa dan Mama lagi,” sahut Arsyilla sembari merebahkan tubuhnya begitu saja di atas ranjang di dalam kamarnya.
“Kamu senang ke rumah Papa dan Mama?” tanya Aksara.
“Iya, senang … seumur hidup aku di sini, jadi setelah udah nikah dan bisa kembali ke rumah orang tua walaupu cuma sebentar itu seneng banget,” sahut Arsyilla.
Mendengar jawaban dari Arsyilla, agaknya Aksara harus lebih sering mengajak istrinya itu untuk mengunjungi rumah orang tuanya. Aksara pun melihat bagaimana wajah Arsyilla begitu cerah saat tiba di rumah Papa Radit dan Mama Khaira.
“Kak, enggak capek?” tanya Arsyilla kemudian.
Pria itu kemudian melepaskan jaket yang masih dia kenakan, kemudian menyusul istrinya yang sudah terlebih dahulu berbaring di atas ranjang.
“Enggak, ada apa?” sahut Aksara.
“Enggak apa-apa … kan bisa rebahan dulu,” sahut Arsyilla dengan cepat.
Tanpa banyak bertanya, Aksara menelisipkan satu tangannya di bawah kepala Arsyilla. Lantas pria itu membawa kepala Arsyilla untuk medekat ke dadanya. Mengusapi puncak kepala istrinya itu dengan perlahan.
“Aku tidur sebentar boleh Kak?” tanya Arsyilla terlebih dahulu kepada suaminya itu.
“Boleh … tidur saja. Kamu itu, kalau udah posisi kayak gini jadi cepet banget tidur sih Sayang,” balas Aksara.
Arsyilla mengangguk, wanita itu memilih memejamkan kedua matanya, dengan tangan yang melingkari pinggang suaminya. Tertidur dalam pelukan suaminya seperti ini memang seolah membuat Arsyilla lebih cepat terbuai ke alam mimpi.
__ADS_1
***
Malam harinya …
Aksara dan Arsyilla nyatanya sama-sama tertidur sore itu. Menjelang jam 19.00, barulah mereka terbangun. Keduanya bergantian menggunakan kamar mandi dan tentunya akan turun ke bawah untuk merayakan ulang tahun Arshaka.
“Wah, adiknya Kakak yang ulang tahun. Selamat yah … sekarang kamu sudah dewasa, Kakak doakan kamu sehat, panjang umur, dan sukses selalu,” ucap Arsyilla yang begitu turun langsung memeluk adik lelaki satu-satunya itu.
“Amin … makasih Kak … makasih udah dibela-belain dari Jogjakarta langsung ke sini,” balas Arshaka yang juga memeluk kakaknya itu.
Setelahnya giliran Aksara yang mengucapkan selamat ulang tahun kepada Adik Iparnya itu, “Selamat ulang tahun ya Brother … doanya sama seperti Syilla,” balas Aksara.
“Amin … Amin Mas, makasih ya Mas Aksara,” sahut Arshaka.
Hingga akhirnya Mama Khaira dan Papa Radit keluar menuju taman dengan membawa kue ulang tahun dan lilin yang menyala di atasnya.
Melihat keharmonisan rumah tangga dan keluarga yang seperti ini membuat hati Aksara begitu hangat. Ya, kehangatan keluarga seperti ini sama seperti keluarganya. Di mana Ayah Bisma dan Bunda Kanaya juga saling mengasihi satu sama lain. Pasangan yang bertahan untuk memegang cinta dan komitmen mereka masing-masing. Di dalam hatinya, Aksara pun ingin melalui waktu yang begitu panjang dengan Arsyilla. Berbagi hidup dengan wanita yang sudah disayangi dan dicintainya sekian lama itu.
"Terima kasih Papa dan Mama," jawab Arshaka.
Pemuda itu terlihat memeluk Mama dan Papanya bergantian. Rupanya Arsyilla pun turut bergabung dengan Arshaka, dan memeluk Papa dan Mamanya. Keempatnya berpelukan bersama. Menyadari ada sosok yang tertinggal, Arsyilla lantas menarik tangan suaminya dan mengajaknya untuk berpelukan bersama.
Pelukan seolah menjadi bahasa kasih bagi keluarga Papa Radit dan Mama Khaira. Pelukan yang hangat bisa memberikan semangat, menyalurkan kasih sayang, dan menguatkan satu sama lain.
Aksara sendiri sebenarnya merasa kikuk. Akan tetapi, dia turut berpelukan. Hatinya benar-benar merasa bahagia malam itu, hingga rasanya momen seperti ini akan selalu Aksara kenang.
__ADS_1
"Make a wish, Shaka," pinta Mama Khaira pada akhirnya.
Arshaka pun mengangguk, menundukkan sejenak wajahnya dan memejamkan matanya perlahan. Setelahnya, barulah Arshaka meniup lilin di atas Kue Ulang Tahun itu.
"Happy Birthday, My Son," balas Papa Radit dan Mama Khaira bersamaan.
"Thank you Papa dan Mama. Terima kasih juga Kak Syilla dan Mas Aksa," balas Arshaka.
Setelahnya mereka duduk bersama di taman itu. Bahkan Papa Radit membuat api unggun untuk sekadar menghangatkan badan mereka di tengah udara dingin malam itu. Sementara Arshaka dan Kakak Iparnya sibuk mempersiapkan untuk membuat Barbeque.
"Seneng banget, bisa seperti ini," ucap Arsyilla dengan tiba-tiba.
"Kenapa Sayang?" sahut Mama Khaira.
"Enggak Ma ... bisa merayakan ulang tahun Arshaka rasanya seneng banget. Biasanya dulu kita yang jauh-jauh terbang ke Singapura untuk merayakan ulang tahun Arshaka, dan sekarang bisa merayakan di rumah kita, Syilla merasa seneng banget," ucapnya.
Lantaran Arshaka sekolah di Singapura, memang saat Arshaka berulang tahun, keluarganya memilih menyambangi Singapura dan merayakan ulang tahun Aksara dengan sekadar makan malam bersama. Keluarga Raditya selalu merayakan hari ulang tahun anggota keluarga sebagai wujud syukur karena Tuhan sudah titipkan dan anugerahkan putra dan putri untuk mereka.
Mendengar cerita Arsyilla, Mama Khaira pun menganggukkan kepala, "Benar Syilla ... ulang tahun Adik kamu setelah sekian tahun dirayakan di Singapura. Lihatlah, Mama senang Shaka bisa akur dan akrab banget dengan Kakak Iparnya," ucap Mama Khaira sembari menunjuk putra dan menantunya itu.
"Kak Aksara adalah pria yang baik, Ma," ucap Arsyilla kepada sang Mama.
"Mama tahu sayang ... sekalipun di awal dulu, Mama kecewa. Akan tetapi, Mama bisa melihat dari sorot matanya, jika Aksara begitu sayang dan serius sama kamu. Tidak menyangka bahwa dia adalah putra yang selama ini Mama cari," balas Mama Khaira.
Arsyilla lantas mengangguk, "Dan, Kakak Aksara berkata dia sangat bersyukur mengenal Papa dan Mama di saat dia masih kecil. Dia ingin menjadi orang yang berhasil bagi Papa dan Mama juga," jelas Arsyilla.
__ADS_1
"Iya Sayang ... Mama dan Papa juga bersyukur bertemu suamimu saat dia masih kecil. Tidak menyangka. Anak kecil yang dekat di hati Mama kini menjadi menantu Mama," balas Mama Khaira.
Mendengar cerita sang Mama, Arsyilla pun memeluk Mamanya itu. Ada rasa haru yang menyelimuti hatinya. Arsyilla bersyukur di hadapannya sekarang ini berdiri tiga pria yang sangat hebat dan begitu berarti dalam hidupnya. Papa Radit, Arshaka, dan juga suaminya Aksara.