Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Welcome Our Princess!


__ADS_3

Setiap jam menanti pertambahan pembukaan membuat Arsyilla meringis kesakitan. Setiap kali rasa sakit itu datang, dia menangis terisak dan meracau tidak jelas. Bersyukur Aksara menjadi suami yang begitu siaga dan selalu menggenggam tangan Arsyilla. Di ruang tindakan persalinan itu, keduanya seolah memang sama-sama berjuang. Arsyilla merasakan kesakitan, pun sama halnya dengan Aksara yang merasa begitu sesak. Sebenarnya Aksara tak kuasa untuk melihat semua proses demi proses ini. Akan tetapi, sebagaimana janjinya Aksara memberanikan dirinya sendiri untuk menemani Arsyilla bersalin.


Terlebih sekarang, Arsyilla justru kian terisak, “Kak, ini sakit banget … sakitnya dari kepala sampai ujung kaki. Sakit banget. Gimana ini Kak? Aku rasanya enggak kuat, Kak,” ucap Arsyilla dengan bibirnya yang bergetar. Wajahnya kian sembab karena menangis setiap kali gelombang kontraksi itu datang.


Aksara menciumi wajah istrinya itu. "Sudah pembukaan delapan Sayang, sebentar lagi ya. Kamu harus kuat. Ada aku di sini," ucap Aksara yang sama paniknya. Pria itu pun tidak kuasa melihat istrinya yang merintih kesakitan.


Sudah dua jam berlalu, dan beberapa kali Arsyilla masih menangis. "Jangan banyak nangis Sayang, nanti kamu capek karena terus menerus menangis. Simpan tenaganya buat mengejan nanti," ucap Aksara.


Arsyilla hanya diam dan air mata menetes dengan sendirinya. "Sakit Kak ... ini perut aku kenceng banget, rasanya kayak ada yang mau keluar," ucap Arsyilla dengan wajahnya yang merah kesakitan.


Mendengar apa yang dikeluhkan istrinya, Aksara segera memencet tombol yang ada di atas brankar istrinya.


Tidak berselang lama Dokter Rinta dan dua Perawat masuk ke dalam. "Kita cek dalam lagi ya Bu, untuk melihat apakah pembukaannya sudah lengkap."


"Sakit Dok...." ucap Arsyilla yang masih terus-menerus menangis.


Ketika Dokter Rinta kembali melakukan pengecekkan dalam, Arsyilla langsung menggenggam tangan suaminya. Sementara Aksara hanya berharap pembukaannya akan semakin lengkap, sehingga istrinya bisa terlepas dari sakit bersalin yang membuatnya tidak tega.


"Pembukaan sudah sempurna ya Bu. Begitu perut terasa kencang dan ingin mengejan, langsung tarik nafas dalam-dalam dan mengejan ya Bu. Dorong di area pinggul, seperti sedang pup itu ya Bu," instruksi Dokter Rinta yang sudah bersiap dengan berbagai peralatan medis di sana.


Arsyilla langsung mempersiapkan diri dan memegang kuat lengan suaminya. Aksara pun mempersiapkan diri dan hatinya, menemani setiap proses menyambut buah hati mereka. Pria itu terlihat begitu kuat menemani Arsyilla mengejan satu per satu seolah nafasnya mau putus terdengar di telinganya. Teriakan dan isakan tangis bercampur menjadi satu, menemani Arsyilla berjuang untuk melahirkan buah hati mereka berdua.


Dengan mata kepalanya sendiri Aksara menjadi saksi betapa istrinya berjuang di antara hidup dan mati. Rasa sakit yang dialami oleh Arsyilla seolah juga dia rasakan. Bahkan ketika Arsyilla mengambil nafas dalam-dalam, Aksara pun juga melakukannya. "Ayo Honey, kamu bisa! Kamu pasti bisa! Kamu hebat, Honey!", ucapnya yang terus menyemangati istrinya sembari menyeka air mata yang terus berlinang di wajah ayu istrinya.


Wajah yang sembab itu, tetap saja terlihat begitu cantik dan mempesona di mata Aksara. Di tengah kesakitannya, terlihat jerih payah Arsyilla untuk berjuang melahirkan Dedek Bayi yang tidak lama lagi akan mereka jumpai.


"Ayo Bu Arsyilla, sedikit lagi. Kepalanya sudah kelihatan. Ambil nafas kuat-kuat Bu, satu dorongan lagi dedek bayi akan keluar," ucap Dokter Rinta yang memberikan instruksi kepada Arsyilla.


Tatapan mata Arsyilla meredup, wanita itu menggelengkan kepalanya kepada suaminya. "Aku nggak kuat, Kak. Sakit banget. Aku capek, Kak," keluhnya di tengah perjuangan melahirkan buah hatinya.

__ADS_1


Satu kalimat yang diucapkan Arsyilla membuat dada Aksara terasa sesak bergemuruh. Tidak disadari mata Aksara telah basah, dia segera menggenggam kuat tangan Arsyilla. "Nggak Honey. Ayo, kamu bisa. Kamu kuat!" ucap Aksara dengan rasa sesak di dalam dadanya.


Melihat Arsyilla yang seolah benar-benar tidak kuat, Dokter Rinta segera memberi instruksi lanjutan. "Ibu Arsyilla, dengarkan saya yah …  jangan ditutup matanya ya. Ibu, kepala baby nya sudah keliatan. Yuk, mengejan Bu. Begitu perut terasa kencang, ambil nafas lagi dan mengejan ya Bu. Beberapa ejanan lagi, Ibu Arsyilla sudah bisa menimang adek bayi."


Mendengar bahwa beberapa ejanan dan perasaan akan menimang si Baby membuat Khaira perlahan membuka matanya. "Kak, kalau aku kenapa-napa jagain Dedek Bayi ya...." ucapnya lirih.


Aksara segera menggelengkan kepalanya. "Enggak Honey, kamu jangan pernah berpikir untuk meninggalkan aku. Berjuang Honey! Demi Dedek Bayi dan  demi aku."


Pria itu bahkan masih memeluk istrinya dan menyeka air mata istrinya yang terus mengalir. "Yuk Honey, beberapa ejanan lagi. Aku temenin. Katanya mau aku temenin, sekarang sudah aku temenin. Kamu jangan patah semangat ya."


Arsyilla mengangguk, ucapan suaminya seolah mengisi lagi energinya. Begitu perutnya terasa kencang, dengan segera Arsyilla mengambil nafas dalam-dalam, mengejan sekuat tenaga, mendorong tubuhnya ke depan untuk melahirkan buah hati. Beberapa ejanan kemudian, hingga akhirnya....


"Akkhhh!!! Kak!" teriakannya menyudahi perjuangannya.


Semua daya dan upaya dia kerahkan hingga akhirnya terdengar suara tangisan bayi yang membuat Aksara dan Arsyilla sama-sama menangis.


"Kamu hebat, Honey! Kamu Ibu yang hebat!" ucap Radit menciumi kening istrinya.


"Alhamdulillah ...."


Keduanya pun mengucapkan puji syukur bersamaan.


Sembari terisak-isak, Arsyilla menatap wajah suaminya. "Terima kasih sudah nepatin janji kamu untuk menemaniku bersalin, Kak. Terima kasih sudah menjadi suami yang baik dan Ayah yang baik untuk kami berdua," ucapnya lirih lantaran tenaganya sudah terkuras banyak.


"Terima kasih juga karena sudah berjuang sekuat tenaga. I Love U So Much, Honey." balasnya dengan menggenggam tangan istrinya.


Bayi perempuan yang menangis sangat keras dan telah diputus dari plasentanya itu kini diletakkan di atas dada Arsyilla untuk mengikuti proses Inisiasi Menyusui Dini (IMD). Inisiasi Menyusu Dini akan sangat membantu dalam keberlangsungan pemberian ASI eksklusif (ASI saja) dan lama menyusui.


Ketika bayi perempuan itu sudah berada di atas dadanya, Arsyilla mengamati sejenak wajah bayi itu. "Hai Dedek Bayinya Ayah dan Bunda," ucapnya sembari tersenyum, seolah rasa kesakitannya hilang ketika melihat buah cintanya bersama suaminya itu.

__ADS_1


"Hai Dedek Bayi, kamu cantik banget Sayang sih. Seperti Bunda," ucap Aksara yang memberanikan diri untuk menggenggam tangan bayi yang terasa lembut dan mungil itu.


"Dia bergerak mencari ASI-nya ya Honey," ucap Aksara sembari tersenyum mengamati setiap pergerakan baby nya.


Sementara di bawah sana Dokter Rinta tengah mengeluarkan plasenta yang sering kali disebut sebagai kelahiran kedua dan tentunya menjahit di area jalan lahirnya. "Ini nanti jahitannya akan menjadi daging ya Bu, jadi tidak usah khawatir. Tidak ada lagi melepas benang jahitan, karena benangnya terbuat dari gelatin," ucap Dokter Rinta sembari bergerak dengan benang dan jarum di bawah sana.


Aksara segera berlutut guna melihat baby nya yang terlihat mencari sumber kehidupan pertamanya. "Hai Our Princess …," sapanya lembut. “Mau kamu beri nama siapa Honey?” tanya Aksara kali ini kepada istrinya itu.


Arsyilla pun lantas mengalihkan perhatiannya yang semula takjub dengan pergerakan pertama buah hatinya itu, dan kini dia menatap Aksara.


“Bagaimana kalau Aurora, Kak?” tanyanya.


“Hmm, Princess kesukaan kamu?” tanya Aksara.


Arsyilla pun mengangggukkan kepalanya secara samar. “Iya, pesona cahaya yang berkilauan di angkasa. Selain itu, dia akan melengkapi kisah kita. Sama seperti boneka yang kamu berikan kepadaku. Aurora,” jelasnya dengan lirih.


Aksara diam dan sejenak menimbang nama yang sudah dipilih oleh istrinya itu. Kemudian Aksara pun menyahutnya.


“Aurora dan dia akan dipanggil Ara, Arsyilla dan Aksara = Ara. Indah bukan?” tanyanya.


Senyuman itu terbit di sudut bibir Arsyilla. Wanita itu merespons dengan menganggukkan kepalanya.


“Ara nya Ayah dan Bunda,” balasnya lirih.


“Iya, kita akan memanggilnya Ara. Dalam namanya terselip dua nama kita. Gimana kamu suka enggak?” tanya Aksara kali ini kepada Arsyilla.


Arsyilla pun tersenyum dan menatap wajah suaminya. "Suka ...."🥰


Itu adalah bentuk kebahagiaan yang tidak bisa diucapkan lagi dengan kata-kata. Bahagia saat melihat buah cinta mereka berdua telah lahir ke dunia. Bayi kecil yang bernama Aurora, dan akan dipanggil Ara itu akan mewarnai kehidupan rumah tangga Aksara dan Arsyilla untuk ke depannya.

__ADS_1


Welcome to the World Baby Ara!


__ADS_2