
Berbekal dengan rekaman CCTV yang dia dapatkan dan juga laporan keterangan hasil visum, Aksara pun bergegas ke Kepolisian untuk melaporkan tindakan kekerasan dan pencobaan pelecehan seksual yang dialami oleh istrinya yaitu Arsyilla. Seolah, Aksara tidak ingin menunggu waktu terlalu lama. Oleh karena itu, Aksara pun mengajak Arsyilla menuju ke kantor kepolisian.
“Aku harus menjawab bagaimana di kepolisian nanti?” tanya Arsyilla saat ini sembari menghela nafasnya.
Seumur hidupnya, bisa dibilang baru kali ini dia menginjakkan kakinya di kantor polisi untuk melaporkan tindak kejahatan. Dulu, usai lulus kuliah Arsyilla sempat ke kantor kepolisian untuk mencari Surat Keterangan Berlakuan Baik untuk melamar sebagai Dosen di kampus. Akan tetapi, sekarang dia menginjakkan kakinya di kantor kepolisian untuk maksud yang berbeda. Tentu saja, Arsyilla pun cukup takut kali ini.
“Ceritakan saja yang sebenarnya,” jawab Aksara sembari mengemudikan mobilnya.
“Seingatku, Ravendra itu anak salah satu pengusaha terkenal di kota ini. Bagaimana jika dia nyatanya kebal hukum?” tanya Arsyilla kini kepada Aksara.
Arsyilla teringat karena dirinya pernah dikenalkan dengan kedua orang tua Ravendra. Saat itu, Ravendra mengatakan bahwa Papanya merintis perusahaan dari nol hingga bisa berada di puncaknya seperti sekarang ini.
Mendengar ucapan Arsyilla, nyatanya Aksara justru memilih diam. Sudah pasti, Aksara tahu betul siapa Ravendra dan bagaimana latar belakang dari pria itu. Tanpa Arsyilla bercerita pun, Aksara sudah sangat mengenal sosok Ravendra.
Sedikit melirik ke arah Arsyilla, akhirnya Aksara pun kembali bersuara, “Kenapa kamu bisa menyukai pria seperti itu?”
Terlihat rahang Aksara yang mengeras, seolah pria itu tidak habis pikir jika gadis baik-baik seperti Arsyilla justru bisa menyukai pria seperti Ravendra.
“Dia dulu cukup baik, tetapi ternyata dia justru memiliki niatan yang tidak baik. Rasanya, aku cukup beruntung karena tidak menerima permintaannya yang ingin melamarku.” Arsyilla bercerita dengan membuang wajahnya.
Ya, dahulu tepatnya satu tahun yang lalu, Ravendra justru merupakan pria yang baik dan sopan, oleh karena itulah, Arsyilla mau mencoba untuk berpacaran dengan Ravendra. Akan tetapi, semua sikap manis itu hilang, karena justru sudah dua kali Ravendra ingin mencelakai Arsyilla.
__ADS_1
“Jangan menilai seorang pria dari penampilannya, bisa saja mereka hanya serigala berbulu domba. Apa kamu belum memutuskan hubunganmu dengannya?” tanya Aksara lagi kepada Arsyilla.
Dengan cepat Arsyilla pun melirik ke arah Aksara, “Aku sudah memutuskannya. Sebelum pernikahan kita. Tidak ada hubungan apa-apa lagi antara aku dengannya,” jawab Arsyilla dengan menunduk.
Hingga akhirnya, mobil yang dikendarai Aksara pun telah tiba di kantor kepolisian. Keduanya sama-sama keluar dari mobil dengan membawa bukti yang mereka taruh dalam sebuah map.
“Siang Pak, kami datang untuk melapor,” ucap Aksara yang langsung mendatangi salah satu kursi yang kosong.
“Ya Pak, silakan,” ucap seorang Polisi yang langsung mempersilakan Aksara.
“Laporan apa Pak?” tanya Polisi tersebut kepada Aksara.
Setelah itu, tampak Polisi itu pun menatap Arsyilla yang saat itu memilih duduk di belakang Aksara.
“Anda, Bu?” tanya Polisi itu kepada Arsyilla.
Arsyilla mengangguk, kemudian dia dipersilakan oleh Polisi itu untuk duduk di samping Aksara dan polisi akan mencatat kronologi dari tindakan kekerasan yang terjadi pada korban.
Di sana Arsyilla kembali menceritakan bagaimana Ravendra yang membawanya paksa dari kampus, menyekapnya di sebuah ruangan sempit, dan juga berusaha melecehkannya secara seksual. Hati Arsyilla terasa sesak saat harus mengingat kembali kejadian itu, dan membuat laporan pemeriksanaan.
Setelahnya, Aksara menyerahkan bukti berupa flashdisk yang berisi video rekaman CCTV dan juga hasil visum dari rumah sakit. Semua bukti yang dia miliki sudah tentu akan memberatkan sosok Ravendra. Rasanya darah Aksara benar-benar mendidih dan ingin segera menjebloskan pria tengik itu ke dalam jeruji besi.
__ADS_1
Hampir setengah jam laporan pemeriksanaan itu berlangsung, keduanya kini sama-sama keluar dari kantor kepolisian. Dalam hatinya, Arsyilla memang merasa lega. Akan tetapi, ada rasa takut juga dalam hatinya, karena melaporkan anak pengusaha sukses dan terkenal di Ibukota. Kali ini, Arsyilla hanya berharap bahwa hukum tidak akan tumpul ke atas, dan tajam ke bawah. Arsyilla ingin Ravendra benar-benar merasakan bagaimana menerima karma atas perbuatannya.
Begitu keduanya sudah sampai di dalam mobil, Arsyilla segera menyandarkan punggungnya di kursi yang berada di samping co-driver itu dan memejamkan matanya. Tenggorokannya terasa kering, karena di dalam kantor kepolisian tadi, dirinya terlalu banyak berbicara saat membuat laporan pengaduan penganiayaan di kepolisian.
Aksara pun perlahan melirik Arsyilla, “Kamu kenapa? Lukamu masih sakit?” tanyanya kepada Arsyilla.
Dengan cepat Arsyilla menggelengkan kepalanya, “Enggak, aku baik-baik saja. Hanya sedikit capek,” jawabnya yang kembali memejamkan matanya.
Aksara pun menoleh kembali ke arah Arsyilla, sejujurnya Aksara tahu bagaimana perasaan Arsyilla saat ini. Hanya saja jika dia ingin bertindak lebih jauh, akan membuat Arsyilla tidak nyaman dengannya. Untuk itu, Aksara justru memilih menghidupkan musik instrumental yang lembut di dalam mobilnya. Berharap alunan dari musik instrumental itu bisa merilekskan Arsyilla.
“Katanya, musik bisa mengurangi kecemasan dan merilekskan. Sudah jangan terlalu dipikirkan, kita sudah melaporkannya ke pihak yang berwajib. Tunggu saja, nikmati pembalasan bagi pria itu yang akan mendekam di penjara,” ucap Aksara dengan mengepalkan tangannya.
“Kalau nyatanya hukum tumpul ke atas bagaimana?” tanya Arsyilla kali ini.
Pertanyaan yang cukup ironis memang, karena memang terkadang uang bisa membeli segala sesuatu. Arsyilla pun hanya berpikir jika terjadi kemungkinan Ravendra akan menggunakan kuasa yang dia miliki saat ini untuk terbebas dari jeratan hukum.
“Jika hukum tidak bisa memberi pria itu pelajaran, aku sendiri yang akan memberinya pelajaran. Aku tidak akan membiarkan pria itu menyentuhmu lagi. Aku bahkan bisa membunuhnya sekarang,” ucap Aksara dengan tegas.
Arsyilla justru bergidik ngeri usai mendengar ucapan Aksara itu, hingga dia pun menggelengkan kepalanya, “Mamaku pernah berkata supaya jangan main hakim sendiri. Alih-alih main hakim sendiri, lebih baik bersabar dan ikuti prosesnya. So, kuharap kamu pun juga tidak main hakim sendiri yang justru akan membuatmu celaka.”
Mendengar ucapan Arsyilla dan membawa nasihat Mama Khaira, tiba-tiba Aksara mengangguk, “Hmm, iya … baiklah. Aku akan menuruti nasihat dari Mama Khaira,” sahutnya dengan melirik Arsyilla.
__ADS_1