
Aksara tidak mengira bahwa malam pertama usai Akad pernikahannya dengan Arsyilla justru dimulai dengan sebuah perdebatan panjang. Untuk menghindari perdebatan yang berlarut-larut, pria itu memilih untuk masuk ke dalam kamarnya sejenak. Meninggalkan Arsyilla yang masih berada di ruang tamu.
Coba kamu melihat dari sudut pandangku, Syilla.
Sama sekali aku tidak tega kepadamu.
Tunggu semua. Sebab, aku yakin semuanya akan menjadi indah.
Kamu cukup bersabar dan menunggu di posisimu.
Aksara memilih membersihkan badannya terlebih dahulu. Pikirannya benar-benar kalut sesungguhnya. Membiarkan setiap tetesan dari air shower itu membasahi badannya dan menenangkan pikirannya.
Sementara di ruang tamu, Arsyilla masih duduk. Wanita itu berubah menjadi keras kepala, dan hanya duduk di sofa yang ada di ruang tamu itu. Enggan untuk menginjakkan kakinya kemana saja.
Kurang lebih hampir 15 menit berlalu, Aksara telah keluar dari kamarnya, pria itu hanya mengenakan celana pendek, dan membiarkan tubuh bagian atasnya polos tanpa kaos. Shirtless, dengan buliran air yang jatuh dari rambutnya yang basah.
“Kenapa kamu masih di sini?” tanya Aksara yang masih mencoba sabar menghadapi Arsyilla.
Arsyilla membuang mukanya, sama sekali tidak ingin melihat pria itu yang tengah shirtless, “Enggak apa-apa,” sahutnya dengan menghindari kontak mata dengan Aksara.
“Masuklah, itu kamarmu. Kamar kita,” ucap Aksara sembari menunjuk pada kamar yang dia masuki sebelumnya.
Akan tetapi, Arsyilla menggeleng, “Itu kamarmu, bukan kamarku. Aku akan menggunakan kamar lainnya.”
Rasanya Aksara harus ekstra sabar menghadapi Arsyilla, bagaimana mungkin baru saja sebuah Akad terucap, dan sekarang istrinya yang sudah sah menjadi miliknya justru menginginkan kamar yang lain. Pasangan pengantin baru itu akan tidur terpisah.
Aksara tersenyum, pria itu justru merasa lucu melihat sikap Arsyilla. Dosennya yang cerdas dan juga begitu bijak saat mengajar dan menguasai kelas, di hadapannya justru Arsyilla layaknya anak gadis yang tengah marah dan seolah-olah merajuk. Tentu saja, Aksara justru gemas melihat Arsyilla.
__ADS_1
Setelahnya, Aksara beringsut, dan kini pria itu duduk di samping Arsyilla. Dia mengeluarkan sebuah kartu debit berwarna hitam dari saku celana pendeknya.
“Ini, buat kamu,” ucapnya sembari menaruh kartu debit itu di depan Arsyilla.
Akan tetapi, Arsyilla segera mengambil kartu debit itu dan juga mengembalikannya kepada Akasara. “Tidak, aku tidak membutuhkan itu. Kamu mahasiswa, lagipula aku sudah bekerja. Cukup untuk memenuhi kebutuhanku sendiri,” sahut Arsyilla dengan mengembalikan kartu debit itu.
Sebenarnya bukan hanya itu alasan Arsyilla mengembalikan debit card itu, selain karena suaminya masih mahasiswa, juga dia tidak ingin jika dia menerima nafkah jasmani dari suaminya dan dia harus melayani suaminya itu. Akalnya bekerja bahwa pernikahan ini hanya sebatas pernikahan yang terjadi karena kecelakaan. Tidak ada cinta, oleh karena itulah Arsyilla tidak ingin menerima nafkah dari suaminya yang masih berstatus sebagai mahasiswa itu.
Aksara menghela nafasnya, “Aku pemuda mapan yang sudah bekerja, kuliah dan menjadi mahasiswa karena aku ingin menyelesaikan harapan Ayah dan Bunda yang menginginkan anaknya menjadi sarjana. Aku perlu aku tunjukkan semua asetku, supaya kamu mau menerima kartu ini?” tanya pria itu dengan beringsut, menaruh satu kakinya di sofa, tangannya juga berada di punggung sofa dan menatap Arsyilla dengan matanya yang tajam.
“Enggak, aku gak mau. Lagipula Papa masih memberikanku uang jajan,” sahut Arsyilla lagi.
Faktanya memang seperti itu bahwa sekalipun dirinya sudah bekerja, tetapi Papanya masih ada memberikan uang jajan kepadanya. Gaji dan uang jajan yang diberikan Papa Radit sudah cukup untuk kebutuhannya dalam satu bulan.
“Saat kamu sudah menjadi istriku, kamu tidak boleh lagi menerima uang jajan dari Papa, aku yang akan memberikanmu uang jajan. Jika perlu, aku yang akan berbicara langsung kepada Papa Radit supaya beliau tidak lagi memberikanmu uang jajan. Suamimu yang akan bertanggung jawab kepadamu,” ucapnya dengan serius.
“Enggak.” Arsyilla masih bersikeras dan mempertahankan keinginannya.
Merasa jengah dengan istrinya yang benar-benar keras kepala, perlahan Aksara mendekat, dan mengikis jaraknya dengan Arsyilla. Pria itu seolah hendak mengungkung Arsyilla. Sementara Arsyilla terkesiap dan refleks mendorong bahu suaminya itu.
“Jangan dekati aku,” teriak Arsyilla yang benar-benar tidak mau didekati oleh suaminya itu.
Akan tetapi, Aksara hanya diam dan terus bergerak, hingga tangannya bergerak dan memegang kedua sisi lengan Arsyilla, wajahnya pun turut bergerak, hingga sapuan nafasnya terasa begitu hangat di sisi wajah Arsyilla. Pria itu lantas, mendaratkan bibirnya di atas bibir Arsyilla. Sebatas menempel, tanpa berniat memainkan kedua belah bibir itu.
Sementara kedua mata Arsyilla membola sempurna, saat bibir suaminya menempel dengan sempurna tepat di tengah lipatan bibirnya. Wanita itu menahan nafas dan berusaha mendorong dada Aksara. Sayangnya, Aksara tak bergeming. Pria itu mulai memejamkan matanya, dan membiarkan bibirnya bertengger indah di sana.
Lima detik … Sepuluh detik … Lima belas detik ….
__ADS_1
Hanya lima belas detik, lantas Aksara mengurai wajahnya. Pria itu tersenyum melihat wajah Arsyilla yang merah padam.
“Sekarang, kamu pilih. Kamu mau terima kartu debit ini dariku dan kamu boleh mengambil kamar di sebelah kamarku itu untuk kamu tinggali. Atau, kamu menolak kartu debit ini, dan kita akan berbagi satu kamar. Pilih sekarang, kartu debit itu atau kamar?” tanya Aksara dengan suaranya yang terlihat begitu serius.
Tampak Arsyilla yang mulai gelagapan, merasa aneh dan juga sedikit takut dengan tindakan suaminya yang impulsif itu.
“Kamu tidak menginginkan kartu debit ini kan? Berarti, ayo kita ke kamar sekarang.” Aksara kembali berbicara dan seolah hendak membawa Arsyilla menuju ke dalam kamar.
Akan tetapi, Arsyilla meronta. Tidak ingin berada dalam satu kamar bersama suaminya itu. Berbagi kamar dengan pria yang tidak dikenalnya justru terasa semakin menakutkan. Keselamatannya terancam.
“Jika kamu diam dan tidak menjawab, maka aku yang akan memutuskan. Aku suamimu, aku berhak atas semuanya kan? Termasuk atas dirimu yang sudah sah menjadi milikku.” Aksara lagi-lagi kembali berbicara dan menatap tajam wanita yang begitu keras kepala itu.
“Aku gak mau berbagi kamar denganmu,” sahut Arsyilla pada akhirnya. Dia tetap tidak mau berbagi kamar dengan Aksara. Satu kamar dengan pria itu justru membuat suasana kian horor, dan sudah pasti Arsyilla akan menolaknya.
Aksara kemudian tersenyum, “Sudah aku tebak, berarti kamu harus menerima kartu debit ini. Juga, besok aku akan menelpon Papa Radit supaya tidak lagi memberikanmu uang jajan. Mulai sekarang, kamu ingin membeli apa pun, aku yang akan membelikannya.”
“Tapi, kamu hanya seorang mahasiswa dan belum memiliki penghasilan,” jawab Arsyilla lagi, kali ini dia menunduk.
Aksara kemudian menghela nafasnya, “Aku sudah bekerja, cukup untuk membelikanmu apa pun yang kamu mau. Aku tahu, aku menikahi wanita mandiri yang memiliki penghasilan sendiri, tetapi sebagai suamimu biarkan aku bertanggung jawab atasmu. Kalau kamu menolaknya, ayo kita ke kamar sekarang juga. Untuk apa perdebatan panjang lebar, jika semuanya bisa diselesaikan di dalam kamar,” ucap pria itu dengan menaikkan alisnya saat berbicara kepada Arsyilla.
“Gak, aku gak mau.” Arsyilla tetap bersikukuh.
Perlahan Gadis itu menghempaskan kedua tangan Aksara yang masih berada di lengannya, kemudian berdiri, dan dia mengambil kartu debit berwarna hitam yang tergeletak di atas meja, kemudian dia berjalan begitu saja meninggalkan Aksara dan memasuki kamar yang berada di samping kamar utama.
Aksara tersenyum, melihat istrinya yang akhirnya memilih kartu debit itu dan memasuki kamar tanpa menoleh kembali padanya.
“Arsyilla, jangan lupa kunci kamarmu. Jika tidak, aku akan memasukinya,” pria itu sedikit berteriak dan menghempaskan tubuhnya yang begitu lelah ke sofa itu.
__ADS_1
Sementara Arsyilla benar-benar menghiraukan suaminya itu. Memasuki kamar, dia pun mengunci pintu kamarnya dari dalamnya, dan menghempaskan badannya yang terasa letih di atas tempat tidur. Baru beberapa jam kehidupan rumah tangganya berjalan, tetapi dia sudah merasakan semua waktu itu berjalan begitu lambat.