
Jika manusia bisa merencanakan segala sesuatu dengan otaknya, hal yang sama tengah dicoba Ravendra. Sembari mengendalikan stir kemudi dengan kedua tangannya, dan kedua kakinya yang mengoperasikan pedal dan rem. Diam-diam, pria itu tengah menyusun sesuatu di dalam otaknya.
“Ayo, turun dulu sebentar. Hanya mengambil sesuatu, usai ini aku akan mengantarmu pulang,” ucap Ravendra sembari mengajak Arsyilla untuk singgah sebentar di apartemennya.
Arsyilla pun mengangguk, dia berjalan mengikuti Ravendra menuju apartemennya yang berada di pusat Ibukota.
Begitu sampai di dalam apartemennya dengan kondisi pintu yang belum sepenuhnya tertutup, Ravendra dengan tiba-tiba memeluk tubuh Arsyilla dari belakang.
“Aku cinta kamu, Arsyilla … aku kangen kamu,” ucap pria itu tepat di sisi telinga Arsyilla.
Benar-benar tindakan impulsif yang membuat Arsyilla meronta dan hendak melepaskan diri dari dekapan Ravendra. Satu tahun menjadi kekasih dari pria itu, sebisa mungkin Arsyilla menghindari kontak fisik dengan pria itu. Sekarang, didekap dengan erat, membuat Arsyilla merasa tidak nyaman dan meronta.
“Lepaskan aku, Ven … jangan seperti ini,” ucapnya dengan berusaha melerai tangan Ravendra yang berada di pinggangnya.
Dalam hatinya sudah ada rasa takut yang membuatnya ingin lari dari hadapan Ravendra. Rasanya Ravendra yang berada di hadapannya seolah berubah menjadi sosok yang berbeda. Sungguh menakutkan bagi Arsyilla.
“Kenapa? Kita sepasang kekasih bukan?” tanya pria itu yang justru mengeratkan dekapannya.
Kali ini Ravendra bukan hanya mendekap, tetapi pria itu menggigit sisi telinga Arsyilla dan tangannya merayap hendak meraba paha Arsyilla.
Wanita itu pun sudah mulai berlinangan air matanya, baru beberapa hari lalu dirinya berakhir dalam malam bencana dan kini pria yang adalah kekasihnya justru memperlakukannya sedemikian rupa.
__ADS_1
“Jangan, Ven …” bentak Arsyilla lagi, dia masih berusaha meronta dan menghalau tangan Ravendra.
“Satu kali saja Sayang, serahkan dirimu padaku.” Pria itu berkata dengan mendesis, dan tangannya kian bergerak untuk meraba bagian tubuh Arsyilla yang lainnya.
Hingga akhirnya, Ravendra dengan kasar membalik badan Arsyilla membuat keduanya saling berhadap-hadapan, pria itu tanpa permisi menyambar bibir yang dipoles dengan lipstik berwarna pink yang terlihat begitu lembut itu. Mencium bibir dengan kasar, hingga menggigit bibirnya dan berusaha mendobrak masuk guna merasakan kehangatan rongga di dalam sana.
Arsyilla kian meronta, air matanya sudah berlinangan begitu saja. Wajahnya bergerak, seolah menghindari ciuman bibir dari pria yang berstatus sebagai kekasihnya itu. Tangannya bergerak, mendorong dada Ravendra dengan tenaga yang dia miliki.
“Stop, Ven! Jangan lakukan. Jangan sentuh aku!” rontanya dengan menjauhkan wajahnya sebisa mungkin dari terkaman pria itu.
Sayangnya, Ravendra bak gelap mata dan menghiraukan teriakan dan rontaan dari Arsyilla. Pria itu kini menyentak badan Arsyilla dan menaruhnya di sofa yang berada di dalam ruang tamu apartemennya itu. Tangannya bergerak hendak meraih kancing blouse yang dikenakan Arsyilla.
“Jangan, Ven!” Arsyilla membawa tangannya melindungi area dadanya dan mendorong pria itu bukan hanya dengan tangan yang dia miliki, tetapi dengan kakinya.
“Tolong … kumohon siapa pun tolong aku!” ronta Arsyilla lagi.
Tangisan dari Arsyilla berubah menjadi isakan, wanita itu berusaha mengumpulkan kekuatannya untuk melawan Ravendra, lepas dari kungkungan pria itu. Sayangnya, tenaga yang dia miliki jauh tidak sebanding dengan pria itu.
Merasa geram, Arsyilla menjambak rambut Ravendra dan menjauhkan kepala pria itu dari leher.
“Stop, Ven. Jangan lakukan!” Arsyilla tetap berupaya untuk bisa lepas.
__ADS_1
Mendapat jambakan dan juga kepalanya yang dijauhkan, pria itu sejenak mengikis kepalanya, senyuman menyeringai terbit di sudut bibirnya.
“Sialan! Beraninya kamu bersikap kasar padaku,” umpat Ravendra kali ini.
Arsyilla berusaha bangkit, tetapi tangan Ravendra segera meraih dagu Arsyilla dan memegangnya begitu erat, hingga bagian dagunya memerah. “Apa susahnya mengikuti permainanku? Hah! Satu tahun sudah menjadi waktu yang lama kan untuk bisa merasakan sesuatu yang lebih dalam hubungan kita. Tenanglah dan aku akan bersikap dengan baik-baik,” bentaknya dengan mendorong bahu Arsyilla hingga wanita itu kembali terpelanting ke sofa.
“Pria berengsek!” Arsyilla pun mengumpat, dia masih berusaha bangkit lagi. Berusaha melawan, sekalipun dia tahu bahwa tenaga yang dia miliki tidak sebesar pria itu.
Sayangnya, saat dia berusaha bangkit, Ravendra lagi-lagi mendorong bahunya dan juga kini menindih Arsyilla dan melabuhkan bibirnya di bibir Arsyilla seolah tengah menyumpalnya, dan tangannya dengan paksa menahan sisi wajah hingga leher Arsyilla.
Meronta! Arsyilla pun masih berusaha terlepas dari terkaman Ravendra.
“Tolong …”
“Tolong …”
Andai saja pita suaranya pecah, Arsyilla tidak menghiraukannya karena yang dia butuhkan sekarang ini adalah pertolongannya. Disertai dengan tenaga yang dia miliki, wanita itu berdoa di dalam hatinya.
Tolong siapa saja selamatkan aku. Selamatkan aku. Tuhan, tolonglah aku kali ini. Aku tidak mau disentuh pria lagi ya Tuhan. Baru beberapa hari lalu, aku kehilangan mahkotaku. Jangan sampai terjadi lagi padaku ya, Tuhan. Tolong.
“Tolong!” kali ini Arsyilla berteriak sekuat mungkin. Suaranya hingga terasa serak karena terlalu keras berteriak.
__ADS_1
Ravendra yang tengah menindih Arsyilla tidak menyadari jika ada orang yang memasuki pintu apartemennya yang tidak sepenuhnya tertutup itu.
“Berengsek!” sebuah suara terdengar di sertai dengan hentakan yang membuat Ravendra terpelanting ke lantai.