
Waktu belum menunjukkan jam 16.00, tetapi Arsyilla sudah menelpon suaminya dan meminta kepada suaminya untuk menjemputnya. Bukan tanpa sebab, tetapi karena Arsyilla yang merasa pening dan berkeringat dingin. Dengan terpaksa, Arsyilla harus membatalkan kelas siang hingga sore nanti tugas yang akan dikerjakan mahasiswa.
Usai rekan dosennya Bu Ratna keluar dari ruangannya, Arsyilla pun segera mengambil handphone di hand bagnya dan meminta tolong kepada suaminya untuk menjemputnya. Dia dengan cepat, Arsyilla mencari nama kontak suaminya, dan segera menekan ikon telepon berwarna hijau.
“Halo,” sapanya begitu teleponnya tersambung.
"Ya, halo Sayang ... ada apa?" tanya Aksara di seberang sana.
Pria itu juga cukup kaget, karena ini belum waktunya Arsyilla selesai mengajar, tetapi justru istrinya itu sudah menghubunginya.
"Kak, sibuk enggak? Aku ini kurang enak badan. Kepalaku pening, jadi aku tunda waktu mengajar yang jam sore ini. Bisa minta tolong jemput aku?" tanyanya kepada suaminya.
Mendengar Arsyilla yang mengeluhkan bahwa kepalanya pening dan merasa tidak enak badan. Aksara menghela nafas dan kemudian memijit pelipisnya.
"Aku masih ada pertemuan dengan klien penting tuh Honey ... gimana yah?"
Rupanya Aksara ada pertemuan dengan klien sekarang, sehingga untuk menjemput istrinya, tentu dia agak sukar.
"Ya sudah ... aku naik taksi online saja, Kak," balas Arsyilla.
Sebab, memang Arsyilla tidak apa-apa menaiki taksi online. Lagipula jarak kampusnya dengan rumah Mama Khaira juga dekat. Di rumah Mama Khaira, Arsyilla bisa beristirahat terlebih dahulu. Mungkin sedikit istirahat dan meminum minuman yang hangat bisa membuatnya merasa lebih enak.
"Jangan Sayang ... kamu baru enggak enak badan, masak mau naik taksi sendiri sih," balas Aksara.
Pria itu tidak menginginkan istrinya menaiki taksi, tetapi dia sendiri akan ada pertemuan penting. Bimbang sebenarnya. Jika tidak ada klien, sudah pasti Aksara akan menjemput sendiri istrinya itu.
"Lha terus gimana, kamu enggak bisa jemput, tapi aku juga tidak boleh naik taksi. Menunggu di ruangan dosen lama, mending aku pulang dan bisa rebahan sebentar," balas Arsyilla.
Di seberang sana, Aksara masih diam. Bimbang. Semuanya penting untuknya sekarang. Namun, untuk memilih salah satu rasanya juga tidak mudah.
"Kak, gimana ... aku sudah pening," balas Arsyilla lagi. "Naik taksi saja yah," balas Arsyilla.
__ADS_1
"Boleh, naik taksi turun di Jaya Corp. Kamu istirahat di ruanganku dulu saja. Nanti ke rumah Mama Khaira barengan. Tungguh aku pulang, di ruanganku nyaman bisa kamu pakai dulu," balas Aksara.
Arsyilla menghela nafasnya, "Hmm, baiklah ... aku akan naik taksi ke sana. Minta tolong belikan Teh Manis hangat ya Kak, sapa tahu peningnya hilang usai minum Teh," pinta Arsyilla.
"Iya, aku belikan Teh Manis hangat dan makanan dulu. Aku tunggu yah, kalau sudah sampai lobby kasih tahu. Aku jemput di lobby," balas Aksara.
Usai menelpon suaminya, Arsyilla pun membereskan meja kerjanya, dan kemudian dia turun dari ruangan dosen ke luar fakultas untuk memesan taksi online yang akan membawanya ke Jaya Corp.
Ketika Arsyilla sudah sampai di depan fakultas dan hendak memesan taksi online, rupanya ada pemuda yang tiba-tiba berdiri di samping Arsyilla dan menyapanya.
"Arsyilla, mau ke mana?"
Arsyilla menoleh, kaget dengan suara yang tiba-tiba menyapanya. Wanita itu kemudian tersenyuam bias dan menganggukkan kepalanya.
"Mau ke Jaya Corp. Kamu ngapain ke sini, Vendra?" tanya Arsyilla kepada Ravendra.
Ya, rupanya pemuda yang menyapanya kali itu adalah Ravendra, mantan pacarnnya dulu.
"Pak Hadi, kok ke kampus konsultasinya?" tanya Arsyilla lagi.
"Iya, soalnya beliau bisa ditemui di sini. Untuk projek Agastya Property selanjutnya," balas Ravendra.
"Oh, ya sudah ... silakan," balas Arsyilla dengan menundukkan kepalanya.
"Aksara tidak menjemput kamu?" tanya Ravendra lagi.
"Enggak bisa jemput, makanya dia minta aku menyusul ke Jaya Corp. Mau pesan taksi online," balas Arsyilla.
Ravendra menganggukkan kepalanya, kemudian pria itu menatap wajah Arsyilla sekilas. Pria itu tahu bahwa wajah Arsyilla terlihat lebih pucat dibandingkan biasanya.
"Sama aku saja yuk Arsyilla ... aku antarkan ke Jaya Corp. Tenang saja, aku tidak akan mencelekai kamu. Ravendra yang dulu sudah aku kubur sepenuhnya," ucap pria itu.
__ADS_1
" ..., tapi Ven," balas Arsyilla.
"Tidak apa-apa. Dulu kita memang pacaran, pernah bermusuhan, tetapi sekarang bisa berteman kan," sahut Ravendra.
Kisah mereka memang pelik. Bermula dari menjadi pacar dan membina kasih kurang lebih satu tahun, kemudian bermusuhan hingga Ravendra mendekam di balik jeruji besi, dan juga sekarang bisa kan berteman. Hubungannya memang tidak seperti dulu lagi, tetapi tidak ada salahnya berteman.
"Aku naik taksi saja, Ven," balas Arsyilla. Sebab dia juga tidak enak dan tetap saja sungkan dengan Ravendra.
"Kamu pucat begitu, Ar ... biar kuantar, yuk. Aku ambil mobil dulu. Tunggu di sini," balasnya.
Niat hati Ravendra benar-benar hanya untuk mengantar Arsyilla saja, tidak ada maksud lainnya. Berbuat jahat pun tidak. Ravendra yang dulu dengan semua karakter buruknya, sudah dia kubur. Ravendra sudah benar-benar memulai hidup barunya. Bahkan menjadi karyawan biasa tanpa pangkat yang tinggi di Agastya Property justru membuat Ravendra terlihat lebih bahagia daripada saat menjadi wakil direktur di Dasa Crop, perusahaan milik Papanya.
"Masuk, Ar ... yuk, aku anterin kamu sampai ke Jaya Corp. Lagipula, perusahaan tempatku bekerja kan satu arah. Jadi, yuk ... sekalian," ucapnya dengan membuka kaca jendela mobilnya.
Tidak enak menolak, Arsyilla pun masuk ke dalam mobil Ravendra, dan membiarkan Ravendra untuk mengantarnya sampai ke Jaya Corp.
"Kamu sakit ya Ar, kok pucat gitu," tanya Ravendra kepada Arsyilla.
"Enggak, cuma enggak enak badan. Makanya Kak Aksara minta aku menyusul ke Jaya Corp. Tidak boleh pulang sendiri," balasnya.
Ravendra pun tersenyum, "Aksara bucin banget sih sama kamu. Aku sampai heran," balasnya dengan tertawa. "Ponakan aku udah besar ya sekarang?" tanya Ravendra yang menanyakan si kecil Ara.
"Udah satu tahun," balas Arsyilla. "Kapan uncle-nya Ara menikah, beri undangannya yah," ucap Arsyilla lagi.
Ravendra pun tertawa, "Tidak lama lagi, nanti kalau sudah jelas tanggalnya aku ke rumah kasih kalian undangan," balas Ravendra.
"Serius, sudah ada calonnya?" tanya Arsyilla.
"Iya, anak kenalannya Bunda kok ... kami dijodohkan. Ya, semoga saja, Ar ... rumah tanggaku nanti bisa berjalan dengan baik seperti rumah tanggamu dan Aksara," balas Ravendra.
Ketika Ravendra berbicara bahwa calonnya sudah ada, hanya saja melalui perjodohan membuat Arsyilla sedikit tidak enak hati. Mereka yang dijodohkan, memulai rumah tangga tanpa cinta pasti sangat canggung dan bisa saja terjadi seperti dirinya dan Aksara dulu yang membutuhkan waktu lama untuk menerima satu sama lain.
__ADS_1