Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Akhirnya Menemukan Arsyilla


__ADS_3

Tanpa mempedulikan keselamatannya, Aksara berusaha melajukan mobilnya secepat yang dia bisa. Ditambah dengan perasaannya yang tidak enak, sudah pasti firasat yang Aksara rasakan kali ini merupakan sebuah firasat yang sama sekali tidak bagus.


Akan tetapi, baru beberapa saat mobilnya melaju, nyatanya lampu lalu lintas di depan telah berubah menjadi merah. Pria itu berteriak dan memukul stir kemudinya. Lampu lalu lintas yang berubah warna menjadi warna merah jelas saja saat ini menjadi penghalang pada Aksara. Pikirannya hanya dipenuhi dengan Arsyilla. Terlebih saat mendapatkan titik lokasi di mana Arsyilla berada, yang ada ketidaktenanganlah yang menyelimutinya sekarang ini.


Menunggu angka yang tertera di lampu lintas yang bergerak dari angka 15, 14, 13 hingga menuju ke angka 5, 4, 3, 2, dan lampu berubah ke warna hijau, Aksara segera menginjak pedal dengan kakinya, dan segera menuju titik lokasi yang dia dapatkan.


Tunggu aku, Syilla.


Aku akan datang.


Pria itu terus-menerus bergumam dan berharap bisa segera menjangkau tempat itu. Seolah rasa sesak di dadanya tidak ada hilang, jika dia belum bisa menemukan Arsyilla.


Hingga akhirnya, Aksara telah tiba di segera membawa mobilnya ke dalam parkiran basement. Segera, dia turun dari mobilnya. Berlari dan menilik ke beberapa penjuru di parkiran basement itu.


Beberapa langkah dia ambil, tetapi belum terlihat di mana Arsyilla. Parkiran di basement itu begitu sepi, hanya ada deretan mobil yang berjejer di sana. 


“Arsyilla …” teriakkannya menggema di dalam parkiran itu. Berharap Arsyilla akan menjawab panggilannya.


“Arsyilla … aku Aksara, jawab aku.” teriakkannya lagi kali ini. Pria itu berlari dan berteriak, membiarkan suaranya yang bisa saja nyaris habis, asalkan dia bisa menemukan Arsyilla.


Merasa tidak ada jawaban, Aksara memilih menyisiri area parkir basement itu berharap akan menemukan Arsyilla di sana. Setiap area parkiran dia lewati, tetapi nyatanya tidak ada Arsyilla di sana. Kemudian, Aksara memilih berjalan hingga ke ujung, di sana dia menemukan sebuah flashdisk yang jatuh.


Flashdisk berwarna pink dengan gantungan kunci berupa Putri Aurora. Aksara berjongkok dan memungut Flashdisk itu. Menurut apa yang Aksara lihat, flashdisk itu adalah milik Arsyilla, dan dia pernah melihatnya saat Arsyilla mengajar di kampus. Oleh karena itu, Aksara memilih berjalan lurus dan berharap bisa menemukan jejak lainnya untuk bisa menemukan Arsyilla.


Beberapa langkah Aksara berjalan, pandangannya lurus ke depan, dan melihat sebuah ruangan dengan pintu usang yang seolah tidak terpakai di area itu. Aksara berlari dan mencoba mendekati ruangan itu.

__ADS_1


Tangannya bergerak untuk membuka daun pintu, tetapi terkunci. Mulailah Aksara mengetuk pintu itu.


Tookk … Tookk … Tookk …


“Ada orang di dalam?” teriaknya lagi sembari mengetuk pintu itu.


Sayangnya dari luar sama sekali tidak terdengar suara apa pun. 


Hingga, Aksara memilih berlari meminta bantuan security untuk membuka ruangan itu.


“Pak, bisa minta tolong bukakan ruangan yang ada di ujung parkiran basement ini?” tanya Aksara dengan nafasnya yang terengah-engah karena dirinya berlarian mendatangi security.


“Memangnya ada apa Pak?” tanya security itu kepada Aksara.


“Istri saya hilang di sini,” jawabnya.


Tidak kehabisan akal, Aksara kemudian mengajukan permintaan lainnya. “Saya lihat cek di bagian CCTV dan control room. Saya yakin, istri saya di sini.” Kali ini Aksara berpikir, sekali pun di basement apartemen tetap saja ada CCTV di dalam parkiran itu.


Hingga akhirnya security itu mengangguk, “Baiklah, kita akan ke control room sekarang.”


Di sana petugas control room menunjukkan video rekaman CCTV. Aksara tampak mengamati beberapa layar yang berada di sana. Berharap dia bisa menemukan jejak Arsyilla.


Hingga akhirnya, terlihatlah seorang wanita mengenakan blouse berwarna peach. Aksara sangat yakin bahwa itu adalah Arsyilla.


“Itu, Pak … ya, wanita yang mengenakan Blouse berwarna peach itu Istri saya.” Aksara berbicara sembari menunjuk bagian itu.

__ADS_1


Hingga pengendali control room pun, memfokusnya rekaman di bagian yang ditunjuk Aksara. Memutarnya perlahan, benarlah jika seorang pria membawa Arsyilla ke dalam ruangan itu.


“Saya minta videonya sekaligus sebagai bukti Pak,” ucap Aksara lagi yang sekaligus ingin meminta rekaman video CCTV tersebut.


Setelahnya, Aksara dan dua orang security berlari menuju ruangan di sudut parkiran basement itu dan segera mencoba membuka pintunya. Mencoba beberapa kunci, tetapi nyatanya tidak bisa. Ruangan itu tetap tidak terbuka. Usaha terakhir, Aksara memutuskan untuk mendobrak pintu itu.


Satu kali dobrakan gagal …


Pria itu sedikit mundur, dan berusaha untuk mendobrak pintu itu lebih kuat.


Dua kali dobrakan gagal …


Hingga akhirnya, kedua security pun membantu Aksara untuk mendobrak pintu itu. Hingga akhirnya, pintu itu pun terbuka.


Mata Aksara seketika mengedar pada ruangan gelap dan sempit itu, hingga di sudut ruangan, dia melihat Arsyilla yang terikat di sebuah kursi kayu dan mulutnya disumpal. Pria itu tak kuasa meneteskan air matanya saat kali pertama melihat Arsyilla.


“Syilla,” ucapnya dengan berlari dan segera melepaskan tali temali berwarna putih yang mengikat Arsyilla.


Setelahnya, Aksara melepaskan kain yang menyumbat mulut Arsyilla. Kini, Aksara berjongkok di depan Arsyilla. “Kenapa bisa seperti ini, Syilla?” tanyanya dengan air mata yang menetes. Benar-benar tidak mengira bahwa Arsyilla akan menerima semua bentuk kekerasan ini.


Arsyilla yang merasa lemas dan kesakitan, tidak mampu berkata-kata. Akan tetapi, wanita itu masih bisa berbicara dengan sangat lirih dan itu didengar oleh Aksara, “Papa tolong Syilla, Pa … Papa,” ucapnya lirih.


Kian pedih hati Aksara rasanya, dalam keadaan bahaya rupanya Arsyilla memanggil Papanya dan berharap Papanya yang memberikannya pertolongan dan menyelamatkannya.


Dengan masih berjongkok di hadapan Arsyilla, Aksara kedua menarik tubuh Arsyilla dan membawanya dalam pelukannya.

__ADS_1


“Sekarang kamu aman, Syilla … ada aku. Aku akan melindungi. Kamu aman bersamaku,” ucap Aksara yang memeluk tubuh Arsyilla yang terlihat lemas dan juga gadis itu menangis tanpa bersuara. Air matanya berlinangan begitu saja, tetapi tidak terdengar isakan yang muncul dari bibirnya.


__ADS_2