Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Kencan Dadakan


__ADS_3

Mengisi presensi Dosen terlebih dahulu di Biro Administrasi, Arsyilla pun kembali mendapatkan selamat dari beberapa staf dan rekan dosen di fakultas Teknik Arsitektur kali itu. Arsyilla pun menanggapi dengan baik dan ramah.


“Selamat ya Bu Arsyilla, tidak mengira semester baru statusnya berubah sudah menjadi istri orang. Semoga segera hamil ya Bu,” ucap salah seorang staf di sana.


Arsyilla pun menganggukkan kepalanya seraya tersenyum, “Terima kasih Bu … doakan saja semoga Allah segera mempercayakan buah hati kepada kami,” sahutnya dengan sopan.


“Wah, pengantin baru sudah datang mengajar nih. Selamat ya Bu Arsyilla,” ucap Pak Sutoyo yang turut memberikan ucapan selamat.


“Terima kasih, Pak,” sahut Arsyilla sembari sedikit menundukkan badannya sebagai bentuk penghormatan kepada Pak Sutoyo.


Agaknya Arsyilla menjadi orang yang patut diberikan selamat untuk pernikahannya. Tentu saja Arsyilla merasa bahagia. Memilih untuk tidak mendengarkan berbagai cibiran yang mungkin saja tertuju untuknya, Arsyilla memilih fokus untuk tugas mengajarnya pagi ini.


Hingga akhirnya Arsyilla memasuki kelas dan mengajar para mahasiswa di sana. Terlihat jelas wajah-wajah mahasiswa baru dari putih abu-abu menjadi seorang mahasiswa tentu membutuhkan adaptasi, untuk itu Arsyilla tentu menerapkan metode dan strategi mengajar untuk bisa menghidupkan dan menguasai kelas.


Waktu berjalan sampai 120 menit, kemudian Arsyilla memilih kembali ke ruang dosennya. Menunggu untuk mengajar di jam 14.00 nanti. Baru saja Arsyilla duduk dan mengeluarkan handphonenya, rupanya suaminya itu sudah mengirimkan serangkai pesan kepadanya.


[To: Honey]


[Gimana mengajarnya hari ini, Honey?]


[Di kampus tidak heboh kan?]


[Nih, ada beberapa pegawai di Jaya Corp yang memberikan kado pernikahan untuk kita berdua.]


[Semangat yah bekerjanya.]


[Nanti aku jemput.]


Arsyilla pun tersenyum menatap deretan pesan dari suaminya itu, dan tangannya pun segera membalas pesan-pesan itu.


[To: A]


[Iya Kak … tadi beberapa staf dan dosen kasih selamat.]


[Oke, ditunggu jemputannya nanti ya Hubby.]


[Love U.]

__ADS_1


Pesan-pesan dari Arsyilla pun meluncur dengan cepat kepada Aksara. Di seberang sana, Aksara yang tengah sibuk menggambar desain rencana arsitektur pun tampak tersenyum menatap deretan pesan dari istrinya itu.


Ah, rasanya Aksara ingin hari bergerak kian cepat, sehingga dia bisa segera bertemu dengan istrinya itu. Setelah memproklamasikan pernikahannya, Aksara menjadi begitu bahagia sekarang. Semua orang telah mengetahui bahwa Arsyilla adalah istri dan sekaligus kekasih hatinya.


Hingga waktu akhirnya tiba menjelang sore hari. Aksara segera membereskan pekerjaannya di sana dan segera menjemput istrinya itu. Dengan sedikit cepat, Aksara mengemudikan mobilnya, membelah hiruk-pikuk lalu lintas di Ibukota, sampai pada akhirnya Aksara telah sampai di parkiran Fakultas Teknik.


Jika biasanya Aksara menunggu Arsyilla dengan menunggu di dalam mobil. Kali ini, Aksara justru berjalan keluar dan duduk di depan gedung utama Fakultas Teknik. Pikirnya sekarang dia tidak perlu kucing-kucingan lagi dengan Arsyilla, sehingga dia bisa terang-terangan menunggu istrinya itu pulang.


Beberapa menit berlalu, rupanya justru Pak Bagas yang terlebih dahulu keluar dari dari gedung Fakultas Teknik. Terlihat tatapan sinis dari Pak Bagas kepada Aksara. Pria itu seolah mengernyitkan keningnya melihat sosok Aksara di sana.


“Sore Pak,” sapa Aksara dengan sopan kepada Dosennya itu. Bagaimana pun Pak Bagas dulu adalah Dosen Pembimbing Skripsinya, jadi Aksara pun menyapa dosennya itu.


“Ya, mau jemput Bu Arsyilla ya?” tanya Pak Bagas. Tentu itu adalah pertanyaan retoris dan tidak membutuhkan jawaban. Sebab, sudah pasti kehadiran Aksara di situ adalah untuk menjemput istrinya.


“Iya, mau jemput istri,” balas Aksara. Aksara justru seolah menekankan kata ‘istri’ kepada Pak Bagas.


Tidak berselang lama, rupanya Arsyilla keluar dari gedung fakultas. Wanita itu tersenyum melihat suaminya yang berdiri di sana. Mengabaikan sosok pria lain yang juga berdiri berhadapan dengan suaminya.


“Kak, sudah datang?” sapa Arsyilla dengan terlihat begitu bahagia.


“Saya duluan,” pamit Pak Bagas kali ini.


Aksara dan Arsyilla pun menganggukkan kepalanya, lantas Arsyilla kembali menatap suaminya itu.


“Sekarang udah go publik, jadi jemput aku sampai keluar dari mobil nih,” goda Arsyilla kali ini kepada suaminya itu.


“Iya dong … udah enggak perlu main kucing-kucingan lagi. Udah resmi dan semua juga udah tahu kalau kamu istrinya aku,” balas Aksara.


Keduanya kemudian berjalan bersama menuju ke dalam mobilnya. Aksara lantas melihat sekilas ke arah Arsyilla.


“Honey, ngedate yuk?” ajak Aksara dengan tiba-tiba.


Arsyilla menyipitkan kedua matanya, tidak mengira bahwa suaminya akan mengajaknya ngedate. Kenapa pria itu bersikap berbeda dari biasanya, padahal biasanya Aksara lebih suka menghabiskan waktu di unit apartemennya bersama dengan Arsyilla.


“Mau ke mana?” kalau Arsyilla.


“Nonton bioskop. Mau enggak?” tanya Aksara kali ini.

__ADS_1


Arsyilla pun tersenyum dan memberi anggukan kepada suaminya itu, “Tumben sih sweet banget … biasanya juga cuma ngurung aku di apartemen,” sahut Arsyilla dengan tiba-tiba.


Aksara lantas tertawa, dan melirik ke arah istrinya itu, “Cari kegiatan baru … biar kamu seneng. Abis nonton dan bisa ngurung kamu lagi sampai pagi besok,” jawab Aksara.


Pria itu tertawa, melihat wajah Arsyilla yang manyun. Aksara dengan santainya menuju ke salah satu Mall yang ada di pusat Ibukota dan akan mengajak Istrinya itu untuk menonton di bioskop. Kegiatan yang cukup standar, tetapi setidaknya bisa mereka lakukan untuk break sesaat dari rutinitas mereka yang sehari-hari kegiatannya hanya berada di apartemen dan tempat kerja.


“Yuk,” Aksara mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan istrinya itu untuk berjalan memasuki Mall.


Keduanya memilih langsung menuju ke Studio Bioskop dan memilih film apa yang hendak mereka tonton.


“Mau nonton film apa?” tanya Aksara kepada istrinya itu.


“Ngikut kamu aja Kak,” balas Arsyilla.


“Superhero mau?” tawar Aksara lagi kali ini.


“Iya, mau,” balas Arsyilla.


Usai membeli tiket dan memilih tempat duduk di dalam studio nanti, lantas Aksara membelikan minuman dan popcorn yang tentunya akan menemani mereka berdua nanti. Beberapa menit menunggu akhirnya terdapat pemberitahuan bahwa Studio akan dibuka, keduanya segera memasuki studio theatre, dan bergabung dengan penonton lainnya untuk menonton Film Superhero yang memang dinantikan penayangannya itu.


Begitu film hendak diputar, Aksara justru menggenggam tangan Arsyilla, dan beberapa kali justru pria itu menyandarkan kepalanya di bahu istrinya itu.


“Jangan nempel-nempel Kak, malu dilihatin orang-orang,” ucap Arsyilla kali ini.


“Biarin aku … aku rasanya kok pengen nempel sama kamu terus gini ya Honey. Pusing aku jika jauh-jauh sama kamu,” aku Aksara kali ini.


Arsyilla pun berdecih dan tersenyum seraya menggelengkan kepalanya perlahan, “Kamu ini ada-ada aja … udah tiap hari ketemu masak ya masih nempelan melulu,” ucap Arsyilla.


Aksara menghela nafas, kemudian pria itu menegakkan kembali kepalanya, duduk begitu menempel dengan istrinya itu. Kemudian Aksara melirik sekilas ke wajah Arsyilla.


“Rasanya … aku cinta banget sama kamu, Honey.” Aksara berbicara dengan lirih.


“Iya, aku tahu … lihat filmnya dong Kak, malahan ngajakin ngobrol terus sih,” balas Arsyilla kini.


“Iya, aku lihat filmnya, tetapi jangan lepasin tangan kamu ini yah,” balas Aksara.


Entah apakah gerangan yang membuat Aksara sebegitu bucinnya kepada istri sendiri. Sampai sepanjang pemutaran film, Aksara terus menggenggam tangan istrinya, menyuapi popcorn ke mulut istrinya, dan juga terkadang mengusapi punggung tangan istrinya itu.

__ADS_1


__ADS_2