Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Kegelapan


__ADS_3

“Lepaskan, Ven …” teriak Arsyilla begitu dirinya sudah berada di dalam mobil Ravendra.


Bahkan Arsyilla berusaha membuka pintu mobil itu, tetapi dengan cepat Ravendra menghalanginya. Hingga membuat usaha Arsyilla pun sia-sia. Melihat bahwa Arsyilla berusaha memberontak dan juga melarikan diri, Ravendra pun mengangkat tangannya dan menampar wajah Arsyilla begitu saja.


Plaakk …


Sisi wajah Arsyilla pun memerah, gadis itu berlinangan air mata. Tidak menyangka bahwa pria yang dulu menjadi kekasihnya selama satu tahun, berani mengangkat tangan dan menamparnya.


“Diam, atau aku akan melemparmu dari mobil yang berjalan ini juga,” ancam Ravendra kali ini mengemudikan mobilnya dengan begitu cepatnya.


Arsyilla pun menunduk dan terisak. Tidak mengira bahwa pria itu benar-benar akan bersikap kasar kepadanya. Tamparan yang diberikan Ravendra membuatnya tidak hanya kesakitan, tetapi juga merasa sakit hati.


Rupanya Vendra, menjalankan mobilnya menuju apartemennya. Akan tetapi, bukan unitnya yang dia tuju. Melainkan dia menyeret tangan Arsyilla mengikutinya menuju sebuah ruangan kecil dan begitu gelap di samping parkiran basement.


Arsyilla bergidik ngeri saat memasuki ruangan itu, tidak tahu apa yang hendak Ravendra lakukan kepadanya. Yang ada Arsyilla benar-benar ketakutan dan seolah sesak nafas memasuki ruang yang gelap, pengap, dan kotor itu.


“Kamu mau ngapain Ven?” ucap Arsyilla yang terlihat begitu panik.


“Diam kamu,” sahut Ravendra yang menghempaskan Arsyilla begitu saja, hingga tubuh wanita itu terpelanting jatuh ke lantai yang cukup kotor itu.


Setelahnya, Ravendra tersenyum dan menyeringai, “Kamu harus membayar untuk setiap penolakan yang kamu lakukan padaku,” teriak pria itu sembari meninjukan tangannya ke pintu. Rasanya dirinya begitu bergemuruh dengan emosi.


“Kamu jahat, Ven,” sahut Arsyilla yang juga berteriak kali ini.

__ADS_1


Hingga akhirnya Ravendra menyeret sebuah kursi, dia kembali membawa Arsyilla dan mendudukkannya di kursi kayu itu. Perlahan pria itu mulai mengikat tubuh Arsyilla dengan tali temali berwarna putih itu, melilitnya dengan begitu kencang hingga menimbulkan rasa sakit dan sesak di area perutnya. Tidak berhenti di situ, Ravendra pun juga membebat mulut Arsyilla dengan sebuah tali yang diikat hingga ke belakang kepalanya.


“Jangan Ven, lepaskan aku,” teriak Arsyilla hingga saat dia membuka mulut justru kain yang mengikat mulutnya terasa menggesek bagian kulitnya dan menimbulkan efek perih.


Setelah puas melihat Arsyilla yang terperangkap dengan belitan tali temali dan juga mulutnya terikat dengan sebuah kain. Agaknya pria itu merasa puas melihat Arsyilla yang ketakutan dan juga berlinangan air mata. Sekadar meronta pun tidak bisa.


“Diamlah di situ. Saat kamu mau menyerahkan dirimu dengan cuma-cuma kepadaku, aku akan melepaskanmu,” ucap Ravendra, dan pria itu pergi meninggalkan ruangan itu dan menguncinya dari luar.


Kini, di dalam ruangan itu, Arsyilla hanya bisa terisak dan menangis. Ingin meminta bantuan pun, dia tidak bisa.


Papa, Mama … selamatkan Syilla.


Syilla ketakutan di sini, Pa.


Hari belum begitu malam, tetapi kini hanya kegelapan yang dirasakan oleh Arsyilla. Ruangan itu gelap, lembab, dan juga seolah kadar oksigen di dalam ruangan itu menyusut hingga membuatnya seolah-olah sesak untuk bernafas. Juga air matanya yang terus berlinangan, membuatnya benar-benar sesak nafas. Ingin meronta dan keluar dari ruangan itu rasanya sangat sukar.


***


Sementara itu di Jaya Corp, waktu sudah menunjukkan pukul 17.00. Aksara masih meneladeni permintaan klien yang meminta revisi terhadap hasil gambaran desainnya.


Sejujurnya pria itu merasa gelisah, sudah hampir satu jam dan dia belum bisa menjemput Arsyilla. Permintaan revisi dari klien ini pun agak rumit, sehingga membutuhkan diskusi yang jauh lebih serius.


Berkali-kali Aksara melihat jam tangan yang melingkar di tangannya, selain itu Aksara pun berharap bahwa urusannya dengan klien bisa lebih cepat selesai. Jujur saja, perasaannya begitu tidak tenang. Rasanya ingin segera keluar dari Jaya Corp dan menjemput Arsyilla.

__ADS_1


Barulah menjelang pukul 17.30, Aksara keluar dari Jaya Corp. Pria itu segera melajukan mobilnya menuju fakultas Teknik Arsitektur. Memang, dirinya terlambat begitu lama, tetapi pekerjaan di kantor tidak bisa dia tinggalkan begitu saja.


Memarkirkan mobilnya di parkiran kampus, suasana di parkiran kampus cukup sepi. Hingga akhirnya, Aksara memilih turun dan bertanya tentang keberadaan Arsyilla.


Pria itu sembari menghubungi nomor telepon Arsyilla.


Arsyilla


Calling


Sayangnya, panggilan teleponnya sama sekali tidak tersambung. Hanya tertera ‘memanggil’ di layar handphone, tetapi tidak ‘berdering’. Seketika Aksara pun merasa cemas, lalu dia berlari dan bertanya ke bagian informasi di bagian fakultas itu.


“Permisi, saya mau bertanya apakah Bu Arsyilla masih ada di kampus ini?” tanyanya dengan khawatir.


“Bu Arsyilla sudah keluar dari fakultas sejak jam 4 sore tadi,” jawab petugas itu.


Sontak Aksara terlihat lebih panik. Pria itu segera mengecek posisi Arsyilla saat ini dengan handphonenya, berharap dia menemukan jejak Arsyilla sekarang. Kendati demikian, Aksara masih berusaha untuk berpikiran positif dan juga berharap Arsyilla pulang sendiri ke apartemennya atau ke rumah Papa Radit.


Beberapa kali dia mengecek lokasi Arsyilla saat ini, belum terdeteksi. Kian cemaslah Aksara, pria itu berjalan gontai kembali ke mobilnya dengan mengacak kasar rambutnya.


Kamu di mana Syilla?


Aku sangat cemas saat ini.

__ADS_1


Kamu di mana?


__ADS_2