
Keesokan harinya, saat hari sudah petang, Aksara dan Arsyilla dikejutkan dengan bel rumahnya yang berbunyi. Tidak biasa ada tamu yang datang di saat hari sudah petang seperti ini. Sebab, biasanya keluarga Papa Radit dan keluarga Ayah Bisma selalu datang ke rumahnya saat siang hari. Sementara kali ini, ada yang datang di kala hari sudah petang.
“Siapa yang datang Kak?” tanya Arsyilla kepada suaminya itu.
“Entahlah Honey … biar aku yang lihat,” jawab Aksara.
Pria itu pun segera turun ke bawah, Arsyilla turut mengikuti suaminya itu dan menggendong Baby Ara serta. Seakan tidak ingin berpisah barang untuk sejenak dengan suaminya itu.
Saat Aksara berjalan menuju pintu untuk membukakan pintu, Arsyilla juga turut mengekori suaminya itu.
"Permisi," terdengar suara bariton dari seorang pemuda yang saat itu datang dengan membawa beberapa paper bag di tangannya.
"Eh, lo Ven ... masuk-masuk," ucap Aksara yang mempersilakan tamunya yang tak lain adalah Ravendra untuk masuk dan duduk di ruang tamu yang tak jauh dari pintu itu.
"Hei Aksa, gimana kabarnya? Hei, Arsyilla," sapanya kepada Aksara dan Arsyilla.
Sungguh kejutan karena orang yang tak pernah mereka sangka akan datang, nyatanya justru datang bertamu di rumahnya. Keadaan tentu saja canggung, tetapi ketiganya berusaha mencairkan suasana.
"Baik, tumben nih," sahut Aksara.
Arsyilla memang memilih diam. Wanita itu duduk manis di sisi suaminya dengan menggendong Ara di tangannya.
"Iya, mau nengokin baby kalian,"sahut Ravendra.
Rupanya Ravendra datang petang itu untuk menjenguk baby Aksara dan Arsyilla yang sudah lahir. Pemuda itu berinisiatif untuk melihat Baby Ara.
Aksara dan Arsyilla pun menganggukkan kepalanya secara samar dan kemudian tersenyum menatap Ravendra. Sebab, keduanya juga tidak mengira bahwa Ravendra akan menyempatkan diri untuk menjenguk Baby Ara.
Kemudian Arsyilla menyentuh sedikit tangan Aksara, “Ayah, nitip dulu yah … aku buatkan minum,” ucap Arsyilla.
Bagaimana pun karena ada tamu yang datang, Arsyilla pun berniat membuatkan minum. Oleh karena itu, Arsyilla memindahkan Baby Ara ke dalam gendongan suaminya terlebih dahulu.
“Iya Honey … sini Baby Ara ikut Ayah yah,” ucap Aksara yang kini sudah menimang Baby Ara. Bahkan pria itu menimang Ara hanya dengan satu tangan saja. Kian hari, kian gesit dan cekatan saja Aksara dalam menimang dan menggendong bayi kecilnya itu.
__ADS_1
“Gak usah repot-repot, Arsyilla,” ucap Ravendra yang menghentikan langkah kaki Arsyilla untuk sementara. “Aku cuma mampir kok, enggak lama,” lanjut Ravendra lagi.
“Enggak apa-apa, cuma minum kok. Harus minum dulu,” sahut Aksara.
“Namanya siapa nih?” tanya Ravendra kepada Aksara.
“Aurora, namanya Om Vendra,” balas Aksara. Bahkan Aksara menyebut Ravendra sebagai Om. Bukti bahwa Ravendra pun adalah orang yang bisa dekat dengan keluarga mereka.
“Namanya bagus, kayak Putri-Putri di Fairy Tale gitu,” balas Ravendra.
Aksara pun menganggukkan kepalanya, “Iya, Princess Aurora kesukaannya Syilla. Cuma panggilannya Ara,” balas Aksara.
“Oh, makanya tadi kok kalian manggilnya Baby Ara,” sahut Ravendra.
Tidak berselang lama, Arsyilla kembali dan membawa nampan berisikan dua cangkir Teh Hangat untuk Ravendra dan untuk suaminya, tidak lupa memberikan camilan yang berupa kue-kue kering yang ada di dalam toples.
“Sekarang lo kerja di mana?” tanya Aksara kepada pemuda yang dulu pernah menjadi rivalnya itu.
“Di Agastya Property. Jadi staf marketing di sana. Ya, memulai dari nol lagi. Soalnya kan bukan perusahaan Bokap,” balas Ravendra.
“Oh, Agastya Property … perusahaan konstruksi dan property yang sudah lama menjadi mitranya Jaya Corp. Yang memegang masih Pak Belva enggak sih? Atau sudah digantikan putranya?” tanya Aksara.
Bagi mereka yang bekerja di perusahaan, ada kalanya akan mengingat mitra kerja mereka. Aksara pun kenal dengan Agastya Property karena kerja sama antara Agastya Property dan Jaya Corp sudah berlangsung lama.
“Masih Pak Belva kok CEO-nya. Justru kian matang saja Pak Belva mengatur perusahaan,” balas Ravendra.
Kemudian Aksara menyuruh Ravendra untuk minum, mumpung Tehnya masih hangat. “Diminum, Ven,” ucap Aksara.
“Cuma dua ya gelasnya?” tanya Ravendra.
“Iya, aku enggak minum Teh,” balas Arsyilla pada akhirnya.
Itu karena memang Arsyilla hanya minum Teh di pagi hari saja. Terlebih sekarang dia sedang memberikan ASI secara eksklusif untuk Ara, sehingga Arsyilla memang mengurangi minuman dengan kadar kafein untuk kesehatan Baby Ara.
__ADS_1
“Oh … sampai lupa, ini sedikit kado untuk Ara,” ucap Ravendra yang menyerahkan paper bag yang dia bawa.
“Makasih ya Om Vendra,” balas Aksara.
“Repot-repot,” imbuh Arsyilla.
Akan tetapi, terlihat Ravendra menggelengkan kepalanya, “Enggak repot kok … buat keponakan sendiri,” balas Ravendra.
Ya, pemuda itu menganggap Ara sebagai keponakannya sendiri. Terlebih memang jika dihitung, ada kedekatan antara Ravendra dan Aksara. Walau dulu bertikai, bukan berarti selamanya harus hidup dalam pertikaian bukan? Kini, hubungan keduanya benar-benar membaik.
“Thanks Om Ravendra,” ucap Arsyilla kali ini.
“Eh, jangan panggil Om dong … panggil Uncle aja,” pinta Ravendra kali ini.
Aksara dan Arsyilla kemudian berbicara berdua, “Kenapa sekarang tidak mau dipanggil Om yah? Dari Shaka terus Rangga, mereka maunya dipanggil Uncle, ini juga Vendra maunya dipanggil Uncle,” sahut Arsyilla.
“Enggak apa-apa, enak Uncle aja sih. Uncle Vendra,” balas Ravendra.
“Gimana perasaannya memiliki baby?” tanya Ravendra kali ini kepada Aksara.
“Bersyukur banget sih … bisa menemani Syilla dari awal, dari kehamilan sampai persalinan, terus sekarang ada Ara, rasanya luar biasa banget,” balas Aksara.
Ravendra tersenyum dan merepons dengan menganggukkan kepalanya mendengar cerita Aksara itu.
“Selamat ya buat kalian berdua. Aksa, kapan-kapan bisa ngobrol enggak? Cuma sebatas tanya-tanya saja sih,” balas Ravendra.
Aksara pun merasa terkesiap, ngobrol yang seperti apa yang dimaksud oleh Ravendra. Kendati demikian, Aksara pun mengiyakannya.
“Iya boleh … waktu jam makan siang aja yah. Soalnya kalau sore, gue pengennya balik ke rumah cepet-cepet. Sudah kangen sama anak dan istri,” jawab Aksara dengan jujur.
“Iya, nanti gue main deh ke Jaya Corp,” sahut Ravendra.
Usai menghabiskan minumannya, kemudian Ravendra berpamitan dengan Aksara dan Arsyilla.
__ADS_1
“Ya sudah, gue pamit yah. Selamat berbahagia untuk kalian berdua. Baby Ara yang cantik, Uncle pamit yah. Cantik banget sih kamu,” ucap Ravendra yang tersenyum mengamati Baby Ara dalam timangan Aksara itu.
Kemudian Aksara dan Arsyilla pun mengantarkan Ravendra sampai ke depan pintu. Kunjungan yang singkat, tetapi mereka merasa Ravendra memang telah berusaha memperbaiki hidupnya di masa lalu. Tidak bertikai dengan seorang pun membuat hati mereka bertiga benar-benar damai.