
Di saat Alice membalikkan badannya, di saat yang sama Aksara, Bunda Kanaya, dan juga Ayah Bisma berteriak.
“Syilla ….”
Teriakan yang terdengar begitu membahana di dalam serambi taman itu. Teriakan histeris, siapa saja yang mendengarnya pastilah tahu siapa yang menjadi sasaran Alice sekarang ini.
Tak ingin mencelakakan istrinya, Aksara dengan perhitungannya yang tepat, segera menahan pergerakan tangan Alice, hingga mata pisau itu mengenai telapak tangannya.
“Aksara ….”
Mulailah nama Aksara yang diteriakkan karena Aksara yang rupanya menghalangi Alice dan menghadang pisau itu dengan tangannya sendiri. Sampai terlihat darah yang mengalir dari telapak tangan Aksara.
“Panggil security Ayah, biar Aksara yang tahan,” pinta Aksara.
Sementara melihat suaminya yang menjadi sasaran dari hunusan pisau Alice, Arsyilla mulai berkaca-kaca, tidak mengira bahwa suaminya akan bergerak cepat, memperhitungkan semuanya.
“Kakak,” ucap Arsyilla yang merasa bingung dengan semua peristiwa yang terjadi di depan matanya.
“Kamu masuk saja, Honey … jangan hiraukan aku,” balas Aksara.
Arsyilla menggelengkan kepalanya dan menahan supaya air matanya tidak jatuh, “ … tapi Kak, aku tidak bisa,” balasnya.
Om Tono pun akhirnya mendekati Alice yang rasanya seperti dirasuki roh jahat dan kemudian memukul tangan Alice hingga pisau itu terlepas.
“Lepaskan Alice … lepaskan!” Om Tono berteriak, tidak mengira dengan kelakuan brutal putrinya itu.
“Papa kenapa pukul Alice Pa? Harusnya Papa pukul dia, karena dia selalu menolak Alice. Apa salahnya Alice Pa? Apa kurangnya Alice? Sampai dia selalu menghiraukan Alice?”
Alice berteriak, wanita itu mengusap wajahnya dengan kasar dengan mata yang melotot tajam dan berwarna merah. Sungguh, wajah Alice menjadi begitu mengerikan saja.
Sampai akhirnya Ayah Bisma dan security datang dan menangkap Alice. Bagaimana pun penyerangan ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Penyerangan yang nyaris mencelakai nyawa Arsyilla.
“Pak Tono silakan pergi dari sini, dan bawa putri Anda itu!” Ayah Bisma berbicara dengan tegas.
“Maafkan kami, Pak Bisma … kami tidak mengira bahwa semuanya justru akan menjadi seperti ini,” ucap Om Tono dengan menyesal.
“Kami akan bawa penyerangan ini kepada pihak berwajib, bagaimana pun yang sudah dilakukan Alice ini masuk dalam kategori penyerangan,” ucap Ayah Bisma dengan tegas.
Security segera menyuruh mereka untuk keluar, sementara Arsyilla sudah memeluk suaminya itu. Tangisannya pecah begitu saja, “Kakak,” ucapnya dengan berderai air mata.
__ADS_1
“Jangan menangis Honey … aku akan menyelamatkan kamu. Aku tidak akan membiarkan kamu tersakiti lagi,” balas Aksara.
Arsyilla mengurai pelukannya, kemudian menatap wajah suaminya, “Tangan kamu berdarah Kak … ke Rumah Sakit yah … kita obati,” ajak Arsyilla kali ini.
Namun rupanya Rangga sudah turun dari kamar di atas, menyerahkan Baby Ara kepada Bunda Kanaya, pria itu turun dengan membawa kotak obat.
“Rangga lihat dulu saja, Kak Syilla … kalau lukanya tidak dalam bisa diobatin sendiri. Kalau lukanya dalam ya harus dijahit di Rumah Sakit. Operasi kecil,” ucap Airlangga.
Mereka pun menurut, mengikuti Rangga masuk ke dalam ruang tamu dan kemudian Rangga mensteril luka di telapak tangan Kakaknya itu dengan alkohol. Luka berdarah dan terkena alkohol rasanya begitu perih, sampai Aksara meng-aduh dan menghela nafas saat kapas yang sudah diberi alkohol itu mengenai telapak tangannya.
“Sakit,” teriak Aksara.
“Sebentar Mas … jangan gerak terus, Rangga lihat dulu lukanya seberapa dalam,” balas Rangga dengan serius.
Arsyilla pun turut memegangi tangan suaminya itu, “Tahan dulu ya Kak … sebentar, semoga tidak harus operasi kecil,” balasnya.
Rangga membersihkan darah di telapak tangan Kakaknya, dan kemudian melihat kedalaman luka di tangan Kakaknya. “Lukanya tidak dalam Mas … jadi dirawat sendiri saja. Rangga obatin yah, sama harus minum antibiotik, Mas,” balas Rangga.
Aksara menganggukkan kepalanya, bagaimana pun ada Dokter di rumah itu lebih baik, sehingga dalam kondisi darurat seperti ini ada yang memeriksa dan memberikan advice harus ke Rumah Sakit atau tidak.
Mulailah obat merah diberikan, dan Rangga mengenakan kassa di telapak tangan Kakaknya itu.
“Sudah Mas, langsung minum antibiotik, Mas,” balas Rangga.
“Empat hari, Mas … sampai jaringan yang terluka itu mulai menutup dan tumbuh jaringan kulit yang baru,” jelas Rangga.
Aksara menganggukkan kepalanya perlahan, “Makasih,” ucapnya.
“Sama-sama Mas … hanya saja yang kamu lakukan tadi adalah tindakan yang tepat, Mas … kalau aku diposisi kamu, aku juga akan melakukan hal yang sama,” balas Rangga.
Aksara menghela nafas, dia setuju dengan apa yang sudah diucapkan adiknya kali ini. Tidak akan pernah membiarkan Arsyilla terluka lagi. Sudah begitu banyak air mata dan kesakitan yang dirasakan Arsyilla. Jika hanya merasakan luka dan goresan di tangan saja tidak masalah bagi Aksara.
Pria itu beringsut, dan melihat istrinya, “Kamu tenang saja, aku akan selalu jagain kamu … sudah yah nangisnya. Kamu aman,” ucap Aksara.
Rangga tertawa, kemudian dia berdiri dari kursi yang saat dia tempati. “Dilanjut aja, Mas … aku masuk dulu,” ucapnya.
Setidaknya Rangga memberikan waktu untuk Kakaknya itu menenangkan istrinya. Namun, di mata Rangga justru terlihat besarnya cinta yang dimiliki Kakaknya untuk Kakak Iparnya. Dalam hatinya, Rangga pun akan melakukan hal yang sama jika ada bahaya yang mengancam pasangan atau orang yang dekat dengan hatinya.
Sepeninggal Rangga, Aksara segera merangkul bahu Arsyilla yang masih bergetar, dan masih menangis itu.
__ADS_1
“Sudah … aku masih hidup Honey. Apa lagi yang aku tangisin?” tanya Aksara.
“Aku takut banget tadi, Kak … waktu dia berteriak dan akan menghabisi aku dan Ara. Refleks, aku minta Rangga bawa Ara untuk menjauh. Bagaimana pun Ara harus aman. Sementara aku siap berkorban untuk kalian berdua,” ucapnya.
“Biarkan aku yang berkorban Honey … sejak menjadi Istriku banyak luka yang kamu alami. Jadi, biarkan kali ini aku saja,” ucap Aksara.
Sejujurnya, Aksara juga merasa sangat lega karena dia menyelamatkan Arsyilla. Tidak akan membiarkan cewek Psycho seperti Alice melukai wanita yang sangat dicintainya itu.
“Dia suka kamu sejak lama ya Kak?” tanya Arsyilla kemudian.
“Iya, sejak SMA … dia menurutku sih Psycho, Honey. Kamu liat kan, ada tatto nama aku di tangannya dia. Dia terobsesi banget sama aku sejak kami SMA. Sampai akhirnya, di kelas 3 SMA, aku memutuskan pindah sekolah. Aku enggak mau satu sekolahan sama dia, bisa-bisa aku tidak fokus belajar, padahal waktu itu aku harus dapat nilai Ujian Nasional yang bagus supaya aku bisa masuk Fakultas Kedokteran,” ceritanya kepada Arsyilla.
“Cinta tak terbalas di SMA yah?” respons Arsyilla.
“Iya,” sahut Aksara dengan singkat.
“Sejak SMA kelakuannya juga serem kayak gitu Kak?” tanya Arsyilla lagi.
“Iya … dia itu kayak penguntit waktu SMA dulu, harus tahu semua tentang aku. Ada teman cewek yang hanya dekat sama aku untuk tanya pelajaran aja, dia marah dan cewek itu bakalan dipukulin sama dia. Psycho kelas berat itu, Honey,” cerita Aksara lagi.
“Ya ampun, ngeri banget sih Kak … untung aku enggak pernah punya temen seperti dia, dan enggak mau juga sih,” balas Arsyilla.
Kemudian Arsyilla mengurai rangkulan tangan suaminya di bahunya, “Aku mintakan Ayah obat antibiotik dulu ya Kak … tadi kan Rangga bilang harus minum antibiotik,” ucapnya.
“Iya, boleh … cuma jangan lama-lama yah,” balas Aksara.
Arsyilla menganggukkan kepalanya, kemudian dia mencari Ayah Bisma dan meminta obat antibiotik untuk suaminya. Sekaligus mengambil segelas air putih.
“Gimana lukanya dalam enggak?” tanya Ayah Bisma.
“Katanya Rangga tidak dalam kok, Yah … bisa diobatin sendiri. Cuma tadi Rangga bilang harus minum antibiotik karena luka goresan pisau,” jelas Arsyilla.
“Iya benar … yang disampaikan Rangga benar. Memang nanti rencananya Rangga akan mengambil Spesialis Anak, cuma kan Dokter Umum hanya sekadar untuk luka dan sakit seperti flu, demam, dan lain-lain bisa mendiagnosis. Hanya saja untuk penyakit dalam tidak bisa,” jelas Ayah Bisma.
“Iya Ayah … untuk ada Dokter, setidaknya ada advice yang bisa diberikan saat darurat kayak gini,” balas Arsyilla.
“Maaf ya Syilla … kami tidak mengira jadinya akan seperti ini. Ayah akan buat laporan ke pihak berwajib untuk penyerangan ini karena sudah membahayakan keselamatan orang lain,” balas Ayah Bisma.
“Bukankah kayak gitu lebih baik untuk kesembuhan mentalnya dulu ya Ayah … dia terlihat Psycho, dan mengerikan. Jika dengan penegak hukum pun bisa lolos karena gangguan jiwa yang dia alami,” jelas Arsyilla.
__ADS_1
Ayah Bisma menganggukkan kepalanya dan memahami apa yang disampaikan menantunya itu, “Tidak apa-apa. Nanti pihak berwajib bisa memberikan keputusan untuk rehabilitasi dan penyembuhan mental,” jawab Ayah Bisma.
Kali ini Arsyilla mengikuti saja keputusan Ayah Bisma. Yang pasti seluruh keluarga besar dalam keadaan aman dan selamat. Selain itu, luka di telapak tangan suaminya juga akan segera sembuh, pulih seperti sedia kala.