
Berada di dalam kamar dengan perasaan gamang benar-benar tidak enak rasanya. Mencoba mengirimkan pesan bagi suaminya, nyatanya pesan itu hanya terbaca dan sama sekali tidak dibalas. Ingin mengunjungi suaminya secara langsung, tetapi Arsyilla tidak tahu di mana kamar suaminya itu.
Alhasil, Arsyilla hanya tidur dengan tertelungkup di atas ranjang dan membawa handphone di tangannya. Perasaannya harap-harap cemas menunggu balasan pesan dari suaminya itu. Agaknya, Arsyilla harus mengatakan kepada suaminya jika memang marah atau ada perasaan yang mengganjal di dalam hati lebih baik dibicarakan saja. Daripada suaminya hanya diam seperti ini justru membuatnya tidak tenang.
Detik berganti dengan menit. Menit pun berlalu dan berubah menjadi jam. Hingga menjelang pukul 21.00 malam, terdapat panggilan masuk ke handphonenya.
Di layar ponsel milik Arsyilla tertera nama, ‘A’.
Dengan cepat Arsyilla menggeser ikon telepon berwarna hijau di layar handphonenya.
“Iya halo …,” suara Arsyilla yang agak serak terdengar menerima panggilan seluler itu.
“Hmm, baru ngapain?” tanya Aksara pada akhirnya.
“Tau,” sahut Arsyilla.
Mungkin karena merasa jengkel, pesannya tidak balas, wanita itu hanya menjawab sekenanya saja.
“Tolong, bukakan pintu di kamarmu. Pintunya berada di dekat ranjang, terlihat ada pintu kayu kan,” instruksi pria itu melalui sambungan teleponnya.
Mata Khaira pun mengedar dan melihat pintu kayu yang dimaksud oleh suaminya di telepon itu. Kemudian Arsyilla berdiri dan membuka pintu kayu dengan jarak beberapa meter dari ranjangnya itu.
Deg!
Saat pintu itu dibuka, dia melihat sosok suaminya yang berdiri di depan pintu itu dengan membawa handphone yang masih melekat di telinganya.
Sementara Arsyilla sendiri justru meneteskan air matanya saat melihat sosok suaminya itu. Arsyilla memilih mundur dan hendak menutup pintu itu, tetapi Aksara dengan cepat menahannya dan Aksara mengikuti Arsyilla masuk ke kamarnya.
Tanpa banyak bicara, Aksara segera mematikan sambungan telepon itu dan merengkuh tubuh Arsyilla dalam dekapannya.
“Aku kangen,” ucap pria itu dengan memejamkan matanya.
Sementara kedua tangan Arsyilla terasa lemas, tangan itu hanya terdiam dan tidak menyambut pelukan suaminya. Merasakan pelukannya tak terbalas, Aksara kemudian mengurai pelukannya dan menatap wajah Arsyilla.
“Enggak balas pelukanku?” tanya pria itu.
__ADS_1
Dengan cepat Arsyilla menggelengkan kepalanya, wanita itu justru meneteskan air matanya, “Jahat banget,” balasnya dengan tersedu sedan.
Aksara lantas menyeka buliran air mata yang menetes di wajah istrinya itu, membawa istrinya berbaring dan dia pun turut berbaring di sini istrinya. Keduanya berbaring dan saling berhadap-hadapan.
“Sorry, aku tadi sudah marah,” aku Aksara dengan jujur.
“Karena apa?” tanya Arsyilla yang seakan meminta penjelasan dari suaminya.
“Pak Bagas … aku gak suka sama dia, cara dia mandang kamu, cara dia bicara sama kamu. Kamu enggak boleh deket-deket sama dia,” balas Aksara.
Ah, rupanya barulah Arsyilla tahu bahwa penyebab suaminya itu memasang mode silent karena Pak Bagas. Oh, mungkin saja tadi Aksara mendengar pembicaraan para rekan dosennya itu di meja makan.
Arsyilla pun menatap wajah suaminya, “Tidak ngaruh sama sekali … aku toh juga tidak menanggapi. Mau ada cobaan gimana pun, kalau aku tidak menanggapi kan ya tidak akan terjadi. Lagian aku sudah punya orang yang spesial di hati aku,” balas Arsyilla kini.
Ya, Arsyilla seakan ingin menegaskan bahwa cobaan boleh datang, tetapi dia tidak akan memberi celah, tidak akan menanggapi. Semua itu dia lakukan karena ada orang spesial di dalam hatinya.
“Siapa orangnya?” tanya Aksara.
Tentu saja pertanyaan dari Aksara itu bersifat retoris dan tidak perlu dijawab, karena sebenarnya pria itu tahu siapa orang spesial di dalam hati istrinya itu.
“Rahasia,” balas Arsyilla pada akhirnya.
Aksara dengan cepat menggelengkan kepalanya, “Aku mati-matian pesan kamar yang ada connecting roomnya, malahan kamu usir aku. Tega banget,” sahutnya.
“Tega mana sama enggak balas pesannya istri selama berjam-jam?” tanya Arsyilla.
“Abis aku sebel,” sahut Aksara.
“Abis aku juga sebel,” sahut Arsyilla.
Aksara lantas mengangkat jari kelingkingnya, “Maaf yah … kamu mau enggak maafin aku?” pinta pria itu.
Tidak langsung menjawab, Arsyilla tampak menatap suaminya itu, “Lain kali, jika ada masalah, ada uneg-uneg di dalam hati, mending disampaikan baik-baik. Kita bisa berbicara dari hati ke hati. Kita bisa sama-sama cari jalan keluarnya. Kalau kamu diam, masalah tidak akan pernah selesai, Kak,” sahut Arsyilla.
Mendengar ucapan Arsyilla, Aksara kemudian menganggukkan kepalanya, “Iya … maaf,” balasnya.
__ADS_1
“Ya sudah, aku maafin,” balas Arsyilla.
Lega, rupanya sekarang istrinya yang dulu begitu jutek dan terkesan judes itu sekarang bisa berpikiran dewasa dan bahkan dengan mudahnya memaafkan dirinya. Senyuman pun terbit di sudut bibir Aksara.
“Malam ini aku tidur di sini yah?” tanya Aksara dengan menatap wajah istrinya.
“Enggak aman Kak … aku takut,” sahut Arsyilla.
Ya, sekali pun setiap dosen mendapatkan kamar sendiri-sendiri, tetapi Arsyilla merasa takut dan tidak aman. Itu semua karena ada dosen, mahasiswa, dan staf dari kampus yang turut Field Trip kali ini.
“Aku bela-belain loh Sayang … sampai pindah kamar, cari yang ada connecting roomnya,” balas pria itu.
Sementara Arsyilla hanya diam dan tidak menjawab lagi ucapan suaminya itu. Memang suaminya begitu tangguh dan berani berkorban hingga pindah kamar dan mencari connecting yang tertuju langsung ke kamar Arsyilla.
“Aku janji cuma bobok aja di sini, enggak gangguin kamu,” ucap Aksara lagi.
Ya, pria itu berjanji bahwa dirinya hanya akan tidur bersama Arsyilla. Memeluk istrinya itu. Sebab, jika tidur sendiri rasanya hambar dan mata pun tidak akan bisa terpejam.
“Aku juga enggak mau kamu gangguin. Capek. Besok masih harus aktivitas seharian di luar,” sahut Arsyilla dengan cepat.
Perlahan Aksara beranjak dari ranjang, menutup connecting room yang masih terbuka. Kemudian mengunci pintu kamar hotel milik Arsyilla dan mematikan lampu utamanya, pria itu kemudian menaiki ranjang dan merebahkan dirinya di samping istrinya.
“Sudah … aku tidur di sini. Sini Sayang, aku peluk … aku kangen banget sama kamu,” ucap Aksara.
“Kak, tapi aku takut,” balas Arsyilla.
Aksara pun menangkup wajah istrinya, dan melabuhkan sebuah kecupan di bibir istrinya itu.
Chup!
“Janji cuma tidur bersama, dan gak akan macam-macam,” sahutnya.
“Janji?” respons Arsyilla.
Dengan cepat Aksara pun mengangguk, “Iya … ayo kita tidur. Kamu pasti sudah kecapekan, apalagi abis nangis. Biar aku akan memelukmu sepanjang malam ini,” ucap Aksara.
__ADS_1
Arsyilla akhirnya pun mengangguk, “Baiklah,” jawabnya.
Mungkin ini adalah Field Trip tergila bagi Arsyilla, bagaimana mungkin mahasiswa dan sekaligus suaminya hingga mencari kamar dengan connecting room dan sepanjang malam keduanya bisa tidur satu ranjang dan saling memeluk. Arsyilla akan selalu mengingat semuanya ini. Mengingat perjuangan suaminya yang begitu tangguh.