
“Ngobrolnya dilanjut lagi nanti, sekarang silakan makan dulu,” ucap Papa Radit kali ini.
Rupanya walaupun tidak banyak berbicara, Papa Radit tahu bahwa mereka semua sudah terlalu banyak mengobrol, sampai melewatkan waktu makan. Sehingga, Papa Radit pun mengingatkan kepada Aksara, Arsyilla, dan besannya untuk bisa makan terlebih dahulu.
“Seru mengobrol sampai lupa mempersilakan Besan menikmati hidangan sore ini,” ucap Mama Khaira dengan terkekeh geli.
Bunda Kanaya dan Ayah Bisma pun tertawa. Sebab, setiap obrolan yang mereka ucapkan terasa mengalir begitu saja hingga membuat mereka betah berlama-lama untuk mengobrol.
Kemudian Aksara melihat ke istrinya yang duduk di sampingnya. “Mau aku ambilkan makan Honey?” tawarnya kepada istrinya itu.
“Aku ambil sendiri saja, Kak … ada semua orang tua kita, malu kalau kamu ambilin. Kan seharusnya Istri yang melayani suami,” balas Arsyilla.
Memang faktanya seharusnya seorang istri yang melayani suami. Sehingga saat Aksara menawarkan untuk mengambilkan makan untuknya, tentu saja Arsyilla menolaknya karena merasa tidak enak harus dilayani suami.
“Santai saja, Honey … lihat saja itu Papa Radit dan Ayah Bisma juga dengan bangganya mengambilkan minum untuk Mama Khaira dan Bunda Kanaya. Mau minum?” tawar Aksara kemudian kepada istrinya itu.
Arsyilla pun melihat Papa Radit dan Ayah Bisma yang tidak ragu untuk mengambilkan minuman dan aneka camilan untuk Mama Khaira dan Bunda Kanaya. Hingga Arsyilla pun tersenyum melihat orang tuanya yang masih harmonis dan begitu rukun di usia yang sudah tidak muda lagi. Sungguh, di dalam hatinya Arsyilla pun berharap bahwa dirinya dan Aksara bisa harmonis, saling mencintai, kompak hingga mereka tua nanti. Sebab, Arsyilla sangat ingin bisa menua bersama dengan suaminya itu.
“Ya sudah … air putih saja, Kak,” pinta Arsyilla kepada suaminya itu.
Aksara menganggukkan kepalanya, kemudian pria itu segera berdiri dan kemudian mengambilkan minuman dan camilan untuk Arsyilla.
“Ini, diminum dulu Honey,” ucap Aksara.
“Makasih Hubby,” balas Arsyilla dengan tersenyum dan menundukkan kepalanya.
Setelahnya kemudian Arsyilla mengambil salah satu camilan yang sudah diambilkan oleh suaminya, yaitu Sosis Solo dan menyuapkannya kepada Aksara.
“Makan Hubby … aku suapin,” ucapnya.
Aksara pun membuka mulutnya dan menerima suapan Sosis Solo itu dari tangan istrinya. Mungkin karena baru kasmaran, Aksara pun merasa bahwa setiap makanan yang dia makan dari tangan istrinya itu membuatnya menjadi lebih enak rasanya.
“Mau aku ambilkan makan?” tanya Arsyilla.
__ADS_1
“Nanti saja, Honey … makan camilan ini saja dulu,” balas Aksara.
Saat banyak tamu datang dan beramah tamah, rupanya ada seorang tamu yang baru saja datang. Pasangan suami istri paruh baya dengan seorang putrinya yang begitu cantik jelita. Ketiganya datang dan menyapa Mama Khaira dan Papa Radit.
“Permisi … halo Bro,” ucap seorang pria paruh baya yang sekarang sudah mengenakan kacamata.
Papa Radit yang hendak memakan camilan pun, menaruhnya, dan kemudian terkesiap melihat siapa yang datang di hadapannya sekarang ini.
“Ya Tuhan … Dimas. Gimana nih kabarnya?” tanya Papa Radit sembari memeluk sahabat lamanya yang bernama Dimas itu.
Ya, tamu yang baru saja datang adalah Om Dimas, Tante Metta, dan anaknya yang bernama Medina. Om Dimas sendiri adalah sahabat Papa Radit sejak muda dulu. Sementara Tante Metta adalah sahabatnya Mama Khaira di bangku kuliah. Kini, ketiganya bisa datang tentu menjadi kejutan tersendiri bagi Mama Khaira dan Papa Radit.
Mama Khaira juga berdiri dan memeluk sahabat lamanya itu.
“Gimana sekarang kabarnya, Ta?” tanya Mama Khaira yang baru melihat sahabat lamanya saja sudah berlinangan air mata.
“Baik dong, Khai … punya acara kok enggak undang-undangan sih. Aku datang karena melihat story kamu,” balas Tante Metta.
“Cuma kajian dan doa bersama saja, Ta … ini Medina kan?” tanya Mama Khaira sembari menunjuk gadis cantik yang berdiri di belakang Tante Metta.
“Medina sudah besar yah … sudah begitu cantik. Kapan nih mau mantu? Kalau mantu, kabar-kabar yah,” goda Mama Khaira.
“Doakan saja,” balas Tante Metta.
Kemudian Tante Metta berjalan dan mendekat ke arah Arsyilla. Wanita seusia dengan Mamanya kini mengulurkan tangannya dan menyentuh perut Arsyilla. “Ya ampun, kamu kalau seperti ini terlihat seperti Mamamu waktu dulu,” ucap Tante Metta.
Arsyilla hanya tersenyum, kemudian dia hendak mengenalkan sahabat-sahabat lama dari orang tuanya itu kepada Aksara.
“Tante Metta, Om Dimas, dan juga Dina, kenalkan dia suaminya Syilla. Namanya Kak Aksara,” ucap Arsyilla.
Sebagai bentuk hormat, Aksara pun bersalaman dengan sahabat-sahabat lama dari mertuanya itu.
“Halo Om, Tante, dan Dina,” sapanya dengan sopan.
__ADS_1
“Kenapa nama Aksara tidak asing di telingaku ya Khai,” celetuk Tante Metta kepada Mama Khaira.
Kemudian Mama Khaira menganggukkan kepalanya, “Iya … dia Aksara kami. Aksara kecil yang pernah kami temui di Panti Asuhan dulu. Dia kini menjadi pendamping Arsyilla,” cerita Mama Khaira.
Mendengar kebenaran yang baru saja dia dengar, keluarga Tante Metta dan Om Dimas pun membelalakkan matanya. Tidak mengira bahwa Aksara yang dulu membuat Arsyilla menangis sampai tantrum, rupanya kini pria itu menjadi pendamping Arsyilla.
“Ya Tuhan, kenapa bisa yah? Dulu Syilla, kamu itu rewel … nangis terus mencari Kakak Aksara. Sampai Mama dan Papa kamu mengajakmu main bersama Dina supaya kamu tidak terus-menerus menangis. Sekarang, pria yang dulu kamu tangisin, telah menjadi suamimu. Tante doakan kalian berdoa hidup rukun dan bahagia sama seperti Mama dan Papamu,” cerita Tante Metta.
Bunda Kanaya dan Ayah Bisma yang mendengarkan cerita dari Tante Metta pun turut tersenyum, hati keduanya menjadi begitu hangat berarti memang dari kecil Arsyilla sudah begitu menyayangi putranya itu. Kehilangan Aksara sampai membuat Arsyilla kecil menangis sampai tantrum.
“Kamu dulu sampai tantrum, Honey?” tanya Aksara sembari berbisik lirih di telinga Arsyilla.
“Aku kurang tahu, Kak … aku masih sangat kecil waktu itu, jadi ya aku tidak ingat,” jawab Arsyilla.
Sekali lagi dalam memori anak-anak sangat terbatas. Tidak banyak kenangan yang bisa dia ingat. Akan tetapi, mendengar cerita dari Mama Khaira, Papa Radit, dan kini keluarga Tante Metta, Arsyilla yakin bahwa sejak kecil dirinya sudah begitu menyayangi Aksara.
Setelahnya, Arsyilla menatap ke Medina yang berdiri tidak jauh darinya, “Dina sudah punya pacar?” tanyanya.
Gadis cantik itu tampak malu-malu untuk menjawab, kemudian Tante Metta lah yang justru mengangkat suara.
“Doakan saja Syilla … doakan tidak lama lagi Dina bisa mengakhiri masa lajangnya,” balas Tante Metta.
“Dapat anak mana, Ta?” tanya Mama Khaira yang terlihat ingin tahu.
“Anak Jakarta, yang dekat saja, Khai,” sahut Tante Metta.
Sungguh menyenangkan bahwa bahwa acara empat bulanan bisa dilakukan untuk bertemu dengan sahabat lama. Persahabatan antara Mama Khaira, Papa Radit, Om Dimas, dan juga Tante Metta sudah berjalan sekian puluh tahun lamanya, dan kembali berjumpa membagi lagi cerita-cerita di masa lalu tentu terasa sangat menyenangkan.
***
*Yang penasaran bagaimana persahabatan Mama Khaira dan Papa Radit dengan Tante Metta dan Om Dimas bisa membaca di novel mereka yang berjudulBerbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta.
Yang mampir, tinggalkan jejak yah. :)*
__ADS_1
Love U All,
Kirana