
Kian hari rasanya hari-hari untuk bersalin semakin dekat. Berbagai persiapan baik secara fisik, mental, dan spiritual sudah dipersiapkan Aksara dan Arsyilla. Keduanya kini memang hanya perlu menghitung waktu untuk tiba di hari H nanti.
Aksara juga kian makin siap secara mental. Pria itu bisa mengelola perasaan dan rasa panik yang dia alami. Selain itu, Arsyilla juga sering menata-nata perlengkapan si baby di kamarnya. Kali ini Arsyilla akan menyiapkan sebuah tas yang akan dia bawa ke Rumah Sakit nanti.
Sebelumnya Mama Khaira sudah mengingatkan kepadanya untuk mulai menyiapkan tas yang berisi berbagai perlengkapan bayi dan perlengkapannya sendiri. Sebab, saat kontraksi itu tiba, calon ibu tidak akan bisa berkonsentrasi dan menyimpan persiapan di dalam tasnya. Lebih baik, menyiapkan perlengkapan dalam satu tas sebelum masa kontraksi tiba.
“Kamu baru ngapain Honey?” tanya Aksara kepada Arsyilla yang duduk dengan sebuah koper yang tidak jauh darinya.
“Ini Kak, menyiapkan untuk dibawa ke Rumah Sakit nanti. Sudah waktunya Kak … katanya Mama dipersiapkan jauh-jauh hari. Soalnya kalau kontraksi nanti, gak bisa mikir jernih dan susah konsentrasi karena akan didominasi dengan rasa sakit. Aku siapkan sekarang, sapa tahu tidak lama lagi akan ada gelombang cinta dari Dedek Bayi,” jawab Arsyilla.
Aksara menganggukkan kepalanya dan berinisiatif untuk membantu istrinya itu, “Sini aku bantuin … biar kamu enggak kecapekan,” sahut Aksara.
Berbagai perlengkapan mulai baju bayi, kain bedong, sarung tangan dan sarung kaki, penutup kepala (topi) bayi, perlengkapan mandi, sampai diapers semua Arsyilla tata dalam satu tas. Tidak lupa, Arsyilla mempersiapkan keperluannya berupa baju ganti, diapers yang bisa langsung dia kenakan usai persalinan, breast pad, hingga pumping ASI, semuanya juga dia siapkan. Sehingga, saat gelombang kontraksi datang, Aksara tinggal mengangkat koper itu dan memasukkannya ke dalam mobil. Juga tidak lupa, Arsyilla memasukkan pakaian ganti untuk suaminya itu. Sehingga suaminya juga tidak perlu bolak-balik ke rumah untuk mandi dan berganti baju.
“Waktunya sebentar lagi ya Honey,” ucap Aksara sembari melihat berbagai perlengkapan yang mulai ditata di dalam koper itu.
“Iya Kak … masa-masa counting down ini. Enggak lama lagi bakalan ketemu sama Princessnya Ayah,” jawab Arsyilla sembari tersenyum. Pipinya yang kian chubby mengembang, hingga matanya terlihat lebih sipit sekarang ini.
“Kamu bisa saja Honey … kamu bahkan gak mengeluh loh sampai saat itu,” balas Aksara.
“Kan aku baik-baik saja, Kak … nanti kalau aku kesakitan. Pasti aku juga akan mengeluh kok sama kamu. Kan aku punya kamu sebagai tempatku berkeluh kesah,” balas Arsyilla.
Memang Aksara adalah support system utama bagi Arsyilla, tempatnya bersandar sekaligus berkeluh kesah. Banyak hal yang bisa Arsyilla bagikan dan ceritakan dengan suaminya itu. Cerita di kampus, pengalaman melahirkan, dan juga candaan-candaan receh yang sering mereka bagikan bersama.
Usai menyiapkan koper-koper dengan semua isinya, Arsyilla lantas menuju kembali ke kamarnya, Aksara juga mengekori istrinya itu.
“Honey, mulai pekan depan Mama Khaira akan stand by di sini. Aku terlalu khawatir ninggalin kamu sendirian di rumah. Ya, aku tahu jarak rumah dengan perusahaan tidak terlalu jauh. Cuma, kamu butuh seseorang di samping kamu, Honey,” ucap Aksara kali ini kepada Arsyilla.
“Kamu perhatian banget sih Kak … aku jadi terharu deh,” balas Arsyilla.
Wanita itu kemudian menyandarkan kepalanya di dada Aksara, sembari menghirup parfume yang selalu menjadi favoritnya itu. Arsyilla merasa sangat tenang bisa menikmati waktu berdua dengan suaminya seperti ini.
Arsyilla kemudian menengadahkan wajahnya, kemudian dia mendaratkan kecupan di bibir suaminya itu.
__ADS_1
Chup!
“Love U, Kak … aku bersyukur banget punya kamu sebagai suami aku dan Ayah dari anakku,” sahut Arsyilla.
Wajah Aksara memerah di sana, pria itu tersenyum dan membelai sisi wajah Arsyilla. “Jangan cium-cium, Honey … bibirku kena bibir kamu itu bahaya. Emergency akut. Jadi, kalau pengen yang lain gimana coba?” balas Aksara.
Kali ini pria itu berbicara sebagai seorang bibir. Sel-sel saraf yang berada di bibirnya bisa menegang seketika saat bibir Arsyilla menyapanya. Sel Saraf yang menghantarkan sensor sampai ke otaknya.
“Modus,” balas Arsyilla.
“Fakta, Honey … partikel-partikel di tubuhku mudah tersulut kalau sama kamu,” balas Aksara.
Kemudian Aksara menatap wajah Arsyilla dengan begitu lekat, dan telapak tangannya menyisiri sisi wajah Arsyilla.
“Honey, haruskah kita melakukan saran Dokter?” tanya Aksara.
“Hmm, saran Dokter yang mana Kak?” tanya Arsyilla balik kepada suaminya itu.
“Membuat jalan lahir untuk Dedek Bayi,” jawab Aksara dengan langsung.
“Ya, sebenarnya takut sih … cuma ya, mencoba tidak ada salahnya,” jawab Aksara kali ini.
Arsyilla lantas menganggukkan kepalanya. Pria itu tersenyum dan mulai memagut dengan begitu lembut bibir Arsyilla. Menyesap lipatan atas dan lipatan bawahnya bergantian, seakan Aksara begitu menikmati peraduan bibir hingga menghasilkan decakan yang memenuhi kamar itu. Tangan Aksara juga kini mulai meraba dan menyusuri lekuk-lekuk feminitas di tubuh Arsyilla. Pria itu menahan nafas, karena tidak dipungkiri dengan istrinya yang hamil saja, Aksara merasakan hasratnya begitu terbakar, tetapi Aksara tidak akan berbuat kasar dan mengedepankan kenyamanan istrinya itu.
Tidak ingin berlama-lama, Aksara melucuti satu demi satu pakaian yang istrinya kenakan, membuat istrinya itu polos mutlak di hadapannya, sementara dia sendiri masih menggunakan pakaian yang lengkap.
“Jahat banget sih,” ucap Arsyilla.
“Cantik banget sih Bumilku ini,” balas Aksara sembari mengurai kuciran rambut Arsyilla.
“Gombal banget sih,” balas Arsyilla.
“Serius,” balas Aksara dengan kembali mencumbu bibir Arsyilla.
__ADS_1
Pria itu tidak segan-segan untuk mengecupi bibir Arsyilla, mengajak wanita itu menari-nari dengan lidah dan bibirnya. Memagutnya, menghisapnya, dan juga melu-matnya. Lenguhan yang keluar dari bibir Arsyilla justru membuatnya kian tersulut.
Arsyilla benar-benar tidak tahan dengan gelombang yang saat ini dia rasakan, pegangan tangannya di bahu Aksara kian menguat saat pria itu mendaratkan kecupan-kecupan basah nan hangat di garis leher, hingga puncak dadanya. Semua yang Aksara lakukan benar-benar memabukkan. Sampai akhirnya, Arsyilla menarik kaos yang dikenakan Aksara, membuat pria itu juga polos di hadapannya.
“Duduk saja di pangkuanku, Honey … supaya tidak menekan perut kamu,” instruksi Aksara kali ini kepada Arsyilla.
Pria itu sedikit mengangkat pantat Arsyilla, dan perlahan-lahan menyatukan dirinya dengan posisi Arsyilla yang duduk dalam pangkuannya. Sebab, ini adalah posisi yang nyaman untuk Ibu Hamil yang tidak akan menekan perutnya.
“Bergerak perlahan Honey,” instruksi Aksara lagi.
Arsyilla dengan nafasnya yang kembang kempis bergerak mengikuti instingnya, dan mengikuti instruksi dari suaminya. Terkadang dia bergerak lambat dengan mencengkeram bahu Aksara, terkadang Arsyilla menegangkan punggungnya dan mencengkeram paha Aksara.
Keduanya sama-sama berpeluh, sama-sama meregukan kenikmatan yang hanya bisa mereka rasakan bersama. Pergerakan Arsyilla kian kacau, bahkan wanita itu berkali-kali mencerukkan wajahnya di dada bidang Aksara.
“Ah, Kak,” de-sah Arsyilla dengan nafasnya yang putus-putus.
“Hmm, apa Honey,” sahut Aksara.
Tatapan sensual yang diberikan pria itu, geliat tubuh Arsyilla, dan de-sahan demi de-sahan yang terjadi menciptakan atmosfer yang begitu panas. Suhu tubuh keduanya pun meningkat dengan drastis. Cengkeraman cawan surgawi Arsyilla juga begitu dahsyat, sampai Aksara benar-benar mengakui bahwa ini adalah surga dunia yang sesungguhnya.
“Kak, aku …,” ucap Arsyilla dengan suara yang terengah-engah di sana.
“Aku apa Honey?” Aksara masih bisa menyahut, beberapa kali pria itu memejamkan matanya dengan rapat.
“Keluar sama-sama yah,” ucap Aksara kali ini.
Aksara menarik tubuh Arsyilla mendekat dengannya. Gesekan dada saat bertemu dada kian menyulut gelenyar asing yang membuatnya sama-sama dahaga dan ingin memuaskan hasratnya. Di batas akhir, Aksara menggeram, tubuhnya bergetar dan memeluk dengan erat istrinya yang berada di pangkuannya itu.
“I Love U … I Love U, Arsyillaku,” ucap Aksara dengan mendekap erat tubuh Arsyilla.
“I Love U, Kak,” balas Arsyilla dengan tubuh yang lemas.
Sungguh, menghitung waktu mundur hingga persalinan nanti tiba, keduanya sedikit mereguk manisnya cinta untuk merileksasikan diri mereka, membuat jalan lahir bagi baby nya nanti, dan juga melepaskan hormon-hormon kecemasan yang mungkin saja produksinya kian meningkat menjelang hari persalinan tiba.
__ADS_1
Counting down with happy activity!