Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Kesakitan Tak Terdefinisikan


__ADS_3

Menyadari rasa sakit yang datang tiba-tiba dengan begitu hebatnya, Arsyilla pun segera memprediksi bahwa anaknya akan lahir tidak lama lagi. Wajahnya telah memerah menahan rasa sakit yang datang tiba-tiba itu. Doanya sekarang hanya satu yaitu suaminya bisa segera tiba. Sehingga dia bisa segera berangkat ke Rumah Sakit dan mendapatkan pengecekkan lengkap dari Dokter Rinta.


Melihat Arsyilla yang beberapa kali menahan napas, dan wajahnya memerah Mama Khaira pun mulai curiga, “Kamu tidak apa-apa kan Syilla? Apa mulai terjadi kontraksinya?” tanya Mama Khaira yang kini mulai mengusapi perut Khaira. Sudah pasti Mama Khaira pun merasa khawatir. Perasaan seorang Ibu yang begitu lembut tidak akan tega melihat anaknya kesakitan. Kendati demikian, di hadapan Arsyilla, Mama Khaira berusaha untuk tetap tenang dan tidak menunjukkan kekhawatirannya.


Arsyilla mengangguk, “Iya, Ma … baru saja datang. Duh, sakit banget. Mules dan kencang banget rasanya, Ma,” ucapnya sembari menyeka buliran keringat di keningnya.


Arsyilla masih berusaha tersenyum, walaupun beberapa menit tadi rasanya sakit itu datang dengan begitu hebatnya. Setidaknya rasa sakit kali ini masih bisa dia tahan, sehingga Arsyilla berusaha menahan rasa sakit, tidak menunjukkan betapa kesakitannya dia saat gelombang kontraksi itu datang.


Hingga akhirnya terdengar pintu gerbang terbuka, mulailah Mama Khaira berdiri untuk membukakan pintu. Rupanya sosok yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Aksaralah yang datang, dari gerbang pria itu sedikit berlari untuk memasuki rumahnya.


“Di mana Syilla, Ma? Bagaimana kondisinya sekarang?” tanyanya yang dengan menunjukkan ekspresi yang cemas dan sekaligus khawatir.


“Itu Aksa, kelihatannya baru saja kontraksi,” jawab Mama Khaira sembari menunjuk Arsyilla yang tengah duduk di sofa yang berada di ruang tamu.


Tanpa banyak bertanya, Aksara segera membopong istrinya untuk masuk ke dalam mobilnya, sementara Mama Khaira membawakan koper dan tas yang sudah Arsyilla siapkan sebelumnya. Pria itu pun menghela napasnya berharap bahwa istrinya bisa bertahan hingga ke Rumah Sakit. Sementara Arsyilla tersenyum samar dengan tangannya melingkari leher suaminya untuk berpegangan di sana.


“Padahal aku masih bisa berjalan loh, Kak,” gumam Arsyilla lirih. Berusaha menyingkirkan rasa khawatir dan panik yang dirasakan Aksara saat ini. "Sebatas jalan dari rumah ke mobil masih kuat aku nya," ucap Arsyilla lagi kepada suaminya itu.


“Aku gendong saja, Honey … aku rasanya enggak tahan liat kamu kesakitan dan masih harus berjalan. Sakit banget kan pasti? Jadi, biar aku gendong saja,” jawabnya.

__ADS_1


Tidak dipungkiri bahwa saat kontraksi itu tiba, sakitnya akan begitu luar biasa. Rasa sakit yang akan menguat seiring dengan semakin bertambahnya proses pembukaan. Sementara Aksara tidak akan rela melihat istrinya yang harus bertambah sakit karena masih harus berjalan kakli.


Setelahnya dengan perlahan, Aksara mendudukkan Arsyilla di kursi samping kemudi dan mengenakan sabuk pengaman kepada istrinya itu. Kemudian, Aksara berpamitan dengan Mama Khaira.


“Mama, kami ke Rumah Sakit dulu ya Ma … doakan Syilla bisa segera lengkap pembukaannya dan bisa bersalin dengan selamat,” ucapnya sembari mencium punggung tangan mertuanya itu.


“Iya Aksa, kalau ada apa-apa kabarin Mama … nanti Mama akan susul ke Rumah Sakit. Menunggu Papa kamu datang atau Shaka nanti,” jawab Mama Khaira.


Walau begitu cemas, tetapi Mama Khaira yakin bahwa Arsyilla akan mendapatkan kekuatan dari Tuhan. Selain itu Aksara yang terlihat begitu siaga membuat Mama Khaira yakin bahwa Arsyilla bisa menahan rasa sakit yang sukar untuk terdefinisikan itu.


Setelah berpamitan, Aksara mulai melajukan mobilnya dan kali ini dia mengendarai dengan sedikit lebih cepat. Ada rasa takut jika istrinya kenapa-napa dan ditambah bahwa air ketubannya sudah merembes, jadi bisa sampai di Rumah Sakit tentu lebih baik.


Hingga akhirnya hanya berkendara kurang lebih 20 menit dan Aksara sudah berada di dalam Rumah Sakit. Arsyilla juga sudah mendapatkan sebuah kamar perawatannya sembari menunggu pembukaan lengkap sebelum nanti akan dipindahkan ke kamar tindakan.


“Kelihatannya air ketubannya rembes, Dok. Tadi juga sudah terasa kontraksi.” jawab Arsyilla.


Mulailah Dokter Rinta akan melakukan pemeriksaan cek dalam kepada Arsyilla guna mengetahui berapa centimeter pembukaan yang sudah terjadi. Mulailah Dokter Rinta memberikan instruksinya dan meminta Arsyilla untuk mengikuti instruksi yang dia berikan.


“Sekarang mohon dengarkan instruksi saya ya Bu. Buka kedua pahanya, tarik napas panjang dan jangan berpikiran yang aneh-aneh. Saya akan melakukan cek dalam, dan jangan mengejan ya Bu. Tunggu. Sekarang ya Bu Arsyilla, tarik napas … tahan.”

__ADS_1


Mulailah tiga jari Dokter Rinta masuk guna melakukan cek dalam, begitu tangan itu keluar tampaknya terlihat darah di sana.


“Sudah pembukaan lima, Bu. Sudah lima centimeter. Tadi yang Ibu rasakan basah dan merembes itu memang air ketubannya. Sekarang sudah memasuki fase pembukaan aktif ya Bu, jadi rasa kontraksi akan datang dengan lebih sering dan lebih sakit. Hanya saja, biasanya untuk kelahiran anak yang pertama biasanya prosesnya lebih lama. Sebab, belum ada jalan lahirnya, di dalam sini bayi juga sedang berusaha untuk menemukan jalan lahirnya. Jadi kita akan tunggu, jika lancar, kurang lebih 5 sampai 8 jam lagi kita bisa menyambut baby girl-nya,” penjelasan Dokter Rinta yang begitu detail.


“Ibu Arsyilla masih bisa makan dan minum, karena kita nanti akan upayakan persalinan normal ya. Kalau mau Caesar, sayang sekali karena pembukaannya sudah setengah jalan. Boleh untuk jalan-jalan atau miring ke kiri ya Bu  supaya sirkulasi pernafasan lebih lancar. Kalau butuh bantuan, silakan pencet tombol di atas kepala Ibu nanti akan ada perawat yang datang dan menolong Ibu,” jelas Dokter Rinta lagi.


Arsyilla pun menganggukkan kepalanya mendengarkan instruksi dan penjelasan yang diberikan Dokter Rinta. Usai Dokter Rinta keluar dari ruangannya, mulailah dia merasakan rasa sakit yang begitu hebatnya di perut dan menjalar ke seluruh tubuhnya. Beberapa kali Arsyilla bahkan mendesis setiap rasa sakit itu datang.


Mata Arsyilla juga memerah karena menahan tangis. Hingga terkadang kedua matanya terasa perih. Wanita itu memejamkan matanya dengan kedua tangan yang memberikan usapan di perutnya yang terasa lebih kencang.


“Sakit Honey?” tanya Aksara kepada istrinya itu.


Walau Arsyilla tidak mengeluh sakit, tetapi dari gestur yang terlihat saat ini bisa dipastikan bahwa Arsyilla begitu kesakitan. Aksara menghela nafas dan turut memberikan usapan di pinggang istrinya itu.


“Sakit, Kak … tetapi, aku masih bisa tahan kok,” jawab Arsyilla.


Sekalipun benar-benar sakit, tetapi dia memang akan menahannya. Dirinya akan mengeluh jika memang sudah tidak mampu lagi bertahan.


“Kuat ya Honey … aku temenin. Aku akan selalu disisimu, menemanimu. Kita sambut Dedek Bayi bersama-sama ya,” ucap Aksara sembari terus memberikan usapan di pinggang Arsyilla.

__ADS_1


Ini adalah pengalaman keduanya menghadapi masa-masa persalinan yang begitu mendebarkan. Kendati demikian, Aksara tetap berusaha tenang. Panik di hatinya, biarlah dia rasakan sendiri. Ada Arsyilla yang lebih membutuhkan perhatiannya sekarang ini. Dalam hatinya, Aksara benar-benar berharap tidak sampai 5 hingga 8 jam, Arsyilla sudah bisa melahirkan. Sebab, Aksara tidak akan tahan melihat betapa kesakitannya istrinya itu. Dada begitu sesak, pikirannya juga begitu kacau, tetapi Aksara akan bertahan untuk selalu ada di sisi istrinya itu. Sama seperti janjinya dulu, Aksara akan selalu mendampingi istrinya itu.


Arsyilla menganggukkan kepalanya sembari berbaring ke kiri. Dalam hatinya, Arsyilla meminta semoga saja tidak membutuhkan waktu lima hingga delapan untuk menunggu proses pembukaan secara lengkap. Semoga saja dirinya kuat dan bertahan untuk melahirkan buah hatinya ke dunia.


__ADS_2