
“Kak, ampun Kak, jangan gelitikin aku … geli tahu,” ucap Arsyilla yang masih berusaha menghindar.
Akan tetapi, Aksara seolah tidak menghiraukan permintaan Arsyilla. Pria itu tampak berusaha menaruh jari telunjuknya di pinggang Aliya, mencoba menggelitik wanita itu. Akan tetapi, saat jari telunjuk Aksara menyentuh pinggang Aliya, wanita itu justru limbung, kakinya goyah, hingga tanpa sengaja Arsyilla justru terjatuh di atas ranjang begitu saja.
Sementara Aksara pun juga turut terjatuh dan menindih tubuh Arsyilla. Pria itu lantas menahan berat tubuhnya dengan kedua sikunya, supaya tidak terlalu menekan Arsyilla di bawah sana.
Namun, kini yang terjadi tawa keduanya sama-sama sirna, wajah mereka sama-sama memerah, dan bulu mata Arsyilla tampak berkedip-kedip di sana. Aksara kemudian menatap wajah Arsyilla, tidak menyangka sebenarnya bahwa dirinya bisa berada sedekat ini dengan Arsyilla. Menempel satu sama lain tanpa celah.
Jika ada yang terdengar di sana, pastilah detak jantung keduanya yang bertalu-talu. Pengalaman yang sangat mendebarkan. Hingga di detik berikut, Aksara lantas menundukkan wajahnya. Tidak perlu ditanya lagi, Arsyilla berusaha menarik diri. Berusaha untuk menghindari, tetapi nyatanya upaya gagal.
Satu tangan Aksara seketika meraih tengkuk Arsyilla. Menahannya. Kemudian, Aksara menarik Arsyilla untuk mendekat kepadanya. Sekarang tidak ada lagi yang bisa Arsyilla lakukan, tarikan tangan Aksara terasa begitu kokoh dan kuat.
Hingga pada akhirnya, Arsyilla merasakan sentuhan hangat dan lembut di kedua belah bibirnya. Ya, bibir Aksara telah menempel sempurna di atas bibirnya. Dalam satu tekanan bibir yang lembut, dan tidak bisa dia tolak.
Nafas Arsyilla seolah tersentak lepas dari rongga paru-parunya. Hingga tanpa sadar kedua tangan Arsyilla yang semula menahan dada Aksara perlahan bergerak dan meremas dada itu. Sebuah respons alami yang terjadi saat Aksara mulai menelusupkan lidahnya di antara kedua belah bibir itu.
Kecupan yang terasa lembut di atas bibir Arsyilla. Hingga kecupan itu berganti dengan *******, memagutnya lembut dan penuh perasaan. Ciuman, kecupan, hingga pagutan yang membuat Arsyilla merasa gemetar hingga ujung kakinya.
Jika ada satu kata yang mewakili perasaan Arsyilla saat ini, maka kata itu adalah … mendebarkan!
Ya, hatinya berbedar-bedar saat ini. Memang bukan kali pertama Aksara mencium bibirnya, tetapi dicium dengan posisi seperti benar-benar membuat Arsyilla gemetar. Suhu tubuhnya pun meningkat dengan drastis, berkat pagutan yang begitu lembut dan sedikit menekan di bibirnya itu.
Aksara menciumnya dengan penuh perasaan. Dengan pergerakan yang penuh irama. Pria itu bahkan kini menelengkan kepalanya untuk memperdalam ciumannya yang sedang dia labuhkan. Sementara Arsyilla pun memejamkan matanya secara dramatis, gelombang yang menerpanya sekarang ini benar-benar membuatnya kebat-kebit. Perasaan yang sungguh gila, tetapi Arsyilla tidak bisa menolaknya. Bahkan secara perlahan. Arsyilla menyadari bahwa kali ini dirinya turut hanyut. Buaian bibir Aksara yang hangat, manis, dan basah benar-benar melenakan dirinya saat itu.
__ADS_1
Ciuman yang semula begitu hening, perlahan diiringi dengan decakan yang diciptakan oleh pergerakan keduanya. Menimbulkan suara-suara asing yang melingkupi kamar itu. Decakan yang laksana sebuah irama yang mengalun indah, irama yang sengaja diciptakan bagi keduanya saat mereguk bibir yang ranum itu.
******* demi ******* terjadi begitu saja. Tidak henti-hentinya Aksara mengecupi dua buah lipatan bibir Arsyilla. Seolah Aksara memang ingin mencicipi semua rasa yang ada di sana.
Di tengah-tengah nafas yang tersisa, Aksara lantas melepaskan bibirnya. Memberikan celah bagi mereka berdua untuk menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Nafas Arsyilla begitu kacau, pun sama halnya dengan Aksara yang juga terengah-engah dengan dada yang kembang kempis di sana.
Perlahan Arsyilla mengerjap.
Matanya yang semula masih terpejam, perlahan membuka. Wanita menyadari ciuman panas dan penuh perasaan yang Aksara labuhkan di bibirnya dengan posisi pria itu yang menindih dirinya benar-benar membakar dirinya.
“Kak Aksara ….”
Susah payah Arsyilla berusaha menyebut nama Aksara, rasanya ingin pergi dan melarikan dirinya, apa daya Aksara masih berada di atasnya. Pria itu juga menatap Arsyilla dengan begitu lekatnya. Seolah retina matanya hanya menangkap satu objek dan itu adalah Arsyilla.
“Hampir, aku tidak bisa menahan diri,” aku Aksara kali ini.
Berbicara perihal menahan diri, nyatanya malahan membuat Arsyilla menjadi panas dingin. Tidak mengira bahwa Aksara akan mengatakan bahwa dirinya nyaris tak bisa menahan diri. Jika, sudah begini, ingin merespons ucapan Aksara pun rasanya sulit.
“Syilla, ayo kita berbulan madu berdua?” ajak Aksara kali ini.
Tidak langsung menjawab, nyatanya Arsyilla masih diam. Dirinya memang wanita dewasa dan tahu kegiatan utama berbulan madu bukan sekadar berjalan-jalan, tetapi para pasangan akan lebih menghabiskan waktu bersama di dalam hotel.
“Maukah?” tanya Aksara lagi. Sekalipun dalam hati Aksara sangat menginginkannya, tetapi dia tetap bertanya terlebih dahulu kepada Arsyilla.
__ADS_1
“Usai mid semester saja, ada liburan setelah mid semester,” jawab Arsyilla kemudian.
Aksara pun mengangguk, “Baiklah … usai Mid Semester. Jika nilaiku di mata kuliahmu bagus, beri aku hadiah ya,” pinta Aksara kali ini.
Arsyilla pun lantas menatap wajah Aksara di hadapannya, bertanya apa hadiah yang pria itu minta darinya. “Mau hadiah apa Kak?” tanyanya.
“Terima cintaku, terima aku sepenuhnya sebagai suamimu,” ucap Aksara kali ini dengan menatap Arsyilla begitu lekat.
Menyadari bahwa Arsyilla sudah mengulur waktu terlalu lama, akhirnya Arsyilla pun mengangguk, “Iya,” jawabnya lirih.
Senyuman terbit begitu saja di wajah tampan Aksara, pria itu menatap Arsyilla dengan matanya yang berbinar. “Yes, i can do it my best,” jawab Aksara. Dia akan memastikan untuk mendapatkan nilai terbaik di mata kuliah Arsyilla nanti. Dia ingin berusaha terlebih dahulu, berjuang, hingga akhirnya mendapatkan hadiah yang sudah cukup lama dia nantikan.
Sementara Arsyilla kemudian bangkit, “Ayo selesaikan menata tempat tidurnya, Kak … ini tidak rapi sama sekali,” keluhnya kali ini dan mencoba upaya mengalihkan pembicaraan sebenarnya, karena jika dia teringat ciuman Aksara, faktanya justru dirinya akan limbung.
Pada kenyataannya bukan hanya Aksara yang hampir tidak bisa menahan diri, tetapi Arsyilla pun menyadari dirinya benar-benar hanyut, bahkan larut saat suami sekaligus mahasiswanya itu mengecup bibirnya, memagutnya lembut, dan membuainya dengan sapuan lidahnya. Seolah-olah bumi berhenti berotasi, dalam sebuah dunia yang dipenuhi kata-kata dan bahasa, seolah yang menyisakan satu bahasa dan irama mengalun begitu saja di dalam dirinya. Debaran yang sangat menggetarkan.
“Beri aku satu ciuman dulu,” sahut Aksara pada akhirnya.
Akan tetapi, Arsyilla lantas segera mengambil guling kali ini, “Aku timpuk lagi loh, ya ampun kamu ini, nakal banget sih,” keluhnya dengan tangan yang menggenggam guling dengan kedua tangannya.
Tawa Aksara pun pecah, “Aku rela kamu timpuk, jika bisa mendapatkan ciumanmu,” ucap pria itu sembari mengerlingkan matanya kepada Arsyilla.
Ya Tuhan, rupanya memang Aksara adalah pria yang gigih. Tidak peduli dengan timpukan yang dia dapatkan, asalkan pria itu mencapai apa yang dia inginkan.
__ADS_1