
Sejoli yang semalam menikmati malam panas hingga tengah malam itu, saat surya di luar sana menyapa rupanya keduanya masih sama-sama terlelap. Bergelung dalam satu selimut, dengan tubuh yang sepenuhnya polos mutlak, tetapi keduanya sama sekali tidak merasa kedinginan, karena nyatanya mereka merasakan kehangatan saat saling memeluk dan mendekap. Arsyilla masih terlelap tidur di dada Aksara dengan satu tangan yang melingkari pinggang suaminya itu.
Nyaris saat hari kian terik, mulailah Arsyilla mengerjap. Kelopak matanya bergerak-gerak, dan kemudian dia membuka matanya perlahan melihat ada sosok pria yang sudah seutuhnya dan sepenuhnya menjadi miliknya. Arsyilla kemudian tersenyum. Wanita itu hanya diam, bayangan aktivitas panasnya semalam terasa masih berputar di kepalanya. Hingga Arsyilla menyunggingkan senyuman di sudut bibirnya.
Kemudian Arsyilla menggelengkan kepalanya, tidak menyangka semalam benar-benar terjadi dan lebih menakjubkan karena itu adalah pengalaman pertama baginya. Tidak berselang lama, Aksara pun turut terbangun, pria itu mengulas senyuman di wajahnya dan mencium kening Arsyilla.
“Pagi Syilla Sayang,” ucapnya dengan suaranya yang parau khas orang baru bangun tidur.
“Pagi, Kak …,” sahut Arsyilla.
Kemudian Aksara duduk dan menyandarkan punggungnya di head board. Tangan pria itu bergerak dan mengusapi puncak kepala Arsyilla. “Sampai kapan kamu mau bergelung di bawah selimut itu?” tanyanya.
“Badanku sakit semua, Kak … kamu tega banget,” ucapnya.
Aksara pun terkekeh geli, “Bukan tega, Sayang … tetapi itu eksekusi paling nikmat,” jawabnya dengan spontans.
“Kak, kamu itu kalau bicara sukanya kayak gitu loh,” ucapnya.
“Maaf … aku terlalu bersemangat. Maaf ya,” ucap Aksara dengan melembut.
Arsyilla pun mengangguk, “Iya … gak apa-apa,” jawabnya.
“Kita mau seharian di atas tempat tidur kayak gini?” tanya Aksara.
“Aku pengen mandi, Kak … cumanya kayaknya aku enggak kuat jalan,” ucap Arsyilla dengan jujur.
Ya, memang lantaran malam yang dia sangka adalah malam kedua rupanya justru adalah malam pertama baginya, Arsyilla merasakan pangkal pahanya yang terasa sakit, panas, serasa ngilu. Bahkan Arsyilla sendiri tidak yakin bisa berjalan sampai ke kamar mandi atau tidak.
Aksara kemudian menyibak selimutnya, dengan santainya pria itu berjalan dan mengitari tempat tidurnya dan segera menyibak selimut Arsyilla, membopong wanita itu ke dalam kamar itu. Aksara mendudukkan Arsyilla terlebih dahulu di atas kloset dan kemudian mengisi bath up dengan air hangat.
“Mau sambil sikat gigi?” tanyanya.
Arsyilla mengangguk, perlahan dia berdiri dan berkumur, setelahnya menggosok giginya. Gosok gigi usai, dia lantas mencuci wajahnya dengan facial foam. Setelahnya, keduanya berendam bersama di sebuah bath up dengan bath bomb yang beraroma floral itu. Sangat menenangkan. Keduanya hanya berendam tidak melakukan lebih karena Arsyilla yang semula sudah mengeluh kesakitan.
__ADS_1
Usai mandi bersama untuk kali pertama selesai, Aksara kemudian mengenakan bathrobe kepada Arsyilla. Pria itu terlihat begitu menyayangi Arsyilla hingga selalu melayani Arsyilla, merasa tidak enak Arsyilla pun juga meraih bathrobe yang tergantung dan memakainya untuk suaminya itu.
“Pakai ini Kak, supaya kamu tidak kedinginan,” ucapnya. Setidaknya Arsyilla juga bisa memberikan sedikit perhatian bagi suaminya itu.
Aksara pun tersenyum, “Makasih Manis,” jawabnya.
Tampak Arsyilla yang terkekeh geli, dipanggil ‘Manis’ oleh Aksara terasa menggelikan. “Jangan panggil Manis, Kak … aneh,” sahutnya.
“Lalu, kamu mau dipanggil apa?” tanya Aksara kemudian.
“Terserah, panggil namaku saja juga tidak apa-apa,” ucapnya.
Aksara kemudian mengangguk, “Iya, terserah aku aja ya manggilnya. Penting enggak memanggil kamu Manis kan? Padahal kamu benar-benar manis,” ucapnya kali ini.
Setelahnya mereka berjalan keluar dari kamar mandi, Arsyilla memilih untuk berganti pakaian karena terlalu lama memakai bathrobe juga tidak nyaman. Wanita itu menggelengkan kepalanya saat melihat noda merah di leher hingga dadanya.
“Kamu kok seganas ini sih Kak?” tanyanya dan sekali mengeluh melihat banyaknya noda merah di sana.
Arsyilla lantas mengerucutkan bibirnya, “Ya tanda cinta satu aja, Kak … ini coba lihat. Dulu aja kamu gigit, lebih dari tiga hari baru hilang,” akunya.
“Kapan?” tanya Aksara dengan menyipitkan matanya.
“Di malam saat kamu ngeprank aku,” jawab Arsyilla kemudian.
Ah, barulah Aksara ingat dengan jejak-jejak merah yang sengaja dia buat waktu itu. Pria itu kembali tertawa, “Maaf, tetapi masak sampai tiga baru hilang?” tanyanya.
Arsyilla pun mengangguk, “Iya … sakit tahu,” akunya.
“Sakit tapi enak kan? Sakit tapi nagih kan?” godanya kali ini.
“Kak, jangan bercanda terus dong … aku baru serius loh ini,” ucapnya lagi.
Aksara kemudian mendekap tubuh Arsyill dari belakang, memeluknya dengan erat. “Iya-iya … maaf. Sekarang kamu tunggu di sini, aku keluar untuk ambil makanan dulu ya di Restorannya. Mau dipesankan sesuatu?” tanyanya.
__ADS_1
“Apa pun aku mau, karena aku kelaparan,” jawabnya.
“Iya tunggu dulu yah,” ucapnya.
Kurang lebih Aksara keluar sampai sepuluh menit, sementara di dalam kamar Arsyilla tampak merapikan kamar mereka supaya lebih rapi. Menarik selimut, wanita itu tersenyum saat benar-benar melihat noktah (noda) merah di atas sprei berwarna putih itu.
“Kamu yang pertama buatku, Kak … semoga aku juga yang pertama buatmu,” gumamnya lirih.
Setelahnya, Aksara pun kembali pria itu membawa stand stroller (meja dorong yang biasanya digunakan di hotel atau restoran untuk mengantarkan makanan).
“Ayo Sayang … makan dulu,” ucapnya.
Pria itu memberikan secangkir teh hangat untuk Arsyilla. Lalu masih ada berbagai menu sarapan dari Bubur Ayam, Nasi Goreng, hingga Buah-Buahan semuanya dibawa Aksara.
“Kamu ambilnya banyak banget, Kak,” ucap Arsyilla.
“Iya, biar sekalian. Aku juga laper banget,” sahut Aksara yang rupanya juga begitu kelaparan pagi ini.
Rupanya memang keduanya kelaparan, hampir makanan yang Aksara ambil tandas dan bersisa. Setelahnya dia mengeluarkan stand stroller dengan semua peralatan makan di luar kamar. Pria itu kemudian duduk menyelonjorkan kakinya di sofa, kedua tangannya terbuka seolah meminta Arsyilla untuk masuk dalam pelukannya. Wanita itu mengangguk, dan segera masuk dalam pelukan Aksara, duduk di depan Aksara, dan menyandarkan punggungnya di depan Aksara.
Beberapa kali Aksara memejamkan matanya, badannya bergerak perlahan dari kanan ke kiri. Pria itu lantas menghela nafasnya, “Pagi yang indah bersama istri tercinta,” ucapnya.
Arsyilla menengadahkan wajahnya, melihat wajah Aksara, “Kak, boleh tanya sesuatu?” tanyanya kini.
“Apa?” tanya Aksara dengan cepat.
“Jadi semalam itu our first night?” tanyanya perlahan. “For me and you?” lanjutnya bertanya.
Aksara perlahan mengangguk, “Ya, first night and first experience for you and me,” jawabnya.
“Are you sure?” tanya Arsyilla lagi.
“Ya, i sure,” sahut Aksara sembari mendekap tubuh Arsyilla dengan begitu hangatnya.
__ADS_1