Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Persiapan Wisuda


__ADS_3

Tidak berselang lama, waktu wisuda pun tiba. Arsyilla pun membantu suaminya mempersiapkan wisuda. Mulai dari Toga, menyiapkan pakaian kemeja putih, celana berwarna hitam, dan sepatu yang akan mereka kenakan di Wisuda nanti.


“Masih perlu apa lagi Kak?” tanya Arsyilla kepada suaminya.


“Sudah semua, Honey … kemeja, celana, sepatu, toga juga sudah. Oh, iya … dasi juga Sayang,” ucap Aksara.


Mulailah Arsyilla mencarikan dasi untuk suaminya itu. Paling tidak, besok ketika wisuda tiba semuanya sudah dipersiapkan dan tidak perlu mencari-cari lagi.


Setelah semua perlengkapannya selesai, Aksara lantas merangkul bahu istrinya itu.


“Kenapa Istriku ini cuma menyiapkan untukku saja, kamu tidak membutuhkan persiapan apa pun, Honey?” tanya Aksara kepada istrinya itu.


“Sudah Kak … aku sudah mempersiapkan untukku sendiri,” jawab Arsyilla.


“Kamu nanti make-up juga Honey?” tanya Aksara.


Arsyilla pun kemudian menganggukkan kepalanya, “Iya … aku make up juga. Nanti gimana Kak, kamu mau berangkat sendiri nanti atau gimana?” tanya Arsyilla.


Aksara tampak menatap wajah istrinya itu, “Aku pengennya sama kamu sih Sayang … tetapi, gimana enaknya aku ngikutin kamu aja,” balas Aksara.


Kemudian Arsyilla pun tersenyum, menerka-nerka gimana nanti jadinya nanti. Lantas Arsyilla menatap wajah suaminya itu.


“Kita ketemu di kampus saja ya Kak … anterin aku ke make up artist langgananku ya Kak. Nanti pulangnya kita barengan,” jawab Arsyilla pada akhirnya.


Aksara pun mengangguk, tidak masalah dengan permintaan istrinya itu. “Baiklah … nanti pulangnya kita barengan yah Sayang. Akhirnya, aku wisuda juga,” ucap Aksara pada akhirnya.


Mengingat betapa besarnya perjuangannya kuliah hingga pernah mengambil cuti sampai dua tahun dan baru kali ini bisa lulus dan wisuda. Oleh karena itu, Aksara sebenarnya tidak menyangka karena dirinya bisa lulus dan wisuda. Itu pun tidak pernah terlepas dari dukungan istrinya.


Aksara lantas berdiri, dia mengambil sebuah skripsi yang sudah dicetak dan memberikannya untuk Arsyilla.


“Coba buka di kata pengantarnya Honey … aku menuliskan sesuatu buat kamu,” ucap Aksara.

__ADS_1


Tangan Arsyilla pun menerima skripsi dari suaminya dan melihat di bagian kata pengantar, wanita itu membaca setiap tulisan yang berada di sana, lantas wanita itu tersenyum.


‘Skripsi ini saya persembahkan untuk Istriku tercinta, Pendamping hidupku yang selalu mensupportku. Sekali pun pernah hiatus, tetapi aku pastikan tahun ini aku akan lulus.”


Usai membaca sebaris kalimat di dalam halaman persembahan itu, Arsyilla justru tertawa. Baginya, Aksara justru terkesan lebay.


“Isshhs, lebay banget sih Kak … pakai dipersembahkan segala. Kamu bisa menyelesaikan semua ini karena kamu yang mau berusaha dan mengerjakannya dengan baik,” balas Arsyilla.


Akan tetapi, Aksara segera menggelengkan kepalanya, “Enggak Sayang … itu karena kamu. Kamu bimbing aku pelan-pelan, menjelaskan kerangka berpikirnya. Kalau tidak ada kamu, mungkin skripsiku akan terkatung-katung dan aku bisa-bisa enggak lulus tahun ini,” jawabnya.


Sekarang, Arsyilla justru menatap wajah suaminya itu, “Kamu itu pintar Kak … aku merasa enggak seperti itu. Kamu hebat dan bisa mengerjakan semua ini karena kamu mau berusaha. Aku bangga padamu, Hubby,” ucap Arsyilla.


“Serius, kamu bangga padaku?” tanya Aksara yang seakan meminta sebuah penjelasan untuk meyakinkan hatinya.


“Iya … aku bangga padamu. I am so proud of you, Hubby,” ucap Arsyilla lagi.


Aksara pun tersenyum dan kemudian mengusapi puncak kepala istrinya itu, “Rasanya … dengan memiliki kamu di sisiku. Aku tidak ragu lagi. Aku bisa menghadapi semuanya, melakukan semuanya jika kamu bersamaku dan mendampingiku,” ucap Aksara kini.


“Usai ini … aku tinggal mempersiapkan resepsi pernikahan kita berdua. Aku akan mewujudkan semua impianmu,” ucap Aksara dengan menggenggam tangan istrinya dengan begitu erat.


“Terima kasih Kak … walau sebenarnya, aku sudah merasa cukup hanya dengan memilikimu. Aku sudah merasa cukup dengan semuanya ini,” balas Arsyilla.


“Kamu bisa memanfaatkan aku, Honey … aku berikan kepadamu akses penuh untuk memanfaatkan aku,” ucap Aksara sungguh-sungguh.


Sebab selama hampir satu tahun pernikahan mereka, nyatanya Arsyilla tidak pernah memanfaatkannya. Minta sesuatu yang berlebihan pun juga tidak pernah. Padahal secara materi dan finansial, Aksara terbilang mampu untuk bisa memberikan apa pun yang diinginkan istrinya itu.


“Cinta itu tidak memanfaatkan, Kak … aku sudah bahagia memiliki kamu sebagai suamiku. Membimbing aku ke arah yang lebih baik. Ya, aku akui terkadang ada sisi di mana aku manja, dan kekanak-kanakan, tetapi kamu tidak protes dan bisa menerimaku apa adanya,” ucap Arsyilla.


Aksara pun tersenyum, memang tidak dipungkiri istrinya itu terkadang bersifat manja. Akan tetapi, dirinya sama sekali tidak keberatan. Aksara justru suka-suka saja jika istrinya bermanja-manjaan dengannya.


“Tidak apa-apa, Sayang … itu alamiah kok. Aku tidak keberatan. Kamu kalau menjadi dosen, terlihat dewasa dan anggun. Namun, saat di rumah bersamaku seperti ini kamu menjadi dirimu yang apa adanya. Aku suka,” jawab Aksara dengan sungguh-sungguh.

__ADS_1


“Yakin?” tanya Arsyilla.


“Iya … sangat yakin. Tidak apa-apa. Aku pun juga seperti itu,” balas Aksara.


Arsyilla pun menghela nafas yang terasa begitu lega saat ini. Akhirnya satu per satu, impian dan cita-cita mereka berdua terwujud. Dengan lulusnya suaminya, sudah pasti Arsyilla merasa bahwa ini adalah mimpi yang menjadi nyata.


“Jadi, besok siap ke wisuda Hubby?” tanya Arsyilla.


“Iya … siap,” sahut Aksara dengan cepat.


“Aksara Adhinata Pradhana, S. Ars (Sarjana Arsitektur) … uhm, cocok juga,” gumam Arsyilla yang sudah menyematkan gelar pendidikan lulus dari Teknik Arsitektur untuk suaminya itu.


Aksara pun tersenyum, “Biasa saja, Honey … aku punya gelar lain yang lebih luar biasa,” ucapnya.


“Gelar apa?” tanya Arsyilla.


“Aksara suaminya Arsyilla … itu lebih berharga bagiku. Aku menjadi suamimu itu adalah gelar kehormatan yang akan aku sandang seumur hidupku,” balasnya.


Sontak saja Arsyilla terbahak mendengar jawaban berbau gombalan dari suaminya itu. Hingga wanita itu mendaratkan pukulan di lengan suaminya yang begitu suka menggombal itu.


“Serius … ini gelar yang akan aku sandang seumur hidupku. Aku bangga dan bersyukur menjadi suamimu,” ucap Aksara lagi.


Bermula dari kisah masa kecil mereka, hingga jebakan yang penuh gilaan, hingga tumbuhnya benih-benih cinta semuanya memang membuat Aksara merasakan penuh syukur karena bisa menjadikan Arsyilla sebagai pasangan hidupnya. Apa yang dipertaruhkan cukup besar bahkan jebakannya bisa juga membuat keluarga mertuanya tidak menerimanya. Akan tetapi, syukurlah Mama Khaira dan Papa Radit adalah orang-orang yang baik.


“Kalau gitu, kalau ini aku akan memanfaatkanmu,” celetuk Arsyilla dengan tiba-tiba.


Aksara pun menganggukkan kepalanya, dan menggenggam tangan istrinya itu. “Silakan Honey … aku memiliki akses penuh untuk memanfaatkanku,” balasnya.


“Bertanggung jawablah atas diriku … cintai dan temani aku seumur hidupku,” ucap Arsyilla dengan menatap wajah suaminya itu.


“Kalau itu pasti Sayang … aku akan mencintai dan menemani kamu seumur hidupku. Dan kamu juga lakukanlah hal yang sama. Cintai dan temani aku seumur hidupmu,” pinta Aksara kini,

__ADS_1


Rasanya benar-benar indah, di kala pasangan suami istri saling berjanji dan mengukuhkan cinta mereka. Berjanji saling mencintai, berjanji saling menemani. Tidak peduli setiap aral rintangan yang akan terjadi nanti, tetapi Aksara dan Arsyilla sama-sama berjanji untuk selalu ada untuk satu sama lain.


__ADS_2