
Usai dari visiting Baby Ara yang tak lain adalah cucunya sendiri. Di ruangannya sebelum membuka praktik untuk anak-anak yang sakit atau anak-anak yang akan mendapatkan imunisasi. Dokter Bisma menghubungi istrinya terlebih dahulu, memberitahukan apa yang saja dia lihat bahwa Arsyilla, menantunya sudah melahirkan.
Bunda Kanaya
Berdering
“Halo Bunda,” sapa Ayah Bisma begitu panggilannya terhubungan dengan istrinya.
“Ya, halo Ayah … ada apa?” tanya Bunda Kanaya.
Ayah Bisma masih berusaha bersikap tenang, walaupun sudah bisa dipastikan bahwa Bunda Kanaya akan panik mendengar kabar darinya.
“Begini Bunda … Bunda bisa datang ke Rumah Sakit sekarang. Ke ruangan Ayah,” pinta Ayah Bisma.
Semua orang memiliki cara untuk menyampaikan sebuah pesan, ada yang menyampaikan pesan secara langsung, tetapi ada juga yang mengatakan dengan cara seperti Ayah Bisma, meminta istrinya untuk ke Rumah Sakit tempatnya praktik terlebih dahulu.
Di seberang sana tampak Bunda Kanaya mengernyitkan keningnya, tidak tahu dengan maksud yang hendak disampaikan oleh Ayah Bisma. Sebab, memang tidak biasanya Ayah Bisma memintanya untuk menyusulnya ke Rumah Sakit.
“Ya sudah … tunggu Bunda ya Ayah … mau dibawakan apa?” tanya Bunda Kanaya kepada suaminya itu.
“Terserah saja Bunda … yang penting ke mari yah. Ayah tunggu,” balas Ayah Bisma melalui panggilan seluler itu.
Hingga sampai akhirnya, Bunda Kanaya menganggukkan kepalanya, “Ya sudah … tunggu Bunda datang ya Ayah. Tumben-tumbenan sih meminta Bunda nyusulin ke Rumah Sakit,” sahut Bunda Kanaya.
“Iya, sesekali saja Bunda … ya sudah Ayah tunggu yah. Hati-hati,” sahut Ayah Bisma sebelum mengakhiri teleponnya dengan istrinya itu.
Menunggu Bunda Kanaya datang, Ayah Bisma menyelesaikan untuk memeriksa pasien kecilnya yang datang satu per satu. Ada yang datang dengan keluhan demam, ada yang flu, ada yang melakukan vaksinasi. Dokter Bisma melayani semua pasiennya dengan baik dan ramah. Jika, biasanya anak-anak akan menangis melihat Dokter, tetapi karena Ayah Bisma begitu baik, sabar, dan ramah, sehingga Ayah Bisma sudah menjadi Dokter Idola anak-anak di Rumah Sakit itu. Juga ada Ibu-Ibu yang akrab dengan Ayah Bisma saat melakukan konsultasi. Kendati demikian, Ayah Bisma adalah pria yang setia dan selalu menjaga cinta dan kesetiaannya untuk Bunda Kanaya seorang.
Menjelang makan siang dan jam praktik Ayah Bisma akan segera usai, barulah Bunda Kanaya menemui suaminya. Bunda Kanaya tersenyum melihat Ayah Bisma yang masih mengenakan jubah Dokter, dengan kacamata yang kini bertengger di hidungnya, justru membuat Ayah Bisma menjadi Dokter yang keren. Usia justru membuat Ayah Bisma menjadi pria yang matang, selain itu pria inilah yang sangat dicintai oleh Bunda Kanaya.
“Ayah,” sapa Bunda Kanaya kepada suaminya itu.
“Ya Bunda,” balas Ayah Bisma.
“Tunggu lima belas menit yah … tinggal pasien terakhir kok,” ucap Ayah Bisma lagi.
__ADS_1
“Iya, Bunda tunggu di luar … kalau sudah nanti panggil saja,” balas Bunda Kanaya.
Ayah Bisma menyelesaikan untuk memeriksa pasiennya, setelahnya pria itu memanggil istrinya untuk masuk ke dalam.
“Masuk Bunda,” panggil Ayah Bisma.
Bunda Kanaya pun masuk dan kembali menemui suaminya itu. “Iya Ayah … tumben sih Ayah minta Bunda untuk ke mari?” tanya Bunda Kanaya kepada suaminya itu.
Terlihat Ayah Bisma menganggukkan kepalanya, “Iya … Ayah mau kasih kejutan kepada Bunda. Temani Ayah untuk visiting pasien kecil Ayah yah,” ucap Ayah Bisma.
Tetap saja ucapan Ayah Bisma itu seperti sebuah teka-teki yang harus dipecahkan oleh Bunda Kanaya. Kendati demikian, Bunda Kanaya tidak banyak bertanya dan mengikuti suaminya itu saja. Sebab, tidak biasanya juga Ayah Bisma mengajaknya visiting pasien. Entah apa yang ingin disampaikan oleh suaminya itu.
Ayah Bisma dengan tenang menggandeng istrinya itu. Usia bukan menjadi kendala untuk tampil mesra dan selalu harmonis, sampai beberapa pasang mata mengamati Ayah Bisma dan Bunda Kanaya. Juga beberapa perawat yang menyapa mereka berdua.
“Kita ke mana Ayah?” tanya Bunda Kanaya saat Ayah Bisma mengajaknya menaiki sebuah lift yang akan membawanya ke ruang perawatan kelas VIP.
“Ikutin Ayah saja ya Bunda,” balas Ayah Bisma.
Bunda Kanaya menganggukkan kepalanya, dan kemudian terus mengikuti suaminya itu. Sampai akhirnya kini keduanya tiba di kamar yang ditempati Aksara dan Arsyilla, dengan cucu kecil mereka.
“Permisi,” sapanya dan masuk ke dalam ruangan itu.
Bunda Kanaya begitu terkejut melihat Arsyilla yang terbaring di atas brankar dan Aksara yang menunggui menantunya itu. Bunda Kanaya juga melihat box bayi yang berada di sisi brankar Arsyilla.
“Ayah,” ucap Bunda Kanaya dengan suara yang terlihat tercekat.
“Iya Bunda,” sahut Ayah Bisma. “Kita visiting pasien kecilnya Ayah,” ucap Ayah Bisma.
Sedari dulu, Ayah Bisma selalu memiliki cara tersendiri untuk menyampaikan pesan kepada istrinya itu. Dulu, Ayah Bisma melamar Bunda Kanaya dengan mengenakan Jubah Dokter dan menggantungkan stetoskop di lehernya, dan sekarang Ayah Bisma mengatakan untuk menjenguk cucunya dengan mengatakan mengunjungi pasien kecilnya.
“Syilla … Aksara,” sapa Bunda Kanaya.
Ada senyuman yang diberikan Arsyilla, sementara Aksara memilih menundukkan kepalanya. Bunda Kanaya berkaca-kaca melihat fakta bahwa menantunya sudah melahirkan. Tidak menyangka bahwa Arsyilla akan melahirkan lebih cepat dari Hari Perkiraan Lahirnya.
“Bunda,” sapa Arsyilla kepada Bunda Kanaya.
__ADS_1
“Ya Tuhan … kalian ini sudah bersalin kenapa tidak memberi kabar kepada Bunda sih,” ucap Bunda Kanaya.
Lantas Bunda Kanaya mendekat kepada Aksara, dan mendaratkan pukulan di lengan putranya itu.
“Ya ampun Aksara … kamu ini, harusnya kamu dong yang memberitahu Bunda. Ngasih kabar gitu. Masak Bunda baru tahu sekarang? Mana Bunda belum berikan hadiah untuk cucunya Bunda,” ucap Bunda Kanaya yang begitu gemas dan bercampur kesal dengan kelakuan putranya itu.
“Maaf Bunda, Aksara panik,” jawabnya.
Lagi-lagi Aksara mengatakan bahwa dirinya panik. Namun, bagaimana lagi jika itu adalah perasaannya menemani Arsyilla bersalin kemarin.
Bunda Kanaya kemudian mengalihkan perhatian kepada Arsyilla dan memeluk menantunya itu. “Makasih Syilla … kamu hebat. Kamu sudah melakukan yang terbaik. Kamu memberikan kebahagiaan untuk kami. Melahirkan normal atau Caesar?” tanya Bunda Kanaya.
“Normal, Bunda,” jawab Arsyilla.
“Ya Tuhan … pasti sakit banget. Dapat jahitan berapa?” tanya Bunda Kanaya lagi.
“Kurang tahu Bunda, mungkin diobras,” jawab Arsyilla dengan menahan tawa.
Mendengar jawaban menantunya, Bunda Kanaya bergidik ngeri. Pasti begitu sakit dan ngilu di jalan lahirnya. Namun, sekarang Arsyilla terlihat senang dan kesakitan yang dideritanya juga tidak terlihat.
“Mana cucunya Oma nih?” tanya Bunda Kanaya.
“Itu Oma … barusan minum ASI, terus bobok lagi deh,” sahut Arsyilla.
“Sudah keluar ASI-nya?” tanya Bunda Kanaya lagi.
“Iya, sudah Bunda,” jawab Arsyilla dengan menganggukkan kepalanya.
“Siapa nih nama cucunya Oma yang cantik ini. Ya ampun, cantiknya … bulu matanya begitu lentik,” ucap Bunda Kanaya yang juga tersenyum menatap baby perempuan yang tengah tertidur itu.
“Aurora, panggilannya Ara,” jawab Aksara.
Bunda Kanaya menganggukkan kepalanya, tersenyum menatap cucu perempuan keduanya itu. Sampai akhirnya, Bunda Kanaya menatap Arsyilla dan Aksara bergantian. “Ara itu bukannya akronim nama kalian berdua? Arsyilla dan Aksara?” tanya.
“Iya Bunda … nama kami berdua,” jawab Aksara dengan tertawa.
__ADS_1
Ya Tuhan, di saat Bunda Kanaya begitu panik. Yang ada justru Aksara suka sekali membuat Bundanya kian gemas dan sebal kepadanya.