
Keesokan paginya, Arsyilla bangun. Wanita itu tersenyum saat memperhatikan wajah suaminya yang masih terlelap. Perlahan Arsyilla membangunkan suaminya itu dengan cara menepuk lengan suaminya.
“Kak, bangun yuk … mau mandi dan sarapan. Hari ini mau ke tempat pertama yang didatangi,” ucap Arsyilla yang mencoba membangunkan suaminya itu.
Pria itu pun mengerjap, kelopak matanya perlahan terbuka, dan sedikit menguap. Hingga akhirnya, Aksara justru kembali memeluk istrinya itu.
“Lima menit saja Sayang … masih kangen,” jawabanya.
“Ya ampun, Kak … sudah semalam bobok barengan masak masih kangen sih?” keluh Arsyilla pagi itu.
Aksara pun mengangguk, “Iya … kangen banget,” jawabnya.
Setelah lima menit berlalu, Aksara pun melepaskan pelukannya dan beranjak dari atas ranjang. Pria itu menggaruk kepalanya perlahan, dan menghela nafasnya.
“Mau mandi bareng?” tawar Aksara.
Dengan cepat Arsyilla pun menggelengkan kepalanya, “Enggak … di rumah aja, Kak. Takut ah, terlalu berisiko,” jawab wanita itu.
Aksara pun mengangguk, pria itu dengan segera mendaratkan sebuah kecupan di kening istrinya terlebih dahulu, kemudian berjalan gontai menuju kamarnya melalui connecting room. Namun, belum sampai pintu connecting room itu tertutup, Aksara kembali membalikkan badannya dan menatap istrinya itu.
“Sayang, jangan terlalu dekat sama Pak Bagas. Gak usah senyum-senyum juga. Aku akan mengawasimu,” sahut pria itu.
“Ya ampun Kak … posesif banget sih, senyum juga cuma formalitas saja kok,” sahut Arsyilla.
Aksara kemudian mengangguk dan melambaikan tangannya kepada istrinya itu. Arsyilla segera menutup dan mengunci kembali connecting door itu dan memilih segera mandi. Sehingga dia bisa segera turun ke bawah dan berkumpul dengan mahasiswa lainnya.
Kurang lebih setengah jam berlalu, seluruh mahasiswa sudah berkumpul di aula hotel tersebut. Arsyilla maju ke depan dan memberikan penjelasan kepada seluruh mahasiswa.
__ADS_1
“Selamat pagi semuanya … bagaimana semalam bisa tidur nyenyak?” sapa Arsyilla pagi ini.
“Pagi Bu Arsyilla, bisa Bu,” jawab mahasiswa secara serempak.
Arsyilla pun tersenyum menatap wajah mahasiswanya itu, kemudian dia mulai memberi pengarahan untuk acara di hari pertama.
“Hari ini kita akan mengunjungi Keraton Jogjakarta. Kalian akan belajar konstruksi sebuah keraton. Ingat bahwa keraton adalah sebuah bangunan yang bernilai sejarah, perhatikan bukan hanya sejarahnya, tetapi juga kontruksi bangunan di Keraton itu sendiri. Kita akan seharian penuh ke Keraton Jogjakarta ya, sembari nanti kalian bisa membuat laporan. Saya sudah siapkan Drive untuk mengumpulkan tugas,” jelas Arsyilla kepada seluruh mahasiswanya.
Kemudian mini bus membawa rombongan tersebut menuju Keraton Jogjakarta. Keraton Kasultanan Jogjakarta sendiri bisa dikatakan menjadi satu-satunya keraton yang masih berfungsi bukan hanya sebagai cagar budaya, tetapi juga menjadi tempat Raja memerintah rakyatnya.
Keraton Kasultanan Jogjakarta mulai dibangun pada tahun 1775, keraton yang didirikan akibat perjanjian Giyanti dengan pecahnya Kerajaan Mataram Islam. Saat ini rombongan Arsyilla mulai memasuki area keraton dan belajar dari sejarahnya, serta memperhatikan sistem desain dan arsitektur keraton tersebut.
“Jadi, Keraton Jogjakarta ini mengusung konsep bangunan apa?” tanya Arsyilla yang saat ini memandu para mahasiswa.
“Konsep bangunan Jawa,” suara Aksara yang menjawab dengan mengangkat tangannya.
“Konsep bangunan Jawa yang seperti apa? Bisa sedikit di jelaskan?” pinta Arsyilla kali itu.
Aksara pun mengangguk, kemudian dia mulai berdehem sejenak sebelum menjawab pertanyaan dari Dosen sekaligus istrinya itu, “Konsep bangunan keraton itu mengusung konsep bangunan Jawa, dan beberapa bangunan di sini berbentuk rumah adat khas Jawa yaitu Joglo. Selain itu, keraton ini adalah istana Jawa yang terbaik karena memiliki balairung-balairung yang mewah, lapangan serta paviliun yang luas,” jelas Aksara.
“Tepat sekali, terima kasih untuk jawabannya Aksara,” balas Arsyilla kali itu.
Terdengar para mahasiswa yang bertepuk tangan usai mendengar jawaban dari Aksara itu. Kemudian Arsyilla mulai menjelaskan beberapa denah keraton mulai dari penempatan istana atau keraton, alun-alun yang ada di sisi selatan dan utara, masjid agung sebagai pusat beribadah yang berada di dekat istana, dan pagar yang dibangun dan mengelilingi keraton. Semua Arsyilla jelaskan dengan cukup detail.
Setelahnya, para mahasiswa mulai melihat beberapa koleksi yang berada di museum keraton. Arsyilla memilih berjalan sedikit santai dan memberikan mahasiswa untuk mengeksplor keraton dan beberapa museum yang ada di sekitar keraton seperti museum kereta yang berjarak beberapa meter dari keraton utama.
“Bu Arsyilla tidak istirahat?” sapa Pak Bagas yang tiba-tiba berjalan di sisi Arsyilla.
__ADS_1
Tentu saja kedatangan rekan dosennya itu secara tiba-tiba membuat Arsyilla terkesiap. Arsyilla segera mengambil jarak dan mengangguk pada rekan dosennya.
“Mau istirahat, Pak,” balas Arsyilla.
“Oh, saya kira masih mau muter-muter keraton. Apa tidak capek?” tanya Pak Bagas lagi.
“Tidak Pak, tidak capek,” balas Arsyilla.
Tidak disangka dari arah berlawanan, Aksara kemudian datang dan seolah menghadang istrinya dan Pak Bagas.
“Selamat siang Bu Arsyilla, saya mau beberapa hal yang saya konsultasikan,” ucap Aksara dengan tiba-tiba.
Rasanya mungkin kali ini adalah akal-akalan suaminya saja untuk bisa membuatnya tidak berinteraksi dengan Pak Bagas. Mendengar ucapan Aksara, Arsyilla lantas mengangguk dan berpamitan dengan Pak Bagas.
“Saya permisi dulu ya Pak, ada mahasiswa yang ingin konsultasi,” ucap Arsyilla.
Sang Dosen muda pun mengangguk, dan membiarkan Arsyilla berlalu begitu saja. Sementara Aksara berjalan agak di belakang Arsyilla dan segera bertanya pada dosennya itu. Sekalipun pria itu cemburu, tetapi dia akan bermain dengan manis dan tidak terlalu mencolok tentunya.
“Jika saya amati, dari gapura masuk ke keraton seolah semua ditata bahwa akan ada alun-alun, Masjid Agung, dan juga keraton utama yang ada di tengah-tengahnya kan Bu Arsyilla. Pada memang dibuat desain arsitekturnya seperti ini?” tanya Aksara agak keras supaya Pak Bagas yang masih berdiri tidak jauh dari mereka pun mendengarkan bahwa Aksara benar-benar bertanya dan tidak memiliki hal yang lainnya.
Arsyilla tampak mengangguk, melihat tablet yang ditunjukkan mahasiswanya itu, kemudian Arsyilla mulai memberikan sedikit penjelasan, “Ya benar … jika kamu mau mencari tahu keraton ini diarsiteki oleh Sri Sultan Hamengkubuwono 1, keahliannya dalam bidang arsitektur diakui oleh Arsitek sekaligus Ilmuwan dari Belanda yaitu Theodoor G. Thomas Pigeaud dan Lucien Adam. Bahkan tata ruang di keraton ini tidak sembarang. Sehingga tergambar kelas bahwa setiap penempatan tata ruang sudah dikonsep dengan begitu matang. Itulah fungsi perencanaan dan desain arsitektur, kita bisa membuat gambaran sebelum merealisasikan sebuah bangunan yang akan kita arsiteki,” jelas Arsyilla.
Rupanya Pak Bagas masih berada di sekitar Arsyilla, sehingga Aksara pun harus mengajukan pertanyaan-pertanyaan lainnya untuk membuat Dosennya itu bisa berlama-lama dengannya. Sekalipun hanya sekadar pembicaraan formal dan membahas desain tidak masalah bagi Aksara. Akan tetapi, saat Aksara hendak kembali bertanya terdengar Pak Bagas yang menginterupsi keduanya.
“Bu Arsyilla, maaf ganggu … nanti malam apa senggang? Agaknya kita bisa jalan-jalan keluar ke Malioboro dan jajan angkringan di sana,” tawar Pak Bagas.
Mendengar hal itu secara langsung, tentu saja telinga Aksara menjadi panas. Ingin rasanya, Aksara menjelaskan kepada rekan dosen istrinya itu bahwa dia adalah suaminya Arsyilla. Begitu geram rasanya, tetapi Aksara masih berusaha mengontrol raut mukanya dan memberi waktu bagi Arsyilla untuk berbicara.
__ADS_1