
Bak dejavu membuat Aksara benar-benar kalut. Tidak mengira bahwa istrinya akan sulit untuk dia hubungi. Perasaan tidak enak membuat Aksara berpikiran yang tidak-tidak. Menerka-nerka, siapa sebenarnya yang sudah berbuat jahat kepada istrinya kali ini. Berbekal dengan navigasi GPS yang terdeteksi di aplikasi mobilenya, Aksara pun memacu mobilnya sekencang mungkin guna segera mendapatkan lokasi terkini istrinya itu.
Sungguh jika terjadi sesuatu kepada Arsyilla, Aksara tak akan bisa memaafkan dirinya. Dia begitu mencintai Arsyilla dan akan mengupayakan segala cara untuk menemukan istrinya itu.
Sementara di tempat yang lain, Arsyilla benar-benar tak sadarkan diri kali ini. Mobil berwarna hitam itu membawa Arsyilla ke salah satu gedung kosong yang berada di pinggiran kota Jakarta. Gedung yang sudah seperti bangunan kuno menjadi tempat bagi pria yang mengenakan kemeja batik itu untuk membawa Arsyilla sekarang ini. Wanita yang masih tak sadarkan diri itu kini di bawa ke sebuah ruang kosong dan begitu gelap. Arsyilla didudukkan di sebuah kursi, dan tubuhnya diikat dengan menggunakan tali di sana, sementara sebuah kain disumpalkan di dalam mulut Arsyilla.
Hampir setengah jam Arsyilla tak sadarkan diri, akhirnya wanita itu perlahan pun mengerjap. Gelap, kosong, dan bau yang tidak enak menyeruak begitu saja di ruangan kosong dan begitu gelap itu. Arsyilla lantas berusaha berteriak dengan mulut yang masih disumpal kain.
“Akkhh,” teriaknya.
Seorang wanita, tampak menyeringai begitu melihat Arsyilla yang sudah sadarkan diri.
“Hei, kita ketemu lagi,” ucap wanita itu.
Arsyilla membelalakkan kedua matanya, dia benar-benar tidak mengira jika wanita yang menyekapnya sekarang ada seorang wanita yang dia kenal. Wanita yang beberapa saat lalu, dia temui.
Tiara. Ya, wanita itu adalah Tiara.
Tampak Arsyilla yang memilih berdiam, entah apa yang terjadi, mengapa Tiara bisa menyekapnya di sini. Padahal dalam ingatan terakhir Arsyilla, seorang pria yang sudah menyekap dan memasukkannya ke dalam sebuah mobil. Lalu, bagaimana mungkin Tiara yang justru sekarang muncul di hadapannya?
“Iya, ini aku … kamu pasti kaget kan? Kaget lah, masak enggak,” ucap Tiara. Wanita itu pun terkekeh melihat ketakutan di wajah Arsyilla.
__ADS_1
“Kamu tahu apa yang membuatmu berada di sini?” tanya Tiara.
Akan tetapi, dalam keadaan mulut yang disumpal, Arsyilla pun tidak bisa menjawab apa pun. Arsyilla memilih tidak bersuara, dan membiarkan Tiara begitu saja. Lagipula, dengan keadaan disekap dan disumpal mulutnya, sangat tidak mungkin bagi Arsyilla untuk melawan.
Arsyilla yang sama sekali tidak bisa menjawab atau pun membela diri pun kian terkejut saat Tiara mengeluarkan sebuah pisau lipat dari tasnya. Wanita itu tertawa-tawa dan menatap Arsyilla dengan sorot mata yang tajam.
"Yang membuat kamu berada di sini adalah Aksara. Ya, suami kamu sendiri. Andai saja suami kamu itu tidak belagu dan menolakku. Andai saja suami kamu itu mau mengepalai rancang bangunan properti milikku, semua tak akan seperti ini," sahut Tiara.
Tiara yang kian mendekat akhirnya tampak ingin menggoreskan pisau itu di wajah Arsyilla. Ujung pisau yang tipis dan tajam itu kini menyisiri area pipi Arsyilla.
Arsyilla berkali-kali menghela nafas dan memejamkan matanya, sungguh dia sangat takut jika pisau itu melukai dirinya.
"Yang membuat Aksara tergila-gila padamu adalah wajah ini kan? Jadi, boleh dong aku menyobeknya?"
Kian kelewat batas wanita itu, Tiara menarik pisaunya dan kini justru menampar wajah Arsyilla. Suara hempasan telapak tangan yang mengenai sisi wajah Arsyilla terdengar hingga begitu keras.
Plaaaakk … plaaaakk ….
Wajah yang ditampar dalam keadaan tidak siap itu sampai menoleh ke kanan dan ke kiri.
Melihat Arsyilla yang ketakutan, nyatanya justru membuat Tiara kian tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Kamu ingin aku lenyapkan dengan cara apa?" tanya Tiara kini kepada Arsyilla.
"Kenapa menyenangkan sekali bermain-main denganmu?" lanjut Tiara.
Tiara lantas mengeluarkan kain yang menyumpal bibir Arsyilla itu, dengan tujuan membuat Arsyilla untuk berani menjawab dan melawannya. Sebab, jika Arsyilla melawannya, maka Tiara akan kian melukai Arsyilla.
"Sekarang kamu sudah bisa berbicara kan? Katanya kamu ingin dilenyapkan dengan cara seperti apa? Membiarkanmu membusuk di sini, atau dengan memotong lehermu dengan pisau ini? Mana yang kamu pilih, mati dengan susah payah, atau tidak cara yang tepat?" ucap Tiara kali ini.
Nyatanya Arsyilla pun tak menjawab dan hanya buliran air matanya yang keluar begitu saja. Buliran air mata yang cukup menjadi bukti bahwa Arsyilla begitu ketakutan saat ini.
Dalam hatinya, Arsyilla berharap bahwa suaminya akan segera datang untuk menyelamatkannya. Suaminya akan menemukan keberadaannya kali ini. Tidak dipungkiri bahwa Arsyilla begitu ketakutan. Wanita yang sudah dibutakan dengan perasaan bencinya itu bisa melakukan apa pun kepada Arsyilla.
"Kak Aksara ... Kak Aksara, tolong aku," ucapan itulah yang selalu Arsyilla teriakkan dalam hatinya. Sama seperti dulu di mana Aksara bisa menemukannya saat Ravendra menyekapnya. Arsyilla pun berharap bahwa suaminya akan menemukan titik keberadaannya sekarang ini.
Merasa Arsyilla sama sekali tidak memberikan jawaban, Tiara kembali menampar wajah Arsyilla beberapa kali, hingga cairan segar berwarna merah tampak mengalir di sudut bibir Arsyilla. Bukan hanya sakit karena tamparan, tetapi juga sakit karena darah yang baru saja mengalir di sudut bibirnya. Rasa padu bercampur perih membuat Arsyilla terisak kali ini.
"Oh ... kamu menangis yah? Cup, cup, cup ... apa aku melukaimu? Seorang istri Aksara Adhinata Pradhana kini menangis di hadapanku. Wow, sungguh menyenangkan sekali. Aku sangat senang melihatmu seperti ini. Akan lebih menyenangkan karena ini semua sebanding dengan penolakan demi penolakan yang dilakukan suamimu itu kepadaku," ucap Tiara lagi dengan tertawa terbahak-bahak kali ini.
Penyiksaan yang dialami Arsyilla benar-benar di luar batas. Tiara kini tak segan untuk menendang kaki Arsyilla yang masih terikat, tangannya juga berkali-kali menampar wajah Arsyilla. Di dalam hatinya, Arsyilla hanya berharap ada bagian tubuhnya yang tak akan terkena pukulan atau tendangan dari wanita gila itu. Sungguh, Arsyilla akan melindungi bagian itu dengan segenap hati.
"Kamu pasti menunggu suami kamu kan? Sayangnya, dia tidak akan menemukanmu di sini. Jadi jangan berharap yang tidak-tidak." Tiara berkata sembari menyumpal mulut Arsyilla lagi.
__ADS_1
Arsyilla hanya bisa terisak. Namun harapan di dalam hatinya masih belum padam. Arsyilla akan tetap berdoa memohon kepada Allah kiranya suaminya tahu keberadaannya sekarang dan bisa menolongnya saat ini. Api di hati Arsyilla masih belum padam. Redup pun tidak. Itu semua karena Arsyilla yakin bahwa suaminya akan dapat menemukannya dengan caranya sendiri.