Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Hujan Pagi di Ibukota


__ADS_3

Tidak menyangka hujan benar-benar mengguyur Ibukota sepanjang malam. Pagi beberapa notifikasi dari aplikasi baca berita di handphone memberitakan bahwa sejumlah ruas tempat di Jakarta terkena banjir. Sementara di apartemen itu, Aksara dan Arsyilla justru masih terlelap dan masih saling memeluk.


Lantaran sepanjang malam hujan turun dengan begitu derasnya, pagi ini surya pun seakan malu-malu menampakkan wajahnya. Sudah jam o7.00, tetapi masih terlihat sedikit gelap. Arsyilla perlahan bergerak, matanya mengerjap dan mulai menatap suaminya yang masih tertidur pulas.


“Kamu yang membawaku ke sini ya Kak … pengennya menemani kamu bekerjanya, nyatanya aku justru ketiduran,” ucap Arsyilla.


Wanita itu pun bergerak dan mengambil handphonenya yang berada di atas nakas, mengecep setiap pesan yang masuk ke dalam handphonenya, rupanya di grup mahasiswa cukup ramai karena ada beberapa rumah mahasiswanya yang kebanjiran. Setelah itu, Arsyilla memilih duduk dengan bersandar di head board sembari menunggu suaminya itu bangun. Lagipula ini adalah hari libur, Arsyilla tidak ingin terburu-buru mandi.


Hingga sepuluh menit kemudian, Aksara pun bangun. Pria itu mengucek kedua matanya dan menguap. Lantas, matanya perlahan-lahan terbuka dan dia tersenyum melihat Arsyilla yang sudah terlebih dahulu bangun. Aksara kemudian segera mengubah posisi tidurnya, membawa kepalanya berada di dada Arsyilla dan mendekap wanita itu.


“Pagi Honey,” sapanya.


“Pagi Kak,” balas Arsyilla.


Aksara tampak menghirupi sisa-sisa parfum yang masih tersisa di tubuh istrinya itu, “Hmm, pagi aja kamu masih wangi,” ucapnya.


Arsyilla pun tersenyum, sembari membelai rambut suaminya itu, “Pagi-pagi udah digombalin, hujan semalam Kak … jadi mager,” balas Arsyilla.


“Makanya, kamu belum mandi. Enak dong mager, di dalam kamar saja Sayang. Aku juga males kemana-mana hari ini,” balas Aksara.


“Iya, beberapa ruas tempat dan jalan raya juga banjir Kak … sebenarnya pengen ke rumahnya Bunda Kanaya dan Ayah Bisma, tapi banjir kayak gini gimana,” ucap Arsyilla.


“Di apartemen aja Sayang … besok aja kalau mau ke rumah Ayah dan Bunda,” sahut Aksara.


Kemudian keduanya pun masih saling memeluk, seakan enggan untuk terlepas. Hingga Arsyilla pun berniat untuk mandi terlebih dahulu.


“Ya sudah … aku mandi dulu ya Kak, mau buatin sarapan buat kamu,” balasnya.

__ADS_1


Aksara pun menatap istrinya itu, “Bareng yuk Sayang,” ajak Aksara dengan tiba-tiba.


Refleks, Arsyilla pun menutupi area dadanya dengan menyilangkan kedua tangan di depan dada.


“Eh, malu Kak,” jawabnya.


“Gak perlu malu, sama suami sendiri juga. Yang penting hanya suamimu saja yang tahu,” balas Aksara.


Setelah itu Aksara pun beranjak dari tempat tidur, mengulurkan tangannya untuk meraih tangan istrinya, dan membawanya menuju kamar mandi. Aksara memilih menggosok giginya terlebih dahulu dan mencuci mukanya, sementara Arsyilla memilih mengisi bath up dengan air hangat, mengatur suhu ketepatan air, dan memasukkan bath bomb beraroma floral yang begitu lembut.


Setelah siap, Arsyilla giliran yang menggosok giginya terlebih dahulu dan mencuci wajahnya dengan menggunakan facial foam. Saat Arsyilla masih berusaha mengusap-usap permukaan wajahnya dengan menggunakan facial foam, Aksara yang sudah melepas kaos yang dia kenakan, justru mendekap istrinya itu dari belakang. Bibirnya bergerak dan mengecupi leher jenjang istrinya, tangan bergerak perlahan membelai dari bahu turun ke lengan, turun ke punggung tangan istrinya. Percayalah, hanya sekadar belaian saja, berhasil membangkitkan gelenyar asing di tubuh Arsyilla.


“Kak, sebentar … aku bilas wajahku dulu,” ucapnya.


Aksara memilih diam, tetapi Aksara justru kini mengecupi tengkuk Arsyilla. Tangan yang semula hanya membelai bagian tangannya, kini justru meriap masuk di balik kaos yang dikenakan Arsyilla. Mengusap perutnya perlahan, kemudian tangan yang sedang mode nakal itu dengan sengaja meremas gundukan buah persik milik istrinya, memberikan tekanan pada tekanannya dan tangannya menyelinap masuk dan merasakan permukaan kenyal itu dengan memilin ujung buah persik itu. Hingga tidak perlu waktu lama, ujung buah persik itu menegang.


Akan tetapi, Aksara tak henti-hentinya untuk menggoda buah persik istrinya, saat tangannya hendak bergerilya turun, Arsyilla dengan cepat menghentikannya.


“Stop Kak, please,” balas Arsyilla dan sembari memutar badannya kini berhadap-hadapan dengan suaminya itu.


Dengan cepat, Aksara memegang dagu Arsyilla dan mencumbunya dengan nafas yang menggebu. Memberikan ciuman, pagutan, hisapan, di kedua belah bibir istrinya itu. Tangannya bergerilya dan kembali meremas area dada istrinya. Rasanya Arsyilla benar-benar kalang kabut kali ini. Tidak mengira, keduanya hendak melakukan sesuatu seperti ini di dalam kamar mandi. Bak tidak sabaran, Aksara lantas melucuti pakaian yang dikenakan Arsyilla. Membuat wanita tampil dalam kepolosan mutlak di hadapannya. Aksara menundukkan badannya, dan mulai memberikan sapaan dengan bibir dan ujung lidahnya di area dada milik istrinya. Menyapu dengan lidahnya yang basah, menghisap dengan mulutnya, dan memberikan gigitan-gigitan kecil di sana.


Rasanya Arsyilla kebat-kebit sekarang ini, tetapi saat Arsyilla ingin menghindar, yang ada justru dia menekan kepala suaminya itu. Lagi-lagi lenguhan keluar dari bibirnya, apalagi tangan nakal suaminya justru kini berhasil meraba dan menjelajahi lembah di bawah sana. Tidak membutuhkan waktu lama, lembah sang istri sudah basah.


“Kak Aksara,” ucap Arsyilla dengan terengah-engah.


Pria itu lantas melucuti celananya sendiri, dalam satu gerakan membopong Arsyilla dan memasukkan wanita itu ke dalam bath up. Membawa istrinya berada dalam pangkuannya, dengan saling berhadap-hadapan. Aksara mengangkat sediki tubuh Arsyilla dan menyatukan tubuhnya dengan cawan surgawi milik istrinya.

__ADS_1


Sensasi air hangat, berpadu dengan busa yang memberikan kesan licin, dan gerakan seduktif sang istri yang dipimpin olehnya, justru membuat Arsyilla beberapa kali terengah-engah, dan seakan ingin berteriak saat terpaan badai menghantam dirinya.


Aksara sendiri menatap wajah sang istri, mengusapi wajah istrinya dengan telapak tangannya, membiarkan air yang terkoyak turut menyertai pergerakan keduanya yang kian kacau. Bahkan beberapa kali, Arsyilla mencerukkan wajahnya di leher suaminya, saat gelombang lagi dan lagi menghantam dirinya.


“Astaga, Sayang,” racau Aksara kali ini.


Pria itu menggeram, kian menuntun Arsyilla untuk bergerak kian cepat. Bahkan Aksara menggerakkan pinggulnya, membuat pusaka miliknya menghantam dan menusuk cawan surgawi milik istrinya itu. Aksara memeluk tubuh Arsyilla kian rapat, nafas keduanya kian terengah-engah, hingga sampai pada akhirnya terasa sesuatu yang berkedut di bawah sana dan semburan hangat yang menerpa Arsyilla.


Wanita itu rasanya luluh lantah, mencengkeram tubuh suaminya dengan kian kencang. Dadanya benar-benar kembang kempis sekarang ini, sementara Aksara sendiri pun memilih merengkuh tubuh Arsyilla dan memejamkan matanya. Membiarkan waktu berlalu seperti itu tanpa melepas penyatuan mereka berdua. Hingga akhirnya, Aksara menelisipkan rambut basah istrinya itu.


“I Love U So Much, Sayang,” ucap pria itu.


“I Love U So Much, Kak,” balas Aksara.


Mengakhiri mandi panasnya, Aksara melepaskan penyumbat air di bath up itu, membuang air dan sisa-sisa busa di sana dan kemudian mengajak Arsyilla untuk membilas tubuhnya di bawah shower. Beberapa menit berlalu, keduanya telah kembali memasuki kamar dan mengenakan pakaian rumah mereka. Arsyilla lantas memilih duduk di sofa yang berada di sudut kamar, di luar sana hujan masih turun sekalipun intensitasnya tidak terlalu deras.


Aksara menghampiri istrinya itu dan mendekapnya dari belakang.


“Masih hujan yah?” tanya pria itu.


“Iya … di luar hujan-hujan dingin, di dalam sini justru panas,” jawab Arsyilla dengan tiba-tiba.


Mendengar ucapan Arsyilla, Aksara justru tertawa, “Enggak apa-apa … kalau dingin kan kita saling menghangatkan. This is sweet morning for us,” jawab Aksara kemudian.


“Iya sih … sweet banget, sampai kamu bikin aku meleleh kayak ice cream,” balas Arsyilla.


“Kan tukernya yang semalam Sayang … makasih yah,” ucap Aksara.

__ADS_1


Ah, barulah Arsyilla ingat dengan kegiatan malamnya yang tertunda karena Aksara yang harus lembur bekerja. Tidak menyangka kalau kegiatan panas pagi ini adalah untuk membayar semalam yang tertunda. Ya Tuhan, suaminya itu memang modus dan juara deh. Arsyilla sampai geleng-geleng kepala mendengar ucapan suaminya itu.


__ADS_2