Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Pengakuan dan Permintaan Maaf Si Adik


__ADS_3

Akhir pekan pun tiba, tetapi tidak ada yang berubah bagi Aksara dan Arsyilla karena Arsyilla yang masih memiliki cuti bersalin sampai tiga bulan ke depan, sementara Aksara sendiri juga masih mengambil cuti. Lebih tepatnya, Aksara mengambil cuti sepuluh hari dari Jaya Corp, dan masih menyisakan sepekan lagi bagi Aksara untuk bisa berada di rumah dengan istri dan Baby Ara.


“Akhir pekan kita di rumah saja ya Honey … dulu biasanya kita main-main ke rumah Ayah Bisma atau ke rumah Papa Radit, tapi sekarang di rumah dulu saja yah … Baby Ara masih terlalu kecil untuk dibawa keluar,” ucap Aksara.


“Iya Ayah … di rumah bersama kalian, akhir pekanku sempurna,” balas Arsyilla yang saat itu sedang menjemur Baby Ara di balkon kamarnya.


Arsyilla melepas pakaian bayi yang dikenakan Baby Ara, hanya menyisakan diapers dan juga Arsyilla mengenakan kacamata baby untuk Ara supaya mata bayi kecilnya itu tidak langsung terkena sinar matahari pagi.


“Kita mainnya nanti kalau Baby Ara sudah agak besar dan lebih kuat yah,” balas Aksara.


“Iya Ayah, sekarang biar Kakek dan Nenek, Oma dan Opanya yang main ke rumah kita dulu yah. Nanti kalau Ara sudah kuat, bisa gantian mainnya,” sahut Arsyilla.


“Tali pusar Baby Ara sudah lepas ya Honey?” tanya Aksara yang kini mengamati bahwa tidak ada lagi tali pusar sisa plasenta yang menempel di pusar putrinya itu.


“Iya Kak, tadi pagi lepasnya. Terus lihat nih Kak, kulitnya Ara juga kayak gini … kayak mau berganti kulit,” ucap Arsyilla sembari menunjuk bagian kulit Ara yang seolah terlihat mengelupas.


Aksara menundukkan wajahnya, dan mengamati bagian kulit babynya yang terlihat mengelupas itu. Terlihat hampir seluruh tubuh Ara kulitnya mengelupas. Sampai di tumit kaki pun terlihat jelas di sana.


“Bahaya enggak Honey? Perlu aku tanyakan ke Ayah enggak?” tanya Aksara dengan panik.


Sebab, sebelum Aksara sama sekali belum pernah melihat kulit bayi yang mengelupas. Sehingga, Aksara akan bertanya kepada Ayah Bisma yang ada Dokter Spesialis Anak.


“Enggak Kak … ini wajar kok. Aku sudah cari di mesin pencarian tadi. Ini namanya Vernix. Kak. Vernix adalah lapisan tebal yang melindungi bayi selama dalam kandungan. Terus vernix ini mengelupas memang supaya dia hilang,” jelas Arsyilla kepada suaminya itu.


“Lalu, gimana mengatasinya Honey?” tanya Aksara lagi.


“Ya mandi jangan terlalu lama, airnya jangan terlalu panas, pakaiannya yang lembab, dan harus minum ASI yang cukup,” jawab Arsyilla.

__ADS_1


Itu adalah jawaban yang Arsyilla dapatkan dari mesin pencarian tentunya. Akan tetapi, artikel seputar bayi pada situs itu memang bisa dipercaya sehingga Arsyilla turut mempercayainya dan akan menerapkannya.


“Kasihan ya Honey … sampai di wajahnya mengelupas gitu,” ucap Aksara yang iba melihat putri kecilnya.


“Iya Kak … tetapi, memang dia harus melalui masa ini. Yang penting dirawat dengan baik saja, Kak,” balas Arsyilla.


“Berjemurnya juga jangan terlalu lama, Honey … kasihan Ara,” ucap Aksara sekarang ini.


“Ya sudah, dimandikan ya Kak … biar bersih dan nanti aku kasih pelembab, di tumitnya ini parah banget mengelupasnya,” balas Arsyilla.


Aksara bergegas menyiapkan air hangat dengan suhu yang tidak terlalu panas, sementara Arsyilla memberikan minum untuk Ara terlebih dahulu. Setelah air hangat untuknya siap, barulah Arsyilla mulai memandikan bayi kecilnya itu. Dengan perlahan, Arsyilla mengeramasi rambut Ara terlebih dahulu, mengambil sedikit air dengan telapak tangannya untuk membersihkan rambut itu. Kemudian mulai mengusapkan sabun khusus baby yang perpaduan beras dan susu madu itu untuk melembapkan kulit Ara. Setelahnya, barulah Arsyilla menaruh Ara di dalam ember mandi khusus bayi itu, membilas tubuhnya yang terkena sabun hingga bersih, kemudian mulai mengeringkan tubuh Ara dengan handuk yang lembut khusus bayi.


Arsyilla walaupun masih pemula, tetapi dia cukup cepat belajar dan berhati-hati juga dalam merawat Ara.


Ketika, Arsyilla usai memandikan Ara, rupanya bel rumahnya pun berbunyi. Aksara yang sedari tadi mengamati langkah demi langkah yang dilakukan Arsyilla saat memandikan sampai mengenakan pakaian untuk Ara pun akhirnya pamit untuk membukakan pintu bagi tamu yang datang pagi itu.


“Iya Ayah,” sahut Arsyilla.


Dengan bergegas sampai di depan pintu, sampai pada akhirnya Aksara membukakan pintu itu. Betapa terkejutnya Aksara rupanya yang berdiri di depan pintu itu adalah Airlangga, adiknya sendiri.


“Rangga, kamu?” tanya Aksara tampak bingung.


“Iya, Mas … aku ke mari,” jawab Rangga.


“Sama siapa?” tanya Aksara lagi.


“Sendirian, Mas … boleh aku masuk,” sahut Rangga kali ini.

__ADS_1


Aksara pun menganggukkan kepalanya, dan mempersilakan adiknya untuk masuk. Kemudian Aksara menyorot pada diri adiknya itu. Bertanya-tanya sebenarnya apa yang membuat Rangga sampai datang sendirian ke rumahnya.


“Kak Syilla sama Babynya di mana Mas?” tanya Rangga kemudian.


Airlangga memang terlihat aktif, karena jika dirinya diam yang ada justru komunikasi di antara dirinya dan Aksara akan terhenti. Untuk itu, Rangga yang lebih bertanya kepada kayak kandungnya itu.


“Masih di kamar, tadi abis mandiin Ara,” balas Aksara.


“Mau minum sesuatu?” tawar Aksara kali ini kepada adiknya.


Terlihat Rangga yang menggelengkan kepalanya secara samar, “Tidak Mas … tidak usah,” sahut Rangga.


Saat Rangga ingin berbicara, rupanya Arsyilla tengah turun dari tangga dan memanggil suaminya itu. Akan tetapi, begitu menyadari ada adik iparnya di sana. Arsyilla pun menganggukkan kepalanya, seolah memberi isyarat untuk menyapa adik iparnya itu.


“Kak,” Rangga yang sedikit berdiri dan menyapa Kakak Iparnya itu.


“Iya, duduk … mau minum apa?” tawar Arsyilla kepada Adik Iparnya.


“Tidak Kak … aku cuma mampir kok. Dari habis jogging di taman kota, terus mampir ke mar,” sahut Airlangga.


Merasa tidak masalah jika Arsyilla turut mendengarkan, akhirnya Rangga pun mulai berbicara, “Mas … aku datang ke mari untuk minta maaf kepada Mas,” ucap Rangga dengan menundukkan wajahnya. Pemuda itu seakan tidak berani menatap wajah Kakaknya di sana.


Hening. Ya, suasana di ruang tamu itu menjadi begitu hening. Masing-masing dari tiga orang yang ada di sana seolah tengah sibuk dengan pikirannya masing-masing. Hingga akhirnya, Rangga kembali bersuara.


“Yang aku lakukan di masa lalu memang salah, Mas … aku minta maaf untuk itu. Aku bukan hanya mencoreng nama baik Ayah dan Bunda, tetapi aku juga pernah menyarankan Ab0rsi. Itu yang membuat Mas Aksa begitu murka kan? Maafkan aku, Mas,” ucap Rangga dengan sungguh-sungguh.


Rupanya, ada perkara yang belum sempat Aksara ungkapkan kepada Arsyilla mengenai masalahnya dengan Airlangga adalah kemarahannya saat mendengar tindakan bodoh adiknya itu. Bagi Aksara, menghilangkan nyawa seorang janin sama artinya dengan pembunuhan. Aksara menyadari Rangga masih sangat muda waktu itu. Masih duduk di bangku SMA dan menerima kenyataan bahwa pacarnya hamil. Juga ada bayang-bayang kalut akan masa depannya. Aksara begitu marah mendengar Rangga mengutarakan niat buruk itu. Sungguh, itulah yang membuat hubungan Aksara dengan adiknya menjauh.

__ADS_1


Arsyilla pun berkaca-kaca mendengar pengakuan Rangga. Tidak mengira, sebenarnya satu perkara itulah yang membuat hubungan Kakak Beradik itu renggang. Itu yang membuat suaminya menjadi semarah ini kepada adiknya sendiri.


__ADS_2