
Sore hari itu, saat Aksara dan Arsyilla masih saling memeluk dan terbuai ke alam mimpi. Di luar sana rupanya hujan mengguyur Ibukota. Hari yang semula terik, sinar matahari bersinar dengan panasnya, menjelang petang nyatanya hujan yang begitu deras mengguyur kota itu.
Setelah satu jam terlelap ke alam mimpi, Arsyilla pun terbangun lebih dahulu. Pelan-pelan dia bangun dan mengurai pelukan suaminya. Setelah itu, Arsyilla memilih mandi, membersihkan dirinya. Sembari menunggu suaminya bangun, Arsyilla memilih menyeduh Teh Jahe dan menyiapkan Bumbu Nasi Goreng untuk makan malam nanti.
Teh tubruk yang terkena siraman air panas menguarkan aroma teh yang begitu harum. Hingga area dapur apartemen itu beraroma Teh Melati di sore itu. Setelahnya Arsyilla memilih berdiri di depan jendela kaca di apartemen itu. Tangannya bergerak menyentuh kaca jendela besar itu dengan titik-titik air di sana.
“Kok tiba-tiba hujan sih? Bukannya tadi waktu pulang dari kampus, cuaca masih biasa saja. Tidak ada tanda-tanda mau hujan, sekarang kok tiba-tiba hujan deras seperti ini,” gumam Arsyilla sendirian sembari mengamati dentingan hujan yang begitu deras petang itu.
Beberapa saat pun berlalu, tiba-tiba Aksara sudah bangun dan mendekap erat tubuh sang istri yang masih berdiri di depan kaca jendela besar dengan pemandangan Ibukota itu.
“Hai, Honey,” sapanya sembari mencerukkan lehernya di puncak bahu istrinya.
“Hai Kakak, sudah bangun?” tanyanya.
Terasa Aksara menganggukkan kepalanya, pria itu memilih diam dan melihat apa yang terlihat di matanya sekarang ini.
“Kok hujan yah? Bukannya pulang dari kampus tadi, seakan tidak ada tanda-tanda akan turun hujan ya?” tanya Aksara.
“Iya Kak … waktu aku bangun saja sudah hujan. Mana ini hujannya deras banget, semoga saja tidak banjir. Deres banget tuh hujannya,” jawab Arsyilla.
Merasa sudah terlalu lama berdiri, Arsyilla kemudian mengajak suaminya untuk duduk di sofa. Dekorasi unit apartemen Aksara memang menempatkan sofa berukuran panjang yang menghadap ke jendela kaca besar, sehingga sembari duduk bersama mereka bisa melihat pemandangan kota Jakarta yang seakan tidak pernah tertidur.
“Duduk yuk Kak,” ajak Arsyilla.
“Ayo, kamu capek yah?” tanya Aksara.
__ADS_1
“Ya enggak begitu capek sih … hanya saja, aku sudah lama berdiri di sini,” jawab Arsyilla.
Hingga akhirnya, kini keduanya sama-sama terduduk di sofa, dan masih menikmati hujan yang mengguyur Ibukota dengan begitu lebatnya. Arsyilla lantas ingin berdiri dan menawarkan Teh hangat buat suaminya itu.
“Mau Teh hangat, Kak?” tanya Arsyilla.
“Nanti saja, Sayang … duduk sini dulu saja,” balas Aksara.
Tangan pria itu bergerak. Membawa kepala Arsyilla untuk bersandar di bahunya.
“Nah gini … duduknya deketan, kamu sandaran di bahu aku sambil lihat hujan di luar sana kan rasanya jadi romantis,” ucap Aksara dengan tiba-tiba.
Mendengar ucapan suaminya, Arsyilla pun tertawa. Wanita itu tidak mengira bahwa suaminya bisa berkata seperti itu. Perlahan tangan Arsyilla bergerak dan melingkari lengan suaminya.
“Tumben sih kamu, Kak,” balasnya.
Arsyilla kian mengeratkan tangannya yang melingkari lengan suaminya, menyandarkan kepalanya di bahu yang kokoh itu, dan tersenyum.
“Hujan memang terkadang menciptakan nuansa romantis tersendiri. Jujurly, aku suka hujan sih … dulu waktu hujan-hujan gini sering ngobrol sama Mama di serambi rumah dan mendengarkan kisah Mama dan Papa. Mereka pasangan yang saling cinta, romantis,” kenang Arsyilla pada kegiatannya saat masih belum menikah dulu.
“Kamu suka hujan?” tanya Aksara.
Arsyilla pun mengangguk, “Iya … suka,” jawabnya.
“Selain hujan, kamu suka apa lagi?” tanya Aksara.
__ADS_1
“Aku suka pelukanmu seperti ini,” sahut Arsyilla dengan tiba-tiba.
Mendengar jawaban sang istri, Aksara pun tersenyum. Tidak mengira bahwa istrinya akan menjawab seperti itu.
Aksara lantas menundukkan wajahnya, bibirnya bergerak untuk mengecup bibir Arsyilla. Mengecupnya begitu dalam. Lantas pria itu menarik kembali wajahnya dan memeluk Arsyilla dengan begitu eratnya.
“Aku cinta banget sama kamu, Syilla … cinta banget. Mungkin bagi orang lain itu terdengar berlebihan, tetapi nyatanya aku bisa menjaga perasaan di hatiku selama ini untuk satu orang, dan orang itu adalah kamu,” ucap Aksara.
Merespons pengakuan cinta dari suaminya, Arsyilla lantas menangkup wajah suaminya dengan tangannya. Arsyilla memajukan wajahnya, dan kemudian mencium bibir suaminya, menghisap lipatan bawah dan lipatan atas bibir suaminya itu, memagutnya dengan begitu lembut. Seakan terlena, Aksara kemudian membalas ciuman dari istrinya. Aksara membuka sedikit bibirnya, membawa lidahnya untuk membelai dan menggoda rongga mulut sang istrinya. Tidak berhenti untuk saling menggoda. Aksara pun memagut bibir istrinya itu dengan begitu lembut.
Perlu diingat bahwa bagi Aksara, ciuman bukan hanya pengungkapan cinta dan perasaan, ciuman pun bisa menyulut gelora di dalam dirinya dengan sendirinya. Sehingga pria itu lebih menelengkan wajahnya, dan mencapit dagu Arsyilla dengan ibu jari dan jari telunjuknya. Aksara memagut dengan lebih cepat kedua belah bibir Arsyilla, hingga tidak sengaja sebuah lenguhan yang terdengar dari bibir Arsyilla.
Tidak menghentikan ciuman dan pagutannya, padahal oksigen yang mereka hirup kian tipis rasanya, pasangan suami istri itu masih betah berlama-lama untuk saling mencium, memagut, dan menghisap. Seakan tidak akan pernah ada habisnya untuk saling membalas usapan dengan usapan, pagutan dengan pagutan, belaian dengan belaian, semuanya terjadi begitu saja. Justru ciuman yang mereka berdua lakukan kian intens saja.
Hujan di luar dan ciuman Arsyilla nyatanya benar-benar menyulut api bagi pasangan muda itu. Merasa dadanya kian sesak dan membutuhkan suplai oksigen untuk rongga paru-parunya, Aksara menarik wajah dan bibirnya sejenak dari bibir Arsyilla. Pria itu lantas menatap Arsyilla dengan begitu dalam, sementara jarak wajahnya masih begitu dekat, hanya sejengkal.
“Mau lanjut?” tanya Aksara dengan suaranya yang serak dan dalam.
Arsyilla hanya diam dan menundukkan wajahnya, jujur saja usai dicium Aksara atau melakukan kegiatan suami istri, wanita itu merasa malu dan lebih suka tertunduk. Melihat sikap malu-malu sang istri, Aksara kemudian kembali bersuara.
“Cium aku jika jawabanmu adalah iya,” ucap Aksara lagi.
Ya Tuhan, rasanya pria itu tengah memberi ruang bagi Arsyilla untuk kembali menyulut api. Sebab, satu ciuman saja tidak akan pernah cukup. Ketika permukaan lembut dan kenyal yang bernama bibir itu saling bertemu, merasakan manis dan hangatnya, maka yang terjadi selanjutnya adalah hal-hal yang menyulut gelenyar asing dalam diri keduanya.
Aksara menyunggingkan senyuman menunggu jawaban Arsyilla, sementara Arsyilla pun justru berdebar-debar untuk memberikan jawaban untuk suaminya. Diiring dada yang kembang kempis, dan juga malam berbalut hujan yang begitu lebat, sepasang suami istri tengah sama-sama menunggu dan mencari jawaban dalam hati dan pikiran mereka.
__ADS_1
“Lanjut atau tidak?”