Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Makna Kolaborasi


__ADS_3

"Wah, anak-anaknya Bunda baru ngapain nih?" sapa Bunda Kanaya begitu memasuki apartemen Aksara.


Bunda Kanaya mengulas senyuman di wajahnya memperhatikan Aksara dan Arsyilla secara bergantian. Hingga dari belakang Bunda Kanaya, muncullah sosok kecil yang langsung menghambur dan memeluk kedua kaki Aksara.


"Daddy … Thania kangen sama Daddy," teriak Thania yang rupanya ikut ke apartemen Aksara bersama Bunda Kanaya.


Melihat Thania yang turut datang, Aksara pun berjongkok dan segera memeluk Thania dengan sayang.


"Hai, Thania-nya Daddy. How are you?" sapa Aksara yang kemudian menggendong Thania.


"I am fine, Daddy," sahut Thania.


Dalam diam, Arsyilla mengamati interaksi Thania dan Aksara. Keduanya terlihat begitu akrab, pantas saja jika dulu Arsyilla mengira bahwa Aksara adalah seorang Single Daddy. Ternyata Thania hanya keponakannya saja.


"Kasih salam juga buat Onty Syilla," ucap Aksara.


Thania pun meminta turun dan gadis kecil itu menghambur dalam pelukan Arsyilla.


"Hei Onty cantik," sapa Thania.


Arsyilla pun balas memeluk Thania, "Hai juga Thania yang cantik … tumben kamu ke mari Sayang," balas Arsyilla.


"Iya, Thania kangen sama Daddy, Onty… abis sekarang Daddy tidak pernah main sama Thania," sahut Thania dengan menunjukkan ekspresi wajahnya yang lucu.


"Bunda sama siapa ke sininya?" tanya Arsyilla kemudian kepada Bunda Kanaya.


"Sama Ayah kamu, tuh Ayah Bisma," sahut Bunda Kanaya sembari menunjuk Ayah Bisma yang baru saja memasuki apartemen Aksara.


Aksara lantas menyapa Ayahnya dan memberi pelukan, sementara Arsyilla mencium punggung tangan mertuanya itu.

__ADS_1


"Silakan duduk Ayah," sahut Arsyilla.


Kemudian Bunda Kanaya, Ayah Bisma, dan Thania duduk bersama di ruang tamu. Sementara Arsyilla berlari ke pantry untuk membuatkan minuman bagi mertuanya dan Thania. Di saat tidak ada persediaan makanan di apartemen karena usai bepergian Field Trip, justru mereka kedatangan tamu. Sehingga kali ini, Arsyilla hanya bisa menyajikan Teh hangat dan kue kering saja untuk mertuanya dan Thania.


"Silakan diminum Ayah, Bunda, dan Thania … maaf, kami baru pulang dari Field Trip dan semalam menginap di rumah Mama untuk merayakan ulang tahun Shaka, sehingga kami tidak memiliki banyak makanan di rumah," ucap Arsyilla.


"Tidak apa-apa, Arsyilla … ini saja sudah cukup. Kalian abis ngapain?" tanya Bunda Kanaya.


"Abis bersih-bersih apartemen, Bunda. Cleaning day," sahut Aksara.


Sekilas Ayah Bisma dan Bunda Kanaya mengedarkan pandangannya dan memperhatikan setiap sudut di apartemen Aksara itu. Adanya Arsyilla rupanya menambah warna pada apartemen yang semula didominasi warna abu-abu itu. Ada vas bunga, ada pernak-pernik lucu yang dipasang di dinding, dan juga, beberapa bantal dengan warna pink yang sengaja ditaruh di sofa. Bunda Kanaya pun tersenyum karena memang rumah tangga adalah kolaborasi. Sisi maskulin Aksara tidak hilang, tetapi Arsyilla mengombinasikan warna di warna dominan abu-abu itu.


“Kalian berkolaborasi dengan bagus, Aksara dan Syilla,” ucap Bunda Kanaya sembari menatap anak dan menantunya itu.


“Berkolaborasi bagaimana Bunda?” tanya Arsyilla.


“Dulu, unit apartemen ini hanya didominasi warna maskulin dan sisi monokrom Aksara yaitu hitam dan putih. Sekarang lihatnya, ada sentuhan warna-warna feminim di sini. Bukankah ini adalah sebuah kolaborasi yang baik,” ucap Bunda Kanaya.


“Benar … Ayah baru menyadari bahwa kalian sudah berkolaborasi dengan begitu baik dan apik,” sahut Ayah Bisma.


“Terima kasih Ayah dan Bunda … bagi Syilla sendiri, kehidupan pernikahan memang adalah berkolaborasi seperti ini. Tidak harus mengubah pasangan menjadi seperti apa yang kita minta, tetapi masing-masing pasangan bisa saling menyesuaikan. Tidak harus kehilangan jati dirinya hanya untuk mencintai. Justru dengan saling memahami dan menyesuaikan semua berjalan dengan lebih indah dan tidak perlu dipaksakan,” jelas Arsyilla.


Memang itulah yang dirasakan Arsyilla, diawal pernikahan mungkin dirinya masih shock dan tidak bisa menerima Aksara. Akan tetapi, lambat laun Arsyilla bisa menerima Aksara. Bahkan Aksara seakan menjadi pria yang benar-benar bisa dipegang ucapannya. Aksara pun terbilang sabar dalam menghadapi Arsyilla.


“Benar Syilla … seperti itulah pernikahan. Tidak harus mengubah jati diri kita untuk pasangan kita, tetapi kita bisa saling menyesuaikan. Menerima kelebihan pasangan itu semua orang bisa melakukannya, tetapi jika menerima kekurangan dan kelemahan itu yang susah,” lanjut Ayah Bisma.


“Terima kasih untuk nasihatnya Ayah,” balas Arsyilla.


Rasanya Arsyilla pun senang karena dia mendapatkan figur keluarga yang utuh dan baik dari dua sisi, yaitu Mama Khaira dan Papa Radit dan juga dari Ayah Bisma dan Bunda Kanaya. Arsyilla akan lebih banyak berguru kepada keduanya supaya bisa memiliki kehidupan rumah tangga yang seperti itu.

__ADS_1


“Kalian sudah makan belum? Mau makan bersama?” tawar Bunda Kanaya.


Dengan cepat Aksara pun menggelengkan kepalanya, “Kami baru mau pesan makanan dan kemudian Bunda datang. Jadi Aksara belum sempat memesannya,” balas Aksara.


“Ya sudah … sana pesan makanan. Kita makan malam sama-sama di sini,” sahut Bunda Kanaya.


“Oma … Oma, Thania juga ikut makan yah … mau disuapin Daddy,” interupsi dari Thania secara tiba-tiba.


Aksara yang sedari tadi memangku Thania itu pun mengusapi puncak kepala Thania dengan gemas, “Iya … nanti Daddy suapin yah,” balas Aksara.


Melihat kedekatan suaminya dan Thania yang sudah layaknya seorang Papa dengan anaknya, Arsyilla membayangkan bahwa mungkin Aksara akan menjadi figur Papa yang baik untuk anak-anak mereka nanti. Namun, ada satu hal yang masih Arsyilla pikirkan. Agaknya Arsyilla belum bertanya siapa Thania dan apa hubungannya dengan keluarga Pradhana.


Saat Arsyilla ingin bertanya, nyatanya justru Ayah Bisma lah yang sudah terlebih dahulu bersuara.


“Thania, makan sama Opa saja yah … Daddy mau suapin Onty Syilla tuh,” goda Ayah Bisma.


Rupanya gadis kecil berusia 4 tahun itu dengan cepat menggelengkan kepalanya, “Thania mau disuapin Daddy, Opa …,” balasnya.


Anak sekecil itu pun sudah bisa merajuk dan hanya menginginkan Aksara yang menyuapinya. Hingga Ayah Bisma dan Bunda Kanaya pun tertawa melihat sikap lucu Thania.


“Iya-iya … nanti Daddy suapin kamu,” balas Aksara kemudian.


“Tuh, lucu kan Syilla … kapan kalian akan segera mempunyai momongan?” tanya Bunda Kanaya dengan tiba-tiba.


Arsyilla dan Aksara pun saling berpandangan, hingga Aksara yang akhirnya berbicara, “Usai Aksara lulus kuliah, Bunda … satu semester lagi. Aksara akan benar-benar mengejar untuk bisa segera lulus,” jawab Aksara yang menegaskan.


Bunda Kanaya pun mengangguk, “Baiklah … jangan terlalu lama. Lucu kok punya anak itu. Kalian kan harus naik level juga, dari suami dan istri menjadi orang tua,” nasihat dari Bunda Kanaya.


“Iya Bunda … menunggu Kak Aksara lulus kuliah dulu. Nanti masih harus skripsi, wisuda, dan juga sembari bekerja. Pasti Kak Aksara pusing banget, kalau udah selesai kuliah dan lebih enak Bunda,” ucap Arsyilla.

__ADS_1


“Benar … tidak apa-apa. Bunda dan Ayah hanya mendukung dan mendoakan kalian. Planning dalam rumah tangga itu penting. Yang penting kalian berdua bisa menjalaninya dengan baik dan tidak ada yang keberatan,” sahut Bunda Kanaya lagi.


Benar yang diucapkan Bunda Kanaya bahwa perencanaan atau planning dalam hidup berumah tangga itu penting. Merencanakan semua dengan matang dan tidak menyesali apa yang telah direncanakan. Jika sebuah perencanaan tidak tercapai pun tidak masalah yang penting suami dan istri sama-sama telah belajar membuat rencana dalam rumah tangga mereka.


__ADS_2