Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Dedek Bayi Sehat?


__ADS_3

Kurang lebih setengah jam berlalu, usai menikmati sore yang bergelora. Mandi bersama, basah-basahan yang berbalut kenikmatan. Kini, Aksara dan Arsyilla tengah duduk bersama di balkon kamar mereka. Merasakan terpaan angin malam yang terasa segar dan juga menyejukkan. Rambut Arsyilla yang masih setengah basah tampak melambai-lambai tertiup angin. Wanita yang tengah hamil itu nyatanya wajahnya kini justru tampak begitu sumringah.


Pun sama halnya dengan Aksara. Wajah pria itu juga begitu cerah berseri-seri. Penyatuan suami dan istri memang memberikan dampak yang positif secara psikologis. Membuat keduanya sama-sama bahagia. Itu juga karena hormon Dopamine yang dihasilkan melalui kegiatan bercinta yang disinyalir bisa membuat orang lebih bahagia.


Kini Aksara duduk di samping Arsyilla dan menggenggam tangan istrinya itu. “Tadi, aku tidak menyakiti Dedek Bayi kan?” tanya Aksara.


Jujur saja, sebenarnya Aksara merasa takut, terlebih saat Dokter mengatakan bahwa cairan benih miliknya mengandung hormon Prostaglandin yang bisa menyebabkan kontraksi pada bayi. Tentu saja mengingat ucapan Dokter Rinta, Aksara tidak ingin jika kenikmatan yang dia rasakan justru berbahaya bagi buah hatinya.


Arsyilla perlahan mendekatkan telapak tangan Aksara dan mengusapkannya perlahan di perutnya yang masih rata. “Dedek Bayi baik-baik saja kok Ayah … Ayah enggak melukainya kok,” sahut Arsyilla dengan menirukan suara anak-anak.


“Yakin?” tanya Aksara.


Kali ini Arsyilla merespons pertanyaan suaminya itu dengan menganggukkan kepalanya, “Iya … Dedek Bayi sehat kok. Perutku juga biasa saja,” jawab Arsyilla.


Mungkin karena usia kehamilan yang masih di kisaran 9/10 Weeks sehingga Arsyilla belum merasakan sesuatu yang aneh di perutnya. Dulu biasanya Arsyilla merasa capek dan lemas usai berhubungan suami istri dengan Aksara. Akan tetapi, sekarang wajah Arsyilla justru begitu cerah. Wanita yang tengah berbadan dua itu merasa baik-baik saja. Lebih bahagia malahan.


“Syukurlah … aku takut kalau terlalu banyak menekan dan mengakibatkan Dedek Bayi terganggu di sini,” balas Aksara dan masih mengusapi perut Aksara.


“Dia baik-baik saja, Kak … Dedek Bayi sehat kok. Ayahnya juga lembut dan enggak menekan kok tadi. Kupikir sih aman,” balas Arsyilla.

__ADS_1


Sebab, tadi bisa Arsyilla rasakan bagaimana suaminya itu menyentuhnya, memberikan hujaman pun begitu lembut. Menurut Arsyilla, Aksara mengurangi kekuatannya pasti juga memikirkan kondisinya yang tengah mengandung.


“Baiklah … hanya saja, jika kamu merasa perutmu aneh atau seperti apa, katakan padaku ya Honey … aku enggak mau terjadi apa-apa sama kamu dan Dedek Bayi. Kalian berdua sangat berharga untukku,” balas Aksara dengan sungguh-sungguh.


Di mata Aksara kali ini, Arsyilla dan bayi yang masih bersemayam di dalam rahim istrinya adalah prioritasnya baginya. Dia akan melindungi orang-orang yang sangat berharga baginya.


Sementara bagi Arsyilla sendiri, setiap ucapan yang diucapkan Aksara nyatanya justru membuat dirinya benar-benar bahagia. Suaminya itu adalah orang yang bukan sekadar membual, tetapi membuktikannya dalam perilakunya setiap hari.


“Iya Kak … kalau aku merasakan yang aneh di dalam perut aku, pasti aku bilang.” Arsyilla menjawab sembari tersenyum menatap wajah suaminya yang masih terlihat cemas itu.


Walaupun usia janinnya masih muda, tetapi kali ini Arsyilla ingin bertanya-tanya kepada suaminya itu.


Terlihat Aksara yang terdiam sesaat, mungkin saja pria itu tengah berpikir sekarang ini. Hingga kemudian, Aksara pun membuka suaranya, “Aku sih tidak masalah yah dia nanti laki-laki atau perempuan. Bagiku mau laki-laki atau perempuan, dia tetap anakku, darah dagingku. Namun, kalau bisa memilih, aku justru menginginkan anak perempuan. Ya, walaupun dulu aku tahu masa kecilnya Thania. Hanya saja, anak sendiri pasti rasanya berbeda. Anak perempuan yang manis dan lucu kayak kamu waktu kecil dulu,” balas Aksara.


Seakan kini pikiran Aksara melayang dan mengingat kembali sosok Arsyilla kecil yang begitu lucu dan menggemaskan. Gadis kecil yang selalu dia sayangi. Oleh karena itulah, Aksara justru menginginkan anak perempuan.


Mendengar cerita Aksara, Arsyilla pun tersenyum. “Kamu ingat semua masa kecilku. Aku terkadang iri, karena aku sama sekali tidak memiliki ingatan itu lagi. Mungkin kamu sudah jatuh cinta sama aku sejak aku kecil ya Kak? Sampai segitunya loh kamu ingat aku,” respons Arsyilla kali ini.


“Jatuh cinta ya Honey … abis gimana aku bisa lupain gadis kecil secantik, selucu, dan semanis kamu? Selain itu, aku juga tidak akan bisa melupakan kebaikan Mama Khaira dan Papa Radit yang benar-benar menyentuh hatiku. Mereka orang yang mau menyisihkan Rupiahnya untuk menyekolahkan aku, padahal aku bukan anak mereka. Mereka berhasil menyentuh hatiku, Honey.”

__ADS_1


Aksara bercerita dan mengungkapkan bahwa dirinya tidak mungkin bisa melupakan orang-orang yang sudah begitu berjasa dalam hidupnya. Terutama Mama Khaira dan Papa Radit yang sudah begitu baik kepadanya. Orang-orang yang membuktikan bahwa mengasihi orang lain tidak perlu memperhitungkan hubungan darah dan kekerabatan. Orang-orang yang menaruh belas kasihan dengan tulus. Untuk semua itu, Aksara tidak akan pernah bisa melupakannya.


“Isshhs, kamu ini … jangan terlalu memikirkan masa lalu, Kak. Faktanya Mama dan Papa juga tidak mengungkit semuanya. Mama dan Papa memang orang yang baik dan dia tulus menyayangi kamu. Kami sama-sama menyayangi kamu, dan kami sama-sama kehilangan saat Bunda Kanaya dan Ayah Bisma menemukanmu. Akan tetapi, di balik kesedihan kami, Mama selalu bilang bahwa Mama bahagia jika benar kamu sudah berkumpul kembali dengan orang tuamu,” balas Arsyilla.


“Kisah kita berdua begitu panjang ya, Honey … tetapi, rasanya semua itu terasa menyenangkan dan berkesan. Selalu ada maksud Tuhan dalam hidup manusia, sama seperti rencana dan maksud-Nya tak terkira saat aku yang masih kecil harus terpisah dari Ayah dan Bunda dan bertahun-tahun hidup di Panti Asuhan. Aku bisa belajar merasakan hidup kekurangan, hidup menunggu uluran tangan dari orang lain, hidup berbagi dengan teman-temanku di Panti Asuhan dulu, dan juga ada momen terindah saat aku mendapatkan keluarga baru,” balas Aksara.


Memang jika mengingat semua kesedihan, air mata, dan pilunya kehidupan Aksara di masa lalu. Yang tersisa adalah rasa bersedih dan bahkan terpuruk. Akan tetapi, dengan sudut pandang Aksara yang positif, Aksara bisa menyelami maksud Tuhan yang tidak terkira dalam hidupnya. Garis takdir yang sudah Tuhan tentukan untuk dia jalani memang penuh air mata dan keterbatasan, tetapi ada sosok keluarga baru yang begitu menyayanginya.


“Honey, aku hanya ingin … saat Dedek Bayi nanti sudah lahir, kalau bisa pola asuhnya kita pegang sendiri. Aku dan kamu. Kalaupun melibatkan orang, aku lebih ingin melibatkan Mama Khaira, Papa Radit, Bunda Kanaya, dan Ayah Bisma. Kamu tahu tidak Honey? Cerita dari Bunda Kanaya, aku hilang karena dijemput diam-diam oleh Om Darren di Daycare. Sejak saat itu, rasanya aku takut dengan Daycare. Takut dengan sistem keamanan di sana. Ya, walaupun puluhan tahun sudah berlalu, tetapi di dalam hatiku tidak bisa bohong jika aku jadi aware dengan penitipan anak. Oleh karena itu, jika bisa kita asuh bersama saja. Bagaimana?” tanya Aksara kali ini kepada istrinya.


“Tidak masalah Kak … nanti kan aku masih cuti tiga bulan usai bersalin. Setelahnya paling aku mengajar satu atau dua hari dalam sepekan. Kalau boleh sih, waktu aku mengajar biar Dedek Bayi diasuh Mama Khaira saja. Kan juga Mama Khaira sekarang lebih banyak di rumah. Mengajar dari rumah pun bisa dilakukan Mama,” balas Arsyilla.


“Iya Honey … bukannya aku negatif thinking. Hanya saja harus berjaga-jaga juga. Benar Ravendra sudah berubah, sudah bertobat, tetapi Om Darren kayaknya masih belum berada di jalan yang benar. Aku hanya tidak ingin Om Darren menyakiti keluargaku, mengusik orang-orang yang kusayang,” balas Aksara.


“Iya Hubby,” respons Arsyilla dengan cepat.


“Makasih Honey … sekarang yang penting kamu sehat, Dedek Bayi kita juga sehat. Pekan depan kita menghadiri persidangan pertama Tiara dan Bagas ya Honey … kamu siap kan?” tanya Aksara kali ini.


Ah, agaknya barulah Arsyilla ingat bahwa dirinya masih harus menghadiri persidangan. Di persidangan nanti Arsyilla akan berdiri sebagai korban dan akan diminta kesaksiannya. Semoga saja, persidangan tidak berlarut-larut, selain itu Tiara dan Bagas akan mendapatkan hukuman sesuai dengan perbuatan jahatnya.

__ADS_1


__ADS_2