
Usai beberapa hari berlalu, rupanya Ravendra benar-benar berkunjung ke Jaya Corp, dan tempat yang dia tuju sekarang adalah kantor Aksara. Namun, berkunjung sebagai tamu di perusahaan yang dirintis oleh Opanya sendiri yaitu Opa Jaya Wardhana, Ravendra benar-benar kagum dengan Jaya Corps yang berdiri sekian puluh tahun lamanya. Menjadi salah satu perusahaan rekonstruksi yang begitu terkemuka di seantero negeri ini.
Ravendra menemui resepsionis, dan mengatakan bahwa dia ingin bertemu dengan Aksara. Ravendra dipersilakan untuk menunggu, dan Aksara sendiri yang akan turun dan menemuinya. Ravendra pun menunggu di Lobby, beberapa menit berlalu, setelah sepuluh menit barulah Aksara turun dan menepuk bahu pemuda itu.
“Hei, sudah lama?” tanya Aksara.
“Lumayan, sepuluh menit. Sibuk yah?” tanya Ravendra kepada Aksara.
Terlihat Aksara menganggukkan kepalanya secara samar, “Lumayan, ada beberapa pekerjaan jadi tukang gambar,” balasnya.
“Jadi, gue ganggu enggak nih? Mau sedikit ngobrol,” balas Ravendra.
“Enggak. Santai saja. Yang penting jangan ganggu waktu di sore hari. Soalnya gue harus pulang, udah kangen berat sama Istri dan si baby,” jawab Aksara.
Mendengar jawaban Aksara, Ravendra pun tertawa. “Lo cinta mati yah sama Arsyilla?” tanyanya.
Sebelum menjawab, rupanya Aksara menoleh ke kanan dan ke kiri. “Kelihatannya ngobrolnya di Coffee Shop depan perusahaan aja deh,” ucap Aksara.
“Ya sudah, boleh,” balas Ravendra.
Aksara dan Ravendra pun berjalan menuju ke Coffee Shop yang berdiri di depan Jaya Corps itu. “Pesan aja, gue yang bayar,” ucap Aksara.
__ADS_1
“Gue bayarin lo juga tidak masalah,” balas Ravendra.
“Gak boleh nolak. Udah pesen saja,” sahut Aksara kali ini.
Sampai akhirnya kedunya memesan Es Americano saja. Keduanya mengobrol santai ditemani Es Americano itu.
“Ya, gue akui dengan gue cinta mati sama Istri gue. Dari gue kecil udah sayang banget sama Syilla,” aku Aksara dengan jujur.
Mungkin Ravendra tidak tahu dan mengira dia merebut Arsyilla dari Ravendra dulu. Namun, sebenarnya Aksara sudah melihat dan mengenal Arsyilla bahkan sejak Arsyilla masih bayi. Sedikit banyak Aksara pun menceritakan masa kecilnya dulu dengan Ravendra.
“Memang tidak pernah jatuh cinta ke cewek lain?” tanya Ravendra kali ini kepada Aksara.
“Tidak pernah,” jawab Aksara kali ini dengan yakin.
“Sekarang giliran lo. Untuk apa lo datang ke mari?” tanya Aksara. Sebab, Aksara sangat yakin Ravendra menemuinya untuk membicarakan sebuah maksud.
Ternyata Ravendra diam, pria itu menarik cup gelas berisi Americano miliknya, mengaduk-aduk dengan pipetnya, kemudian menghentikan aktivitas tak berharganya itu.
“Gue pengen nikah, cuma gue takut dengan pernikahan. Di dalam benak gue pernikahan adalah dunia yang runtuh dan kacau. Sebab, lo tanya sendiri … gue tumbuh tanpa sosok Ayah. Hak asuh sepenuhnya ke Mama, dan selain itu potret keluarga gue jauh dari kata harmonis,” ucap Ravendra.
Akhirnya Ravendra bisa bercerita, seolah curhat dengan Aksara. Dengan jujur Ravendra mengakui bahwa dirinya ingin menikah, usianya sudah datang. Secara ekonomi dia juga matang. Namun, bayang-bayang kegagalan rumah tangga Mama Sandra dan Papa Darren membentuk persepsi sendiri dalam benak Ravendra bahwa pernikahan adalah dunia yang runtuh dan kacau.
__ADS_1
“Pernikahan tidak semenakutkan itu. Lagian setiap rumah tangga memiliki kisahnya sendiri. Rumah tangga gue, rumah tangga Ayah dan Bunda, bahkan rumah tangga Mama dan Papa mertua. Semua memiliki kisahnya sendiri-sendiri. Sedih dan senang, pahit dan manis semuanya berjalan beriringan. Namun, asalkan ada rasa pengertian, penerimaan dari suami dan istri, ada rasa menerima kekurangan pasangan, kehidupan pernikahan itu menyenangkan. Percaya sama gue,” ucap Aksara kali ini.
“Lo bener sih … cuma kadang ada ketakutan tersendiri. Potret yang sudah rusak dari keluarga gue sering kali mengintimidasi gue,” aku Ravendra.
“Coba lo orang-orang di sekitar lo. Kadang rumah tangga ada percekcokan, ada tidak bisa menerima pasangan, ada kesusahan secara ekonomi, ada tekanan yang masing-masing berbeda. Kuncinya lo harus survive. Sebab, rumah tangga bukan sekadar lo bermain lego dan menyusunnya. Namun, lo harus berjuang untuk bangunan yang lo bangun sampai akhir hidup lo. Jika, kita mau menjalani, mengisi penuh tangki air cinta kita, pernikahan itu bukanlah dunia yang runtuh dan kacau. Namun, pernikahan adalah dunia yang indah di mana dua orang yang berbeda latar belakang bisa hidup bersama, menyatukan visi dan misi mereka, membagi harapan dan kisah mereka, dan berjuang untuk mempertahankan rumah tangga di tengah pasang surut yang terjadi,” jelas Aksara secara panjang lebar.
Ravendra merespons dengan mengangguki ucapan Aksara itu. Sungguh, Ravendra merasa bahwa mengajak Aksara mengobrol adalah sebuah pilihan yang tepat. Rasanya di lain waktu Ravendra harus mengajak Aksara mengobrol lagi.
“Lo sudah punya calonnya?” tanya Aksara kemudian.
Kali ini wajah Ravendra menunjukkan beragam ekspresi yang sukar untuk ditebak oleh Aksara yang sesekali mengamati air mukanya.
“Gue akan dijodohkan sih,” aku Ravendra dengan jujur.
Aksara mendengarkan dengan baik pengakuan Ravendra itu, tanpa mencibirnya. Jika orang lain akan menganggap bahwa perjodohan sudah tidak zaman di zaman yang begitu canggih. Nyatanya masih ada pernikahan yang terjadi karena perjodohan.
“Lo menerimanya?” tanya Aksara.
“Belum, gue masih harus berpikir … karena ya itu, gue berpikir bahwa pernikahan itu dunia yang runtuh. Balik lagi ke masalah Mama dan Papa, rasanya gue kehilangan kepercayaan akan sebuah rumah tangga yang harmonis,” jawab Ravendra kali ini.
Perlahan Aksara menganggukkan kepalanya, “Beri waktu untuk berpikir, jangan gegabah. Kalau pun lo menerimanya bertahanlah untuk memperjuangkannya sampai akhir,” ucap Aksara.
__ADS_1
Sebab, jika terus terbersit dengan potret kelam keluarga kita sendiri, itu justru akan menjadi bayang-bayang yang menakutkan. Berusaha untuk lepas dari jerat masa lalu, dan wujudkan kehidupan pernikahan yang harmonis versi kita, bukan versi mereka.
Happy Reading ^^