Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Berbagi Kamar


__ADS_3

“Kerjaan kamu apa, Aksara?” tanya Radit kepada menantunya itu.


Saat ini mereka tengah menikmati makan malam di meja makan. Sekalipun ada ART yang mengurus dapur, tetapi sore itu Khaira memilih untuk memasak sendiri khusus untuk Arsyilla dan Aksara.


“Saya tukang menggambar, Pa,” jawabnya.


“Gambar bangunan?” kali ini giliran Khaira yang bertanya kepada Aksara.


Pria itu pun mengangguk, “Iya Ma, tukang gambar bangunan,” jawabnya.


“Itu namanya Arsitek, Aksa,” lanjut Mama Khaira yang menyebut adalah tukang gambar bangunan itu namanya Arsitek.


“Sama waktu Syilla masih kecil dulu, cita-citanya jadi Arsitek. Namun, sekarang dia justru menjadi Dosen sama seperti Mamanya,” kali ini giliran Papa Radit yang mengungkap bahwa putrinya itu memiliki cita-cita sebagai Arsitek sewaktu kecil.


Masih teingat bagi Papa Radit dan Mama Khaira saat mengajak Arsyilla jalan-jalan ke Monas melihat foto dokumentasi pembangunan Monas, saat itulah Arsyilla berkata bahwa dirinya ingin menjadi seorang Arsitektur. Namun setelah dewasa, Arsyilla justru menjadi Dosen.


Aksara pun mendengarkan cerita dari Papa mertuanya itu, dia tidak mengira bahwa Arsyilla sewaktu kecil memiliki cita-cita untuk menjadi seorang arsitek. Cita-cita yang sama seperti dirinya.


“Aksara waktu kecil ingin menjadi Dosen, tetapi Ayah ingin anaknya menjadi Dokter, akhirnya Aksara kuliah kedokteran, tetapi putus di tengah jalan. Usai itu, masuk Teknik Arsitektur, tetapi merasa kurang tepat, setelah cuti barulah kembali kuliah,” ceritanya kali ini kepada mertuanya.


Pembicaraan di meja makan itu mengalir dengan sendirinya. Agaknya mudah bagi Aksara untuk berbaur dengan keluarga mertuanya. Jika ada yang memasang wajah dingin, tentu itu adalah istrinya sendiri. Sebab, sedari tadi Arsyilla tampak tidak ingin terlibat dalam pembicaraan di meja makan itu.


Usai makan malam usai, setelah membantu membersihkan meja makan, Arsyilla memilih masuk ke kamarnya lebih dulu. Dirinya cukup capek setelah seharian mengajar di kampus, juga dia merasa rindu dengan kamarnya itu. Membiarkan Aksara yang masih berbincang-bincang dengan Papa Radit dan Mama Khaira.


“Ya sudah, sana istirahatlah,” ucap Papa Radit yang akhirnya menyuruh menantunya itu untuk beristirahat.


Akan tetapi, tampaknya Mama Khaira masih menahannya, “Tunggu sebentar Nak Aksara,” panggilnya kepada menantunya itu.


“Maaf, Mama ingin berbicara sebentar … begini, Mama sangat tahu jika pernikahanmu dengan Arsyilla memang terjadi karena kesalahan satu malam. Oleh karena itu, Mama pun tahu bahwa Syilla belum bisa menerimamu sebagai suaminya, tetapi jika kamu mau bersabar dan tulus kepadanya, Mama percaya bahwa Syilla bisa menerimamu. Juga, saat berada di kampus, sebaiknya saling menjaga jarak setidaknya sampai kamu wisuda,” nasihat dari Mama Khaira kepada Aksara.

__ADS_1


Aksara pun mengangguk, “Baik Ma … iya, Aksa akan bersabar. Tidak masalah bagi Aksara untuk bersabar lebih lama. Sebab, Aksara tidak main-main dengan Arsyilla. Bukan sekadar tanggung jawab, tetapi Aksara menyukainya, Ma …”


Di hadapan Mama Khaira dan Papa Radit, Aksara benar-benar mengungkapkan perasaannya jika dia menikahi Arsyilla bukan sebatas bertanggung jawab, tetapi dia pun menyukai Arsyilla. Lagipula tidak ada salahnya berkata jujur kepada mertuanya sendiri.


Baik Mama Khaira dan Papa Radit pun merasa lega, mendengar bahwa pemuda yang menjadi menantunya itu ternyata menyukai Arsyilla. Besar harapan mereka semoga rasa suka itu berusaha menjadi rasa cinta.


“Baiklah, sekarang kamu boleh istirahat,” ucap Mama Khaira yang akhirnya mempersilakan Aksara untuk istirahat.


Setelahnya, Aksara pun segera menuju kamar Arsyilla sebagaimana tempat yang sudah ditunjukkan oleh Mama dan Papa mertuanya. Pria itu mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum memasuki kamar milik Arsyilla. Hingga tangannya bergerak mencoba memutar daun pintu, dan dia perlahan masuk.


Tampak Arsyilla tengah duduk di sudut kamar itu, sebuah sofa berwarna pink. Wanita itu menggenggam buku cerita anak-anak di tangannya.


"Jadi ini kamarmu?" tanya Aksara kepada Arsyilla.


"Hmm," sahut Arsyilla dengan singkat.


Pria itu lantas duduk di pinggiran tempat tidur yang memakai sprei bermotif bunga-bunga, kamar itu terlihat begitu girly dan feminim, di mana warna pink menghiasi hampir setiap sisi kamar.


Pria itu lantas melirik di sebuah nakas, di sana masih ada foto Arsyilla bersama seorang pria.


"Jadi belum bisa move on dari pria berengsek itu?" tanya Aksara sembari menyorot tajam kepada Arsyilla.


Wanita itu pun mengerjap dan mulai menaruh buku cerita yang dia baca di atas meja. Lalu, dia mengikuti sorot mata Aksara yang rupanya tengah melihat fotonya bersama Vendra.


"Cuma lupa membuangnya," sahut Arsyilla.


Lagipula, hubungannya dengan Vendra memang sudah berakhir. Hanya saja, dia memang lupa membuang foto sang mantan itu.


Rasanya Aksara pun merasakan moodnya seketika menjadi jelek, tetapi dia mengingat nasihat dari Mama Khaira supaya bersabar dengan Arsyilla. Hingga akhirnya, pria itu memilih mengganti posisi foto itu, terbalik. Lantas dia berbaring di tempat tidur Arsyilla.

__ADS_1


Melihat Aksara yang merebahkan dirinya di tempat tidur itu, Arsyilla pun segera bangkit dan mendekati tempat tidurnya.


"Ngapain kamu tidur di sini?" tanyanya dengan menatap tajam pada Aksara.


"Tidur lah, emangnya aku mau jogging di sini," sahut Aksara dengan cepat.


"Siapa yang bolehin kamu tidur di situ?" tanya Arsyilla lagi. Dia keberatan jika suaminya itu tidur di atas tempat tidurnya.


Akhirnya Aksara pun mengubah posisi tidurnya dari tidur dan sekarang duduk dengan matanya yang menatap Arsyilla.


"Di kamar ini, tempat tidurnya hanya satu. Lagian apa salahnya berbagi kamar, berbagi ranjang dengan suami sendiri?" tanyanya kepada Arsyilla.


"Salah, sejak awal semuanya sudah salah. Tahu gini, aku gak mau menginap di sini," ucapnya seolah merutuki dirinya sendiri.


Dalam hati Aksara pun tersenyum, ide menginap di rumah mertuanya supaya dia bisa berbagi kamar dengan istrinya itu. Sedikit bertingkah untuk lebih dekat dengan sang istri.


"Sudahlah, hanya semalam. Lagipula aku sudah ngantuk. Tenang saja, aku tidak akan menerkammu. Percaya aku, aku pria sejati," sahut Aksara yang kini kembali berbaring.


Pria itu lantas menepuk-nepuk bagian sisinya yang kosong, "Sini, tidur sini … cuma semalam. Janji, aku gak bakalan ngapa-ngapain."


Akhirnya Arsyilla pun mendekati tempat tidurnya, wanita itu menaruh guling di antara keduanya, "Awas, ini batasnya. Jangan melebihi batas. Jangan deket-deket aku," ucapnya dengan tegas.


Aksara justru merebahkan dirinya, pria itu tersenyum, "Kita saja bahkan sudah melakukannya bersama. Lucu kamu ini," pria itu tersenyum menyeringai sembari memperhatikan Arsyilla yang berbaring memunggunginya.


"Syilla," panggilnya istrinya itu.


"Hmm, apa?" jawabnya.


"Met malam, met tidur," ucap pria itu lagi sembari tersenyum menatap punggung istrinya.

__ADS_1


Happy Reading^^


__ADS_2