
Belasan Tahun yang Lalu
Membesarkan anak seorang diri ketika suami mendekam di penjara untuk sekian tahun lamanya membuat Sandra layaknya menjadi Ibu tunggal bagi Ravendra. Bahkan bisa dikatakan setelah kembali bersama Darren, kehidupan Sandra jauh dari kata bahagia. Berawal dari kehamilannya yang terjadi karena kecelakaan, pernikahan yang hanya digelar di Mushola Lembaga Permasyarakatan dengan sangat sederhana, menjalani kehamilan, dan melahirkan seorang diri.
Sampai di suatu titik di mana Sandra mengalami kenaikan tubuh secara drastis saat mengandung Ravendra. Lebih menyakitkan karena ketika Darren sudah keluar dari penjara, justru pria itu tampak tidak menyukai Sandra dengan berat tubuhnya yang begitu besar. Setiap melakukan hubungan suami istri, selalu saja Darren mengatakan sesuatu yang melukai perasaan Sandra.
“Kamu berat banget. Aduh, kalau kamu di atasku kayak gini bikin aku sesak nafas,” ucap Darren dulu.
Sebagai wanita yang sedang stabil secara mental, ditambah hanya beberapa bulan berselang Darren kembali mendekam di penjara karena pria itu menculik Aksara dengan cara meninggalkan Aksara begitu saja di sebuah taman membuat Sandra kian kecewa. Sandra sudah meminta kepada Darren untuk melakukan dendamnya dengan Kanaya. Akan tetapi, yang terjadi justru Darren kembali melukai Aksara dan membuat Aksara yang masih berusia 2 tahun terpisah dari Kanaya dan Bisma.
Hakim memutuskan bahwa Darren akan dihukum selama 8 tahun penjara. Dalam tahun-tahun di mana Darren menjalani hukuman kembali di penjara, Sandra masih mencoba bertahan dan terus fokus untuk membesarkan Ravendra. Akan tetapi, pernah di satu titik Ravendra pun bertanya tentang di mana sosok Papanya.
“Ma, teman-teman Vendra semuanya punya Papa loh … lalu, Papanya Ravendra di mana? Kapan Ravendra bisa bertemu Papa, Ma?”
Jujur saja, pertanyaan itu adalah sebuah pertanyaan yang paling sukar untuk dijawab oleh Sandra. Memberitahu dengan jujur bahwa Papanya berada di dalam penjara juga tidak mungkin. Akan tetapi, Ravendra yang kian besar pun juga sering bertanya di mana keberadaan Papanya sekarang ini.
“Papa sedang ada urusan, Vendra. Vendra di rumah dulu sama Mama yah. Main sama Mama,” jawab Sandra kepada putranya itu.
__ADS_1
Memang secara gamblang, Sandra tidak menjelaskan di mana Darren saat ini. Menurut Sandra, Ravendra masih terlalu kecil untuk bisa menerima bahwa Papanya berada di dalam penjara. Tahun demi tahun berlalu dan Sandra sering mengalihkan pembicaraan setiap kali Ravendra menanyakan sosok Papanya.
Sampai suatu hari, begitu genap masa 8 tahun berlalu, saat Darren akhirnya keluar dari penjara. Ravendra justru tidak mengenali sosok Papanya itu. Ravendra yang melihat Darren justru menangis. Sekadar digendong oleh Papanya sendiri tidak mau. Kehidupan rumah tangga Sandra dan Darren masih berusia dipertahankan. Walaupun sebenarnya keduanya justru seperti orang asing bagi satu sama lain.
Hingga satu tahun setelahnya, Darren mengatakan bahwa ada wanita lain yang disukainya. Seorang pebisnis muda yang diyakini akan bisa membawa Darren mencoba peruntungan lagi di dunia bisnis. Untuk itu, Sandra lebih memilih mengajukan gugatan cerai terhadap suaminya itu.
“Lebih baik, kita akhiri saja pernikahan ini sampai di sini. Aku sama sekali tidak meminta harta gono-gini, hanya saja aku meminta hak asuh Ravendra,” ucap Sandra kala itu.
Ya, Sandra sama sekali tidak meminta perihal harta gono-gini. Toh pada kenyataannya, untuk hidupnya sehari-hari dirinya lebih banyak mendapatkan dari pekerjaannya sendiri dan juga sokongan dari keluarga Jaya Wardhana. Selama di dalam penjara, praktis Darren juga tidak menghidupi Sandra dan putranya. Untuk itu, Sandra memilih berpisah.
“Baik … aku tidak keberatan.” Darren membalas dan pria itu tidak keberatan dengan permintaan cerai dari Sandra.
Padahal Sandra sama sekali tidak pernah memberitahukan hal yang buruk kepada Ravendra. Untuk itu, Sandra yakin pasti kedekatan dengan Darren yang membuat Ravendra menganggap Aksara adalah rivalnya.
***
Kini …
__ADS_1
“Mama senang kamu bisa bersikap seperti ini,” ucap Sandra yang masih berjalan dengan Ravendra di pusat perbelanjaan malam itu.
“Bersikap gimana Ma?” tanya Ravendra.
“Tidak menyimpan dendam. Bisa memaklumi masa lalu, dan juga kamu tidak menganggap Aksara sebagai seorang rival. Percayalah Vendra, hidup tanpa memiliki musuh itu sangat menyenangkan. Jadi, Mama tentu senang, putra Mama bisa berpikir seperti ini,” ucap Mama Sandra kepada putranya itu.
“Iya Ma … lagipula, capek juga, Ma … kalau dipikir-pikir kenapa dulu Vendra bisa sebenci itu dengan Aksara, Vendra juga tidak tahu. Padahal ya kami juga jarang bertemu, tetapi kenapa Vendra bisa dengan mudahnya membenci Aksara. Padahal Aksara sendiri tidak pernah mengusik hidup Vendra,” aku Vendra kali ini.
Terlihat Mama Sandra yang menoleh sekilas ke putranya itu, “Jika bencimu sudah sampai pada level tertinggi, kamu tidak perlu alasan untuk membenci seseorang. Hanya sekadar melihat orang itu saja, kamu sudah begitu benci. Namun, sekarang … Mama sepenuhnya mendukung kamu. Kanaya, Dokter Bisma, dan anak-anaknya adalah orang yang baik Ravendra. Jika Papamu masih menganggap mereka musuh, biarkan saja. Itu urusan Papamu. Akan tetapi, anak tidak harus mengikuti apa yang dilakukan orang tuanya. Tempuhlah jalanmu sendiri,” nasihat Mama Sandra kepada putranya itu.
“Mama apa tidak menyesal bercerai dari Papa?” tanya Ravendra kemudian kepada Mamanya.
“Jikalau dipikir-pikir dulu Mama mencintai Papamu dengan perasaan buta. Kami sama-sama gila waktu itu. Hanya saja, setelah berpikir dan menyingkapi segala sesuatunya, Mama tidak menyesal bercerai dari Papamu. Sebab, Mama tidak memungkiri sekian tahun lamanya jauh dari Papamu, rasa cinta di dalam hati perlahan sirna. Ya, perasaan cinta yang menyala-nyala tidak ada lagi. Untuk itu, lebih baik kami berpisah sebelum lebih terluka karena bertahan dalam biduk yang memang begitu susah untuk dipertahankan,” jawab Mama Sandra kali ini.
Tampak Ravendra menatap sekilas ke Mamanya itu. Pemuda itu setidaknya mengambil satu pelajaran bahwa jarak dan waktu tidak bertemu yang sangat lama yang akhirnya mengikis perasaan cinta bagi Mama dan Papanya. Hingga sampai di suatu titik, Mama Sandra meminta cerai kepada Papa Darren.
“Namun, kamu jangan mengikuti jalan Mama dan Papa. Sebisa mungkin menikahlah dengan pasangan yang tepat. Hiduplah menua bersama dengan pasanganmu itu,” nasihat Mama Sandra.
__ADS_1
Kegagalan mempertahankan biduk rumah tangga adalah kegagalan besar yang dialami Sandra. Untuk itu, Sandra menasihati supaya Ravendra tidak mengambil jalan yang dilalui oleh dirinya dan Darren. Bagaimana pun Sandra ingin putranya itu hidup bahagia dan menua bersama dengan pasangannya.