Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Pesona Cinta


__ADS_3

Menjelang jam sepuluh malam, barulah seluruh rangkaian pesta resepsi telah selesai. Untuk beristirahat, seluruh keluarga Raditya dan Pradhana memilih menginap di Hotel tempat berlangsungnya acara. Terlebih hari sudah begitu malam, sehingga lebih baik mereka beristirahat di dalam hotel, dan baru akan pulang keesokan harinya. Bahkan kali ini, Bunda Kanaya memesan President Suite Room khusus untuk Aksara dan Arsyilla. Sekalipun mereka sudah tidak lagi pengantin baru, tetapi Bunda Kanaya tetap memperlakukan anak-anaknya itu seperti pengantin baru.


“Sudah … kalian juga istirahat. Berjam-jam berdiri dan menerima tamu undangan sudah pasti kalian berdua capek,” ucap Bunda Kanaya kali ini.


Dengan mantap, Aksara pun menggandeng tangan istrinya itu untuk menuju kamar yang sudah dipesankan Bunda Kanaya. Mereka hanya tinggal masuk saja, tidak tahu menahu dengan kamar yang pilihkan Bundanya.


Membuka pintu kamar hotel yang mereka tempati, betapa keduanya terlihat kaget dengan kamar yang sudah dihiasi Bunga Mawar merah itu. Bahkan ada bunga mawar merah yang ditempatkan di atas tempat tidur. Batas antara tempat tidur dan kamar mandi adalah sekat tembus pandang. Pilihan kamar yang meresahkan sebenarnya. 


Kendati demikian, Arsyilla memilih duduk di tepian ranjang besar dengan menyentuh beberapa kelopak mawar yang menghiasi ranjang itu.


“Mahalan kayak pengantin baru banget … padahal dulu, usai akad saja pisah kamar,” ucap Arsyilla dengan tiba-tiba.


Aksara pun lantas tertawa, “Itu karena kamu dulu benci sama aku, sih,” sahut Aksara dengan tertawa.


Pria itu tampak melepas Tuksedo yang dia kenakan, dan melepaskan dasi kupu-kupu yang melilit lehernya itu.


“Abis kamu nyebelin sih,” balas Arsyilla kali ini.


“Sekarang … tidak ada lagi benci. Kita harus saling mencintai satu sama lain,” ucap Aksara kini.


Pria itu lantas duduk di samping istrinya, “Kamu sexy sekali memakai Wedding Gown itu,” ucap Aksara lagi dengan tiba-tiba.


“Isshss, kamu ini … mesum,” balas Arsyilla.


“Serius … dress ini cuttingnya sederhana banget sih, tetapi justru bagus kamu kenakan. Sexy,” balas Aksara lagi kali ini.


Arsyilla lantas berdiri, dan meninggalkan suaminya itu. “Aku mandi dulu ya Kak … biar capeknya hilang,” ucap Arsyilla kini.


Rupanya Aksara turut berdiri, pria itu segera mendaratkan kedua tangannya melingkari pinggang Arsyilla yang ramping. Bibirnya bergerak dan memberikan kecupan di tengkuk dan garis leher Arsyilla yang jenjang.

__ADS_1


“Kamu cantik banget kayak gini, pantes saja Pak Bagas patah hati,” ucap Aksara kali ini.


Tampak Arsyilla menghela nafasnya, “Ini hari bahagia kita, Kak … jangan bawa-bawa orang lain,” balasnya kali ini.


Aksara pun mengangguk, tangan pria itu tampak mencari-cari resleting yang ditempatkan di bagian sisi gaun itu. Menariknya hingga membuat Wedding Gown itu nyaris terlepas dari tubuh Arsyilla. 


“Mandi bareng yah,” ucap Aksara kali ini.


Pria itu terlihat melepaskan tangannya dari pinggang Arsyilla dan membawa istrinya itu masuk ke dalam kamar mandi. Aksara benar-benar melepaskan resleting di gaun istrinya, membuat gaun berwarna putih itu teronggok begitu saja di lantai. Terlihat tubuh Arsyilla yang hanya mengenakan pakaian dalam berwarna putih dengan kain renda.


“Cantik,” ucap Aksara kali ini.


Arsyilla hanya tersenyum menatap suaminya yang tengah dalam mode nakal itu. Tangan Arsyilla pun bergerak melepaskan kancing demi kancing di kemeja Aksara, meloloskan kemeja berwarna putih dan hanya sekian detik tubuh mereka sama-sama polos.


Aksara membawa Arsyilla untuk memasuki bath up yang telah dia siapkan dengan air hangat dan juga bath bomb beraroma vanilla yang begitu manis dan lembut. Pria itu memasuki bath up terlebih dahulu, barulah kemudian dia mengulurkan tangannya meminta istrinya untuk turun memasuki bath up bersamanya.


Dengan nakalnya, tangan Aksara seakan memercikan air dengan busa sabun yang melimpah itu di tubuh istrinya, lantas membelainya perlahan. Tentu saja sentuhan itu berhasil menghadirkan gelenyar asing dalam diri Arsyilla, membuat wanita itu menelungkup sepuluh jari kakinya. Dari belakang, tangan Aksara bergerak meraih dagu Arsyilla dan dengan segera Aksara melabuhkan bibirnya di atas bibir Arsyilla. Memberikan ciuman berbalut lu-matan di bibir yang begitu manis dan kenyal itu. Memberikan tekanan pada ciumannya, dan tangannya menyusuri lengan hingga area perut Arsyilla.


Aksara lantas membalik posisi Arsyilla, mendaratkan wanita itu dalam pangkuannya. Membawa tubuh mereka menyatu bersama, karena pusakanya yang sepenuhnya masuk ke dalam inti tubuh istrinya. Dengan menghela nafas, Aksara lantas memimpin istrinya itu untuk menggerakkan pinggulnya. Gerakan seduktif yang lembut, tetapi juga kacau di saat bersamaan.


Tampak beberapa kali Arsyilla mende-sah, karena merasakan terpaan badai yang menghantamnya, membuatnya mencerukkan wajahnya di dada suaminya, hingga perpaduan air hangat dan busa sabun itu terkoyak, hingga memenuhi lantai.


“Astaga, Honey,” racau Aksara kali ini.


Pria itu memejamkan matanya, tangan bergerak liar menyusuri epidermis kulit istrinya yang lembut. Remasan buah persik milik istrinya, memilin ujungnya dengan jari-jemarinya, bahkan menyentuh setiap lekuk feminitas di tubuh istrinya itu. Paduan air dan sabun justru membuat kulit istrinya kian licin dan membuatnya dengan leluasa memberikan sentuhan dan belaian.


“Kak,” ucap Arsyilla kali ini dengan nafas yang terengah-engah. Wanita itu bahkan beberapa kali menggigit bibirnya sendiri. Tidak tahan dengan gelenyar asing tetapi juga terasa begitu nikmat tiap kali menyatu dengan suaminya.


“Hmm, apa?” sahut Aksara yang masih mempertahankan gerakan pinggul Arsyilla yang kian kacau.

__ADS_1


Seakan Arsyilla tak mampu lagi berkata-kata, merasa lemas dengan gerakan panas keduanya. Hingga akhirnya, Aksara yang mengambil alih kendali. Pria itu yang mempertahankan posisi Arsyilla di pangkuannya dan menghujamnya dengan begitu keras, menusuk dengan dalam dan cepat. Sampai akhirnya, Aksara menggeram dan memeluk tubuh Arsyilla dengan begitu eratnya.


“I Love U, Honey … I Love U,” ucap Aksara kali ini.


***


Setengah Jam setelahnya …


Barulah Aksara dan Arsyilla keluar dari mandi. Waktu sudah menunjukkan hampir jam 12 malam, tetapi keduanya baru saja keluar menyelesaikan ritualnya. Kali ini, Aksara menggendong istrinya itu ala bridal style dan membaringkannya di atas ranjang.


“Kamu pasti kecapekan yah?” tanyanya kali ini.


“Iya … udah capek berdiri, capek juga sama kamu,” balas Arsyilla.


“Mau bobok sekarang?” tanya pria itu yang sudah merebahkan dirinya di samping Arsyilla.


Arsyilla pun beringsut, dan segera menaruh kepalanya di lengan suaminya, melingkari pinggang suaminya itu.


“Kita sudah satu tahun menikah, malam ini justru kayak pengantin baru aja,” balas Arsyilla.


“Tidak apa-apa Honey … biar makin hangat dan romantis,” balas Aksara.


“Kak,” panggil Arsyilla kepada suaminya itu.


“Hmm, apa Honey?” sahut Aksara dengan cepat.


“Mulai program hamil yuk … nanti kalau kelamaan berdua, menjadi nyaman malahan enggak memikirkan buah hati,” ucap Arsyilla kali ini.


“Ya sudah, nanti kita ke Dokter Obgyn yah … kita lakukan cek up menyeluruh. Aku juga sudah pengen punya baby denganmu,” balas Aksara.

__ADS_1


Sebab sejatinya pernikahan bukan lantaran dua insan yang saling dimabuk cinta. Akan tetapi, mereka juga menginginkan buah hati yang akan menyemarakkan kehidupan rumah tangga mereka.


__ADS_2