Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Kekecewaan Seorang Anak


__ADS_3

Pengakuan Tiara membuat semua orang yang menghadiri persidangan itu benar-benar tercengang. Jika Mama Khaira dan Papa Radit yang tidak terlalu mengenal sosok Darren Jaya Wardhana lebih bisa meredam emosinya. Berbeda dengan Bunda Kanaya yang tampak memijit keningnya, terasa pening karena semua yang menimpa Arsyilla berhubungan dengan sosok Darren Jaya Wardhana.


Bunda Kanaya mendekati dan memeluk Arsyilla, “Maafkan Bunda, Syilla … tidak mengira jika semua yang terjadi berhubungan dengan orang dari masa lalu Bunda,” ucap Bunda Kanaya kali ini.


Dendam sekian tahun lamanya nyatanya sama sekali belum padam di hati Darren Jaya Wardhana. Pria itu seakan terus-menerus berusaha mengusik kebahagiaan di dalam keluarga Bunda Kanaya dan Ayah Bisma. Waktu yang sangat panjang untuk terus-menerus menyimpan dendam.


Sementara Arsyilla sendiri hanya terdiam. Pikirannya seakan sukar mencerna semuanya ini. Bagaimana bisa satu masalah saling berkaitan satu sama lain. Bahkan tanpa sepengetahuan Aksara, beberapa bulan yang lalu, Om Darren yang mengusik karirnya di kampus. Nyaris saja Arsyilla melepaskan profesinya sebagai seorang Dosen. Syukurlah, semua itu bisa di atas. Kini, hanya berselang bulan, Om Darren kembali menjadikannya sebagai umpan. Menjadikannya sebagai korban. Hati Arsyilla terasa sesak rasanya, terlebih Arsyilla merasa tidak memiliki masalah secara langsung dengan Om Darren.


Jika Arsyilla menerka, salah satu yang menyebabkan Om Darren murka dan dendam padanya adalah kejadian satu tahun lalu, saat dia melaporkan Ravendra dan membuat pemuda yang pernah menjadi pacarnya itu harus mendekam di dalam penjara. Mungkinkah kejadian itu yang membuat Om Darren begitu tega menjadikan dirinya sebagai korban? Membayangkannya saja, dada Arsyilla kian sesak rasanya. Hingga air mata berlinangan begitu saja dari sudut matanya.


Kemudian kini, Ravendra yang mendekati keluarga Pradhana dan Raditya yang sedang berkumpul itu. Secara khusus, Ravendra mendekat ke Bunda Kanaya. Wajah pemuda itu memerah, bahkan bola matanya tampak menyiratkan kekecewaan yang begitu dalam.


“Tante Kanaya,” sapa Ravendra kepada sosok wanita yang sudah lama dia kenal itu.


Bunda Kanaya pun mengerjap, dan menoleh untuk memandang sosok Ravendra, “Ya,” sahut Bunda Kanaya.


Tampak Ravendra terlihat resah, tetapi pemuda itu akhirnya memberanikan diri untuk bersuara, “Tante Kanaya … Ravendra ingin meminta maaf. Vendra sama sekali tidak tahu menahu jika Papa terlibat dalam kejadian ini. Maafkan Vendra, Tante. Namun, jujur Vendra sama sekali tidak terlibat dalam kejadian ini,” aku Ravendra.


Baru kali ini Ravendra berbesar hati dan meminta maaf kepada Bunda Kanaya. Pemuda itu tampak sama terkejutnya seperti Arsyilla dan orang yang lainnya.


“Tidak apa-apa Ravendra … hanya saja jika Tante boleh menasihati, hiduplah di jalanmu yang seperti ini. Tante bersyukur dengan perubahan positif ini,” jawab Bunda Kanaya.

__ADS_1


“Baik Tante … sekali lagi maafkan Ravendra,” aku Ravendra.


Tampak Aksara mendekat dan menepuk bahu Ravendra, “Tidak masalah Vendra … semua ini adalah didalangi Papamu, dan bukan kamu. Jangan terlalu menyalahkan diri,” ucap Aksara kali ini.


Sekali lagi Aksara menunjukkan bahwa dia memiliki sudut pandang sebagai pria dewasa yang bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Di mata Aksara, dia bisa menilai bahwa Ravendra benar-benar tidak terlibat dalam kejadian buruk yang menimpa Arsyilla. Hati kecilnya pun bisa merasakan semuanya itu.


“Sorry, Aksara,” ucap Ravendra kali ini.


***


Beberapa jam setelahnya …


Ravendra pulang dari pengadilan, dan tempat yang dia tuju sekarang ini adalah kediaman Papanya dengan Mama Tirinya. Tujuannya datang kali ini bukan untuk beramah-tamah, melainkan untuk melampiaskan betapa hatinya begitu sakit dengan setiap perbuatan kotor yang sudah dilakukan Papanya itu.


Tampak Papa Darren menuruni anak tangga. Pria itu tersenyum dan menyambut kedatangannya putranya itu.


“Wah, anak Papa datang kemari … ada apa gerangan yang membuatmu datang kemari Ven?” tanya Papa Darren.


Akan tetapi, nyatanya Ravendra justru membuang muka, dirinya seakan enggan untuk menatap wajah Papanya itu.


“Pa, kenapa Papa begitu tega Pa? Kenapa Papa tidak pernah jemu untuk melakukan perbuatan kotor. Jawab Vendra, Pa! Kenapa Papa merencanakan tindakan jahat untuk mencelakai Arsyilla!” Ravendra berteriak. Seakan kesabaran di dalam hatinya benar-benar habis. Rasanya dia ingin mendengarkan penjelasan dari Papanya itu.

__ADS_1


“Tenang Vendra, maksud kamu apa?” tanya Papa Darren kepada Ravendra.


“Tidak usah berpura-pura lagi Pa. Vendra sudah tahu bahwa Papalah otak dibalik tindakan kejahatan yang dilakukan Tiara dan Bagas. Ravendra tidak habis pikir kenapa Papa bisa melakukan semua itu,” ucap Ravendra kali ini.


“Bukan seperti itu, Vendra. Dengarkan Papa dulu,” ucap Papa Darren.


Namun, dengan cepat Ravendra menggelengkan kepalanya, “Sudah cukup Pa! Sudah cukup Papa menyakiti hati Vendra selama ini. Papa sudah bertindak jahat bahkan sejak Vendra belum lahir. Papa membiarkan Mama mengandung dan melahirkan Vendra sendirian. Papa juga menyakiti keluarga Tante Kanaya dengan menculik Aksara. Apa semua itu belum cukup Pa? Sekarang, Papa masih ingin menyakiti Arsyilla. Vendra benar-benar kecewa sama Papa!”


Perasaan kecewa dan bahkan sakit hati yang selama ini bersarang dan perlahan tertimbun di dalam hati Ravendra akhirnya meledak juga. Di hadapan Papanya, Ravendra mengungkapkan bagaimana perasaannya kali ini kepada Papanya.


Bukan menyadari kesalahannya, nyatanya Papa Darren justru mengangkat tangan kanannya. Pria itu seakan tidak bisa menerima semua ucapan Ravendra, hingga Papa Darren melayangkan tamparan keras di wajah Ravendra.


Plak!


Suara telapak tangan yang mengenai sisi wajah Ravendra.


Air mata Ravendra luruh juga. Dalam seumur hidupnya, baru kali ini Papanya menamparnya. Apakah tindakan seperti yang dilakukan seorang Papa kepada anaknya sendiri. Ravendra lantas menatap wajah Papanya itu dengan memegangi sisi wajahnya yang begitu sakit rasanya, tetapi masih sakit hatinya yang merasa tidak bisa menerima semua perbuatan kotor Papanya.


“Jadi … di saat seorang anak datang dan meminta penjelasan. Di saat seorang anak datang dan ingin supaya Papanya yang selama ini berlaku zalim bisa berhenti, justru tamparan ini yang Papa berikan. Ravendra benar-benar menyesal, Pa. Sakit di wajah Vendra, tidak seberapa. Lebih sakit hati Vendra karena terlahir dari benih dari pria seperti Papa. Apakah di usia senja, Papa masih ingin mendekam di penjara? Tolong Pa, hentikan semuanya. Tolong Pa, jangan berlaku zalim lagi. Sudah cukup semua perbuatan kotor dan zalim Papa di masa lalu,” ucap Ravendra.


Perkataan Ravendra terasa begitu pedih. Akan tetapi, Darren hanya menundukkan wajahnya. Pria paruh baya itu juga merasa bersalah sudah menampar wajah Ravendra.

__ADS_1


Usai mengatakan perasaan kecewanya, Ravendra tanpa pamit pergi begitu saja. Di dalam mobilnya, beberapa kali Ravendra memukul stir kemudi, bahkan pria itu membenturkan keningnya di stir kemudi. Hatinya benar-benar berkecamuk saat ini. Lebih tepatnya, Ravendra merasakan patah hati. Ya, patah hati bukan lantaran putus cinta. Namun, patah hati karena dirinya harus kembali menghadapi kenyataan pahit tentang sosok Papanya. Luka tak berdarah yang lagi-lagi menggores hatinya karena perbuatan kotor Papanya.


__ADS_2