
Jika waktu berganti dari siang menjadi malam, rupanya si kecil Ara pun setiap hari juga semakin berkembang. Rasanya baru kemarin bayi mungil itu dilahirkan ke dunia. Akan tetapi, sekarang Ara sudah berusia tiga bulan. Kian gemoy dan lucu. Bayi kecil itu benar-benar memberikan rona kebahagiaan bagi Ayah dan Bundanya.
Di usia tiga bulan ini secara fisik, Ara kian bertambah berat badannya. Selain itu, Ara mulai bisa mengisap jempolnya sendiri, dia bisa juga mengenali aroma dari Ayah dan Bunda. Kian bertambah lucu karena begitu mendengar Ayahnya yang memanggilnya, "Ara," maka bayi kecil itu akan menengok dan mencari asal suara dari Ayahnya itu. Begitu senangnya Arsyilla dan Aksara karena putrinya bertumbuh dengan baik, tidak hanya berat badannya yang bertambah, tetapi juga kemampuan motoriknya yang bertambah. Ya, Ara bisa mulai menggenggam benda, dan matanya mampu mengikuti objek seiring dengan bergeraknya objek tersebut.
"Lihat deh Bunda, Ara makin lucu saja ... gemoy banget sih putrinya Ayah ini," ucap Aksara yang masih setia untuk menggendong putrinya itu.
"Ayah kayaknya jatuh cinta banget deh sama Ara, sampai gemes dan kelihatan sayang banget sama Ara," balas Arsyilla.
Aksara yang mendengarkan ucapan istrinya pun turut tertawa, "Bundanya jealous yah?" tanya Aksara.
Akan tetapi, dengan cepat Arsyilla menggelengkan kepalanya, "Enggak ... aku tuh justru senang. Mungkin dulu Papaku juga seperti ini waktu aku masih kecil, dan aku tahu aja," balasnya.
Melihat Aksara yang begitu sayang pada Ara, membuat Arsyilla membayangkan mungkin seperti itulah Papanya begitu bahagia dan begitu sayang padanya saat dirinya masih kecil dulu.
"Papa itu kelihatan sayang banget sama kamu, Bunda," ucap Aksara kini dengan tiba-tiba.
"Hmm, maksudnya gimana Kak? Papa kan gitu, sama Shaka juga gitu kok," balas Arsyilla.
__ADS_1
Aksara kemudian tersenyum, "Ya, di mataku ... Papa Radit kelihatan banget sayang sama kamu. Terlebih saat aku datang dan mengakui perbuatan salahku padamu dan meminta untuk menikahimu. Papa kan marah. Marahnya Papa itu bukti kalau Papa sayang banget sama kamu. Dia terluka karena putrinya datang-datang pagi hari dan mengaku ada pria asing yang mau tanggung jawab," balasnya.
Mendengarkan cerita Aksara, Arsyilla pun menganggukkan kepalanya, "Ya, semua orang tua akan kecewa sih, Kak ... Mama juga kecewa hanya saja Mama masih lembut dan tidak meluap-luap saat menunjukkan rasa kecewa dan amarahnya, berbeda sama Papa. Lagian kamu sih, datang-datang kayak gitu. Mana kamu orang asing juga. Gimana Papa enggak marah? Jangan sampai nanti kalau Ara besar, dan ada cowok yang ngeprank dia sama kayak kamu ngeprank aku," ucap Arsyilla kini.
Mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Arsyilla, Aksara pun menggelengkan kepalanya, "Ah, kalau bisa jangan deh ... aku pengennya Ara nanti dapat pria yang benar-benar mencintainya. Pendekatan pelan-pelan, pacaran yang sehat dan saling mengenal saja. Tidak perlu terlibat dalam one night stand," balas Aksara.
Semua orang tua juga tidak ingin masa lalunya terulang kembali dan anak yang akan menjalaninya. Walaupun yang dilakukan Aksara kepada Arsyilla hanyalah jebakan, tetapi Aksara ingin putrinya saat dewasa kelak mendapatkan pasangan yang baik, pendekatan pelan-pelan, dan saling mengenal terlebih dahulu.
“Aku juga pengennya gitu sih Kak … cuma kan enggak tahu garis takdirnya nanti saat dewasa. Ara mau menjadi apa saja, aku tidak keberatan. Mau dari Dosen kayak Bundanya boleh … mau jadi Arsitek kayak Ayahnya boleh,” balas Arsyilla.
“Jadi Dokter Anak sama kayak Opa Bisma juga boleh, Bunda … jadi CEO seperti Eyang Kakung dan Oma Kanaya juga tidak apa-apa,” balas Aksara.
“Ara … Anakku, jadilah orang yang berguna saat kamu dewasa nanti. Sekolahlah yang tinggi, gapai mimpimu. Ayah dan Bunda akan menjadi orang pertama yang akan selalu mensupportmu, mengulurkan tangannya untuk membantumu, jangan takut dengan dunia ini, tetapi warnailah dunia dengan caramu sendiri,” ucap Aksara yang seolah menasihati putrinya itu.
Arsyilla tersenyum melihat suaminya yang begitu bijak dan terlihat begitu sayang kepada Ara. “Kamu Ayah yang baik, Kak … i am so proud of you,” balas Arsyilla.
Ya, Arsyilla begitu bangga karena Aksara adalah Ayah yang baik. Nasihat yang diberikan Aksara kepada putrinya juga adalah nasihat yang baik. Untuk itu, Arsyilla merasa bangga kepada suaminya itu.
__ADS_1
“Makasih Bunda … hanya saja Ara adalah wanita yang bisa mengepakkan sayapnya tinggi. Aku akan bekerja keras untuk bisa menyekolahkan Ara setinggi mungkin. Biarlah dia menggapai apa yang dia mau dan dia cita-citakan. Orang tua itu mengarahkan, mendoakan, dan selalu mensupportnya,” balas Aksara.
Kini bukan waktunya bagi kaum wanita untuk mengungkung diri di dalam rumah. Para wanita berhak untuk mengepakkan sayap setinggi mungkin, menjadi apa yang dia mau, tidak perlu merasa takut dengan dunia ini, melainkan menjadi sesuatu yang berharga dan menunjukkan pesona dengan caranya sendiri. Aksara berketetapan akan bekerja keras dan memberikan peluang serta kesempatan bagi Ara untuk sekolah setinggi mungkin, menjadi apa yang dicita-citakan oleh putrinya itu saat dewasa nanti.
Para orang tua pun akan mengharapkan yang demikian bagi anak-anak mereka. Mengharapkan anak-anak saat dewasa kelak bisa menggapai mimpi dan cita-cita mereka. Aksara dan Arsyilla pun mengharapkan hal yang sama untuk Ara saat dewasa kelak.
“Amin … semoga apa yang kita harapkan kali akan terjawab ya Ayah,” balas Arsyilla. Sebab, harapan yang baik tentunya semoga menjadi kenyataan yang baik juga.
Setelahnya, keduanya sama-sama mencium pipi chubby Ara. Aksara mencium pipi kiri putrinya, sementara Arsyilla mencium pipi kanan putrinya.
“Kami sayang Ara,” ucap keduanya dengan begitu kompak.
Baik Aksara dan Arsyilla pun tersenyum, sungguh dia sangat menyayangi Ara, dan berharap kehidupan putrinya itu akan dilimpahi dengan kebaikan. Harapan adalah doa dari orang tua, dan harapan kiranya bisa menjadi kenyataan di masa depan.
“Ayah, weekend ini … main ke rumah Oma dan Opa yuk? Mumpung libur, kita udah lama enggak main ke rumahnya Oma dan Opa,” ajak Arsyilla kali ini kepada suaminya.
“Iya, boleh … hanya saja di sana ada Rangga. Aku sebenarnya khawatir,” balas Aksara.
__ADS_1
Arsyilla pun menghela nafas, dan kini wanita itu bergelayut manja di lengan suaminya, “Beli borgol aja yuk Ayah … nanti borgol saja satu tanganku dan satu tanganmu, biar kita tak terpisahkan satu sama lain. Please, percayai aku … jangankan cuma Rangga, sama artis Top Ibukota yang sedang naik daun itu saja aku tidak akan tergoda kok. Kamu pemilik diriku seutuhnya dan sepenuhnya, tidak akan ada yang lain,” sahut Arsyilla dengan dagunya pada acara infotaiment yang sedang dia lihat di saluran televisi rumahnya itu.
Aksara pun terkekeh geli mendengar perkataan dari istrinya itu, “Bisa aja sih … iya, iya … aku percaya kok. Ya sudah, bawa pakaian ganti Honey … jaga-jaga kalau Ayah dan Bunda nyuruh kita menginap, jadi kita sudah siap,” balas Aksara.