Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Kepahitan di Masa Lalu


__ADS_3

Menghadapi Alice dengan segala kengeriannya, rupanya membuat Bunda Kanaya yang merasa tertekan. Dengan menggendong Ara, Bunda Kanaya masih menangis sesegukan. Peristiwa yang nyaris saja melukai anggota keluarganya di dalam rumahnya sendiri membuat Bunda Kanaya sangat terpukul.


Pertemuan yang seharusnya menjadi temu kangen, justru berakhir dengan terlukanya Aksara. Luka gores akibat pisau yang dibawa Alice, membuat Bunda Kanaya masih takut.


Semua keluarga pun berkumpul di ruang tamu, ada Ayah Bisma yang merangkul istrinya itu.


“Sudah Bunda … semuanya aman,” ucap Ayah Bisma.


“Cuma, Yah … nyaris saja anak-anak Bunda terluka,” ucapnya dengan terisak.


Aksara pun mendekat dan memegang satu tangan Bundanya itu, “Sudah Bunda … Aksara tidak apa-apa. Katanya Rangga juga hanya luka gores kok. Aksara pasti sembuh,” ucapnya yang berusaha menenangkan Bundanya.


Sama halnya dengan Rangga yang juga berusaha menenangkan Bundanya, “Benar Bunda … Mas Aksa tidak apa-apa. Kita akan menghadang semua cobaan yang ada,” balas Rangga dengan yakin.


“Tuh, dengar dari anak-anak Bunda. Semuanya akan menghadang setiap cobaan yang ada. Jadi, Bunda jangan menangis lagi yah. Dilihatin cucunya tuh kenapa Omanya menangis,” ucap Ayah Bisma lagi.


Perlahan Bunda Kanaya pun menganggukkan kepalanya, “Iya … hanya saja, Bunda merasa terpukul. Di masa lalu, Bunda melihat peristiwa buruk di seperti ini. Terlebih dengan Aksara, bagaimana dia di masa kecil menjadi korban penculikan, dan juga terpisah dari Bunda selama empat tahun lamanya. Semuanya itu membuat Bunda sangat takut,” balasnya.


Saat Alice menodongkan pisaunya dan hendak melukai Arsyilla, tetapi yang terkena justru Aksara, seakan membuka memori pahit, ketakutan untuk terpisah dengan anaknya kembali lagi. Dada Bunda Kanaya rasanya begitu sesak.


“Aksara baik-baik saja Bunda … Aksara akan selalu selamat dan juga kita bisa bersama,” balasnya.


Arsyilla yang turut mendengarkan cerita dari mertuanya, mencoba mencerna semuanya. Terkadang ada beberapa peristiwa yang bisa membuka memori terpahit dalam hidup. Melihat Aksara menahan pisau dengan tangannya, sudah pasti membuat Bunda Kanaya berpikir yang bukan-bukan. Namun, lebih dari itu ada yang Arsyilla syukuri yaitu seluruh keluarga dalam lindungan Tuhan, semuanya selamat. Untuk suaminya, Arsyilla juga yakin bahwa Aksara akan segera membaik.


Ayah Bisma bersama Aksara dan Airlangga pun memeluk Bunda Kanaya bersamaan. Itulah keluarga, di mana satu orang merasa jatuh dan ketakutan, ada anggota keluarga yang lain yang siap memberikan pelukan hangat dan ucapan yang menenangkan.


Melihat seluruh keluarga berpelukan seperti itu, air mata Arsyilla jatuh juga. Terharu dengan momen di mana para kaum lelaki di keluarga Pradhana terlihat begitu menyayangi Bunda Kanaya.

__ADS_1


“Kami sayang Bunda,” ucap Aksara dan Rangga bersamaan.


Ayah Bisma menganggukkan kepalanya, “Ayah cinta Bunda,” ucap Ayah Bisma.


Sungguh, itu adalah ungkapan kasih sayang antara anak kepada Bundanya, dan ungkapan cinta yang tulus dari seorang suami kepada istrinya. Aksara yang memeluk Bundanya perlahan menoleh ke arah istrinya itu.


“Sini Honey,” ucap Aksara dengan membuka satu tangannya.


Arsyilla pun turut berpelukan, begitu haru rasanya. Beberapa saat berlalu, hingga akhirnya, Bunda Kanaya tersenyum.


“Makasih buat semuanya, makasih Ayah, Aksara, Rangga, dan Syilla,” ucapnya dengan menghela nafas dan mencoba menenangkan dirinya.


“Ayah sudah bilang ke security untuk menghalangi jika keluarga Om Tono datang ke mari. Bukan berniat jahat, hanya saja kita harus lebih berjaga-jaga. Kejahatan bisa datang dari mana saja,” jelas Ayah Bisma.


“Baik Ayah,” jawab Bunda Kanaya.


Ada helaan nafas kasar dari Ayah Bisma, “Dulu di masa SMA, Alice sampai mengejar mobil Ayah. Dia mengejar Aksara, hanya saja Aksara tidak mau menemuinya. Memang terlihat bagaimana gadis itu berlaku yang kurang tepat, dan cenderung ingin memaksakan kehendaknya. Ayah tidak mengira, tiba-tiba dia hendak menyerang Syilla begitu saja,” ucap Ayah Bisma.


Aksara dan Rangga yang mendengarkan ucapan Ayah Bisma pun sama-sama menganggukkan kepalanya. Siang ini menjadi siang yang berat, tetapi bersyukur semua bisa dilalui dengan baik.


“Mungkin menurut kalian Bunda berlebihan menangis seperti ini. Hanya saja, ada peristiwa pahit di masa lalu, saat Bunda harus terpisah dari Aksara. Saat melihat Aksara menghadang pisau di tangannya, membuat Bunda shock berat dan ketakutan untuk terpisah lagi dari Aksara tiba-tiba muncul. Maaf, bukannya Bunda berlebihan. Hanya saja memori pahit di masa lalu itu kembali lagi. Makasih Rangga sudah mengobati luka di tangan Mas Aksa. Bunda sangat sayang kalian berdua,” jelas Bunda Kanaya dengan lebih tenang.


Untuk mencairkan suasana, Arsyilla pun berniat untuk membuatkan minuman, mungkin saja bisa sama-sama menenangkan diri dengan secangkir Teh Hangat.


“Syilla buatkan Teh ya Bunda,” tawarnya kepada mertuanya itu.


Bunda Kanaya pun menganggukkan kepalanya, “Boleh, makasih Syilla,” jawabnya.

__ADS_1


Hanya berselang lima menit, Arsyilla telah kembali dan membawa nampan yang berisi Teh Hangat.


“Silakan Tehnya,” ucapnya dengan menaruh cangkir-cangkir dari keramik yang berisi Teh itu di atas meja.


Arsyilla juga meminta Ara dari gendongan tangan Bunda Kanaya, dan kemudian menggendong dan mencium kening putrinya itu. Di dalam hati Arsyilla juga merasa tenang dan lega, karena Ara baik-baik saja. Tidak tersakiti oleh Alice.


“Makasih juga Uncle Rangga tadi udah nyelamatin Ara,” ucap Arsyilla dengan tulus.


Merasa namanya dipanggil oleh Arsyilla, Rangga pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya, “Makasih Kak … keputusan Kak Syilla sudah tepat tadi, walaupun mempertaruhkan keselamatan pribadi, tetapi seorang Ibu akan melakukan hal yang demikian. Lebih baik dirinya terluka, asalkan anaknya selamat,” jawab Rangga.


Kasih ibu yang besar yang membuat seorang Ibu rela berkorban untuk anak-anaknya, dan di mata Rangga apa yang sudah dilakukan Kakak Iparnya tadi adalah benar.


Aksara mengamati Rangga, kemudian pria itu juga berbicara kepada adiknya yang selisih tujuh tahun darinya itu, “Makasih ya Rangga,” ucapnya.


“Iya, sama-sama Mas,” balasnya dengan tersenyum.


Diam-diam Bunda Kanaya dan Ayah Bisma mengamati interaksi Kakak Beradik itu. Ada rasa lega di dada. Setelah Rangga yang pernah mengatakan suka dengan Kakak Iparnya sendiri, sampai keputusannya untuk tidak akan mengusik rumah tangga kakaknya, dan juga sekarang Rangga juga terlibat untuk membawa Ara dan mengobati luka di tangan Aksara. Sebagai orang tua, Bunda Kanaya dan Ayah Bisma berharap bahwa putra-putranya itu akan selalu rukun, hidup berdampingan. Apa pun jalan hidup mereka, keduanya bisa selalu rukun.


“Bunda dan Ayah, kami orang tua senang melihat anak-anak, menantu, dan cucu Bunda kumpul seperti ini. Hanya sebatas kumpul bersama saja, rasanya sudah sangat senang. Bunda berharap, kalian bisa selalu rukun seperti ini. Aksara, adikmu hanya satu yaitu Rangga, dan Rangga, kakakmu hanya satu yaitu Mas Aksa. Jadi, saling menyayangi, saling rukun, sampai kalian tua nanti,” balas Bunda Kanaya.


Aksara dan Rangga pun saling menganggukkan kepalanya, “Baik Bunda,” balasnya serempak.


Rangga kemudian tersenyum, “Mas, kapan-kapan playdate yuk … sama Ara dan Thania,” ajaknya dengan tiba-tiba.


Aksara pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya, “Iya boleh … cuma bisanya weekend saja yah, pas liburan,” balas Aksara.


“Iya Mas, nunggu Ara enam bulan saja, biar bisa tengkurap dan agak besar, kalau masih sekecil ini, masih takut,” sahut Rangga lain.

__ADS_1


“Nunggu enam bulan berarti ya masih lama, kapan-kapan main bersama aja gak apa-apa kok. Aku juga sudah kangen sama Thania,” aku Aksara dengan jujur.


Bagaimana Aksara juga merasakan kangen dengan keponakan yang selalu memanggilnya Daddy itu. Kangen dengan sikap lucu dan juga ceriwisnya Thania.


__ADS_2