
Sebenarnya, Aksara begitu merasa ada yang sedang disembunyikan oleh istrinya sekarang ini. Terlihat dari Arsyilla yang beberapa tidak bisa tidur, dan istrinya yang mendadak saja sakit. Rasanya, sangat tidak mungkin seorang Dosen yang cukup mumpuni dan memiliki keterampilan mengajar yang sangat baik itu akhirnya memilih resign begitu saja. Kendati demikian, Aksara tetap tidak akan memaksa Arsyilla untuk bercerita kepadanya.
Malam ini, usai pulang dari kediaman Bunda Kanaya, Aksara justru menepikan mobilnya di sebuah pasar malam.
“Kita mampir ke sini dulu yah?” ajak Aksara.
Pria itu segera melangkahkan kaki keluar dari mobilnya dan segera membukakan pintu bagi Arsyilla. Tangannya terulur dan hendak menggenggam tangan istrinya itu.
“Kita jalan-jalan malam sebentar … cari angin,” ucap Aksara lagi.
Arsyilla pun tersenyum, tidak mengira bahwa kali ini suaminya akan memarkirkan mobilnya di bahu jalan dan mengajaknya turun di sebuah taman yang sedang menggelar acara layaknya pasar malam.
“Pasar malam?” tanya Arsyilla.
“Iya … mau jalan-jalan malam sama Istriku ini,” sahut Aksara.
Keduanya lantas saling bergandengan tangan, menyusuri jalanan yang di kanan dan kirinya begitu banyak penjual yang menjajakan dagangannya. Ada yang berjualan makanan kaki lima. Ada yang berjualan buku-buku, DVD, berbagai pita dan kaos kaki, bahkan ada yang menggelar permainan anak seperti memancing ikan dan juga lempar gelang berhadiah minuman bersoda. Taman itu terasa begitu ramai dengan aneka hiburan yang ada di sana.
“Pernah ke pasar malam sebelumnya?” tanya Aksara kepada istrinya itu.
“Aku lupa … cuma dulu pernah di ajak Mama dan Papa di Jogja. Di rumah kerabat ada pasar malam kayak gini menjelang Kemerdekaan RI. Waktu itu aku masih kecil banget, pas TK mungkin,” cerita Arsyilla sembari mengingat kenangan masa lalunya dulu.
Aksara pun tersenyum mendengar jawaban dari Istrinya itu. “Oh, kalau aku … dulu waktu di Panti Asuhan. Kalau ada pasar malam seperti selalu jalan-jalan sama teman-teman. Lihat anak-anak memancing ikan dan dapat hadiah itu udah seneng banget,” cerita Aksara kini.
Tidak mengira jika keduanya memiliki kenangan masa kecil sendiri-sendiri. Sekali pun dengan suasana yang berbeda, tetap saja keduanya pernah memiliki kenangan dengan pasar malam.
“Mau jajan?” tawar Aksara itu kepada istrinya.
Sontak saja Arsyilla tertawa, “Ya ampun … ini kita justru kayak orang pacaran. Masih pake pakaian formal dan jalan-jalan malam kayak gini. Semuanya pada lihatin kita deh Kak,” balas Arsyilla.
Sebab Arsyilla masih mengenakan kemeja dan rok, pakaian formalnya saat mengajar di kampus. Sementara Aksara mengenakan celana jeans dan kemeja. Busana mereka sama sekali tidak cocok untuk berjalan-jalan di pasar malam itu.
“Biarin … kan kita mampir, Honey. Gimana, kamu pengen jajan sesuatu?” tawar Aksara lagi kepada istrinya itu.
“Kamu bayarin?” tanya Arsyilla dengan cepat.
Aksara pun menganggukkan kepalanya, “Iya … aku yang bayar. Mau jajan apa?” tanyanya.
__ADS_1
“Beli Harum Manis itu boleh Kak?” tanya Arsyilla menunjuk penjual Harum Manis dengan beraneka bentuk yang lucu-lucu. Agaknya Harum Manis itu terlihat menggemaskan.
Aksara langsung membawa Arsyilla mendekat ke penjual Harum Manis itu dan memesankan satu buah Harum Manis untuk istrinya. Bahkan mereka melihat bagaimana penjual itu membuat dan membentuk Harum Manis dengan bentuk yang lucu-lucu itu. Arsyilla terlihat begitu senang, tidak mengira hanya membeli Harum Manis saja istrinya itu sudah terlihat begitu bahagia.
“Ihh, lucu banget nih Kak … kelinci,” ucap Arsyilla yang memegang Harum Manis yang dia beli berbentuk kelinci itu.
“Lucu kamu, Honey,” balas Aksara dengan cepat.
Arsyilla pun mengerucutkan bibirnya, terkadang jawaban suaminya memang membuatnya manyun.
“Jangan manyun-manyun gitu, nanti aku minta cium loh,” ucap Aksara sembari berbisik di sisi telinga Arsyilla.
“Kak, jangan gitu dong … baru jalan-jalan di tempat umum,” sahutnya memprotes ucapan suaminya itu.
Aksara pun tertawa. Setidaknya jika dia tidak bisa mendengar keluh kesah Istrinya, tetapi dia bisa menghadirkan kebahagiaan untuk istrinya itu.
Sembari berjalan-jalan melihat aneka barang dan makanan yang dijual di sana, Aksara dan Arsyilla melihat begitu banyak keluarga yang berjalan-jalan malam dengan membawa anak-anak mereka. Ada yang menggandengnya, ada yang menggendongnya, benar-benar keluarga yang bahagia.
“Kamu lihatin apa Kak?” tanya Arsyilla kini.
“Lihatin keluarga yang bawa anak-anak itu, Honey. Kebahagiaan dalam setiap keluarga itu berbeda-beda. Lihatlah, mereka hanya jalan-jalan malam seperti, tetapi terlihat begitu bahagia. Banyak kesederhanaan yang bisa mendatangkan kebahagiaan,” jelas Aksara.
“Aku setuju, Kak … nyatanya dengan kesederhanaan justru bisa menghadirkan begitu banyak kebahagiaan. Sama seperti keluargaku. Mama dan Papa itu begitu sederhana, tetapi mereka begitu bahagia,” jawab Arsyilla.
Arsyilla lantas mempererat genggamannya di tangan suaminya itu seraya berkata, “Sama seperti aku yang bahagia memilikimu. Mungkin awalanya aku merutuki nasibku sendiri. Menyesali pernikahan kita. Akan tetapi, seiring dengan berjalannya waktu melihat kebaikan dan kesabaranmu, aku menjadi yakin bahwa kamu adalah jodoh yang Allah kirimkan untukku,” balas Arsyilla dengan sungguh-sungguh.
Senyuman terbit begitu saja dari sudut bibir Aksara. Pria itu rasanya ingin memeluk istrinya, tetapi keduanya berada di tempat umum dan ramai orang. Sehingga Aksara hanya tersenyum dan menggenggam erat tangan Arsyilla.
“Selamanya genggam tanganku, Syilla … jangan pernah lepaskan tangan ini. Kita akan menjalani hari-hari kita setiap hari. Apa pun itu. Susah maupun senang. Sehat maupun sakit, kita akan selalu bergandengan tangan seperti ini,” balas Aksara.
“Iya Kak … aku akan selalu menggandeng tanganmu. Sama sepertimu, jangan pernah lepaskan tanganku juga,” sahut Arsyilla.
Keduanya lantas melanjutkan perjalanan. Menyisiri jalan setapak yang begitu ramai dengan orang dan anak-anak itu. Hingga kemudian keduanya memilih duduk sejenak di bangku taman sembari melihat komedi putar dan biang lala yang berkerlap-kerlip dengan nyala lampu beraneka warna.
Arsyilla memotret Harum Manis yang tadi dibelikan oleh suaminya itu, kemudian membukanya. Memakannya di sana.
“Ayo Kak, cobalah,” ucap Arsyilla sembari memberikan potongan kecil dari Harum Manis itu kepada Aksara.
__ADS_1
Pria itu pun membuka mulutnya dan menerima suapan Harum Manis dari istrinya itu.
“Ini Harum, kamu Manis,” celetuk Arsyilla dengan tiba-tiba.
Arsyilla pun terkekeh geli dengan perkataan suaminya itu. “Aku enggak Manis, Kak ….”
Arsyilla menyahut dengan cepat, dia sangat tidak suka dipanggil ‘manis’. Entah rasanya begitu geli dengan kata-kata ‘manis.’
Aksara pun sontak tertawa, pria itu mengambil bagian kecil dari Harum Manis itu lalu menyuapkannya untuk Arsyilla.
“Sekarang kamu … makanlah ini,” ucap Aksara.
Arsyilla pun mengangguk dan kemudian menerima suapan Harum Manis itu dari tangan suaminya.
“Karena kamu yang suapin, rasanya gula berkali-kali lipat tambah manis,” sahut Arsyilla.
Keduanya pun sama-sama terkekeh geli. Rupanya ide untuk berhenti dan berjalan-jalan malam adalah ide yang ampuh untuk membuat istrinya itu terlihat bahagia dan begitu lega. Sungguh, Aksara selalu ingin melihat wajah penuh kebahagiaan dari istrinya itu.
“Kamu bisa saja … nanti begitu sampai apartemen jangan lupa gosok gigi, ini kandungan gulanya banyak banget,” pesan Aksara kepada istrinya.
“Iya Kak … habis tadi sapa yang membelikan ini coba?” keluh Arsyilla kini.
“Aku yang beliin … tapi aku seneng, bisa beliin kamu Harum Manis ini. Dari kecil aku pengen beliin kamu Harum Manis, baru bisa kesampaian sekarang,” ucap Aksara lagi.
Perlahan Arsyilla pun menatap wajah suaminya itu, “Makasih Kak ….”
Aksara mengernyitkan keningnya, “Untuk apa?” tanyanya.
“Bersamamu … hidupku ini penuh dengan kebahagiaan. Terima kasih sudah menghadirkan banyak kebahagiaan dalam hidupku,” ucap Arsyilla dengan sungguh-sungguh.
“Sama-sama, Honey … bersamamu aku juga bahagia. Akan lebih bahagia, jika kamu bisa membagi semuanya denganku. Bercerita apa pun yang kamu alami,” jawab Aksara.
Arsyilla agaknya tahu kemana arah perbincangan suaminya kali ini. Kemudian wanita itu pun tersenyum.
“Aku selalu cerita sama kamu kok Kak … kamu tempat pertama bagiku berkeluh kesah. Kak, tadi aku sudah mengajukan surat resign, tetapi mau dipertimbangkan. Katanya kampus memiliki pertimbangan sendiri,” cerita Arsyilla pada akhirnya.
Aksara pun mendengar cerita istrinya itu, “Honey, aku tidak masalah nanti kamu bekerja atau tidak bekerja yang penting apa pun keputusanmu, aku akan menghargainya. Apa pun keputusanmu yang pasti kamu tidak akan menyesalinya. Kalaupun nanti usai punya anak dan kamu akan kembali mengajar, aku sama sekali tidak keberatan. Aku tidak ingin kamu kehilangan sesuatu yang membangkitkan passionmu demi aku,” ucap Aksara dengan sungguh-sungguh.
__ADS_1
Arsyilla pun menganggukkan kepalanya, “Iya Kak … jadi, jadi resign atau tidaknya aku nanti, tergantung dari pihak kampus ya Kak,” balas Arsyilla.
Keduanya kemudian kembali menikmati malam itu. Membiarkan hiruk-pikuk kerumunan yang seakan membingkai kisah mereka berdua di sana.