
“Ayo, kita jadi ke rumah Mama Khaira dan Papa Radit kan?” tanya Aksara menjelang sore itu.
Pria itu sengaja mengetuk pintu kamar Arsyilla dan membukanya perlahan. Aksara telah bersiap dengan mengenakan kaos oblong putih, dipadukan dengan jaket denim, dan juga celana jeans.
Melihat Aksara yang sudah berdiri di depan kamarnya pun, Arsyilla mengangguk, “Iya, sebentar ya … sepuluh menit,” ucapnya.
Seorang wanita memang membutuhkan waktu untuk bersiap-siap. Oleh karena itulah, Arsyilla memang hendak mengganti bajunya terlebih dahulu dan sedikit merias wajahnya dengan bedak dan sedikit lipstik. Lantaran hari masih terik, sekalipun sudah sore, rasanya di luar sana masih panas, sehingga Arsyilla memilih menguncir rambutnya.
“Ayo,” ucap Arsyilla begitu dia sudah keluar dari kamarnya menghampiri Aksara yang terlihat menunggunya di ruang tamu.
“Pakai jaketmu,” ucap pria itu.
Arsyilla pun mengernyitkan keningnya, “Kenapa harus pakai jaket?” tanyanya.
“Kita naik motor, sekaligus biar motorku mesinnya panas, sudah lama enggak aku pakai. Lagipula palingan hanya setengah jam ke rumah Mama,” jawab Aksara dengan tenang.
Mengangguk, Arsyilla kembali masuk ke dalam kamarnya dan mengambil sebuah jaket dari sana. Memakainya dengan cepat.
“Yuk, sudah …,” jawabnya lagi.
Setelah itu, keduanya kemudian keluar dari unit apartemen mili Aksara, menuju ke parkiran di basement, tampak di sana sebuah Motor Ducati dengan tipe Scambler Sixty2 berwarna merah terparkir di parkiran basement apartemen itu.
“Kita naik ini?” tanya Arsyilla yang merasa tidak yakin dengan motor layaknya tunggangan para Ryder di Moto GP itu terparkir dengan gagah di sana.
Aksara nyatanya justru mengangguk, “Iya, naik ini. Kenapa?” tanyanya.
Arsyilla pun menghela nafasnya, “Aku takut,” jawabnya.
Akan tetapi, Aksara justru tersenyum dan dia langsung memasangkan sebuah helm dan sekaligus memasangkan pengaitnya dengan sempurna di bawah dagu Arsyilla. Pria itu justru tersenyum melihat wajah Arsyilla yang bingung dan sekaligus panik di hadapannya itu.
__ADS_1
“Enggak perlu takut, kan selama kamu bersamaku, sudah pasti kamu akan aman,” jawabnya.
Setelah itu, Aksara menaiki motor gede itu dan menghidupkan mesinnya sejenaknya. Beberapa saat tangannya tampak memutar gas, setelah itu dia mengisyaratkan kepada Arsyilla untuk segera menaiki motornya.
“Ayo naiklah,” pinta Aksara.
“Naiknya gimana? Ini tinggi banget,” jawab Arsyilla.
Setelah itu, Aksara sedikit menoleh ke arah Arsyilla, “Pijakkan kakimu di footstep (pijakan kaki), satu tanganmu berpegang ke bahuku, setelah itu sedikit naik dan duduklah di belakangku,” ucapnya memberi instruksi.
Mendengar instruksi yang diberikan Aksara, Arsyilla pun mengikuti yang diinstruksikan suaminya itu. Tangannya mencengkeram bahu Aksara untuk berpegangan, setelah itu Arsyilla berhasil menduduki sepeda motor itu.
Aksara tersenyum, rupanya Arsyilla benar-benar mengikuti instruksinya. Bahkan menurut Aksara, dalam pernikahannya yang sudah berjalan satu bulan ini, Arsyilla sudah tidak terlalu menunjukkan wajah jutek, walau pun wanita itu masih menjaga jarak dengannya. Sembari melajukan motornya, Aksara melirik dari kaca spion, lagi-lagi pria itu tersenyum melihat Arsyilla yang tengah membonceng dirinya.
Berbeda dengan Aksara yang senyum-senyum sendiri, Arsyilla justru berusaha setengah mati untuk mempertahankan posisi duduknya. Sebab, jok belakang motor Aksara itu lebih tinggi dan kemudian condong ke depan.
“Kamu enggak sengaja kan?” tanya Arsyilla kali ini kepada pria yang tengah memboncengkannya.
“Naik motor ini, bukan maksud buat deket-dekat aku kan?” tanya Arsyilla kali ini.
Aksara justru tertawa, “Enggak, buat apa juga aku sengaja. Tanpa aku membuat kesengajaan saja, semalam justru kamu yang deket banget sama aku. Tidur aja di dadaku coba, raba-raba tubuh aku,” jawabnya dengan spontans.
Astaga, rasanya Arsyilla hanya bisa menggeram pasrah. Kenapa pria itu terkadang berbicara begitu frontal kepadanya. Lagipula, yang menidurkannya semalam kan dia, lagipula orang tidur juga mana sadar kalau sedang meraba-raba.
“Kamu enggak pengen pegangan aku?” tanya Aksara kini, saat sepeda motor itu berhenti saat lampu lalu lintas sedang merah.
Arsyilla justru menggeleng, “Enggak, nanti ada yang protes karena aku meraba-raba tubuh orang,” sahut Arsyilla.
“Kamu pegangan aja juga gak apa-apa kok.” Aksara menjawab, kemudian tangannya bergerak mencari tangan Arsyilla di belakang punggungnya dan melingkarkannya di pinggangnya.
__ADS_1
“Nah, gini … kalau aku sedikit ngebut kan aman,” jawabnya lagi.
“Please jangan ngebut, aku takut,” jawab Arsyilla kini.
Mendengar bahwa memang Arsyilla ketakutan, Aksara pun mengangguk, “Oke, aku akan pelan-pelan bawa motornya, tapi harus pegangan gini sampai rumah Mama ya. Kan tinggal beberapa tikungan lagi tuh,”
Tidak menjawab, tetapi nyatanya kedua tangan Arsyilla masih melingkar di pinggang Aksara. Begitu lampu hijau, Aksara refleks menarik gasnya lebih cepat dan mengerem agak mendadak, sontak saja bagian depan tubuh Arsyilla mengenai punggungnya.
“Tuh, sengaja kan,” jawab Arsyilla lagi.
“Eh, enggak … enggak sengaja. Ada kucing lewat itu loh,” sahutnya tertawa geli.
Begitu telah sampai di rumah Mama Khaira dan Papa Radit, suara knalpot motor gede itu cukup membuat sang empunya rumah itu keluar rumah lebih cepat. Mereka tidak mengira jika Arsyilla dan Aksara lah yang datang.
“Kalian yang datang ya? Papa kira siapa,” sapa Papa Radit.
“Maaf, Pa … knalpotnya berisik ya Pa?” tanya Arsyilla sembari memeluk Papanya itu.
“Enggak juga, cuma sedikit kaget saja,” jawab Papa Radit.
Setelah itu, Arysilla pun tertawa, “Aku masuk ke kamar dulu ya Pa, capek,” jawabnya dan berlalu begitu saja ke kamarnya terlebih dahulu.
Kemudian Aksara pun menjabat tangan Papa mertuanya itu, “Sore Pa,” sapanya.
Akan tetapi, saat berbalik dan mengambil kuncinya yang masih berada di sepeda motornya, dompet Aksara pun jatuh. Sementara Papa Radit yang masih berada di belakangnya, refleks berjongkok dan mengambil dompet hitam yang terbuka itu.
Terdapat sebuah foto yang tersimpan di dalam dompet. Perlahan, Papa Radit mengambil dompet itu, mengangkatnya sejenak, kemudian menatap pada foto berwarna tetapi dari usia foto itu dapat terlihat jelas bahwa itu adalah foto lama.
“Kamu Aksara?” tanya Papa Radit perlahan.
__ADS_1
Senyuman di wajah Aksara pun sirna sudah, satu rahasia yang selama ini dia sembunyikan akankah terkuak sekarang juga. Sembari menghela nafasnya, Aksara berbalik perlahan dan menatap Papa Radit.
“Saya Aksara, Ayah,” jawabnya diikuti dengan air mata yang menetes begitu saja dari sudut matanya.