Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Obrolan Malam


__ADS_3

Sepanjang sore hingga malam pun dilalui Aksara dan Arsyilla dengan berkumpul dengan Bunda Kanaya, Ayah Bisma, dan Thania. Unit apartemen itu terasa begitu ramai, dan tentu teka-teki siapa Thania pun akhirnya telah terbongkar. Menjelang jam 20.00, barulah Bunda Kanaya dan Ayah Bisma berniat untuk kembali ke kediamannya.


“Ya sudah, kami pamit ya … Syilla mainlah ke rumah Bunda. Menginap di sana sesekali,” pinta Bunda Kanaya.


Arsyilla pun menganggukkan kepalanya, “Baik Bunda … akhir pekan nanti Syilla akan main ke sana bersama Kak Aksara,” balasnya.


“Terima kasih untuk hari ini yah … kami pulang dulu,” pamit Bunda Kanaya dan Ayah Bisma.


“Bye Daddy … bye Onty, Thania pulang dulu yah,” pamit Thania dengan begitu lucunya.


Setelah mertuanya dan Thania pulang, Arsyilla lantas membersihkan beberapa peralatan makan. Kemudian memilih mencuci mukanya dan menggosok giginya, setelahnya Arsyilla yang merasa kecapekan langsung merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Sekian jam lamanya hanya sekadar duduk, bisa rebahan rasanya nyaman sekali.


Beberapa saat berlalu, rupanya Aksara pun bergabung dengan Arsyilla dan merebahkan dirinya di sisi istrinya itu.


“Mau langsung tidur?” tanya Aksara.


“Belum ngantuk, cuma punggungku capek aja Kak … soalnya baru sekarang bisa rebahan,” balasnya.


Tentu Aksara tahu bahwa sepanjang hari usai membersihkan apartemen dan kedatangan Bunda Kanaya, Ayah Bisma, dan Thania tentu membuat Arsyilla begitu kecapean.


“Mau aku pijitin?” tawar Aksara.


Dengan cepat Arsyilla pun menggelengkan kepalanya, “Tidak Kak … kamu juga capek. Rebahan saja, nanti juga hilang sendiri kok capeknya,” balas Arsyilla.

__ADS_1


Setelahnya, Arsyilla tampak memperhatikan sosok suaminya itu. Teringat dengan ucapan Bunda Kanaya bahwa Aksara adalah tipe pria yang sering kali menjawab hanya sepotong-sepotong, membuat Arsyilla menerka-nerka sendiri dalam benaknya.


“Kak, boleh aku berbicara?” tanya Arsyilla.


“Tentu boleh dong, ada apa?” sahut Aksara.


“Aku baru menyadari kalau apa yang diucapkan Bunda Kanaya tadi ada benarnya, kenapa kamu kalau berbicara itu sepotong-sepotong dan kesannya hanya memberikan jawaban secara lugas saja?” tanya Arsyilla.


“Bukan begitu Sayang … hanya saja, kadang aku berpikir kalau nanti waktunya tiba biar kamu ketemu sama Rangga sendiri dan tahu kebenarannya. Jujur saja, sekali pun aku Kakaknya, tetapi itu semua adalah privasi dari Rangga,” balas Aksara.


Mungkin karena Aksara dan Rangga sama-sama cowok dan juga biasanya sesama cowok itu dingin, jadi Arsyilla pun memahami itu. Dalam hal ini, menurut Arsyilla pun benar bahwa semuanya adalah privasi Rangga, tetapi tidak ada salahnya memberitahu bahwa Thania adalah putri dari adiknya sendiri.


“Paling tidak, kamu itu bercerita siapa anggota keluarga kamu. Siapa Thania itu, siapa adik kandung kamu itu, kan ya tidak masalah, Kak … sama seperti aku dan keluarga kami yang juga mengenalkan siapa Arshaka dulu kepada kamu,” balas Arsyilla.


Di sini, Aksara pun tersadar bahwa memang dirinya begitu tidak gamblang. Seperti ini justru dia sendiri yang memicu kenapa Arsyilla memiliki berbagai pertanyaan seperti itu dalam benaknya.


“Janji … aku akan lebih terbuka sama kamu,” ucap Aksara lagi.


Perlahan Arsyilla pun menganggukkan kepalanya. Mencoba memahami sang suaminya dengan karakternya yang begitu unik itu, “Iya Kak … pernikahan kita juga baru seumur jagung. Jika ada miss komunikasi itu wajar. Hanya saja, tetap utamakan komunikasi. Pria memang berpikir sekadar memberi jawaban itu sudah cukup, tetapi bagi wanita perlu mendengar bagaimana alurnya, prosesnya, sampai akhirnya mendapatkan kesimpulan. Jalan pikiran pria dan wanita itu berbeda, tetapi ingat nasihat Ayah Bisma tadi, kita bisa berkolaborasi bersama dalam membangun rumah tangga ini. Saat aku dan kamu menjadi kita, ya mari berkolaborasi bersama,” jelas Arsyilla.


Aksara pun mendengarkan penjelasan dari istrinya itu dengan serius. Dia sadar dengan kekurangannya, dan Aksara ingin lebih memperbaiki dirinya. Ingin menjadi sosok yang bisa berkolaborasi dengan istrinya itu.


“Maaf yah … mulai hari ini, jika kamu bertanya aku akan jelaskan secara detail dan gamblang, sama seperti permintaan Bunda Kanaya tadi,” jawab Aksara.

__ADS_1


“Iya Kak … jauh lebih baik jika aku mengetahui segala sesuatu langsung darimu. Tidak perlu menerka-nerka dengan pikiran dan perasaanku sendiri. Tentunya aku juga akan merasa lebih lega,” sahut Arsyilla.


“Sekarang sudah lega kan? Sudah ketemu Rangga secara langsung, walau secara virtual,” balas Aksara.


Arsyilla pun menganggukkan kepalanya, “Iya … lega. Cuma kadang kasihan sama Thania. Orang tuanya harus studi jauh, dan dirinya bersama Ayah Bisma dan Bunda Kanaya. Seorang anak membutuhkan sosok Mama dan Papanya, Kak. Sebab, Papa dan Mama itu figur dan teladan utama dan pertama bagi anak,” ucap Arsyilla kali ini.


Memang faktanya demikian, dalam sosialisasi pertamanya orang tua yaitu Ayah dan Ibu adalah figur teladan utama dan pertama bagi anak. Anak-anak akan belajar segala sesuatu pertamanya dari kedua orang tuanya.


Aksara pun menghela nafasnya, melihat Arsyilla. Kemudian pria yang semula rebahan itu kini memilih duduk dan menyadarkan punggungnya di head boardnya.


“Bagaimana juga, Sayang … tiap-tiap orang juga memiliki keputusan dan prioritas dalam hidup sendiri-sendiri. Sama seperti Rangga, merasa masih muda, juara umum di SMA, dan cita-citanya ingin seperti Ayah. Dia sudah memutuskan untuk memilih kan? Sekalipun dulu keluarga memberikan pertimbangan dan menyarankan untuk kuliah S2 di Jakarta saja, Rangga nyatanya terbang ke Melbourne.”


“Oh … begitu yah. Ya benar, hidup itu memang penuh pilihan, dan setiap keputusan dan pilihan yang kita ambil pun akan memiliki risikonya sendiri-sendiri. Maaf yah Kak … aku bukan bermaksud mencampuri rumah tangga Rangga, hanya saja aku lebih respek ke Thania,” balas Arsyilla.


“Iya Sayang … tidak apa-apa. Maka dari itu, aku tuh justru kelihatan sebagai Daddynya Thania. Sementara Rangga yang adalah Papanya justru terlihat seperti Unclenya,” jawab Aksara.


Arsyilla pun tersenyum, dia teringat bahwa kali pertama bertemu Aksara dan Thania, dirinya sendiri pun menganggap bahwa Aksara adalah Daddynya Thania. Sekarang setelah mengetahui kebenarannya, Arsyilla merasa betapa bodohnya dirinya saat dulu yang memiliki pemikiran seperti itu, tetapi itu semua terjadi karena Aksara yang tidak memberikan penjelasan kepadanya.


“Lain kali, cerita ya Kak … aku memberi pertanyaan singkat, tapi jawabanmu panjang kali lebar tidak masalah kok. Aku akan mendengarkannya. Aku kan sudah berjanji untuk memberikan ekdua telingaku untukmu,” balas Arsyilla.


Aksara pun mengangguk tangan pria itu bergerak dan menggenggam tangan istrinya, saling menautkan jari-jemarinya di sana, “Iya … maaf kan aku juga yah … aku salah dalam hal ini. Sekarang, mari kita berkolaborasi bersama tanpa harus kehilangan jati diri dan keunikan kita masing-masing. Aku akan lebih terbuka dan menjelaskan semuanya kepadamu, aku janji,” sahut Aksara.


Mendengar perkataan suaminya Arsyilla pun mengangguk. Rumah tangga memang memiliki warnanya sendiri-sendiri, kali ini ternyata ada satu warna yang bertambah di rumah tangga keduanya, warna yang bernama keterbukaan. Keduanya mengenal warna itu dari sosok Thania, dan berjanji akan memperbaiki diri di kemudian hari.

__ADS_1


Di lain waktu, tentu akan begitu banyak warna yang mengisi rumah tangga mereka. Perpaduan berbagai warna pun bisa menghasilkan perpaduan yang harmonis atau sebaliknya, tetapi dengan saling terbuka setidaknya mereka bisa memadu-padankan warna bersama. Menghiasi dan mengkombinasikan warna menurut selera mereka berdua. Itulah warna dalam rumah tangga.


__ADS_2