
“Maksudnya Kakak yang seperti apa, Pak Radit?” tanya Ayah Bisma yang seolah bertanya-tanya dengan apa yang baru dikatakan oleh besannya itu.
Merasa mendapatkan pertanyaan tiba-tiba, Papa Radit lantas menatap wajah Aksara. Sang Papa menerka-nerka bahwa mungkin saja Aksara belum menceritakan benang merah yang mengikat mereka di masa lampau. Aksara tampak mengangguk, “Iya, Pa,” jawabnya lirih.
“Sebaiknya kita bicarakan di tempat lain saja Pak Bisma,” jawab Papa Radit dengan sopan.
“Bagaimana kalau Pak Radit dan Bu Khaira singgah ke kediaman kami. Sekalian kita bisa makan malam bersama,” undang Bunda Naya kali ini.
“Baiklah,” jawab Papa Radit.
Usai itu, dengan menaiki mobilnya sendiri-sendiri mereka menuju kediaman keluarga Bisma.
“Mari, silakan masuk,” ucap Bunda Naya yang mempersilakan besannya itu untuk masuk ke dalam rumahnya.
Kini mereka semua tengah berkumpul di ruang tamu, “Bagaimana Pak Radit?” tanya Ayah Bisma yang merasa sudah tidak sabar ingin mendengar cerita dari besannya itu.
Merasa harus menengahi, akhirnya Mama Khaira yang akan membuka ceritanya sore itu.
“Jadi begini Pak Bisma, sebenarnya kami sudah lama mengenal Aksara,” ucapnya yang seakan membuka cerita masa lalu yang menghubungkan mereka itu.
“Bu Khaira sudah mengenal Aksara sebelumnya di mana?” tanya Bunda Kanaya kali ini.
“Di Panti Asuhan Kasih Ibu, mungkin dua puluh tahun yang lalu,” jawab Mama Khaira. Wanita itu lantas tampak menghela nafasnya sejenak dan mulai kembali melanjutkan ceritanya.
“Jadi, saat saya usai melahirkan Arsyilla. Saya meminta kepada suami saya untuk bisa berbagi kasih kepada anak-anak yang kurang membutuhkan di Panti Asuhan, sebagai wujud syukur karena bisa melahirkan putri kecil kami. Hingga akhirnya, kami mendatangi panti asuhan Kasih Ibu dan kami diterima baik oleh Ibu Lisa. Di sana kami bertemu dengan anak-anak yang kurang beruntung, dan saya saat itu membacakan sebuah dongeng untuk anak-anak di sana. Ada satu anak yang mengambil atensi saya usai saya membacakan dongeng Itik Kecil Buruk Rupa. Si anak itu merasa dirinya seperti si Itik kecil yang ditinggalkan oleh keluarganya, tidak memiliki siapa-siapa, dan berakhir di panti asuhan itu. Saya ingat benar nama anak berusia 4 tahun waktu itu adalah Aksara. Barulah beberapa pekan yang lalu, suami saya melihat foto kenangan kami dari dompet Aksara yang jatuh, dan saat itu juga Aksara mengatakan bahwa dia adalah Aksara kami saat kecil,” cerita Mama Khaira, pandangan matanya seolah menerawang mengulang kembali memori puluhan tahun yang lalu.
__ADS_1
Mendengar cerita dari besannya, nyatanya Bunda Kanaya justru berkaca-kaca, tidak menyangka dirinya dipertemukan dengan sosok orang yang dulu selalu diceritakan Aksara. Hasrat hati, dulu Bunda Kanaya ingin berterima kasih secara langsung. Kini, setelah puluhan tahun berlalu barulah Bunda Kanaya bisa melihat sosok keluarga yang sudah menyekolahkan anaknya bahkan beberapa tahun setelahnya, keluarga itu masih mengirimkan uang sekolah secara rutin untuk Aksara.
“Jadi Bu Khaira dan Pak Radit adalah keluarga yang sudah menyekolahkan Aksara?” tanya Bunda Kanaya.
Sebelum Mama Khaira menjawab, rupanya Aksara mengeluarkan foto lama itu dari dompetnya. “Foto ini Bunda, beliau adalah Ayah Radit dan Ibu Khaira. Sosok orang berhati malaikat yang sudah membantu Aksara waktu kecil dulu. Berkat keluarga Ayah dan Ibu, Aksara merasa tidak kesepian di Panti Asuhan, setiap bulan ada yang Aksara nantikan untuk mengunjungi Aksara. Sekali pun, tidak bertemu setiap hari tetapi Ayah Radit dan Ibu Khaira terlihat menyayangi Aksara dengan tulus,” sambung Aksara.
Ayah Bisma tampak menghela nafasnya, “Saya mengucapkan terima kasih kepada Bu Khaira dan Pak Radit, tidak menyangka kita bisa bertemu di situasi yang seperti ini. Dahulu, usai menemukan Aksara, kami ingin mengucapkan terima kasih secara langsung. Lantaran tidak memiliki alamat Pak Radit, kami berniat tetap mengunjungi Panti Asuhan, dengan harapan bisa bertemu kembali di sana. Nyatanya sia-sia. Akan tetapi, Tuhan masih memberikan kesempatan baik sehingga saya bisa mewakili keluarga saya berterima kasih kepada Bu Khaira dan Pak Radit,” ucapnya.
“Sama-sama Pak Bisma, tidak mengira bahwa kami dipertemukan dengan Aksara dengan cara seperti ini. Sekali pun di awal, saya sempat kesal dengan pemuda ini karena telah berani menodai putri saya, sekarang saya bisa sedikit lega, karena Arsyilla memiliki suami yang benar-benar mencintainya,” jawab Papa Radit.
“Maafkan Aksara untuk kesalahan satu malam itu, Pak Radit. Sebagai orang tua, kami pun juga tidak membenarkannya,” sambung Ayah Bisma.
Mendengar perkara kesalahan satu malam itu, Aksara hanya bisa menunduk. Seolah-olah kali ini, dirinya menjadi seorang terdakwa yang tengah diadili oleh keluarganya sendiri.
Seolah menemukan kembali memorinya di waktu lalu, Mama Khaira lantas memberanikan diri untuk bertanya kepada besannya, “Bu Kanaya apakah dulu kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya Mama Khaira perlahan.
“Di Singapura, di Jewel Changi. Saat itu, jikalau ingatan saya tidak salah, Bu Kanaya pernah bilang putra Anda yang hilang bernama Aksa, kan?” tanya Mama Khaira.
Apa yang dikatakan Mama Khaira nyatanya juga memicu terhubungan sinapsis di dalam otak Bunda Kanaya, “Jadi Anda, wanita itu ya? Yang berkata bahwa Anda menikah muda, belum lulus kuliah sudah menikah? Dan kita juga sempat bertemu di salah satu taman di Ibukota, benarkan?” tanyanya.
Mama Khaira pun mengangguk, “Iya benar, jadi Aksa itu adalah Aksara yah?” tanya Mama Khaira lagi.
“Benar, Aksa itu adalah Aksara. Wah, saya tidak mengira bahwa kisah kita cukup panjang. Bahkan di masa lalu, kita pernah bertemu,” balas Bunda Kanaya.
Seolah ikut menimpali pembicaraan para istri, Ayah Bisma pun bertanya, “Memangnya Bu Khaira menikah muda ya?” tanyanya perlahan.
__ADS_1
“Iya benar, saya menikah dengan Suami saat saya masih berusia 22 tahun. Masih kuliah waktu itu,” jawabnya dengan tertawa.
“Usia 22 tahun dan masih kuliah sudah menikah?” tanya Ayah Bisma lagi.
“Iya, kami dijodohkan oleh kedua orang tua kami. Bersyukurnya setelah mengalami pasang surut, akhirnya kami bisa saling mengisi satu sama lain, membesarkan Arsyilla dan Arshaka bersama-sama,” jawab Papa Radit kali ini.
“Bagaimana pun, kami mengucapkan terima kasih Bu Khaira dan Pak Radit, harus bagaimana kami membalas kebaikan Bu Khaira dan Pak Radit di masa lalu?” tanya Ayah Bisma kali ini.
Akan tetapi Papa Radit menggelengkan kepalanya, “Tidak perlu membalas untuk apa yang terjadi di masa lalu. Lagipula, kami sangat menyayangi Aksara. Kami melakukannya dengan tulus,” jawab Papa Radit.
Ya, bagi Papa Radit kebaikan tidak harus dibalas dengan kebaikan. Sebab melakukan kebaikan tanpa menuntut balas adalah sebuah sikap yang terpuji. Maka dari itu, Papa Radit sama sekali tidak menuntut balas, karena faktanya mereka dulu pun begitu menyayangi Aksara.
“Aksara benar, dirinya telah bertemu sosok orang tua yang baik. Mungkin kami adalah orang tua kandungnya, tetapi Anda berdualah yang sudah menjadi figur teladan untuk Aksara,” ucap Dokter Bisma.
Aksara lantas menatap wajah Arsyilla yang duduk di sampingnya, “Dan, Aksara akan selalu menjaga dan mencintai Syilla. Apa pun yang ada di depan nanti kami akan menjalaninya dengan bergandengan tangan. Benarkan Syilla?” tanyanya.
Arsyilla yang sejak tadi hanya diam dan mendengarkan cerita kedua orang tuanya perlahan mengangguk, “Benar, tetapi Syilla juga minta supaya kali ini harus lulus dan tidak boleh hiatus atau cuti-cuti lagi. Benarkan Ayah Bisma?” todongnya kali ini kepada Ayah Mertuanya dengan langsung.
Sontak saja mereka yang ada di sana tertawa, tidak mengira Arsyilla akan meminta Aksara untuk lulus dan tidak boleh hiatus lagi. Ayah Bisma pun turut tergelak dalam tawa.
“Benar Syilla, kamu dorong saja suamimu itu. Ayah yakin, jika kamu yang memintanya pasti dia akan melakukannya dengan sungguh-sungguh.”
Setelah itu, Ayah Bisma menatap wajah Aksara, “Tuh, Aksara dengar permintaan istri dan sekaligus Dosenmu. Kamu harus lulus, jika tidak Syilla meminta pihak kampus untuk men-drop out kamu.”
Kembali tawa seluruh ruang tamu petang itu. Rupanya kini semua masalah di masa lalu sudah terurai dengan jelas. Benang merah yang menggabungkan kisah mereka telah terlihat dan tersambung dengan indahnya.
__ADS_1