
Keesokan harinya, rombongan keluarga itu menyewa sebuah mobil yang akan mereka gunakan untuk mengeliling tempat-tempat pariwisata yang indah di kota Jogjakarta. Selain itu, ada Aksara dan Arsyilla yang menikmati liburan berdua sebelum usia kehamilan Arsyilla kian besar nanti.
"Kita kemana sekarang?" tanya Arsyilla kepada keluarga besarnya itu.
"Ke Candi Prambanan," jawab Papa Radit dengan cepat.
Mendengar nama Candi Prambanan rupanya membuat Arsyilla begitu bahagia. Bagi Arsyilla adalah sisi romantisme yang terlihat dari bangunan batu yang begitu megah itu. Candi bukan sekadar puing-puing dan tumpukan batu, tetapi keindahan dari bangunan bernilai sejarah itulah yang harus dikagumi.
"Wah, senengnya Pa," sahut Arsyilla yang mengaku senang karena kali ini dirinya mengunjungi Candi Prambanan bersama keluarganya. Ada Mama Khaira, Papa Radit, Bunda Kanaya, Ayah Bisma, dan juga suaminya yang tentu membuat babymoon yang sudah layaknya seperti family trip ini tampak semarak.
Andai Arsyilla tahu bahwa Candi Prambanan menjadi tempat yang indah dan bersejarah bagi Mama Khaira dan Papa Radit. Puluhan tahun lalu, saat Mama Khaira tengah mengandung Arsyilla, Mama Khaira juga mengunjungi Candi Hindu termegah di Asia Tenggara ini dengan Papa Radit. Bahkan saat itu, Mama Khaira dan Papa Radit berkesempatan melihat pagelaran Sendratari Ramayana yang mengisahkan perjuangan Rama melawan Rahwana dan menolong Sinta yang pada saat itu ditawan ke Alengka.
Dua sejoli yang kala itu terbuai dengan lakon Ramayana, setting yang megah dengan latar Candi Prambanan, dan babak demi babak cerita Sendratari Ramayana yang begitu epik. Mama Khaira dan Papa Radit merasakan bagaimana bahagianya bernostalgia dengan kenangan mereka di masa muda.
"Nanti kita jalan-jalan ke sana, Honey," ucap Aksara yang saat itu mengemudikan mobil menuju arah Sleman yang berbatasan dengan Klaten, Jawa Tengah tempat di mana Candi Prambanan berdiri dengan begitu megahnya.
Begitu telah sampai di pintu masuk Candi Prambanan, Papa Radit segera mengeluarkan dompetnya dan membelikan tiket untuk rombongan keluarganya. Akan tetapi, Aksara segera mencegahnya.
"Biar Aksara saja, Pa," ucapnya.
"Biar Papa saja, Aksa," sahut Papa Radit.
"Tapi, Pa," ucap Aksara. Jujur saja dia merasa tidak enak.
Aksara merasa bahwa dirinya sudah bekerja dan memiliki uang. Jika sekadar untuk membeli tiket masuk Candi Prambanan seharga Rp. 50.000,- saja dirinya mampu.
"Biar Papa saja. Ayo, ajak Syilla dan yang lainnya masuk," ucap Papa Radit.
Melihat Papa Radit yang bersikukuh, Aksara pun menganggukkan kepalanya. Pria itu kemudian membawa Arsyilla dan keluarga untuk memasuki Candi Prambanan. Begitu masuk, mereka di sambut dengan taman yang begitu indah dengan bangunan Candi Prambanan yang berdiri dengan begitu megahnya.
"Wah, indah banget," ucap Arsyilla yang seakan terpesona dengan kemegahan candi peninggalan Kerajaan Mataram Kuno itu.
__ADS_1
"Suka enggak, Honey?" tanya Aksara kepada Istrinya itu.
"Suka, Kak … suka banget malahan. Bagiku sih ini indah," jawab Arsyilla sembari terus berjalan bersama suami beserta orang tua dan mertuanya itu.
"Apa yang membuat ini indah? Konstruksinya?" tanya Aksara.
"Iya, konstruksinya indah. Hanya bayu yang ditata sedemikian rupa, dipahat dengan indah. Bahkan di masa lampau orang-orang dari Nusantara sudah maju kebudayaannya," balas Arsyilla.
"Bener Honey. Pahatan di sini indah banget. Bahkan bisa membuat kisah di pahatan batu itu sangat keren," balas Aksara.
Kali ini terlihat Aksara dan Arsyilla yang tampak berjalan-jalan berdua, sementara para orang tuanya tampak duduk-duduk di kursi yang memang disediakan di pelataran candi. Untung saja siang itu, matahari tidak begitu terik, sehingga Arsyilla tidak begitu kepanasan saat harus mengelilingi Candi Prambanan.
“Pengen naik ke Candi Siwa itu, Kak … cuma lihat anak tangganya kok curam itu. Takut saja turunnya,” ucap Arsyilla sembari menunjuk candi induk dan yang terbesar di kompleks Candi Prambanan.
Memang di pelataran Candi Prambanan berdiri tiga candi utama yaitu Candi Siwa, Candi Wisnu, dan Candi Brahma. Di depannya berdiri candi perwara yang di dalamnya berisi patung tunggangan ketiga dewa utama itu. Ingin memasuki Candi Siwa dan melihat patung Durga yang berada di dalam candi itu. Akan tetapi, Arsyilla cukup takut untuk menuruni anak tangga yang terbuat dari batu-batu yang terlihat curam itu.
“Di sini saja, Honey … kamu baru hamil soalnya,” ucap Aksara.
“Iya … lihat darisini saja,” balas Arsyilla.
“Kalau ini bisa disusun lagi, pasti indah banget ya Kak,” ucap Arsyilla.
“Iya … ini saja yang nyusun Pemerintahan Kolonial Belanda dulu, Honey. Perlu tenaga ahli untuk menyatukan kembali batu demi batu ini hingga bisa berdiri dengan megah,” balas Aksara.
Di saat Aksara dan Arsyilla terpesona dengan megah dan epiknya Candi Prambanan, di sisi lain ada Mama Khaira dan Papa Radit yang tengah mengobrol bersama.
“Teringat masa lalu ya Pa?” tanya Mama Khaira kepada suaminya.
Papa Radit pun tersenyum dan menatap wajah istrinya yang masih begitu cantik di matanya itu. “Iya … waktu kamu hamil Syilla. Waktu itu kita kemari bersama dan kita melihat Sendratari Ramayana. Udah malam banget baru bisa sampai di hotel,” balas Papa Radit.
“Seingat itu ya Pa,” balas Mama Khaira lagi.
__ADS_1
“Ingat dong Mama … tahun-tahun pernikahan kita memang sudah lama. Namun, aku selalu mengingat momen-momen berharga dalam hidup kita. Ingat ucapanku kan, bahwa setiap momen dalam hidupku adalah kamu,” ucap Papa Radit dengan sungguh-sungguh.
Hati Mama Khaira menjadi begitu hangat mendengar ucapan suaminya itu. Tidak mengira bahwa Papa Radit mengingat semua momen yang telah mereka lalui bersama. Dicintai sebesar ini oleh suami sendiri, yang sudah menghabiskan separuh hidup bersama membuat Mama Khaira begitu bahagia.
“Kita sudah menua, Pa … tetapi candi ini masih berdiri dengan begitu megahnya.” Mama Khaira berbicara sembari melihat pelataran candi yang begitu indah itu.
“Tidak masalah, semua yang berada di bawah matahari ini memang akan dimakan waktu. Namun, cintaku kepada Mama tetap sama. Keinginanku untuk menua bersama Mama sudah dikabulkan Tuhan,” balas Papa Radit.
Tersungging senyuman di sudut bibir Mama Khaira. Wanita itu menggerakkan tangannya dan menggenggam tangan suaminya itu.
“Benar Papa … Mama juga ingin menua bersama dengan Papa. Doa dan harapan Mama sudah dikabulkan Tuhan. Separuh usiaku bahkan sudah kuhabiskan bersama dengan Papa. Papa menjadi saksi bagaimana aku menua selama ini,” ucap Mama Khaira.
“Sekarang doa kita berdua adalah kita bisa sehat dan bisa turut mengasuh cucu-cucu kita, Ma … tidak lama lagi kita akan naik kelas ke level selanjutnya. Menjadi Eyang untuk anaknya Syilla dan Aksara. Waktu terasa begitu cepat, dulu aku yang menggendongnya, menimangnya, mengantarkannya ke sekolah, dan sekarang putri kecilku itu akan menjadi seorang Ibu. Kita akan menjadi Eyang,” ucap Papa Radit dengan panjang lebar.
“Benar Pa … Mama juga akan menjadi Eyang,” balasnya dengan terkekeh geli.
“Eyang Cantik,” balas Papa Radit.
Itu bukan sekadar godaan semata. Akan tetapi, di mata Papa Radit, istrinya adalah wanita tercantik dan berhati lembut yang pernah dia temui. Wanita yang setia mendampinginya di pasang surut hidupnya.
“Papa bisa saja,” sahut Mama Khaira.
“Serius, Papa itu kalau bicara selalu serius Ma … seserius Papa mencintai Mama,” ucapnya.
Dari hubungan Mama Khaira dan Papa Radit terlihat bahwa usia hanyalah angka. Yang pasti romantisme dan keharmonisan pasangan paruh baya itu tetap hangat. Terlihat seperti pasangan muda yang masih saling mencintai satu sama lain.
“Semoga saja, Shaka juga mendapatkan jodohnya. Supaya kebahagiaan kita makin lengkap,” ucap Mama Khaira.
“Biarkan Shaka menemukan cintanya sendiri, siapa tahu nanti Shaka menemukan jodoh yang tepat untuknya," ucap Papa Radit kepada istrinya.
Memang berkaca pada pengalamannya sendiri di masa lalu, membuat Papa Radit menilai bahwa lebih baik jika anak-anak akan menemukan jodoh dan pendamping hidupnya dengan caranya sendiri. Sama halnya dengan Arsyilla yang menemukan Aksara. Di luar semua masalah yang terjadi di awal pernikahan mereka berdua, tetapi Papa Radit sangat yakin bahwa Aksara adalah pasangan yang sepadan untuk putrinya.
__ADS_1
Dengan latar Candi Prambanan yang begitu megah itu. Mama Khaira dan Papa Radit juga banyak mengurai cerita mereka. Kenangan di masa muda yang indah, dan sekarang usia bukan kendala bagi keduanya untuk mempertahankan romantisme dan kehangatan rumah tangga.
Arsyilla yang dari jauh melihat Mama dan Papa itu pun tersenyum. Cinta dan hubungan seperti itu yang dia inginkan dari suaminya. Cinta yang terus menyala, tanpa mempedulikan usia. Cinta yang terus hangat, tanpa mempedulikan perbedaan-perbedaan yang ada.