
Hari sudah begitu malam, sementara Aksara dan Arsyilla baru saja kembali usai berjalan-jalan malam di Jalan Malioboro. Sudah berjalan-jalan malam, nyatanya Arsyilla sama sekali tidak kecapekan. Wajah wanita hamil itu justru masih terlihat bersemangat dengan senyuman yang menghiasi wajahnya.
“Kamu capek enggak Honey?” tanya Aksara kepada istrinya itu.
“Enggak kok Kak … sama sekali enggak capek malahan,” balasnya.
“Padahal aku khawatir kalau-kalau kamu kecapekan. Dari pagi kita sudah ke Candi Prambanan, terus ini ke Malioboro. Aku takut kamu dan Dedek Bayi kenapa-napa,” sahut Aksara.
Tidak dipungkiri kegiatan jalan-jalan sepanjang hari ini, membuat Aksara justru mengkhawatirkan kondisi Arsyilla dan juga janin dalam kandungannya. Akan tetapi, Aksara terasa begitu lega saat Arsyilla mengatakan bahwa dirinya tidak kecapekan. Arsyilla begitu bersemangat jalan-jalan dan wisata kuliner seharian ini di Jogjakarta.
“Bunda dan Dedek Bayi baik-baik saja kok Ayah,” balasnya.
“Perut kamu enggak kenceng?” tanya Aksara sembari mengusapi perut istrinya itu.
“Enggak … biasa aja kok Kak … enggak kenceng, malahan Dedek Bayi seneng dong seharian diajak jalan-jalan dan makan-makan enak,” sahut Arsyilla.
“Ya sudah … sekarang, bobok dulu yuk … istirahat dulu. Besok pagi kita masih jalan-jalan lagi kan, kamu pengen ke mana?” tanyanya kepada Arsyilla.
“Ngikut Mama dan Bunda pengen kemana saja, Kak … keinginanku udah terpenuhi sih hari ini. Bisa ke Candi Prambanan dan ke Malioboro. Udah seneng banget,” balas Arsyilla.
Dengan saling rebahan, dan memeluk satu sama lain, perlahan Arsyilla pun terlelap dalam dekapan hangat suaminya itu. Mengistirahat diri sejenak, sebelum esok akan kembali jalan-jalan mengunjungi tempat-tempat indah di Jogjakarta.
***
Keesokan harinya …
Arsyilla terbangun. Wanita itu segera menuju ke dalam kamar mandi. Rasanya ingin sekali mandi dengan air hangat untuk menyegarkan badannya. Tanpa Arsyilla memasuki kamar mandi, mengisi bath up dengan air hangat, dan menaruh bath bomb membuat busa yang begitu melimpah di sana.
__ADS_1
Kemudian Arsyilla menggosok giginya terlebih dahulu, dilanjutkan dengan mencuci wajahnya dengan menggunakan facial foam. Arsyilla kemudian melepas satu per satu pakaian yang dia kenakan. Tubuhnya polos mutlak, pikirnya juga dirinya akan mandi, sehingga tidak masalah untuk melepaskan satu per satu pakaiannya. Sebelum berendam di dalam bath up, Arsyilla memilih untuk membasahi tubuhnya terlebih dahulu di bawah air shower.
Akan tetapi, saat Arsyilla berdiri dan merasakan percikan air shower yang hangat itu, terdengar pintu terbuka, tangan kokoh seorang pria sudah melingkari perutnya yang membuncit itu. Terkejutlah Arsyilla, hingga wanita itu menoleh ke belakang dan melihat siapa yang memeluknya tiba-tiba.
“Kak,” ucap Arsyilla dengan perkataan yang terasa tercekat.
“Hmm, pagi Honey,” sapa Aksara.
“Kamu mau ngapain Kak?” tanya Arsyilla dengan lidah terasa begitu kelu.
“Mandi,” balasnya dengan singkat.
Memang Aksara sendiri hendak mandi, pria itu bahkan sudah polos mutlak sekarang ini. Dada bidangnya bergesekan dengan punggung Arsyilla. Pria itu mendekap Arsyilla dari belakang, bahkan sekarang Aksara menyampirkan rambut Arsyilla di satu sisi, dan pria itu mendaratkan kecupan-kecupan di bahu Arsyilla. Tangannya bergerak memberi usapan di perut Arsyilla yang sudah membuncit.
Perpaduan kecupan bibir di bahu, tengkuk, hingga punggung Arsyilla berpadu dengan belaian tangan pria yang memberi usapan di perut Arsyilla membangkitkan sensasi yang membuat bulu roma wanita itu berdiri, rasa merinding yang tak bisa lagi dihindari.
Remasan tangan yang memberikan tekanan, bahkan ibu jari dan jari telunjuk Aksara yang memilin puncak buah persik itu, berpadu dengan gemericik air shower yang hangat membuat Arsyilla terengah-engah, bahkan wanita itu tak segan untuk mende-sah saat tangan-tangan suaminya bergerak kian liar dan memberikan sentuhan, belaian, remasan, dan memilin di area buah persiknya. Aksara kemudian membalikkan tubuh Arsyilla membuat wanita itu kini berhadap-hadapan dengannnya.
Tanpa banyak berbicara, Aksara meraih dagu Arsyilla dan melabuhkan bibirnya untuk menyapa bibir Arsyilla. Dengan cepat, tapi penuh dengan kelembutan Aksara mencium bibir Arsyilla. Pria itu memberikan lu-matan yang dalam dan hisapan di lipatan bibir bawah Arsyilla. Bibir yang bertemu dengan bibir, lidah yang saling menyapa dan memberikan usapan yang basah dan hangat, dan juga pertukaran saliva yang tidak bisa dihindari lagi membuat Aksara dan Arsyilla sama–sama tersulut di bawah gemericik air yang masih terus mengalir itu.
De-sahan Arsyilla kian menjadi-jadi, saat Aksara sedikit menunduk dan pria itu kini memberikan godaan dengan bibir dan lidah di buah persiknya. Permainan lidah di puncak dada itu yang membakar tubuh Arsyilla. Wanita itu memejamkan matanya dan membawa wajah Aksara untuk kian dekat dan erat ke dadanya. Godaan yang diberikan Aksara benar-benar membuat dirinya kehilangan akal.
Sementara Aksara dengan lihainya justru terus memberi godaan dan gigitan-gigitan kecil di puncak dada itu, hingga tidak membutuhkan waktu lama puncak buah persik itu pun menegang dengan sempurna. Pria itu kini kembali berdiri dengan tegak, kemudian membuka sedikit kedua paha Arsyilla. Dalam satu hentakan, Aksara menyatukan dirinya dengan Arsyilla. Sesuatu yang keras, tegang, dan hangat bisa Arsyilla rasakan, hingga wanita itu meremas bahu Aksara.
“Kak,” ucap Arsyilla lagi.
“Hmm, apa Honey,” balas Aksara dengan menggerakkan pinggulnya perlahan.
__ADS_1
Rasanya Arsyilla kian kepayahan untuk bernafas.
Gesekan yang terjadi kian menimbulkan suara-suara yang menggelitik, tetapi sudah bisa dipastikan bahwa itu adalah suara yang indah. Itu adalah suara yang menyulut keduanya untuk mereguk nektar cinta yang hanya bisa dinikmati oleh keduanya. Hujaman Aksara kian menguat, tetapi pria itu segera melembutkan hujamannya, saat melihat perut istrinya yang sudah membulat dengan sempurna.
Cengkeraman cawan surgawi milik istrinya, seakan menenggelamkan Aksara dalam lembah berisi madu yang manis. Lembah yang membawanya menikmati seribu kenikmatan yang tidak bisa definisikan. Yang bisa dilakukan adalah Aksara terus menghujam, terus menghentak, terus memberikan tusukan keluar dan masuk dengan gerakan yang seirama. Gerakan seduktif yang membuat istrinya kian mende-sah, tidak kuasa dengan gelombang yang berkali-kali menghantamnya.
Hingga di batas, Aksara menggeram. Pria itu sampai menengadahkan wajahnya merasakan perasaan yang indah. Perasaan yang bahkan tak bisa dia ucapkan dengan kata-kata. Pria itu lantas mendekap tubuh Arsyilla dengan begitu eratnya saat keduanya sama-sama merasakan pelepasan di pagi itu.
Nafas keduanya yang terengah-engah. Dua tubuh yang bersatu tanpa ada pembatas satu helai benang pun, menciptakan sensasi panas dan sekaligus indah. Aksara lantas mengangkat pinggul Aksara, sehingga terlihat seperti anak koala dalam gendongan induknya, kemudian Aksara membawa Arsyilla untuk berendam di dalam bath up dengan air hangat dan busa yang melimpah itu.
“Thanks Honey, pagi yang sangat indah,” ucapnya dengan memeluk tubuh Arsyilla itu.
“Nakal banget sih … cuma, aku seneng kamu nakalin kayak gini,” aku Arsyilla dengan tersenyum menatap wajah suaminya itu.
“Tadi, menyakiti Dedek Bayi enggak?” tanya Aksara lagi kepada istrinya.
“Enggak … dia baik-baik saja kok. Misinya Ayah berhasil dong buat tengokin Dedek Bayi,” ucap Arsyilla yang masih merasakan pelukan Aksara di tubuhnya.
Bahkan Arsyilla rela berlama-lama tanpa jarak, tanpa benang yang menempel pada tubuhnya bersama dengan suaminya itu.
“Mission Completed, Honey … aku cinta banget sama kamu,” ucap Aksara dengan mendekap erat tubuh Arsyilla itu.
Sebab, tidak ada lagi kata-kata yang bisa diucapkan oleh Aksara selain kata cinta. Kata yang mewakili isi hati dan perasaannya untuk istrinya itu. Pagi hari dengan kenangan yang indah bagi keduanya di kota Jogjakarta. Di mana mereka meninggalkan jejak cinta yang tidak akan pernah mereka lupakan.
“Sama Kak … aku juga cinta banget sama kamu. My Hubby, I Love U,” balas Arsyilla. Suara Arsyilla masih terengah-engah, tetapi justru itu terdengar seksi di telinga Aksara.
Wanita itu memberikan usapan dengan jari-jemarinya yang lentik di dada Aksara. Meraba sisi wajah suaminya. Satu tindakan yang membuat Aksara pun tersenyum dan menikmati sentuhan istrinya itu. Akan tetapi, Aksara akan menahan hasratnya. Sudah cukup satu ronde untuk menghabiskan momen berbalut kenikmatan bersama dengan Arsyilla. Dia tidak ingin membuat istrinya itu kecapekan hingga membuat kegiatan babymoon bersama keluarga itu pun terganggu.
__ADS_1