
Hari yang sudah ditetapkan untuk menggelar persidangan Bagas dan Tiara pun tiba. Pada hari ini, persidangan keduanya akan digelar. Sementara Arsyilla sendiri akan duduk sebagai korban dan juga Hakim akan meminta kesaksiannya untuk memutuskan hukuman yang akan diberikan keapda Tiara dan Bagas.
“Sudah siap Honey?” tanya Aksara yang masih melihat istrinya berdiri di Kitchen Island dan tengah meminum segelas air putih itu.
“Aku sebenarnya takut, Kak … kayak dejavu rasanya. Dulu aku pernah mengalami kejadian seperti ini dan sekarang terulang lagi. Aku cemas,” aku Arsyilla dengan jujur.
Memang tidak bisa dijelaskan lagi dengan kata-kata bagaimana perasaan Arsyilla kali ini. Setahun yang lalu, dirinya pernah menghadiri persidangan di mana Ravendra yang saat itu berusaha mencelakainya dan berusaha merenggut kehormatannya. Sekarang, peristiwa serupa kembali terjadi, hanya pelakunya saja yang berbeda. Seolah Arsyilla merasakan dejavu kali ini.
Aksara yang memahami kecemasan Arsyilla perlahan merangkul bahu istrinya itu, “Tenang ada aku … aku selalu ada di samping kamu,” balas Aksara.
“Iya Kak … dampingi aku yah. Aku takut,” balas Arsyilla kali ini.
Tangan Aksara seakan memberikan usapan yang lembut dengan gerakan naik dan turun, kemudian pria itu kembali berbicara, “Jangan terlalu dipikirkan hingga berakibat dengan kamu yang stress. Kamu cukup menjawab setiap pertanyaan yang diajukan kepadamu saja. Aku juga akan bersaksi nanti, juga Ravendra. Mengingat saksi mata yang kuat dan bukti-bukti yang terkumpul, kita bisa menjebloskan Tiara dan Bagas ke hotel Prodeo,” balas Aksara kali ini.
“Iya Kak,” balas Arsyilla.
Kemudian Aksara pun membawa Arsyilla menuju pengadilan negeri dan mengikuti jalannya pengadilan. Di luar ruang persidangan sudah berkumpul Bunda Kanaya, Ayah Bisma, Papa Radit, Mama Khaira, dan Arshaka yang turut datang dan ingin memberikan dukungan secara moral bagi Arsyilla.
“Kak,” sapa Arshaka kepada Arsyilla.
Mungkin karena suasana hatinya yang berubah dan ada emosi yang bermain di sana, Arsyilla pun memeluk adiknya itu, “Shaka,” ucap Arsyilla dengan lirih.
“Kakak baik-baik saja kan? Sorry Kak, Shaka baru bisa bertemu dengan Kakak,” jawab pemuda tampan yang saat itu masih memeluk kakaknya.
Arsyilla pun mengurai pelukannya dan memberikan senyuman kepada adiknya itu, “Iya … aku baik-baik saja,” balas Arsyilla.
__ADS_1
Hingga akhirnya keluarga besar itu memasuki ruang persidangan. Beberapa hari Arsyilla meremas kedua tangannya. Cemas, panik, dan takut seolah menjadi perasaan yang begitu mendominasi sekarang ini. Akan tetapi, Aksara yang duduk di samping Arsyilla seakan turut memberikan dukungan dan selalu mendampingi istrinya itu.
Sampai pada akhirnya Majelis Hakim, Pengacara, dan Jaksa Penuntut Umum mulai memasuki ruang persidangan. Selain itu juga Tiara dan Bagas yang turut hadir dengan dikawal oleh petugas. Ada pula petugas yang bertugas sebagai notulen dan mencatat seluruh proses persidangan. Sampai pada akhirnya nama Arsyilla dipanggil untuk duduk ke depan, dan disumpah berdasarkan agama dan kepercayaan bahwa akan memberikan kesaksian yang jujur, dan mulailah Jaksa Penuntut Umum memberikan pertanyaan.
“Ibu Arsyilla Kirana … Anda bekerja sebagai Dosen dan merupakan rekan sejawat dengan Saudara Bagas di salah satu Perguruan Tinggi di Jakarta. Apakah itu benar?” tanya Jaksa Penuntut Umum.
“Ya, itu benar,” jawab Arsyilla dengan menganggukkan kepalanya.
“Apakah selama ini, Pak Bagas menunjukkan gelagat aneh bahwa Pak Bagas ini menaruh hati pada Bu Arsyilla?” tanya Jaksa Penuntut Umum lagi.
“Saya sebenarnya kurang paham, Pak. Hanya saja sejak saya hendak menggelar pernikahan saya, Pak Bagas seringkali bersikap julid. Puncaknya dia mengatakan menyukai saya sejak lama saat peristiwa penculikan, pelecehan, dan tindak kekerasan saat itu,” jawab Arsyilla.
Sampai akhirnya pertanyaan demi pertanyaan diberikan kepada Arsyilla. Dengan tenang Arsyilla menjawab seluruh pertanyaan yang diberikan kepadanya berdasarkan realita yang dia alami.
“Saudara Ravendra, benarkah Anda yang membuntuti mobil Saudara Bagas dan Anda menginfokan lokasi Ibu Arsyilla kepada suaminya itu Saudara Aksara?” tanya Jaksa Penuntut Umum lagi.
“Benar,” sahut Ravendra dengan yakin.
“Berdasarkan rekam jejak Anda sebelumnya, Anda dulu pernah mencoba melukai Saudara Arsyilla, sekarang kenapa Anda justru seolah membantu mereka?” tanya Jaksa Penuntut Umum lagi. Tentu ini adalah pertanyaan jebakan.
“Benar Pak … hanya saja manusia dengan segala kesalahannya di masa lalu berhak untuk bertobat. Saya curiga saat saya melihat Arsyilla di depan pusat perbelanjaan, dan sebuah mobil hendak menabraknya. Rupanya seorang pria keluar dari mobil itu dan menyekap Arsyilla. Merasa curiga, saya pun mengikuti mobil itu dan saya mengirimkan lokasinya kepada Aksara,” pengakuan Ravendra berdasarkan fakta yang sebenarnya.
Sebab dalam kasus Pecelahan Seksual dan Tindak Kekerasan seperti ini, pengakuan dan kesaksian korban dan para saksi sangat diperhitungkan untuk menjatuhkan hukuman bagi Terdakwa. Untuk itu, Jaksa Penuntut Umum pun memberikan berbagai pertanyaan.
“Jadi bagaimana Saudara Bagas dan Saudari Tiara, Anda mengakui semua perbuatan Anda?” tanya Jaksa Penuntut Umum.
__ADS_1
Keduanya nyatanya sama-sama diam. Bibirnya seakan terkunci. Tidak mengiyakan, tetapi juga tidak menyangkal. Sebuah sikap yang membuat majelis hakim cukup bingung dan membaca gestur tubuh keduanya.
“Saudara Ravendra, Anda yakin dengan kesaksian Anda bahwa Anda tidak terlibat dalam kasus yang menimpa Saudari Arsyilla?” kali ini Majelis Hakim yang bertanya kepada Ravendra.
Ravendra tampak menghela nafas. Wajahnya perlahan terangkat dan menatap Majelis Hakim, “Ya, aku yakin bahwa saya tidak terlibat sama sekali,” jawab Ravendra dengan yakin.
Keluarga Raditya Wibisono dan Keluarga Pradhana yang mendengarkan kesaksian dan pengakuan Ravendra merasa lega. Justru jika, tindakan Ravendra benar-benar tepat, Bunda Kanaya dan Ayah Bisma tidak akan sungkan untuk mengucapkan terima kasih kepada Ravendra karena sudah menyelamatkan Arsyilla.
Sayangnya, di saat Ravendra usai mengakuinya. Giliran Tiara yang saat ini berbicara.
“Namun, orang tuanya terlibat Yang Mulia. Papanya, Darren Jaya Wardhana adalah otak di balik semua peristiwa ini,” ucap Tiara dengan sorot matanya yang tajam ke arah Ravendra.
Gemparlah seluruh ruangan persidangan siang itu. Tampak Arsyilla yang menggelengkan kepalanya, seakan begitu terkejut dengan apa yang baru saja diucapkan Tiara kali ini. Sama halnya dengan Ravendra yang menggelengkan kepala, bahkan pemuda itu seketika bahunya luruh, tidak mengira bahwa otak di balik peristiwa ini adalah Papanya sendiri.
Kali ini Ravendra benar-benar rasanya patah hati karena tindakan Papanya. Bagaimana mungkin Papa Darren masih melakukan tindakan jahat dan ingin mencelakai Arsyilla.
“Kalian pasti tidak percaya, tetapi Om Darren yang merencanakan semua ini. Dia mengiming-imingiku untuk memenangi tender dengan Jaya Corp, rupanya semua itu benar,” sambung Tiara lagi. Wanita muda itu kemudian menyeringai dan menatap ke arah Aksara dan Bunda Kanaya, “Berkat bantuan Om Darren, aku mendapatkan tender dengan Jaya Corp. Kompensasinya semua ini terjadi,” ucap Tiara.
Sungguh Aksara begitu geram mendengar pengakuan Tiara kali ini. Aksara yang semula duduk pun perlahan berdiri.
“Mohon Yang Mulia, keluarkan surat penangkapan untuk Darren Jaya Wardhana,” ucap Aksara.
“Para hadirin dimohon tenang. Supaya persidangan bisa tetap berlanjut,” ucap Ketua Hakim dengan memukul dengan palu di tangannya.
Kondisi persidangan yang tidak lagi kondusif akhirnya membuat persidangan ditunda dan dilanjutkan dua pekan lagi. Lutut Arsyilla bergetar kali ini, dirinya benar-benar tidak menyangka dengan kejutan yang barusan diungkapkan Tiara. Wanita itu tampak menghela nafas dan matanya berkaca-kaca, dendam sebesar dan sedalam apa yang dimiliki Om Darren sampai pria paruh baya itu seakan masih menggenggam dendam di tangannya dan tidak henti-hentinya untuk mencelakai keluarga Bunda Kanaya dan Ayah Bisma.
__ADS_1