
Tangki air cinta adalah gambaran dasar pemenuhan emosi seseorang. Dalam sebuah keluarga ada dua tangki air cinta yang utama, yaitu tangki air cinta Ayah dan tangki air cinta Ibu. Kedua tangki cinta utama tersebut adalah sumber tangki cinta anak. Nah, dalam sebuah rumah tangga tangki cinta istri terisi dari suami dan sebaliknya. Oleh sebab itu jangan biarkan tangki cinta pasangan kosong. Isilah tangki cinta pasangan dengan cara yang tepat dan penuh sehingga mereka merasa bahagia.
"Tahu tentang tangki air cinta Kak?" tanya Arsyilla di sela-sela meng-ASI-hi putri kecilnya.
"Pernah baca sih Honey, cuma lupa," jawab Aksara.
"Itu sebuah ilustrasi, Kak. Gambaran untuk memenuhi emosi seseorang. Sumber tangki cinta utama adalah Ayah dan Ibu," balas Arsyilla.
Aksara turut mendengarkan apa yang baru saja disampaikan oleh istrinya itu. Sampai akhirnya, Aksara pun merespons ucapan istrinya itu.
“Aku pernah baca di slideshare milik Mama deh, Honey,” balas Aksara sembari mengingat-ingat lagi.
Tangki air cinta agaknya bukan sesuatu yang asing bagi Aksara. Bahkan seolah ungkapan ini begitu lekat di telinganya. Beberapa kali Arsyilla juga pernah mengatakan perihal tangki air cinta kepadanya.
“Gimana caranya untuk mengisi tangki air cinta itu Honey?” tanya Aksara sekarang kepada istrinya.
"Dengan saling mendukung satu sama lain, menyatakan cinta setiap hari melalui sentuhan fisik, membangun waktu yang berkualitas, memberi kejutan, dan memberikan pelayanan yang berdasar kasih." Arsyilla menjawab sembari menatap wajah suaminya itu.
Aksara tampak menghela nafas, kemudian pria itu membawa jari telunjuknya untuk masuk dan genggaman putri kecilnya yang masih meminum sumber kehidupannya itu.
“Menjadi orang tua, persiapannya banyak ya Honey … bukan hanya fisik, mental, dan finansial. Ada beberapa hal yang harus kita persiapkan juga, seperti tangki air cinta ini,” balas Aksara.
__ADS_1
Arsyilla menganggukkan kepala, sebagai bentuk bahwa dirinya sangat setuju dengan ucapan suaminya itu bahwa menjadi orang tua membutuhkan persiapan yang banyak.
“Jadi, menurutmu bagaimana Kak, sudahkah tangki air cinta kita berdua terisi penuh?” tanya Arsyilla kepada suaminya itu.
Aksara diam, tentu sekarang dia sedang berpikir. Sudahkah tangki air cinta yang dia miliki bersama dengan Arsyilla sudah terisi penuh? Hingga akhirnya, Aksara pun menjawab pertanyaan istrinya itu.
“Hmm, menurutku … tangki air cinta kita berdua, terisi penuh, Honey. Jika mengisinya dengan melalui sentuhan fisik, membangun waktu yang berkualitas, memberi kejutan, dan memberikan pelayanan berdasarkan kasih. Aku kira kita berdua sudah sama-sama melakukannya, dan akan selalu melakukannya,” jawab Aksara.
Bukan sekadar jawaban, tetapi Aksara yakin bahwa semua itu sudah dia lakukan bersama dengan Arsyilla. Semua yang dia lakukan untuk Arsyilla adalah berdasarkan kasih, pun sama halnya dengan Arsyilla yang menjalankan perannya sebagai seorang istri, seorang pendamping hati juga berdasarkan dengan kasih.
Arsyilla menganggukkan kepalanya perlahan, “Iya sih Kak … kita sudah dan akan terus melakukannya bersama-sama. Jika bisa, tangki air cinta kita melimpah sehingga kita bisa mengisi gelas cinta milik Baby Ara. Gelasnya kosong, dan harus kita isi dengan sentuhan fisik yang menjadi bukti pengasuhan kita, membangun waktu berkualitas dengan Baby Ara, memberikan kejutan, dan pelayanan kita berdasarkan kasih. Dari kecil, dia belajar semua hal itu dari kedua orang tuanya. Dengan cara itulah, gelasnya akan berisi dan berdasarkan cinta,” ucap Arsyilla.
Aksara melihat istrinya dengan atensi penuh. Dalam beberapa kesempatan keduanya memang saling berdiskusi bersama. Menyadari bahwa mereka berdua masih sama-sama awam perihal pengasuhan. Untung saja, mereka mau meluangkan waktu untuk membaca bahan-bahan parenting (pengasuhan anak) yang dimiliki Mama Khaira.
“Sama Kak … cuma kadang aku tidak yakin dengan diriku sendiri. Aku takut apakah aku bisa mengasuhnya dengan baik, apakah aku bisa menjadi seorang ibu yang baik baginya. Kadang, pemikiran-pemikiran seperti itu datang dan menghinggapi pikiranku. Akan tetapi, aku yakin bahwa dengan sama-sama belajar dan mau mencoba pasti bisa,” ucap Arsyilla.
“Benar Honey … kita pasti bisa. Ya, walau praktiknya nanti tidak sempurna, tidak masalah. Yang penting kita sudah berusaha maksimal,” balas Aksara.
Setelahnya, keduanya sama-sama diam dan sekarang mereka melihat ke arah Baby Ara yang sudah terlelap dan masih berada di dalam timangan Arsyilla.
“Lucu ya Honey … mirip kamu waktu kecil dulu. Bahkan kamu sekecil ini saja, aku sudah melihatmu dan mengingatmu,” ucap Aksara saat itu kepada Arsyilla.
__ADS_1
“Ya enggak sekecil ini lah Kak … kata Mama, kita kali pertama bertemu saat usiaku 40 hari,” balas Arsyilla.
“Tahu enggak Honey, usai bertemu kamu dulu, aku enggak pengen punya adik perempuan. Aku bahkan sampai bilang ke Bunda, kalau bisa adiknya cowok saja, karena bagiku adik perempuan ya cuma kamu. Melihatmu rasanya aku tidak memikirkan sosok adik perempuan yang lain,” cerita Aksara kali ini kepada Arsyilla.
Senyuman terbit di wajah Arsyilla. Wanita itu merasa bahagia, bahkan di saat dirinya masih begitu kecil, suaminya itu masih mengingatnya sampai sekarang ini.
“Seriusan Kak?” tanya Arsyilla.
“Iya … serius. Bagiku sosok adik perempuan ya cuma kamu. Makanya, aku berusaha mengingat kamu bagaimana pun caranya. Dengan keyakinanku pada perasaanku ini, aku akan berusaha mengisi gelas cintanya Ara. Ayah dan Bunda akan sama-sama belajar untuk mengisi gelas cintanya. Satu tetes demi satu tetes, sampai gelas itu terisi penuh, bahkan sampai melimpah,” balas Aksara.
“Amin … semoga saja gelas cinta Baby Ara bisa terisi dan bahkan sampai penuh,” ucap Arsyilla mengaminkan harapan dari suaminya itu.
Arsyilla lantas mengulurkan tangannya dan menautkan jari-jemarinya di sela-sela ruas jari suaminya itu.
“Aku seneng banget deh Kak, kamu peduli masalah parenting anak, kamu juga belajar banyak hal mengenai pengasuhan,” ucap Arsyilla kali ini.
Aksara pun menganggukkan kepalanya, “Sama-sama Honey … kan Baby Ara hasil prakarya kita, kita membuatnya sama-sama, jadi kita rawat bersama-sama, kita asuh bersama-sama, dan isi gelas cintanya bersama-sama,” jawabnya.
Mendengar jawaban Aksara yang begitu absurb, Arsyilla memberiku pukul di tangan suaminya itu. Bagaimana bisa Aksara menyamakan buah cintanya layaknya sebuah hasil karya kerajinan tangan. Aksara memang terkadang terlihat absurb, tetapi bagaimana juga Aksara adalah seorang pria yang memberikan bukti nyata.
“Absurb banget sih … jangan bilang hasil prakarya dong. Dia kan hadir dari penyatuan kita berdua, dari kasih sayang dan dari cinta kedua orang tuanya. Selanjutnya tentu ada ketetapan Tuhan yang berlaku di dalamnya, sehingga kita berdua dipercaya menjadi orang tua bagi Baby Ara,” ucap Arsyilla dengan serius.
__ADS_1
Aksara pun tertawa, dirinya adalah sosok yang suka bercanda, sementara Arsyilla adalah sosok yang serius. Keduanya adalah pribadi yang berbeda, tetapi justru ini menjadi bukti nyata bahwa perbedaan bukan sebuah masalah besar. Perbedaan adalah hal yang indah dan harus dirajut bersama hingga bisa saling mengisi tangki air cinta mereka dan memenuhi gelas air cinta milik putri kecilnya.