Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Wedding Day


__ADS_3

Tepat satu bulan berlalu, kini Arsyilla tengah berhias dengan sebuah Kebaya berwarna putih yang begitu pas di badannya. Dengan kain jarik yang membungkus pinggang hingga kakinya. Mengikuti tradisi dari pihak keluarganya, Paes (hiasan kepala di kening yang dibuat dari pidih berwarna hitam) tergambar di keningnya, dan juga reroncean bunga Mawar, Melati, dan Kenanga yang kian mempercantik dirinya. Arsyilla seketika terlihat bak Puteri Keraton yang baru saja keluar dari Kaputren. Wajahnya yang ayu berhiaskan make up natural dengan pilihan lipstik berwarna pink soft yang membuat keanggunan wanita itu terlihat dengan begitu jelas di sana.


Arsyilla memantaskan dirinya di cermin, tidak mengira bahwa dirinya akan menikah secepat ini. Hanya dalam waktu satu bulan, hari pernikahannya pun tiba.


“Kamu sudah siap, Syilla?” tanya Khaira sembari memasuki kamar putrinya itu.


“Sudah Ma,” jawab Arsyilla sembari menoleh guna melihat wajah Mamanya.


Tak kuasa menahan air matanya, Khaira pun menangis melihat putri kecilnya yang menjadi seorang pengantin hari ini.


“Masyaallah, kamu sangat cantik, Sayang.” Khaira berbicara sembari merangkul bahu Arsyilla.


Tidak dipungkiri bahwa wajah Arsyilla begitu cantik, tetapi ada raut kesenduan yang seolah bersembunyi di balik riasannya itu.


“Ma, bagaimana jika pernikahan ini tidak berhasil? Sebab, aku tidak sepenuhnya mengenalnya, dan tidak ada cinta di antara kami,” tanya Arsyilla dengan memilin ujung renda kebaya yang dikenakannya.


Helaan napas keluar begitu saja dari Khaira, situasi putrinya saat ini hampir sama dengan dirinya saat kali pertama menikahi suaminya. Tanpa saling mengenal dan tidak ada cinta yang mengikat keduanya. Akan tetapi, dengan berjalannya waktu, keduanya bisa saling mengenal, saling memiliki, dan saling mencintai satu sama lain.


Perlahan Khaira menepuk bahu putrinya itu dengan lembut, “Coba untuk mengenal suamimu. Jika ada masalah yang terjadi, bicarakan berdua. Jangan libatkan orang lain, termasuk orang tua mu sendiri untuk mengintervensi masalahmu. Berbicara hati ke hati dengan pasanganmu akan lebih menolong,” petuah sang Mama kepada putrinya itu.


Arsyilla pun mengangguk, “Baik Ma ….”


Setelahnya Khaira membantu putrinya itu untuk berdiri, merapikan reroncean bunga di kepalanya yang jatuh hingga di samping dadanya, merapikan kebaya putih yang dikenakan Arsyilla, dan juga menggenggam tangan putrinya itu untuk menuju ke Akad Nikah yang akan segera terlaksana di bawah sana.


“Kita ke pelaminan sekarang, Aksara sudah menunggumu,” ucap Khaira sembari menggenggam tangan putrinya itu menuruni kamarnya dan bersatu dengan Aksara yang sudah menunggunya di bawah.


Sekalipun pernikahan hanya dilakukan di rumah, tetapi kediaman Raditya didekorasi dengan berbagai bunga kesukaan Arsyilla. Juga beberapa kerabat dan tetangga di sekitar perumahan itu juga menerima undangan pernikahan Arsyilla dan Aksara. Di bawah, Aksara telah bersiap dengan menggunakan beskap berwarna putih, senada dengan kebaya yang Arsyilla kenakan saat ini.


Pria itu tampak duduk dengan tenang dan menunggu calon pengantinnya tiba. Hingga saat menangkap sosok Arsyilla yang datang dengan digandeng sendiri oleh Mama Khaira, seolah Aksara terpaku melihat Arsyilla, Dosennya yang kali ini layaknya seorang bidadari yang turun dari kahyangan. Kecantikan Arsyilla tercetak dengan jelas di wajahnya. Sekalipun Arsyilla berjalan sembari menunduk, tetapi Aksara bisa melihat dengan jelas bahwa Arsyilla begitu anggun dan cantik.


Hingga perlahan, Mama Khaira mendudukkan Arsyilla di samping Aksara. Keduanya sama-sama diam, bak kehilangan kata-katanya.


“Bisa kita mulai sekarang?” tanya penghulu yang duduk di hadapan kedua mempelai.

__ADS_1


Baik Radit dan Aksara pun sama-sama mengangguk. Radit lantas menjabat tangan pemuda yang kepadanya dia akan menyerahkan harta berharganya itu, pria itu pun juga menarik napas dalam-dalam.


“Saya nikahkan, dan saya kawinkan engkau dengan Putriku Arsyilla Kirana Putri Raditya binti Raditya Wibisono dengan mas kawin dan seperangkat alat sholat tunai.” Papa Radit akhirnya mengucapkan kalimat sakral itu.


“Saya terima nikah dan kawinnya Arsyilla Kirana Putri Raditya binti Raditya Wibisono dengan mas kawin tersebut tunai.”


Aksara mengucapkan Ijab Qobulnya dalam satu tarikan nafas, hingga penghulu dan saksi pernikahan pun berkata,


“Sah!”


Arsyilla tak kuasa meneteskan air matanya, hari ini dirinya telah resmi dipinang oleh Aksara, mahasiswanya sendiri. Ada pilu yang tertahan di dada. Tak pernah mengira dirinya akan menjadi istri dari mahasiswanya sendiri. Pernikahan yang terjadi hari ini pun, bukan berdasarkan karena cinta, tetapi pernikahan yang terjadi akibat kesalahan satu malam.


Sama halnya dengan Mama Khaira dan Bunda Kanaya, yang juga turut meneteskan air matanya. Rasa haru menyelimuti dua perempuan paruh baya itu, melihat putra dan putrinya bukanlah anak kecil lagi, tetapi putra dan putrinya telah menjadi orang dewasa yang siap bertanggung jawab membina sebuah rumah tangga bersama.


Lantunan ayat suci Al’Quran pun dilantunkan, maka Aksara dan Arsyilla sama-sama menangkupkan telapak tangannya dan menengadah. Mengamini setiap ayat-ayat yang dilantunkan tersebut.


Kemudian acara dilanjutkan dengan penyematan cincin di jari manis masing-masing mempelai. Arsyilla yang pertama kali memasang cincin pernikahan itu di jari manis Aksara, kemudian gadis itu menundukkan wajahnya guna mencium punggung tangan suaminya. Kemudian, Aksara juga memasangkan cincin pernikahan di jari manis Arsyilla, kemudian mencium kening istrinya itu.


Usai prosesi tukar cincin, Aksara dan Arsyilla sama-sama melanjutkan ke prosesi sungkeman sebagai bentuk tanda bakti dan hormat yang diberikan anak kepada orang tuanya. Bentuk rasa syukur dan terima kasih karena telah memberikan bimbingan dan kasih sayang dari lahir hingga akhirnya mereka menikah. Arsyilla mengambil posisi sujud dan memohon doa restu dari Papa Radit terlebih dahulu.


“Papa, sebelumnya maafkan Arsyilla, Pa … doakan juga untuk pernikahan Arsyilla ini,” ucapnya dengan terisak. Tidak disangka air mata kembali menggenangi sudut matanya.


Apabila sebelumnya, Radit merasa begitu marah dan kecewa kepada putrinya itu, kali ini pria itu pun meneteskan air matanya, tidak kuasa menahan haru dalam dadanya.


“Maafkan Papa juga, Syilla … maafkan Papa. Tentu saja, Papa akan mendoakanmu. Kebahagiaanmu adalah kebahagiaan Papa. Terima dan jalani ini semua dan berbaktilah kepada suamimu,” petuah dari Radit kepada putrinya itu.


Usai memberikan doa restunya, Radit pun memeluk putrinya itu dengan penuh kasih sayang dan juga mencium kedua pipi Arsyilla.


“Papa sayang kamu, Syilla,” ucapan itu meluncur begitu saja dari bibir Radit.


Seolah rasa kecewa yang dulu menyelimuti hatinya, kini tergantikan dengan rasa kasih sayang yang seolah tak bertepi melepaskan putrinya itu untuk memulai hidup barunya bersama pria lain.


“Mama, doakan Syilla juga, Ma,” Arsyilla bergesera dan bersujud di hadapan Mama Khaira.

__ADS_1


Dengan cepat Khaira mengangkat bahu Arsyilla dan memeluknya, “Sudah pasti Mama akan mendoakanmu. Coba ikhlas dan menjalaninya ya. Kenali suamimu dan isi air tangki cinta kalian berdua bersama-sama,” nasihat dari Mama Khaira kepada Arsyilla.


Arsyilla pun mengangguk, “Syilla sayang Mama,” ucapnya dengan terisak.


“Mama juga lebih menyayangimu, Sayang. Arsyillanya Mama, putri kecilnya Mama. I Love U,” ucap Khaira membalas ucapan sayang dari putrinya itu.


Kedua orang tua itu kini sama-sama memeluk Arsyilla dengan tangisan haru. Memberikan doa dan restu dengan berurai air mata. Arsyilla, anak yang mereka lahirkan dan besarkan telah menjadi istri orang lain, perasaan sedih dan bahagia mengharu biru menjadi satu.


Setelah itu, giliran Aksara yang bersujud dan meminta doa restu kepada Papa Radit dan Mama Khaira.


“Pa, mohon doa restu untuk pernikahan kami berdua,” ucap pemuda itu dengan menundukkan wajahnya.


Radit pun menepuk bahu pemuda itu dan memeluknya, “Kepadamu, Papa titipkan harta kami yang berharga yaitu Arsyilla. Jaga dia, cintai dia, dan jika memang perjalanan kalian berdua ada kesalahan dari diri Arsyilla, bimbinglah dia,” nasihatnya kepada menantunya itu.


“Iya Papa, Aksara akan menjaga Arsyilla dengan sepenuh hati bahkan dengan nyawa Aksara sendiri,” jawabnya dengan serius dan memastikan bahwa dirinya akan selalu menjaga dan menyayangi Arsyilla.


Lantas, Aksara kini bersujud di hadapan Khaira, kali ini pemuda itu justru tampak menitikkan air matanya saat bersujud di hadapan Khaira. Helaan napasnya muncul, “Ma, maafkan Aksara, Ma … doakan juga untuk pernikahan kami berdua,” ucapnya dengan air mata yang menggenangi kedua matanya.


Khaira pun mengangguk, “Tentu Aksara, semua yang sudah terjadi semoga menjadi pembelajaran untuk kalian berdua. Mama mendoakan kamu dan Arsyilla akan bahagia bersama. Menua bersama,” doanya untuk Aksara.


Usai sungkeman dengan Papa Radit dan Mama Khaira, kemudian Arsyilla dan Aksara juga melakukan sungkeman kepada Ayah Bisma dan Bunda Kanaya.


“Ayah, Bunda … doakan kami berdua,” ucap Arsyilla dengan berurai air mata.


Bunda Kanaya pun segera memeluk Arsyilla, “Tentu Arsyilla, Ayah dan Bunda akan mendoakanmu. Dampingi Aksara, dan saling mengasihi ya,” nasihat dari Bunda Kanaya kepada Arsyilla.


“Arsyilla Kirana, pasien kecilnya Paman Dokter yang kini menjadi menantuku. Ayah juga menyayangimu, Arsyilla. Serta Ayah doakan kami bahagia bersama putra Ayah,” ucap Ayah Bisma yang rupanya masih mengingat bahwa Arsyilla adalah pasiennya dulu.


“Sekarang, jangan memanggil Paman Dokter lagi ya, panggil Ayah. Selamat datang di Keluarga Pradana. Ayah dan Bunda sangat menyayangimu juga,” ucap Ayah Bisma sembari memeluk Arsyilla.


Suasana mengharu biru dalam prosesi sungkeman akhirnya telah usai, dan acara pun dilanjutkan dengan foto bersama keluarga, kerabat, dan beberapa tamu undangan yang hadir.


Di dalam hatinya, Arsyilla memohon kiranya pernikahan yang diawali dari sebuah bencana ini tidak akan menyusahkannya. Wanita itu berdiri, bersanding dengan pria yang kini menjadi suaminya itu dengan hati yang terus memohon kepada Allah, semoga saja hari yang bahagia akan turut menyapa pernikahannya bersama pria yang sebatas dia ketahui hanya sebagai mahasiswanya itu.

__ADS_1


__ADS_2