Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Menyambut Sunrise Bersama


__ADS_3

Langit masih begitu gelap, tetapi Aksara dan Arsyilla masih duduk bersama di Promenade Deck. Aksara duduk dengan merangkul Arsyilla, sementara Arsyilla juga tak menolak, tetapi nyatanya wanita itu justru lebih banyak terdiam.


"Pernah di lautan malam-malam gini enggak?" tanya Aksara perlahan.


Arsyilla yang semula diam pun perlahan mengerjap, "Pernah, cuma di pinggiran laut saja sih, bukan naik kapal kayak gini," jawabnya.


"Oh, ya … di mana?" tanya Aksara yang tampak penasaran Arsyilla berada di tepi laut mana.


"Di Selat Singapura, waktu kami sekeluarga jengukin Shaka di sana. Dari Harbour Front kelihatan banget Selat Singapura dengan kapal ferry yang berlalu lalang menuju Batam, Tanjung Pinang, dan tempat lainnya," cerita Arsyilla pada akhirnya.


Memang saat Arshaka kuliah di Singapura, di kala liburan keluarga Raditya yang menyempatkan diri untuk mengunjungi Arshaka di sana. Mengunjungi Arshaka sembari jalan-jalan di Singapura.


"Shaka sekolah di Singapura ya?" tanya Aksara kini.


Arsyilla pun mengangguk, "Iya, mengambil Manajemen dan Bisnis. Shaka sudah dipersiapkan untuk nanti bekerja di kantor Papa," jawab Arsyilla.


Aksara tampak mendengarkan setiap jawaban Arsyilla. Setidaknya memang keluarga mertuanya memiliki perencanaan yang matang, termasuk untuk kedua anak-anaknya.


"Kamu tidak ingin bekerja seperti Papa?" tanya Aksara kini kepada Arsyilla.


Wanita pun menggelengkan kepalanya, "Passionku bukan di bisnis dan keuangan, aku lebih suka menggambar desain arsitektur dan mengajar. Akan tetapi, aku menggali lagi passion terbesarku di mana, sehingga saat aku tahu kalau passionku memang mengajar, jadi aku memilih melanjutkan S2 dan menjadi Dosen," jelas Arsyilla kali ini.


Dari pembicaraan keduanya terlihat bahwa Aksara ingin semakin mengenal Arsyilla. Mungkin memang dia mengenal Arsyilla saat masih kecil. Sementara Arsyilla saat dewasa tentu sudah berubah. Kesempatan berharga bagi Aksara untuk bisa mengenal Arsyilla lebih dekat.


"Kalau kamu, memang suka menggambar ya?" tanya Arsyilla kali ini.


"Iya, aku suka menggambar sih. Makanya aku pengen jadi Arsitek. Jadi tukang gambar," jawabnya dengan terkekeh.


"Jadi hiatus kuliah buat kerja jadi Arsitek?" tanya Arsyilla lagi.


Aksara pun mengangguk, "Iya, cuti panjang buat kerja jadi tukang gambar. Setelah kupikir-pikir aku hiatus ada hikmahnya juga. Hikmahnya diajar sama Bu Dosen cantik," celotehnya kali ini.

__ADS_1


Akan tetapi, Arsyilla justru tampak menyipitkan kedua matanya, "Ya, tapi seharusnya kamu prioritaskan kuliah kamu dulu. Uang bisa dikejar lain waktu, tapi pendidikan gak bisa? Sebab, semakin kamu sudah bekerja dan punya uang sendiri, jadi berpikiran 'ah, enggak kuliah saja uangku juga udah banyak'. Jadi andai kamu udah lulus dulu-dulu, pasti Bunda Naya dan Ayah Bisma akan bangga," sahut Arsyilla kali ini.


Bukan bermaksud menggurui, hanya saja Arsyilla sedang mencoba mengutarakan pendapatnya kali ini. Juga, Aksara tidak tampak keberatan, sepenuhnya Aksara menerima ucapan Arsyilla tersebut.


"Baiklah, kali ini aku akan benar-benar lulus," jawabnya.


"Oke, aku tunggu dalam dua semester semoga kamu benaran lulus dan diwisuda," sahut Arsyilla.


Lantaran malam kian bergulir, angin di lautan juga kian kencang, Aksara pun mulai mengajak Arsyilla untuk memasuki kamar mereka. Pengalaman pertama menginap di kapal pesiar. Membayangkannya saja Arsyilla tidak pernah, dan sekarang dia benar-benar merasakan tidur di atas kapal pesiar.


"Sekarang, mari kita tidur. Sudah hampir jam sepuluh malam. Maukah besok kita menyambut mentari bersama-sama?" tanya Aksara sembari merebahkan dirinya di sisi Arsyilla.


Wanita itu pun lantas menganggukkan kepalanya, "Baiklah," jawabnya dan kemudian Arsyilla memilih memejamkan matanya dan memunggungi Aksara.


***


Keesokan harinya … 


Arsyilla mengerjapkan matanya, dia terbangun dengan menatap wajah pria yang turut berbaring di sebelahnya semalam. Tidak lain dan tidak bukan adalah wajah suaminya sendiri. Menatap wajah tampan itu, perlahan Arsyilla tersenyum, rasanya bayangan saat Aksara menciumnya petang kemarin terlintas begitu saja.


Untuk itu, Arsyilla memilih untuk duduk di Promenade Deck. Wanita itu hanya duduk dan memandang perubahan angkasa yang semula gelap, hingga sayu-sayu angkasa putih terlihat di atas sana.


Baru beberapa menit, Arsyilla duduk rupanya Aksara sudah datang dan menemuinya.


"Kenapa kamu berada di sini?" tanya pria itu.


"Menunggu matahari terbit," sahut Arsyilla.


Aksara pun tersenyum, kemudian dia duduk di samping Arsyilla, "Akhirnya, kita bisa menyambut sunrise bersama-sama. Para pasangan biasanya lebih suka menyambut senja, tetapi kita memiliki momen untuk menyambut matahari terbit," sahutnya.


Riak-riak air di laut, burung-burung camar yang berkicauan, hingga semburat kenikir di angkasa yang membias hingga perlahan sang surya menampakkan wajahnya terlihat begitu indah. Bahkan Arsyilla pun mengabadikan momen itu dengan video di handphonenya.

__ADS_1


"Indah," ungkapnya dengan tersenyum, seolah terpana dengan matahari yang terbit dan bisa dia saksikan di tengah lautan.


Aksara lantas merangkul bahu Arsyilla, merapatkan duduknya, dan kemudian menatap wanita itu, "Sama sepertimu, indah … cantik," ucapnya dengan bola mata yang seolah hanya dipenuhi sosok Arsyilla di sana.


Arsyilla hanya diam sama sekali tidak menyahut. Kali ini, entah mengapa rasanya berdekatan dengan Aksara membuatnya berdebar-debar, tetapi dia juga merasa malu di waktu yang bersama.


"Jangan merayu, bagaimana pun aku ini Dosenmu," sahut Arsyilla dengan menatap Aksara.


Akan tetapi, Aksara justru terkekeh geli, “Cuma aku satu-satunya mahasiswa yang berani seperti ini sama Bu Dosen,” jawabnya dengan geli.


Hingga akhirnya, Aksara kemudian kembali menatap Arsyilla sejenak, “Kamu jangan terlalu memikirkan Om Darren dan Ravendra ya … kita serahkan saja semuanya sama penegak hukum. Nanti aku akan menjadi saksi di persidangan kasus itu nanti,” ucap Aksara.


Perlahan Arsyilla pun menatap kedua bola mata Aksara, “Kamu yakin ingin bersaksi?” tanyanya.


Aksara pun mengangguk, “Iya, aku akan bersaksi untukmu. Lagipula di kasus pertama, aku tahu sendiri bagaimana Ravendra berusaha memerkosa kamu,” jawabnya.


“Baiklah, tetapi aku boleh minta satu hal?” mintanya kini kepada Aksara.


“Apa?” tanya Aksara.


“Jangan mengungkapkan status kita sebagai suami istri, aku takut jika Om Darren justru mencelakaimu,” ucap Arsyilla dengan nada getir di sana.


Perlahan Aksara menoleh lagi, hingga kini dia melihat wajah Arsyilla, “Kamu kenal Om Darren?” tanyanya.


“Papa pernah cerita, dulu Om Darren pernah masuk bui karena kasus korupsi di Jaya Corp. Dari itu, sebenarnya Papa tidak setuju waktu aku jalan sama Vendra dulu. Hanya saja, Papa kemudian berpikiran mungkin yang berada di jalan yang salah cuma Papanya, bukan anaknya. Karena itulah, Papa ya setuju hubunganku dengan Vendra dulu.” Arsyilla menceritakan semua itu kepada Aksara.


“Oh, itu … iya, Bunda juga pernah cerita kok. Jadi, kamu khawatir jika terjadi apa-apa sama aku?” tanyanya kini.


“Iya, aku takut Om Darren pada akhirnya akan mengincarmu,” sahut Arsyilla.


Sejenak Aksara tampak berpikir, setelah itu, dia pun kembali membuka suaranya, “Baiklah … jika demikian kita akan berstatus sebagai Dosen dan Mahasiswa saja. Yang penting kamu tahu, aku bukan sembarang mahasiswa, tetapi aku mahasiswa luar biasa. Aku akan menjagamu,” ucapnya dengan sungguh-sungguh.

__ADS_1


Bukan terlena, nyatanya Arsyilla justru tertawa, “Kamu terlalu tua untuk menjadi mahasiswa S1, kalau S2 oke lah … so, please, kali ini luluslah sampai wisuda ya,” pintanya dengan tertawa.


“Iya-iya, aku akan lulus dalam dua semester yang tersisa ini.” Aksara pun menjawab dan dia meyakinkan kepada Arsyilla bahwa dirinya akan berusaha, berjuang sampai titik darah penghabisan jika perlu untuk bisa lulus segera.


__ADS_2